Pindah Dimensi Lain

Pindah Dimensi Lain
BAB 174 | Season 2.2


_______________________________________


Banyak sekali bandit yang di depan. Mereka menghalangi jalan Reynal dan Elena. Reynal menyerahkan Alice kepada Elena.


"Jagalah Alice, aku akan melawan mereka." ucap Reynal.


"Kau yakin ? Mereka sangat banyak, dan kita masih belum bisa menggunakan sihir di arena hutan ini." kata Elena khawatir sambil menerima dan merangkul erat tubuh Alice.


"Jika tak melawan, sama saja kita tak bisa berbuat apa-apa." jawab Reynal sambil menarik pedangnya, lalu ia berjalan maju.


Semua bandit tersenyum dan perlahan berjalan maju ke arah Reynal.


"Lebih baik kau menyerah saja kapada tuan kami." jawab salah satu bandit itu.


"Tuanmu ?" guman Reynal mengerut dahinya.


"Aku 'lah tuan dari mereka semua."


Terdengar suara yang tak asing dari belakang. Reynal menoleh ke belakang. Ia terkejut. Tak hanya Reynal, Elena pun juga terkejut.


Ternyata tuan dari para semua bandit adalah Delbert. Ia telah membayar satu karung koin emas kepada kelompok bandit itu. Tentu saja semua bandit itu menjadi patuh.


Delbert berjalan santai mendekati 2 gadis di depannya. Elena semakin erat menjaga Alice.


"Kak, ada apa denganmu ? Kau telah jauh berubah." tanya Elena.


"Aku 'lah aku, tak ada yang berubah." jawab Delbert.


Elena tak menjawab, ia tak habis pikir kepada kakak laki-lakinya yang benar berbeda.


Delbert memandang kepada semua bandit. "Semuanya habisi dia !!"


Semua bandit maju dengan senjata-senjata mereka. Mereka menyerang Reynal. Reynal hanya bisa menangkis dan menghindar semua serangan dari para bandit.


Meski banyak, Reynal berusaha untuk tetap tenang. Karena jika ia panik, justru lebih parah nantinya. Setelah ada celah, Reynal melayangkan pedangnya untuk mwnyerang.


Satu bandit telah terbunuh.


Semua bandit tak terima salah satu kawannya terbunuh. Mereka marah dan menyerang Reynal lagi.


Reynal tetap berusaha tenang. Ia berhasil menghindar dan menangkis semua serangan. Saat fokus menghindar tiba-tiba dari belakang ada sebuah hantaman.


Hantaman itu mambuat Reynal terdorong ke depan dan terjatuh tengkurap. Ternyata Delbert menendang punggungnya.


"Habisi dia, tapi jangan sampai mati, aku ingin dia menderita sebelum mati oleh tanganku sendiri." Delbert memeberi perintah.


Semua para bandit tak ingin kehilangan kesempatan, pun maju dan memukul dan menendang Reynal. Reynal hanya melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.


Salah satu bandit memberi sayatan di kulit Reynal dengan pedangnya. Ternyata pedangnya telah dilapisi Racun. Jika Reynal dipukul, maka Racunnya menyebar.


Delbert tertawa melihatnya.


Tiba-tiba dari belakang Delbert mendapat hantaman dan membuatnya terjatuh ke tanan. Semua terhenti memukul Reynal saat melihat Delbert terjatuh.


Delbert yang tak terima, ia segera bangun berdiri. Ia membalikkan tubuhnya. Ia sedikit terkejut melihat Alice yang sudah sadar. Ternyata Alice yang menendangnya.


"Ternyata kau, calon istriku." ucap Delbert tersenyum sinis.


"Jangan berharap tinggi kau padaku, Putra Mahkota." ucap Alice.


Lalu kedua matanya memandang Reynal yang telah dipukuli. Alice tak terima, ia pun maju. Elena mencegahnya karena Alice bukan tandingannya Delbert.


Alice tak peduli. Ia tetap memaksa maju. Ia pun juga merasakan ada yang aneh. Lalu ia tersadar, ternyata ada segel pagar yang terpasang di area hutan.


