Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Sixty Nine (69)


Lilith, yang tidak pernah disebutkan di buku dongeng "The Poor Princess", secara tidak terduga adalah teman satu-satunya Putri Stella sekaligus sahabatnya. Hubungan yang harmonis itu sama sekali tidak pernah dinyatakan di dalam buku dongeng itu. Hal itu memberitahukan Stella secara tidak langsung bahwa tidak semua kejadian tertulis di buku itu.


Namun sekarang, Stella tidak terlalu fokus pada fakta itu.


Perhatiannya tertuju pada Lilith, yang tiba-tiba mendatangkan ingatan asing itu ke kepalanya dan membuat hatinya dilanda perasaan rindu yang amat dalam. Situasi ini tidak bisa dimengerti Stella sama sekali, bahkan jika logikanya bekerja dengan maksimal.


Dia terus bertanya pada dirinya sendiri; mengapa ingatan asing itu datang lagi dengan suasana yang berbeda, mengapa Lilith sangat akrab dengannya, dan mengapa dia mengalami perasaan rindu yang dalam pada anak perempuan itu.


Tapi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ada.


Selain itu, di sisi lain, Stella mengepalkan tangannya.


Jangan bergerak! Ayo tahan, Stella!


Keinginan untuk memeluk anak itu berhasil ditahan Stella dengan susah payah, tapi perasaannya menjadi tertekan. Padahal dia tidak mengenal Lilith, tapi rasanya dia seperti sudah mengenal anak perempuan itu dengan baik dan sangat dekat dengannya.


Perasaan apa ini...?


Sementara itu, Lilith, yang merasakan tatapan seseorang selalu tertuju padanya, beralih menatap orang itu.


"Apakah ada sesuatu di wajah saya, Tuan Putri?"


Tatapan Raja Shavir dan Dhemiel segera mengarah padanya. Stella tersentak. Ia kembali sadar.


"Ti-tidak ada apa pun," jawab Stella dengan kaku.


Lilith memandangnya dengan khawatir ketika melihat wajah tuan putri di depannya tampak kurang sehat.


"Apakah Tuan Putri baik-baik saja? Anda terlihat kurang sehat."


"Aku baik-baik sa―"


"Sebaiknya kau beristirahat, Stella," potong Raja Shavir cepat.


Dia bisa merasakan bahwa putrinya terlihat tidak sehat, keringat terus mengalir di pelipis anak itu. Kekhawatiran segera melanda dirinya.


"Lebih baik kita pulang."


"Tapi...."


"Ayah benar, Stella."


Kali ini yang memotong ucapannya adalah Dhemiel. Stella hanya bisa mengikuti mereka, yang berdiri dari kursi. Sebelum menjauhi podium, dia menyempatkan diri untuk menghampiri Lilith.


"Lilith."


"I-iya, Tuan Putri!"


Lilith gugup ketika namanya dipanggil oleh sang putri. Namun yang selanjutnya terjadi membuat sekujur tubuhnya kaku.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, Lili."


Stella berbisik di pelukan Lilith, memanggilnya dengan akrab, lalu memeluknya lebih erat. Perasaan rindu di hatinya perlahan terobati. Dia merasa tenang dan nyaman. Sedangkan Lilith, yang tiba-tiba dipeluk oleh Stella, segera membalas pelukannya dengan wajah merona.


"Sa-saya merasa terhormat, Tuan Putri!"


Lilith tersenyum dengan wajah bahagia.


Keduanya saling berpelukan sesaat, setelah itu Stella melepaskan pelukannya dan tersenyum. Ekspresi wajahnya sehalus kulitnya.


"Sampai jumpa lagi, Lili."


Lalu dia pergi bersama Raja Shavir dan Dhemiel, meninggalkan Lilith seorang diri dengan jantung yang berdebar-debar kencang, sedangkan wajahnya semakin memerah.


Sampai jumpa lagi, kata Tuan Putri. Bukankah itu berarti aku akan bertemu lagi dengannya?!


"Kyaaaa!"


Tidak bisa menahan kegembiraannya, Lilith tersenyum lebar dan menjerit gembira sambil melompat-lompat kecil.


Dari kejauhan, seseorang memperhatikan adegan di mana Stella dan Lilith berpelukan dengan wajah gelap.


Mata hijaunya menatap kosong ke arah Lilith yang sedang bahagia.


Dia mengeratkan kepalan tangannya pada gaunnya, menggigit bibirnya. Hatinya terluka tanpa darah, seolah-olah ada seseorang yang merobeknya. Saat ini Xylia sedang dikelilingi perasaan cemburu yang sangat dalam.


Padahal dia yang lebih dulu dekat dengan tuan putri itu, dia juga yang selalu bermain bersamanya. Tapi kebersamaannya dengan sang putri hancur dalam sekejap begitu anak perempuan berwajah cerah itu hadir di antara hubungannya dengan Stella.


Tanpa disadari, energi hitam transparan muncul dan berputar-putar di sekelilingnya.


―――


Di halaman Istana Everora, Stella menaiki kereta kuda, dibantu oleh ayahnya, sedangkan Dhemiel sudah terlebih dahulu duduk di dalam kereta. Duduk di samping anak laki-laki itu, Dhemiel langsung mengintrogasi Stella.


"Kenapa kau memeluk Lilith tadi? Apa kau sudah mengenalnya?"


