
Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.
Terimakasih.
_______________________________________
Seorang laki-laki berjalan di sebuah pedesaan yang cukup ramai. Desa itu tidak terlihat seperti desa kecil. Melainkan desa itu seperti desa itu luas. Banyak sekali toko-toko yang berjualan di pinggir jalan. Ada toko pakaian, ada rumah makan, dan lain-lain.
Laki-laki terus berjalan meski hari sudah mendekati sore. Reyhan tetap melakukan pencariannya. Ia terus mencari dimana tempat yang melakukan perdagangan budak. Reyhan menduga, mungkin tempat tersebut tertutup agar tidak diketahui oleh pihak Kerajaan.
Bagi orang yang melakukan perdagangan budak, pasti dilakukan secara tertutup.
Banyak orang-orang yang melihat dirinya. Dari cara berpakaian Reyhan, semua penduduk desa sudah menduga kalau dirinya adalah salah satu orang Kerajaan.
Tiba-tiba Reyhan merasakan ada yang mengawasi dirinya. Reyhan tau, tapi ia mencoba pura-pura tidak tau. Ia terus menulusuri tempat yang menurutnya mencurigakan.
Hampir 1 jam, Reyhan berkeliling. Ia masuk dan mampir di setiap toko, ia tak melihat apapun yang mencurigakan. Namun daat ia bertanya di setiap penjual toko dan penduduk, tentang perdagangan budak.
"Aku benar-benar tidak tau."
"Aku tak tau kalau ada perdagangan budak di desa ini."
"Tapi ada kejadian, sudah ada 6 orang gadis menghilang secara misterius."
"Kejadian ini bermulai sebulan yang lalu."
"Pihak keluarga dari Ke-6 gadis, masih belum menemukannya."
Itulah jawaban dari setiap penduduk di desa tersebut. Dalam pikirannya, Reyhan bertanya-tanya. "Jika sudah sebulan kelihangan 6 gadis di desa ini, kenapa pihak Kerajaan belum ada yang tau ?"
Reyhan berfikir keras sambil meresap kopi dan duduk di salah satu kedai kopi di desa itu.
"Dan Pihak Kerajaan belum ada yang mengetahuinya. Bisa jadi ada orang Kerajaan yang bermain-main." batin Reyhan.
Reyhan kembali mensruput kopinya. Lalu ia meletakkan kembali cangkirnya di meja. Ia kembali berfikir. Tiba-tiba ada salah satu pemuda menyapanya.
"Apakah tuan dari orang Kerajaan ?" tanya pemuda itu.
"Ya, aku dari pihak Kerajaan." jawab Reyhan.
"Syukurlah, dari pakaianmu aku sudah bisa menebaknya."
Reyhan mengangguk-angguk kepalanya. Ia menduga kalau pemuda yang ada dihapadannya tidak mengenalinya sebagai Putra Mahkota.
"Siapa kau ?" tanya Reyhan.
"Aku penduduk asli desa ini, namaku Chen."
"Jadi ada perlu apa ?"
"Sebenarnya aku berharap pihak Kerajaan mengirim bantuan untuk mengatasi masalah yang ada disini." jawab Chen.
"Jadi kau warga yang nelapor tentang perdagangan budak ?" tanya Reyhan.
"Benar Tuan. Aku yang melapor." sahut Chen.
"Kenapa kau berkata seperti itu ? Aku sudah menyari berkeliling di desa ini, tak ada yang namanya perdagangan budak, melainkan kasus 6 gadis hilang." jawab Reyhan.
"Itu tuan. Mereka 'lah yang dijadikan budak. Aku melihat beberapa kelompok membawa mereka pergi ke suatu tempat."
"Apa kau yakin ?"
"Benar tuan, aku sangat yakin. Aku melihat mereka melakukan pembayaran, dan setelah itu mereka membawa ke-6 gadis itu."
"Kenapa kau tidak mencegahnya ?"
"Aku sebenarnya ingin mencegahnya tuan, tapi jumlah mereka lebih banyak. Sudah dipastikan aku pasti akan gagal menyelamatkan menyelamatkan mereka. Aku memilih pergi dan melapor ke pengawal yang ada di kota Kerajaan."
Reyhan mengangguk-angguk kepalanya. "Apa kau tau, kemana ke-6 gadis itu pergi ?"
"Mereka masih di desa ini tuan."
"Dimana, bukankah aku sudah mengatakannya tadi, aku sudah berkeliling di desa ini, tapi tak ada hasilnya."
"Tempat itu di toko pakaian, tuan."
Reyhan mengernyit dahinya. "Toko pakaian ?"
