
Jangan Lupa Like, Rate⭐5 dan Vote.
Terimakasih.
_______________________________________
"Kemana An Niu dan Zhu Niu ?"
Tanya seseorang pria dewasa, sang penguasa Kerajaan Wan, yang tak lain Raja Kong Li Wan/Raja Wan. Dirinya baru saja pulang bersama Pangeran Jian Heeng dari pertemuan para Raja bersama Ksatria Negara Barat.
Kini dirinya telah duduk di kursi dan untuk makan malam bersama. Ketika saat akan makan, Raja Wan melihat anggota keluarganya tidak lengkap. Putri kembarnya, An Niu dan Zhu tidak ikut makan bersama-sama seperti biasanya. Raja Wan memberi pertanyaan kepada ketiga istrinya. Ketiga istrinya menjawab tidak tau.
Permaisuri Xia dan Selir May dan Selir Bao juga baru menyadari ketidakhadiran Putri An Niu dan Zhu Niu di meja makan. Raja dan Ketiga istrinya menatap Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi. Sedangkan Pangeran Jian Heeng mengangkat alis sebelahnya. Ia juga menatap kedua saudarinya yang terlihat gugup.
"Apa kalian berdua tau kemana Putri kembar An Niu dan Zhu Niu ?" tanya Raja Wan kepada Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi.
"Aku tidak tau ayah." jawab Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi bersamaan. Mereka berdua berbohong.
"Mulut kalian mengatakan tidak tau, tapi sorot mata kalian mengatakan kalian berbohong." balas Raja Wan tegas.
Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi merasa ketakutan mendapat tatapan tajam dari Raja Wan.
"Maafkan kami ayah." jawab Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi bersamaan dan menunduk kepalanya.
"Katakan ! Apa yang terjadi ? Kemana An Niu dan Zhu Niu ?" tanya Raja Wan.
Semua orang menatap Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi. Mereka juga ingin tau kemana Putri An Niu dan Putri Zhu Niu pergi.
"Mereka berdua pergi Ayah." akhirnya Putri Mahkota Lin Wei menjawab pertanyaan dari Raja Wan.
Raja Wan terkejut mendengar jawaban Putri Mahkota Lin Wei. Permaisuri dan Kedua Selir Raja Wan juga tak kalah terkejutnya.
"Pergi ? Pergi kemana ?" tanya Selir Bao berdiri dari duduknya dan menatap Putri Mahkota Lin Wei.
"Kenapa kalian tidak mencegahnya ? Bagaimana jika terjadi apa dengan mereka ?" lanjutnya bertanya.
"Ma-Maaf ibunda, kami sudah mencoba mencegahnya, tapi mereka berdua tetap bersikeras untuk pergi dari istana." jawab Putri Jing Mi menundukan kepalanya.
Hati Selir Bao seketika sedih mendengar jawaban Putri Jing Mi. Permaisuri Xia pun ikut berdiri dan mengelus punggung Selir Bao. "Adik, tenanglah."
"Bagaimana aku bisa tenang Kakak, sedangkan Putri-Putriku pergi, aku sedih." jawab Selir Bao dengan air matanya sudah berkaca-kaca.
"Tak hanya dirimu adik, aku dan Kakak Xia juga sedih mendengarnya." balas Selir May yang ikut berdiri dan mencoba menenagkan Selir Bao.
Permaisuri Xia dan Selir May membantu Selir Bao untuk kembali duduk di kursinya. Raja Wan terdiam melihat kesedihan ketiga istrinya. Lalu matanya kembali menatap Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi.
"Jadi, kemana An Niu dan Zhu Niu pergi ?" tanya Raja Wan kepada Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi.
"Mereka berniat membawa Reyhan untuk pulang." kata Putri Jing Mi menambah jawaban Putri Mahkota Lin Wei.
Semua terdiam seketika setelah mendengar jawaban Putri Mahkota Lin Wei. Ruangan itu terasa hening. Pangeran Jian Heeng diam-diam ia mengepal kedua tangannya di bawah mejanya. Dirinya semakin membenci Saudaranya. Bisa-bisanya kepergian Reyhan mengakibatkan Putri An Niu dan Putri Zhu Niu juga pergi. Ternyata kepergian An Niu dan Zhu Niu hanya untuk mencari Reyhan.
