
_______________________________________
Delbert memandang Alice.
Di matanya, Alice semakin cantik dari sebelumnya. Ia menggerakan tangannya untuk menggenggam tangan gadis pujaan.
Tak disangka, Alice menepis kasar tangan Delbert yang akan menyentuh tanganya. Mendapat perlakuan seperti itu, tentu saja Delbert terkejut, ia juga tak terima.
"Apa maksudmu, Alice ?" tanya Delbert marah.
"Jangan menyentuhku." jawab Alice dingin.
"Ada apa denganmu ? Kenapa kau menjadi dingin seperti ini ?" tanya Delbert.
"Apa kau tidak sadar atas kelakuanmu sebelumnya ?" tanya Reynal.
"Diam kau !! Aku tak berbicara denganmu !!" Delbert membentak kepada Reynal.
"Kau jangan mendekatiku lagi !!" ucap Alice.
Delbert mengerut dahinya. "Alice ?"
"Sepertinya kau lupa apa yang telah kau lakukan padaku. Kau telah menghancurkannya." kata Alice dingin dan menatap tajam.
Delbert pun teringat. Kejadian sebulan yang lalu. Ya, ia dan ayahnya telah menghancurkan rumah peninggalan orang tuanya Alice.
"Maafkan aku Alice, sungguh aku khilaf waktu itu." kata Delbert yang masih berharap.
"Jangan berharap padaku Delbert. Karena aku tak suka kau di dekatku." kata Alice.
Delbert tersenyum mengejek. "Tak suka aku di dekatmu ? Bukankah kau yang datang ke sini ? Itu sama saja kau mendekatiku."
Reynal dan Reynalda yang tak habis pikir, kenapa bisa ada mahluk jenis Delbert. Sudah jelas-jelas berbuat salah, tapi masih selalu percaya diri. Dan nyalinya juga besar, seakan tak pernah melakukan kesalahan.
Alice yang mendengar ucapan Delbert, ia menepis tangan di udara. Seketika tubuh Delbert terdorong angin ke belakang.
Tentu saja itu membuat Delbert terkejut. Ia mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah. Delbert tak terima mendapat perlakuan Alice padanya.
Delbert menarik pedangnya. "Aku tak peduli kalian lebih kuat, tapi kekuasaanku melebihi kalian !!"
Delbert berlari. Alice, Reynal, dan Reynalda mengeluarkan pedang mereka masing-masing.
Delbert meloncat, ia pun mengayunkan pedangnya ke arah targetnya siapa lagi kalau bukan Alice.
Jika ia tak bisa memiliki Alice, maka tak boleh ada laki-laki lain memilikinya. Jadi jika Alice mati, tak hanya ia yang kehilangan maka Reynal juga akan kehilangannya.
Alice terbang dan langsung bergerak cepat ke arah Delbert. Ia langsung memberikan tendangan ke Delbert.
BUGH !!
Delbert terkena tendangan. Ia terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah. Alice turun mendaratkan kedua kakinya di permukaan tanah.
Delbert berdiri. Egonya masih terlalu tinggi. Ia tak menyadari kalau dirinya jelas-jelas bukanlah tandingan mereka bertiga.
Entah apa yang merasukinya. Meraih kemenangan untuk Delbert jelas-jelas tidak ada sama sekali, tapi ia tetap maju untuk apa yang ia mau.
"Hentikan !!"
Terdengar suara teriakan.
Semua menoleh ke arah sumber suara itu. Mereka melihat keluarga mereka telah berjalan mendekat.
Tak hanya Raja Dorothy dan Permaisurinya, dan juga ada Keluarga Kerajaan Arlie besamanya. Bahkan Reyhan pun juga ada.
Mereka semua berjalan mendekati keempat manusia yang masih muda itu. Raja Delbert sudah marah, ia tak habis pikir dengan Putranya.
"Tak kukira, sifat Putramu sangat menjijikan bagaikan sampah." ucap Reyhan tersenyum mengejek.
"Diam kau pria penyiksa !!" Delbert berteriak.
Reyhan langsung memasang wajah datarnya. Muncullah cahaya portalnya dna keluarlah rantai.
Rantainya langsung mengikat Delbert. Raja Dorothy dan Permaisuri Ella terkejut melihatnya. Tak hanya mereka berdua, Keluarga Kerajaan Arlie pun juga terkejut.
Delbert yang terikat dna membuatnya jatuh ke tanah. Ia tak bisa melakukan apapun. Berontak, rantai yang mengikat tubuhnya semakin erat.
