
_______________________________________
Reynal masih menatap tajam ke arah pria tinggi yang berdiri di depannya. Meski tak membawa pedang, baginya tak masalah. Dia bisa memunculkan pedang dari darahnya.
"Kau tak punya pedang, sungguh jelata sekali." ucap pria itu.
"Aku adalah Bane, aku dari keluarga Bangsawan Roan, kau pasti tau 'kan ?" lanjutnya.
Reynal tak menjawab. Ia mepertajamkan pandangannya ke pria yang bernama Bane itu.
"Jaga kedua matamu. Apa kau ingin aku mencongkel kedua bola matamu ?" kata Bane memberi ancaman, dan sambil mendekatkan ujung pedangnya di wajah Reynal.
Reynal menghela nafasnya. Lalu ia berjalan melewati orang itu. Lebih baik ia pergi jalan-jalan menelusuri kota Kerajaan Arlie, dari pada buang-buang waktu dengan pria yang benama Bane itu.
Sedangkan Bane tak terima melihat Reynal pergi melewatinya begitu saja. Meski tak membalas ucapannya, tapi kepergian Reynal dari hadapannya seakan dia hanyalah benda mati.
"Baru kali ini ada orang yang berani mengacuhkanku, sungguh berani dia." ucap Bane.
Ucapan pria itu memang ada benarnya. Karena tak ada orang yang berani melakukan sikap seperti Reynal tadi. Dia adalah Bane, dia anak Bangsawan Roan, Bangsawan kelas atas.
Nama Keluarga Bangsawan Roan sangat disukai oleh Kerajaan Arlie. Namun Bane dikenal sama masyarakat sebagai pria yang nakal. Suka bergonta-ganti pasangan. Entah dari Wanita Ras manusia, Ras Elf, dan berbagai Ras demi-human.
Dari keluarganya, bahkan Kerajaan tak tau kenakalan yang dia lakukan. Dia selalu berbuat baik di depan mereka. Dia berbuat seenaknya kepada penduduk biasa. Tak ada yang berani melaporkannya.
Karena saat akan dilaporkan, Bane sudah bertindak, maka orang yang akan melapor, besoknya sudah hilang entah kemana. Dia memiliki pengawal-pengawal setia dan handal, jadi kelakuan nakalnya selalu bisa ditutupi.
Meskipun melapor, tak ada yang percaya. Secara mereka adalah rakyat biasa, bukan dari Ras-Ras yang berkelas. Dan mereka hanyalah Ras bawah.
Pria bernama Bane masih menatap kepargian Reynal. Lalu salah satu pengawalnya datang dan membisikan sesuatu. Bane pun tersenyum menyeringai.
"Culik dia, dan bawa dia ke tempat rahasia kita." Bane memberikan perintah kepada pengawal setianya.
"Baik tuan." pengawal itu pun pergi, lalu diikuti oleh pengawal lainnya. Mereka pergi untuk menjalankan tugas mereka.
.....
Hari Sudah Siang.
Reynal tengah berjalan-jalan di kota Kerajaan Arlie. Dari pada menunggu lama Alice dan Elena pulang dari istana Arlie.
Ya, Elena mendapat undangan dari calon suaminya. Dan Alice seperti biasa, ia bertugas sebagai pengawal pribadinya Elena.
Reynal berjalan-jalan. Banyak sekali pedagang-pedagang yang ia lihat. Ternyata tak hanya manusia yang berdagang, dari Ras Elf, dan berbagai Ras demi-human pun juga ikut berjualan.
Banyak sekali pandangan menatap ketampanan Reyanl, dari Ras manusia, Ras lainnya. Bahkan ada yang menyapa ramah kepadanya. Reynal hanya membalas dengan senyuman tipisnya.
Sudah cukup lama ia berjalan-jalan, ia menghentikan langkah kakinya. Reynal sadar, ada yang mengikutinya. 1, 2, 3....., entah berapa orang yang mengikutinya. Mungkin ada 6 orang.
Tapi Reynal melanjutkan langkahnya. Ia tersenyum. "Baiklah, aku akan masuk ke permainan mereka."
Reynal pura-pura lengah. Ia terus berjalan ke arah gang yang sepi. Saat ia berjalan ke gang yang sepi. Tiba-tiba ada yang memukul tengkuknya.
Dan itu berhasil membuat Reynal pingsan. Ya, mereka melihat Reynal pingsan dengan senyuman puas. Padahal, yang sebenarnya, Reynal pura-pura pingsan.