Namun berbeda dengan Raja Wan, ia terdiam, dirinya merasa bersalah atas kejadian terakhir setahun yang lalu. Dimana dirinya berniat menjodohkan Reyhan dengan Putri Mahkota dari Kerajaan Xiu. Reyhan keras menolak, tetapi tetap kekeh dengan niatnya dan akhirnya dirinya dan Reyhan hampir bertarung jika Permaisuri Xia tidak datang dan menghentikannya.
Waktu itu Raja Wan khawatir jika Raja Xie menginginkan perang, karena Reyhan menolak perjodohannya yang dianggap penghinaan bagi Raja Xie. Ternyata dugaanya salah, Raja Xie memberi kabar bahwa Reyhan menemui dirinya. Raja Xie menghargai keputusan Reyhan untuk menolak niatnya.
.
.
Sedangkan disisi Permaisuri Xia, ia menatap lekat kepada Putri Mahkota Lin Wei, dirinya masih tak percaya mendengar atas jawaban putrinya. Selir May dan Selir Bao juga ikut terdiam, lalu mereka juga ikut menatap Putri Mahkota Lin Wei. Permaisuri Xia seketika nafsu makannya hilang, ia berdiri dari duduknya dan pergi dari tempat itu.
Selir May dan Selir Bao saling lempar manatap, lalu mereka juga berdiri dan ikut pergi. Begitu juga dengan Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi, mereka segera pergi menyusul ketiga ibundanya. Di ruangan itu hanya tersisa 2 laki-laki, Raja Wan dan Pangeran Jian Heeng. Suasana masih hening, tiba-tiba Pangeran Jian Heeng berdiri dan pergi dari ruangan itu. Tinggallah Raja Wan yang sendiri di ruangan itu.
.
.
.
.....
Sedangkan 2 Putri kembar Kerajaan Wan yang sedang dibicarakan, An Niu dan Zhu Niu, kini tengah pergi menggunakan kuda mereka. Awalnya Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi tidak menyetujui keputusan An Niu dan Zhu Niu pergi dari Kerajaan Wan. Tapi An Niu dan Zhu Niu tetap bersikeras untuk pergi. Dan akhirnya Putri Mahkota Lin Wei dan Putri Jing Mi mengalah dan membiarkan mereka berdua untuk pergi.
An Niu dan Zhu Niu pergi dari Kerajaan waktu siang. Mereka pergi bukan untuk bermain atau berpetualang. Melainkan mereka ingin mencari Reyhan demi mengembalikan kebahagiaan Permaisuri dan yang lainnya. Mereka terus mengendarai kudanya hingga wilayah perbatasan Kerajaan Wan telah mereka lalui.
Satu hari telah terlewati, selama seharian sebelumnya mereka tak hanya berjalan terus. Terkadang mereka berhenti sebentar untuk istirahat. Kini mereka berdua tengah berada di sebuah hutan yang luas. An Niu dan Zhu Niu masih di dalam hutan itu, berhenti sejenak untuk beristirahat.
Tapi saat di tengah-tengah mereka berdua sedang beristirahat, tiba-tiba ada sekelompok orang berjumlah 4 dan membawa senjata. Ternyata 4 orang itu adalah bandit, yang berniat jahat dan mengganggu waktu istirahat mereka berdua. Dari awal perjalanan mereka lancar, dan baru kali ini mereka diganggu oleh sekelompok bandit itu.
"Hei.., tidak baik jika kalian berdua berkeluyuran di hutan." ucap salah satu bandit itu yang berbadan gemuk.
An Niu dan Zhu Niu tidak menjawab. Bandit1 marah karena ucapanya tidak di respon sama sekali, tapi dirinya mencoba menahan amarahnya. "Kalian terlihat seperti butuh bantuan, bukan ?"
"Tidak usah bersikap dirimu peduli kepada kita !!" jawab Zhu Niu ketus.
"Hei.., hei.., hei.., jangan begitu dong cantik, lebih baik, kalian berdua ikut kita-kita. Kita jamin kalian pasti akan merasa nyaman." kata bandit2 dengan tatapan dan senyumannya seperti sudah tak tahan melihat wajah cantik dan bentuk tubuh yang dimiliki An Niu dan Zhu Niu.
"Kita menolak, terimakasih." jawab An Niu dingin.
Keempat bandit itu mulai melangkah mendekati An Niu dan Zhu Niu. Disisi An Niu dan Zhu Niu saling menatap dan tersenyum, lalu bersamaan mereka berdua menarik pedang mereka dan memasang kuda-kuda.