Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 40


Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.


Terimakasih.


_______________________________________


Putri An Niu dan Putri Zhu Niu telah selesai menyelesaikan pertarungannya melawan 4 bandit. Mereka dibantu oleh seorang laki-laki yang mereka kenal. Orang itu memakai zirah khas yang melambangkan Ksatria Negara Barat. Dengan sihir esnya, orang itu berhasil menahan ke-4 bandit itu.


Tapi sayang ke-4 bandit itu masih bisa melarikan diri, karena 2 dari mereja ber-4 memiliki sihir elemen Air. Jadi saat orang Ksatria itu menyerang dengan sihir Airnya. Ke-2 bandit itu membelokkan serangannya. Sehingga ke-4 bandit itu bisa melarikan diri.


Mereka melarikan diri memang tak ingin berurusan dengan orang-orang anggota Kerajaan. Ditambah mereka melihat salah satu anggota dari Ksatria Negara Barat, mereka sudah bukan tandingannya. Apa lagi orang terkenal sangat kuat jika ia mulai serius.


"Para bandit itu cukup hebat." ucap Putri Zhu Niu.


"Benar, bahkan pedangku dan sihirku tak bisa menyentuh mereka." balas Putri An Niu.


"Apa kalian berdua baik-baik saja." tanya seorang anggota Ksatria Negara Barat itu.


Putri An Niu dan Putri Zhu Niu mengangguk kepalanya menandakan mereka berdua baik-baik saja.


"Aku saja heran, kemampuan ke-4 bandit setara dengan Ksatria Kerajaan, siapa sebenarnya mereka ? Tapi kenapa selalu melarikan diri jika bertemu dengan orang-orang Kerajaan ?" batin Putra Mahkota KunLi Wong.


"Terimakasih Putra Mahkota KunLi Wong, telah membantu kami." ucap Putri An Niu.


"Tak perlu sungkan, itu sudah tugasku. Dan kalian cukup panggil saja aku 'Kakak'." balas Putra Mahkota KunLi Wong, orang yang menggunakan zirah khas dari anggota Ksatria Negara Barat.


"Terimakasih kakak KunLi." ucap Putri An Niu dan Putri Zhu Niu bersamaan.


"Kalian kenapa ada disini ? Seharusnya kalian berada di Istana Kerajaan Wan bukan ?" tanya Putra Mahkota KunLi Wong.


"Kami pergi dari Kerajaan." jawab Putri An Niu.


"Kenapa ?" sahut Putra Mahkota KunLi Wong bertanya.


"Kami pergi sebenarnya ingin mencari Kakak Rey Hann." jawab Putri Zhu Niu.


Putri An Niu dan Putri Zhu Niu akhirnya menjelaskan tujuan alasan mereka pergi dari Kerajaan Wan. Mendengar penjelasan Putri Kembar dari Kerajaan Wan itu, Putra Mahkota KunLi Wong mengangguk-angguk kepalanya seakan ia mengerti.


Dirinya juga heran, karena Reyhan belum kembali pulang. Apalagi Reyhan juga anggota Ksatria Negara Barat ditambah Reyhan adalah pemimpinnya yang tak perbag hadir dari awal pertemuan Ksatria Negara Barat.


"Kenapa kakak bisa disini ?" tanya Putri An Niu.


"Kalian tidak tau ? Hutan ini masih termasuk kawasan Kerajaan Wong." jawab Putra Mahkota KunLi Wong.


Putri Kembar dari Kerajaan Wan itu mengangguk-angguk kepalanya. Putra Mahkota KunLi Wong mengajak mereka berdua untuk pergi dari tempat itu, dan beristirahat di dalam Kerajaan Wong.


_____


Disisi Lain Reyhan sedang berjalan-jalan di hutan dan pulang menuju rumah kecilnya sambil membawa jamur, dan berbagai daun-daunan yang dapat ia olah menjadi makanan. Reyhan merasa tenang dan damai di tempat tinggalnya. Reyhan telah selesai memasak dan segera memakannya. Setelah selesai makan, ia membersihkan sisa makannya. Tak ada waktu untuk beraktfitas, dirinya keluar dari rumah lagi.


Tak ada niatan apapun, ia hanya kembali jalan-jalan mengelilingi seluruh isi hutan angker. Sudah agak jauh dari rumahnya, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki dari belakang tubuhnya. Ia kemudian terbalik, matanya melihat sosok kakek laki-laki berjalan menggunakan tongkat. Kakek itu memberi senyuman, Reyhan pun membalas senyumannya lalu mendekati kakek itu.


"Kenapa kakek sendirian di tempat seperti ini ?" tanya Reyhan.


