Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 158 | Season 2.2


_______________________________________


Tak ambil bingung, Reynal langsung maju mendekati 2 gadis itu, dan memegang pundak mereka.


Wsst !!


.....


Ketiga orang itu telah berada di depan pintu gerbang. Elena kesal, dan Alice tersenyum menang. Ya, Reynal memilih untuk berteleport begitu saja.


"Baiklah, aku sudah mengantarmu pulang putri Elena. Sekarang aku akan mengantarmu Alice." ucap Reynal.


"Tunggu !! Aku ikut kalian berdua, aku tak ingin pulang." ucap Elena.


"Putri Elena, kau harus pulang, karena Permaisuri mengkhawatirkanmu." jawab Alice.


"Aku masih tak ingin pulang. Karena kalian, aku tak bisa meneruskan berpetualanganku." ucap Elena.


"Aku adalah tanggung jawabmu Putri Elena, jika terjadi sesuatu di luar sana." jawab Alice.


Kedua gadis itu kembali berdebat. Itu membuat Reynal menghela nafasnya. Ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kedua gadis itu. Dia ingin pulang.


Alice yang menyadari Reynal pergi menjauh. Ia menyudahi debatnya dengan Elena. Ia segera pergi menyusul laki-laki itu.


Elena yang tak ingin ditinggal dan tak ingin pulang ke istana, ia segera mengejar Alice. Tapi, tiba-tiba ada yang mencengkram pundaknya dengan erat.


"Sayang, kau sudah pulang ?"


Elena mengenal suara itu. Ya, suara ibunya. Permaisuri sudah dari tadi sudah di tempat itu, dan mendengar semua percakapan Alice, Reynal, dan Putrinya.


Perlahan Elena membalikan tubuhnya. Ia tersenyum melihat ibunya yang sudah tersenyum padanya. Elena tau dibalik senyuman ibunya, itu membuatnya menelan salivanya.


"Ibu, aku pulang." ucap Elena.


"Oh, kamu pulang ya ? Ayo kita masuk." balas Permaisuri Ella yang masih tersenyum dan menarik tangan Putrinya.


Elena pasrah. Dia sudah hafal, senyuman ibunya. Baginya, kini senyuman ibunya itu manakutkan padanya. Sambil memasuki pintu gerbang istana, ia menoleh kepalanya ke arah lain.


Elena melihat Reynal dan Alice tersenyum padanya. Elena membalas dengan wajah datarnya. "Kalian tega."


Disisi Reynal dan Alice tersenyum senang. Akhirnya mereka telah mempulangkan Elena, dengan paksaan pastinya.


Wsst !!


Reynal pun membawa Alice pulang dengan sihir teleportnya.


Tapi tanpa disadari mereka berdua, dibalik persembunyiannya, ada sepasang mata yang melihatnya.


Orang itu seakan cemburu melihat kedekatan Alice dengan laki-laki selain dirinya. Apalagi, Alice dekat dengan laki-laki yang ia benci.


Tapi yang membuatnya terkejut, ia melihat laki-laki itu bisa menghilang dengan menggunakan sihir yang sangat langka dan paling diinginkan semua orang.


"Alice, aku takkan membiarkanmu bersama laki-laki selain aku."


.....


Alice dan Reynal telah sampai tujuan.


Alice membuka pintu rumahnya. "Kau mau mampir ?"


Alice berharap laki-laki itu mau mampir ke rumahnya. Karena, semenjak Reynal pergi dari rumahnya, hatinya merasa sepi.


"Boleh ?" sahut Reynal.


"Tentu saja." jawab Alice. Reynal tersenyum, lalu ia masuk ke rumah yang pernah ia kunjungin sebelumnya.


Alice mempersilahkan masuk dan duduk. Reynal pun duduk di kursi. Alice meminta laki-laki itu untuk menunggu. Reynal pun mengiyakan.


Beberapa lama Reynal menunggu, Alice datang membawa nampan yang sudah berisi 2 cangkir teh, dan cemilan yang banyak.


Gadis itu rupanya dia pergi mandi. Pantesan Reynal lama menunggunya. Alice duduk di kursinya setelah menaruh semua jamuannya. Ia duduk berhadapan dengan laki-laki itu.


Suasana hening.


Reynal pun berdehem. "Apa aku boleh minum tehnya ?"


"Silahkan." jawab Alice.


Reynal pun mengambil cangkirnya. Lalu perlahan meminum tehnya. "Enak." Lalu ia meletakkan kembali cangkirnya di meja.


