Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 170 | Season 2.2


_______________________________________


Reynal menatap tajam ke arah pria yang mengenakan jubah hitam yang ada di depannya. Ia segera menyembunyikan kekasihnya di belakang tubuhnya, tepatnya Alice.


"Pergilah." ucap Reynal datar ke arah pria itu yang tak lain adalah pamannya, Jian Heeng.


"Tidak, aku takkan meninggalkanmu." jawab Alice.


"Tolong dengarkan aku. Dia pamanku, dia berbahaya." ucap Reynal yang masih menatap tajam ke arah pamannya, tanpa menatap Alice.


"Aku takkan meninggalkanmu, kita bertarung bersama." jaaab Alice yang masih kekeh.


Reynal menghela nafasnya. Sungguh tempat yang tak sesuai. Mereka berada di tengah kota. Bisa berbahaya jika Reynal dan Pamannya bertarung, itulah isi pikiran Reynal saat ini.


Ini adalah salahnya, seharusnya ia tak mengajak Alice untuk pergi bersama. Dan sekarang Reynal harus membawa Alice pergi menjauhi pamannya. Tapi jika dia pergi, maka pamannya juga akan keburu hilang lagi.


Reynal menggenggam tangan Alice.


"Apa kau siap ? Apapun yang terjadi ?"


Alice tersenyum. "Ya, apapun yang terjadi, aku akan bersamamu."


"Baiklah." sahut Reynal.


Wsst !!


"Maafkan aku, kalau dia mau marah, itu urusan nanti." batin Reynal.


Reynal mengirim Alice ke tempat yang lebih aman. Tepatnya Alice diteleportkan ke rumahnya oleh Reynal.


Setelah mengirim Alice ke tempat yang aman. Ia langsung maju.


BUGH !!


Dengan kecepatan kilat, Reynal langsung memukul Pamannya.


Wsst !!


Dan langsung memindahkan dirinya dan pamannya ke tempat yang jauh dari kota. Tepatnya ke dalam hutan yang jauh dari wilayah Kerajaan Arlie.


.....


Di Tempat Lain.


Alice yang bangun dari posisi tidurnya di kasurnya. Ia terkejut, ia telah berada di dalam sebuah kamar. Lalu ia teringat saat Reynal menggenggam tangannya.


"Aggrrhhh !!" teriak Alice kesal.


Ya Ia teringat saat, kekasihnya, si Reynal menggenggam tangannya dan mengirimkan dirinya ke kamar penginapannya. Padahal ia ingin membantu Reynal.


"Aku harus bagaimana ? Kalau aku balik lagi, apa dia masih disana bersama pamannya ?" guman Alice sambil memijit pelipisnya.


"Yang benar saja, aku juga ingin membantunya, kalau sampai terjadi apa-apa dengannya bagaimana ?"


"Tapi, sepertinya kalau aku membantunya juga percuma, kekuatanku dan sihirku tak sebanding dengannya."


Alice terus bertanya sendiri, dan menjawab sendiri. Alice merasa yakin kalau Reynal baik-baik saja, secars Reynal memiliki Kekuatan dan Sihir yang bebat.


Alice pun segera bangun dari duduk. Ia memilih untuk pergi ke atap untuk menenangkan suasana hatinya, dan menunggu Reynal kembali.


.....



DUAR !!


Terlihat sebuah ledakan yang besar di dalam hutan. Ledakan itu cukup menghancurkan semuanya yang ada di sekitarnya.


Tang..!! Ting..!! Tang..!! Ting..!!


Tang..!! Ting..!! Tang..!! Ting..!!


Tiang..!!


Reynal melangkah mundur ke belakang. Ia melompat tinggi. Ia langsung melempar pedangnya ke arah pamannya.


Jian Heeng melompat salto kebelakang. Kedua kakinya pun menekan tanah. Dan mendorong tubuhnya untuk melompat tinggi ke arah keponakannya yang sedang jatuh turun dari langit.


BUGH !!


Jian berhasil memukul kuat-kuat Reynal, dan membuatnya terdorong ke belakang. Reynal terpental hebat ke bawah.


Tubuh Reynal menghantam tanah.


Meski ada rasa sakit, setidaknya regenerasinya berlaku padanya. Rasa skait dan lukanya pun menghilang.


Reynal bangun berdiri.


Sudah banyak stamina yang ia kerahkan. Jian Heeng tersenyum dengan wajah angkuhnya melihat keponakannya.


"Kau memang seperti ayahmu." ucap Jian Heeng. "Tapi kau masih jauh dengan ayahmu." lanjutnya.


Dengan kecepatan gesitnya ia bergerak ke arah pamannya. Lalu ia mengerluarkan pedang darah merahnya.