"Tidak," jawab Stella dengan tenang. "Aku hanya ingin memeluknya saja."


"Apa?!"


"Dhemiel, jangan berteriak."


"Ukh...."


Melihat tatapan peringatan dari ayahnya, Dhemiel terpaksa menutup mulutnya, lalu kembali cemberut.


"Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun, Kak."


"Kau telat mengucapkannya."


"Benar. Tapi Kakak senang, 'kan?"


Dhemiel mengalihkan pandangannya, tidak menjawab, tapi telinganya memerah.


Hmm ... ternyata melihat anak laki-laki yang tersipu sangat memanjakan mata.


Kepalanya sudah menyimpan kenangan Ester yang merona, sekarang bertambah satu lagi.


Oh, ya. Sepertinya aku harus mengecek ulang buku dongeng itu. Mungkin saja ada bab baru yang ditambahkan.


Memikirkan kembali pertemuan pertamanya dengan Lilith, Stella merenungkan isi buku dongeng "The Poor Princess" yang terkadang selalu menambahkan satu bab baru setiap kali dia membuka buku itu dan membacanya.


―――


Bang!


"Aaaghh! Kenapa bisa gagal?!"


Seseorang dengan tudung hitam baru saja menggebrak meja ruang penelitiannya. Dia menggertakkan gigi, lalu membanting botol-botol kaca berisi ramuan yang tersusun rapi di atas mejanya.


Prang!


Suara botol kaca yang pecah terdengar nyaring. Kaca-kaca berserakan di lantai. Cairan dengan warna-warna yang berbeda tumpah, mengeluarkan aroma herbal.


"Haha ... hahaha!"


Pria itu, yang memakai tudung hitam, tertawa, kemudian menyeringai lebar. Mata merahnya bersinar dengan bahaya.


"Fufu, berani sekali dia mengacaukan rencanaku!"


Emosinya meluap.


Percobaan yang dia lakukan pada putri pria bodoh itu, Xylia, tidak disangka berhasil. Namun belum sempat dia tertawa puas dengan hasil karya luar biasanya, sihir itu menghilang di bawah kendalinya.


Sihir tingkat tinggi itu lenyap dalam sekejap!


Mengetahui fakta pahit itu, dia menggeram. Metode membatalkan sihir itu hanya diketahui olehnya dan sukunya. Tapi sukunya sudah punah, jadi hanya dia yang tahu cara membatalkan sihir pengendali itu. Namun sekarang, secara tiba-tiba, sihir itu lenyap.


Hanya ada satu orang yang bisa membatalkannya.


"Dasar putri si*lan!"


Yaitu Stella, anak perempuan satu-satunya Raja Shavir.


Tapi dari mana dia tahu?!


Itu masih menjadi misteri yang harus dia pecahkan. Dia tidak bisa membiarkan anak kecil itu merusak rencananya. Satu-satunya cara adalah dengan menyingkirkannya.


"Zero."


Dia memanggil orang kepercayaannya.


"Zero menghadap Tuan Zhil."


Seorang pria dengan jubah hitam, yang sedari tadi mengawasinya di sudut ruangan, melangkah sambil menundukkan kepalanya sedikit. Bros dengan lambang pedang berwarna emas yang berbentuk menyilang tersemat di dadanya, tampak berkilau.


"Tempatkan lima orang penyihir terbaik di sekitar Istana Everstell. Kita akan menyusup."


"Baik, Tuan."


"Mereka hanya bisa bergerak setelah aku memberi perintah. Kita harus diam untuk sementara waktu."


"Baik, Tuan."


Lalu pria bertudung hitam itu, yang dipanggil Zhil, membuka tudungnya, memperlihatkan rambut merah gelap yang menjadi ciri khas sukunya.


"Hmm. Akan lebih bagus kalau aku membuatnya mati seperti ibunya."


Dia tertawa rendah, kepalanya berimajinasi dengan liar, membayangkan wajah sombong anak kecil itu dipenuhi ketakutan.


"...."


Orang kepercayaannya, Zero, hanya bisa menuruti perintahnya. Mata cokelatnya bergerak dengan liar.


Melenyapkan orang yang memiliki aura "Dewi Kematian" yang legendaris mungkin akan sangat sulit. Selain itu, penjagaan di sekitar Istana Everstell mungkin akan semakin diperketat. Lalu dia memandang Zhil dengan gelisah.


"Maaf, Tuan...."


"Oh!"


Zhil, yang duduk di kursinya, tiba-tiba berdiri dengan wajah bersinar, lalu dia tertawa terbahak-bahak. Zero memandangnya dengan heran.


"Tuan...?"


Zhil mengalihkan pandangannya, menatap orang kepercayaannya. Dia menyeringai lebar.


"Sihir pengendali itu hilang, tapi sihir jahat itu kembali dipicu dan akhirnya muncul. Sepertinya keberuntungan ada di pihak kita. Hehehe...."


Zero merinding ketika mendengar ucapannya.


Sihir jahat yang sudah lenyap kembali muncul di situasi yang tidak terduga.


"Tuan, itu berarti...."


"Benar."


Zhil mengangguk dengan wajah puas.


"Kita bisa mengendalikan Xylia lagi sekaligus raja sombong itu dan putranya. Ini seperti pepatah "memukul dua burung dengan satu batu". Apalagi yang kita dapat adalah burung emas."


――――――――――――――


TBC!