"Ya, aku melihat mereka dipaksa masuk ke dalam toko pakaian."
"Seperti apa toko pakaian itu ?"
"Toko pakaian itu cukup besar memiliki 2 lantai tuan."
"2 lantai ?"
"Benar tuan ?"
"Apa toko pakaian itu di samping rumah makan ?" tanya Reyhan memastikan.
"Benar tuan."
Reyhan terbelalak. "Shit, bukankah aku dari sana juga."
"Ya sudah, aku akan pergi kesana." kata Reyhan.
"Tuan hanya sendiri ?"
"Apa tuan yakin, disana berbahaya tuan jika kau datang sendiri kesana."
"Aku tidak takut." jawab Reyhan.
"Terimakasih atas informasinya. Dan ini untukmu." lanjutnya sambil memberikan 10 koin berwarna emas, dan langsung memberikannya ke tangan pemuda itu.
Chen terbelalak melihat 10 coin emas yang hanya dimiliki oleh keluarga Kerajaan. Lalu ia menatap Reyhan yang akan pergi.
"Tunggu tuan !!"
Reyhan berhenti, lalu berbalik sambil mengerut dahinya.
"Sebenarnya tuan ini siapa ?"
Reyhan tersenyum. "Putra Mahkota Wan." ucapnya lalu ia kembali berbalik dan pergi meninggalkan meninggalkan pemuda yang bernama Chen yang terdiam membeku.
Setelah sudah terlihat jauh, Chen tersadar, lalu kedua tangannya memegang kepalanya. "Astaga, aku bertemu Putra Mahkota."
.
.
.
.
.
.
.....
Di Kerajaan Wan.
Disisi Lain, terlihat semua anggota keluarga Kerajaan berkumpul di Kediaman Reyhan dan Xiu Juan. Semua berbahagia, karena mendapat kabar bahagia, dimana Xiu Juan kini tengah mengandung.
Raja Wan dan ketiga istrinya tersenyum senang, karena mereka akan memiliki cucu. Xiu Juan yang sudah sadar, ia juga bahagia terharu, ternyata dirinya bisa mengandung buah cintanya bersama suaminya.
Tabib pun ikut merasakan rasa bahagia melihat kebahagian keluarga Kerajaan. Ia pun segera pamit untuk undur diri.
Xiu Juan mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata. Ia tak bisa menahan rasa bahagianya. Terlebih lagi, ketiga adik iparnya, mereka juga merasa senang karena mereka akan segera memiliki keponakan.
"Tunggu !! Suamimu dimana ? Kenapa dia tidak hadir di kabar bahagia ini ?" tanya Permaisuri Xia kesal.
Xiu Juan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menatap Raja Wan. "Tadi kak Rey pergi, ke ruang ayah."
Permaisuri Xia dan semua lainnya menatap Raja Wan.
"Kemana Putramu, suamiku ? Apa kau terlalu keras membimbingnya dalam mengajarkan tugasnya ?" tanya Permaisuri Xia menatap tajam ke arah suaminya.
Raja Wan mengaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. Lalu ia mencoba menceritakan semuanya.
.
.
.
.
.
.
"Kau menyuruhnya langsung turun tangan ?" tanya Permaisuri Xia emosi.
"Aku tidak menyuruhnya turun tangan, aku hanya meminta solusi." jawab Raja Wan membela diri.
"Apa kau tidak memiliki solusi sendiri, hingga akhirnya dia langsung turun tangan." ucap Selir May Lee yang juga emosi.
"Tentu saja aku punya solusi sendiri, tapi aku hanya ingin mendengar solusi dari putraku, apa salahnya karena dia adalah calon Raja yang akan menggantikanku nantinya. Aku juga telah mengirim pengawal untuk menyusulnya dan memberitahu keadaan istrinya." jawab Raja Wan menjelaskan.
"Tapi tetap saja, kau memisahkan dia dengan istrinya yang tengah mengandung anaknya." ucap Selir Bao juga ikut emosi.
"Astaga." sahut Raja Wan pasrah menghadapi ketiga istrinya.
Xiu Juan dan ketiga adik iparnya menahan tawa melihat Raja Wan yang terlihat frustasi menghadapi ketiga istrinya.
.
.
.
.
.
.
.....
Disisi Reyhan, ia tengah menatap tajam ke semua laki-laki yang ada di dalam toko pakaian, tepatnya kini ia berada di ruang bawah tanah.
Dan ia juga melihat 6 gadis yang diculik terlihat mengenaskan. Ke-6 gadis itu benar dijadikan budak. Lebih tepatnya dijadikan budak pemuas nafsu.