"Rencana, aku harus mencari pamanku. Tapi kalau pamanku sudah kutangkap, aku masih bingung." jawab Reynal.


"Bingung kenapa ?" tanya Alice.


"Bingung caranya untuk kembali ke duniaku." jawab Reynal sambil menatap gadis itu.


"Owh." sahut Alice santai, tapi dalam hatinya seakan tidak rela.


Suasana kembali hening.


"Bolehkan aku mendengar tentang dirimu ?" tanya Reynal.


"Tentangku ?" sahut Alice sambil mengerut dahinya.


"Ya, misalnya tentang keluargamu, dan kenapa kau tinggal sendiri." jawab Reynal.


"Aku memang hidup sendiri disini." jawab Alice santai.


"Sendiri ?" sahut Reynal sambil mengangkat alis sebelahnya.


"Aku tak punya keluarga. Semua keluargaku telah lama meninggal." jawab Alice tersenyum.


"Maaf." ucap Reynal tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Dari usiaku 12 tahun, aku sudah hidup sendiri. Selama ini aku bertugas sebagai penjaga Putri Elena saat dia pergi dari istana. Dan kadang aku berburu."


Reynal diam. Ia memilih menjadi pendengaran yang baik untuk gadis yang ada dihadapannya.


Lama-kelamaan Alice dan Reynal, saling bertukar cerita mereka. Mereka saling memberi saran dan semangat. Kadang mereka tertawa mendengar kisah mereka masing-masing.


.....


Hari sudah sore.


Tak terasa Reynal dan Alice saling bertukar cerita. Laki-laki itu sadar kalau dirinya telah terlalu lama bertamu di rumah seorang gadis.


Reynal pun segera berdiri dan berpamitan dengan Alice. Gadis tersenyum, dan berterimakasih Karena Reynal masih mau bertamu ke rumahnya.


Reynal berjalan keluar setelah berpamitan. Ia langsung menggunakan sihir teleportnya dan menghilang begitu saja.


Alice pun menutup pintunya setelah melihat Reynal pergi menghilang. Dan tak lupa ia menguncinya rapat-rapat.


Alice masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia memeluk gulingnya. Dan tersenyum-senyum sendiri.


Ia teringat kebersamaannya bersama Reynal belakangan ini. Dirinya tak menyangka kalau ia akan sedekat ini dengan laki-laki yang baru ia kenal.


Tapi senyumannya tiba-tiba memudar. Ia sadar laki-laki itu berasal bukan dunia yang sama dengannya. Lalu ia bangun dan mendudukan dirinya di atas kasur.


"Ada apa denganku ? Kenapa perasaanku tak enak kalau membayangkan dia kembali tempat asalnya."


.....


Reynal telah kembali ke penginapannya.


Ia segera mandi dan membersihkan dirinya. Ia segera merebahkan tubuhnya di kasur setelah mandi dan memakai pakaiannya.


Karena lelah, ia pun memenjam kedua matanya. Ia harus banyak istirahat. Tak hanya memikirkan pencarian pamannya, tapi juga cara untuk pulang kembali ke tempat asalnya.


.....


Keesokan Harinya.


Hari telah pagi, Alice juga telah siap setelah mandi. Ia mengenakan pakaian umumnya untuk bertugas. Ia segera pergi ke istana. Seperti biasa, ia bertugas mengawasi Elena.


Saat ia telah keluar dari rumahnya, ternyata sudah ada seorang laki-laki yang menunggunya. Laki-laki itu sudah tak asing baginya.


"Ayo, kuantar kau ke istana."


"Tak perlu Yang Mulia. Aku sudah terbiasa berangkat sendiri." jawab Alice.


Laki-laki itu adalah Delbert. Dia kali ini datang ke rumah Alice untuk menjemputnya. Ia datang dengan menggunakan kudanya.


"Ayolah Alice, jangan begitu, aku telah datang kemari lebih awal untuk menjemputmu. Dan kau pasti tau jarak dari rumahmu ke istana tidaklah dekat." ucap Delbert.


Alice menjadi tak enak untuk menolak. Ia akhirnya pun mau, Delbert mempersilahkan gadis itu untuk naik kudanya terlebih dahulu.


Dengan terpaksa, Alice naik lebih dulu. Lalu disusul Delbert. Alice duduk di depan, dan Delbert duduk di belakang. Setelah semuanya siap, kudanya pun perlahan berlari pergi ke istana.