Reyhan berjalan mendekatinya. Ia pun memunculkan cahaya-cahaya portalnya disekelilingnya, dan keluarlah semua pedang dari setiap cahaya-cahaya itu. "Sepertinya kematian adalah pas untukmu ya ?"
Delbert langsung ketakutan, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak-tidak, ampuni aku, aku hanya khilaf."
"Di dalam prinsipku, tak ada kata khilaf untuk orang seperti jenismu." kata Reyhan berdiri di dihadapannya.
Delbert menelan salivanya. Ia memandang ke semua pedang yang mengarah padanya. Keluarga Kerajaan Arlie pun tak kalah terkejutnya melihat aksi Reyhan.
"Kekuatan ayahnya Reynal sangat mengerikan." bisik Aland kepada calon istrinya.
"Ya. Aku akui itu, tidak ayah dan anak, mereka berdua sama-sama mengerikan." balas Elena.
Raja Dorothy langsung bergerak maju, ia pun langsung berlutut di depan Reyhan. "Yang Mulia Raja Reyhan, Aku mohon ampun untuk Putraku."
Mendengar ucapan Raja Dorothy, semua terbelalak Seorang Raja menyebut Yang Mulia kepada Raja lain ?
Tak ada jawaban dari Reyhan, Raja Dorothy bersuara lagi. "Mohon ampun untuk putraku, aku berjanji akan mendidiknya lebih baik lagi."
"Mendidik ?" sahut Reyhan.
"Kau saja sudah jadi Raja terburuk ingin mendidik Putramu lagi ? Yang ada Putramu semakin hacur." lanjutnya.
Raja Dorothy hanya diam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia akui, ia mendidik putranya memang kurang tegas, ia terlalu sayang dan memanjakannya.
Raja Arlie berjalan mendekat, ia memegang pundaknya Reyhan. "Raja Reyhan yang terhormat, tolong ampuni 'lah Putranya, kasihan jika putranya mati, sedangkan putrinya akan menikah dengan putraku, dan Delbert adalah penerus satu-satunya Raja Dorothy."
Semua yang mendengar ucapan Raja Arlie, memang ada benarnya. Aland pun juga berjalan mendekati ayah dan Raja Kerajaan dari dunia lain itu.
Aland sedikit membungkuk badannya di depan ayahnya dan Reyhan. "Yang Mulia, mohon ampunilah dia. Yang Mulia Raja Dorothy tidak memiliki penerus selain Putra Mahkota Delbert."
Reyhan memutar bola matanya. "Jika dia mati, dia tinggal bikin anak lagi sama istrinya. Apa susahnya ?"
Semua terkejut tak main. Mereka semua benar-benar tak percaya mendengar ucapan Reyhan. Bikin anak lagi ? Yang benar saja, dia terlalu mudah untuk bicara. Semua terdiam, dan menganga.
Terutama dengan Permaisuri Raja Dorothy dan Permaisuri Raja Arlie, mereka berdua sungguh merasa tak enak mendengarnya.
Reynal dan Reynalda menepuk jidatnya. Beginilah sifat ayahnya jika marah dan berbicara kepada musuh pasti semua dikeluarkan tanpa beban.
Semua masih terdiam. Mereka masih tak percaya ada seorang Raja model seperti Reyhan.
"Kenapa kalian diam ?" tanya Reyhan.
"Bukankah ucapanku benar ? Tinggal bikin anak lagi. Kalau lahirnya perempuan, tinggal bikin lagi. Tapi kalau tidak hamil-hamil juga, tinggal mencari selir lalu nikahkan. Masalah terselesaikan." lanjutnya.
Semua semakin tak percaya ucapan seorang Raja bisa semudah itu diucapkan tanpa dosa. Reynal tak tahan, dan malu dengan ucapan ayahnya. Begitu juga dengan Reynalda, sebagai perempuan ia sangat malu. Mereka langsung berjalan mendekati Reyhan.
"Ayah. Ampuni 'lah Delbert, dan dia sudah mustahil bisa melawan ayah." ucap Reynal.
"Ayah hanya ingin memberinya sedikit pelajaran." jawab Reyhan santai.
"Tapi yang ayah lakukan terlalu berlebihan." ucap Reynalda.
Sifat Reyhan memang seperti itu. Reynal dan Reynalda terus berusaha membujuk ayah mereka agar tidak membunuh Delbert. Awalnya memang susah untuk dibujuk pada akhirnya Reyhan tidak membunuh Delbert dan melepasnya.