Lalu salah salah satu dari mereka menggotong tubuh Reynal. "Tuan kita pasti sangat senang. Karena mendapat mainan baru."
"Itu pastinya. Ayo kita pergi dari sini."
.....
Entah kemana Reynal dibawa pergi.
Reynal terap terus berpura-pura pingsan. Di posisi tubuhnya yang sedang di gotong, ia harus menahan aroma bau laki-laki yang menggotong tubuhnya.
Aroma laki-laki itu sangat bau. Reynal pun menebak konyol, kalau pria yang menggotongnya tak pernah mandi. Mungkin mandi hanya saja keringatnya sangat bau.
Beberapa lama kemudian, tubuh Reynal di turunkan. Reynal masih menutup matanya. Ia menebak, kalau dia telah sampai ke tempat orang-orang yang membawanya. Kedua tangan dan kedua kakinya diikat.
Kali ini Reynal benar-benar terkejut dan ingin muntah. Aroma ruangan itu sangat-sangat memjijikan. Aromanya sungguh menjijikan walah ia tak pernah mencium aroma itu. Lalu ia mendengar percakapan yang membuatnya terkejut lagi.
"Tuan, kita telah membawanya."
"Kerja bagus. Aku akan bermain dengan wanita favoritku. Dan kalian puaskan mainkan tubuhnya." ucap pria itu.
Itulah yang membuat Reynal terkejut. Ternyata tempat itu adalah tempat sungguh-sungguh bernoda. Tubuhnya akan dijamah ? Yang benar saja. Disamping itu Reynal mengenal suara itu. Ya suara pria yang tadi menabraknya tadi.
Reynal membuka kedua matanya saat merasa ada satu tangan yang menyentuhnya. Reynal pun mengerakkan kedua tangan dan kedua kakinya.
Seketika ikatan tali yang mengikatnya terlepas dengan mudah. Reynal pun segera menghindar. Semua orang terkejut melihat Reynal yang telah lepas dengan mudah.
Pandangan yang membuatnya ingin muntah. Dalam ruangan yang basar dan luas. Ada 15 wanita tanpa busana dan meski sadar, tapi terlihat tak berdaya tergeletak di lantai.
Yang membuatnya lebih terkejut lagi, tak hanya Ras manusia, tapi juga Ras Elf, dan berbagai Ras demi-human. Yang lebih parahnya ada 5 laki-laki yang juga di jadikan korban. Sungguh pemandangan yang menjijikan.
Reynal menatap tajam ke arah orang-orang yang sudah bertelanjang dada. Dan dibelakang orang banyak itu. Ada pria yang menabraknya saat di atap penginapan, Bane.
Pria bernama Bane tangah bermain panas dengan wanita ber-Ras Elf. Yang benar saja. Dilihat dari wajah wanita itu, ia bisa melihat, ia ingin bebas dari penderitaannya.
Reynal marah benar-benar marah. Kenapa bisa ada manusia seperti Bane dilahirkan. Reynal pun melepaskan Sihir Gelapnya. Auranya benar-benar bisa dirasakan oleh semua orang yang di ruangan itu.
Semua terdiam merasakannya. Bane pun menghentikan aktifitasnya. Ia melihat semua pengikutnya terdiam melihat Reynal yang sudah berdiri.
"Tunggu apa lagi, serang dan tangkap dia !! Jangan sampai dia melarikan diri !!" Bane memberikan perintah sambil melihat Reynal mulai berjalan maju.
Semua pengikut Bane mengambil senjata mereka masing-masing.
Wusss !!!
JLEB !!
Sebuah anak panah datang meluncur dan menusuk paha kaki Reynal. Ia pun berlutut sambil memegang lukanya.
"Hahaha kalian lihat, dia tak apa-apanya." ucap sang pemilik busur panahnya.
Reynal berdiri, semua terbelalak. Lalu yang membuat mereka terkejut lagi, anak panah yang menusuk pahanya, telah dicabut dan lukanya telah tertutup dan sembuh.
Reynal melepaskan anak panah jatuh ke lantai. Lalu ia menatap orang sang pemilik anak panah itu. "Sepertinya serangan anak panahmu tidak ada apa-apanya untukku."
Reynal menghela nafasnya, dan menatap semua orang yang ada di ruangan itu. "Tidak, kuperbaiki perkataanku, semua serangan kalian tidak ada apa-apanya untukku."
Reynal menatap ke semua orang itu, lalu tersenyum menyeringai. "Bukankah kalian ingin bermain denganku ? Ayo kita bermain."