Jalan-jalan ? Ngapain juga kakek ini jalan-jalan sendirian di hutan ini ? Lagi pula pedesaan cukup jauh dari hutan ini, itulah pertanyaan yang ada dipikirannya Reyhan.


"Kakek mau kemana ?" tanya Reyhan.


"Kakek mau pulang." jawab kakek itu sambil tersenyum.


"Mari saya temani jika kakek tidak keberatan." balas Reyhan, karena ia juga penasaran letak rumah kakek yang ada dihadapannya, karena jelas-jelas lokasinya saat ini jauh dari pedesaan.


Kakek itu tersenyum dan mengangguk kepalanya. Reyhan pun berjalan dengan langkah kakinya menyamakan langkah kakek itu. Tak ada obrolan sama sekali selama menempuh perjalanan.


"Kau tinggal sendiri disini, nak ?" tanya kakek itu memulai pembicaraan.


"Iya, kek." jawab Reyhan.


"Kau sangat berani tinggal sendirian ya."


"Aku hanya ingin hidup tenang dan damai, kek."


Kakek itu tak membalas kata-kata Reyhan. Kakek itu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk kepalanya. Mereka berdua terus berjalan di hutan itu. Sudah hampir setengah jam tujuan mereka belum sampai. Reyhan mulai curiga dengan kakek yang berjalan di sebelah.


Reyhan menghentikan langkah kakinya. Reyhan menatap kakek itu terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya yang telah berhenti. "Sebenarnya kakek ini siapa ?"


Reyhan bertanya tiba-tiba dengan tatapan curiga. Mendengar pertanyaan dari Reyhan, kakek itu menghentikan jalannya, lalu berbalik tubuhnya.


Kakek itu melempar senyuman. "Kenapa kau bertanya seperti itu, nak ?"


"Kita sudah berjalan lama di hutan ini, tapi kita belum sampai tempat tujuan. Lagi pula tidak semua orang yang berani masuk ke hutan ini." jawab Reyhan dingin.


"Ternyata kau baru menyadarinya."


"Jadi siapa kau ?" tanya Reyhan.


"Aku hanyalah pria tua yang kebetulan lewat." jawab Kakek itu yang masih tersenyum.


"Kebetulan lewat ? Sepertinya ini kakek ini hanya sengaja masuk hutan ini." balas Reyhan dingin.


Kakek itu mendekati Reyhan. Kini mereka berdua berhadapan. Reyhan menatap kakek itu dengan tatapan tajam, dan mulai bersiaga dalam diamnya. Kakek itu kembali tersenyum melihat Reyhan.


"Tenang, aku bukan orang jahat. Aku sudah tau kau bukan dari dunia ini, dan kau juga pernah hidup di kehidupan sebelumnya di dunia lain, bukan ?" kata Kakek itu.


Reyhan terkejut mendengar kata-kata Kakek itu yang ada dihadapannya. Mengapa Kakek ini tau dirinya yang sebenarnya, itulah yang ada dipikiran Reyhan. Reyhan ingin menjawab, tapi mulutnya tiba-tiba diam membeku, seperti ada perintah melarangnya untuk tidak bergerak dan bersuara.


Tangan kakek itu memegang pundak Reyhan. "Di dunia ini, ada ramalan kuno yang mengatakan akan hadir beberapa orang dari dunia lain, dan kaulah salah satunya dari mereka."


Reyhan masih diam tak bisa bergerak atau berbicara, tubuhnya benar-benar kaku. Tangan kakek itu masih memegang pundak, tiba-tiba bercahaya putih, dan menyilaukan dengan terpaksa Reyhan memenjam matanya. Tubuh Reyhan seperti tersengat kecil. Cahaya putih itu meredup, ia membuka matanya. Tubuhnya sudah bisa ia gerakkan. Reyhan melihat-lihat sekelilingnya mencari keberadaan Kakek itu.


Karena kakek yang ada dihadapannya telah menghilang. Reyhan berlutut, ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, seperti kehabisan oksigen. Tubuhnya tiba-tiba merasakan rasa lelah, padahal ia dari tadi berdiri, dan mendengarkan ceramah seorang pria tua yang baru saja ia temui.


Reyhan kembali berdiri setelah tenaganya kembali. Masih merasa heran, tak ada pertarungan, tak gerakan banyak, hanya diam dan mendengar ceramah dari seorang kakek bisa membuat tenaganya hilang seketika. Reyhan segera kembali ke rumahnya, ia meloncat-loncar dari pohon ke pohon. Reyhan ingin segera beristirahat, karena masih merasa tidak enak di tubuhnya.