Jian Heeng yang melihat itu tersenyum menyeringai. Ia pun ikut bergerak maju ke arah keponakannya.


Tiang !!


Jian Heeng melompat ke belakang.



Ia pun mengeluarkan Api birunya dan langsung ia lancarkan ke arah Reynal.



Reynal pun juga menyerang balik dengan Api birunya.



DUAR !!


Mereka berdua sama-sama terpental akibat ledakan itu. Jian Heeng perlahan berdiri. Ia pun mengeluarkan Api hitamnya. Reynal yang juga tak ingin kalah, ia juga segera berdiri, dan mengerluarkan Apinya.


Namun Jian Heeng lebih dulu melancarkan serangan Api hitamnya.



Reynal yang belum sempat, ia pun meloncat tinggi. Di udara, Reynal mengeluarkan Api Merah darahnya. Ia pun melepasnya.



Jian Heeng pun membuat dinding pelindung dari Sihir Tanahnya. Serangan Api merah darah milik Reynal menghancurkan dinding pelindung itu. Jian Heeng pun bergerak mundur dengan cepat.


Lalu Jian Heeng melompat cepat ke depan. Lalu ia siap melayangkan pedangnya untuk menyerang keponakannya. Reynal yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah. Terkejut melihat pamannya maju ke arahnya.


Tiang !!


Meskipun terkejut, Reynal bisa menangkisnya. Reynal berdiri di tempatnya. Staminanya sudah tak banyak, ia masih belum bisa mengendalikan Sihir Gelap dan Sihir Cahaya secara bersamaan.


Lebih parahnya, Reynal juga tak sepenuhnya bisa mengendalikan Sihir Gelapnya. Ia belum hebat seperti ayahnya.


"Apa hanya segini ?" tanya Jian Heeng. Reynal mengerut dahinya.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Kehebatanmu sangat jauh dengan ayahmu." ucap Jian Heeng.


Jian Heeng merentangkan kedua. Ia memenjamkan kedua matanya. "Ahh, aku jadi rindu bertarung dengan ayahmu."


Lalu ia membuka kedua matanya dan menatap remeh kepada keponakannya. "Tidak seperti dirimu. Kau jauh lemah darinya."


"Pertarungan ini jadi membosankan." ucap Jian Heeng.


"Percuma kau memiliki regenerasi, tapi kau tidak seperti ayahmu." lanjutnya.


Reynal hanya bisa berdiri diam.


Ia berfikir, bukankah kekuatan Sihir Gelap milik pamannya telah di ambil oleh ayahnya ? Tapi kenapa sekarang pamannya bisa menjadi kuat ? Bukankah Sihir yang ada di dalam tubuh pamannya hanya sedikit ?


Jian Heeng tersenyum miring. "Apa kau sedang berfikir, kenapa aku bisa lebih kuat ?"


"Hahahaha.." Jian Heeng tertawa.


"Keponakanku, perlu kuberitahu, sekuat atau selemah lawanmu, jangan sampai kau meremehkannya." lanjutnya. Reynal tak menjawab.


"Dengan kondisimu yang sekarang, ingin menangkapku ? Mengalahkanku saja kau tidak mampu." ucap Jian Heeng sambil memasukan pedangnya ke sarungnya, lalu ia membalikkan tubuhnya. Ia melangkah pergi meninggalkan keponakannya.


Jian Heeng sudah tak tertarik melawan keponakan. Ia memilih pergi. Setidaknya ia tak ingin berurusan yang berhubungan dengan Reyhan, saudara laki-lakinya.


Reynal menghela nafasnya. Lalu ia mencoba menggunakan Sihir Gelapnya. Jian Heeng menghentikan langkahnya, ia tersenyum menyeringai.


Lalu Jian Heeng segera bergerak cepat mundur ke arah Reynal yang sudah mengeluarkan Sihir Gelapnya.


Wussss !!


BUGH !!


Reynal terdorong kebelakang setelah menerima pukulan dari pamannya. Sungguh paman yang tega yang memukul keponakannya sendiri.


"Kau yang belum bisa mengendalikan Sihir Gelapmu, tapi kau ingin menggunakannya ?" ucap Jian Heeng menatap Reynal yang tergelatak di tanah.


"Jangan harap bisa mengalahkanku." ucap Jian Heeng tersenyum mengejek.


"Aku lihat kondisi dirimu yang sekarang, aku jadi teringat saat ayahmu tak berdaya saat mengalahkanku." ucap Jian Heeng. "Tapi setelah bangun dia bisa mengalahkanku, sungguh aku tak suka itu."


Jian Heeng pun berlari dan meloncat tinggi. Ia pergi meninggalkan Reynal.


Reynal bangun, dan duduk.


Ia mengepal tangannya dan memukul tanah. "Kenapa aku gagal lagi menangkapnya."