Pantas saja ia melihat Reynal tidak menggunakan regenerasinya. Mungkin karena segel pagar jadi membuat Reynal tak bisa menyembuhkan dirinya.


lalu Alice mengambil kuda-kudanya. "Aku yang membalasmu"


Alice langsung maju, dan melayangkan pukulannya. Namun dengan mudahnya Delbert menghindarinya. Tapi, Alice tetap melangkah maju dan melewati Delbert.


Alice maju melewati Delbert dan berlari ke Reynal yang sedang berlindung diri dari para bandit. Delbert tersadar, ternyata pukulan Alice sebagai mengecohnya dan membuat Alice bisa mengambil pedang milik Delbert.


Meski perempuan, namun luka itu rasanya sakit. Alice segera memapah Reynal bangun untuk melarikan diri. Elena pun segera bergabung dengan Alice dan Reynal. Mereka harus segera capat keluar dari area yang masih terpasang segel pagar sihir.


Sambil berlari, mereka bertiga berbicara.


"Kemana Reynal yang ku kenal sadis dan menakutkan." ucap Elena.


Reynal mendengus kesal. "Andai saja kakakmu tidak menghantamku dari belakang, aku pasti sudah membunuh bandit-bandit itu, meski tidak semuanya terbunuh."


"Kau kenapa bisa dibawa sama kakak ku, kak Alice ?" tanya Elena.


"Saat aku pergi keluar untuk belanja, tiba-tiba ada yang memukulku dari belakang. Dan setelah itu aku tersadar melihat Reynal sedang dipukuli." jawab Alice.


"Sudahlah, kita harus keluar dari area ini, supaya aku bisa menggunakan regenerasiku untuk luka-lukaku." ucap Reynal


Alice dan Elena mengangguk kepalanya. Mereka betiga terus berlari. Namun sesuai dugaan mereka dari jauh belakang mereka bertiga, Delbert dan semua para bandit juga sedang mengejar mereka.


"Jangan biarkan laki-laki itu lolos dari sini !!" Delbert berteriak, ia marah karena gagal mendapatkan Alice.


.....


Hari Sudah Malam.


Sudah lama mereka bertiga berlari, akhirnya mereka telah keluar dari area yang terkena segel pagar. Reynal pun mulai menggunakan regenerasinya.


Namun Reynal terkejut. Regenerasinya sangat lambat. Tiba-tiba tubuhnya lemas sehingga membuatnya jatuh berlutut. Alice panik melihatnya.


"Kau kenapa ?" tanya Alice memegang kedua pundaknya Reynal.


Elena pun berlutut di sampingnya. "Apa kau sudah menggunakan regenerasimu."


Reynal mengangguk-angguk kepalanya. "Ya, tapi melambat, tidak seperti biasanya. Dan tiba-tiba tubuhku lemas."


Alice dan Elena merasa bingung.


Pandangan Elena menangkap salah satu sayatan bekas pedang di pinggangnya Reynal. Elena pun memeriksanya. Reynal sedikit meringis kesakitan saat lukanya di sentuh Elena.


"Sepetinya kau terkena racun, dan sekarang hampir menyebar dalam tubuhmu." ucap Elena Setelah meneliti luka pada pinggangnya Reynal.


Alice terbelalak. "Racun ?"


"Mungkin regenerasimu lambat, karena Racun yang ada di dalam tubuhmu sudah menyebar lebih dulu." Elana mencoba menebak.


Reynal tertawa. "Tak kusangka, aku tak bisa menggunakan regenerasiku karena kalah duluan sama racun."


Tiba-tiba, sekelompok bandit yang banyak datang lagi. Dan tak lupa dengan Delbert yang memimpin para bandit itu.


"Apa kalian sudah lelah untuk berlari ?" tanya Delbert tersenyum remeh. Lalu memandang Reynal yang sedang berlutut. Ia tersenyum menyeringai. "Apa Racunnya beraksi ? Sampai-sampai kau berlutut seperti itu."


Delbert tertawa.


"Itulah racun yang kudapatkan dari seorang penyihir. Racun itu bisa menghambat apapun sihir dan menghilangkan stamina yang dimiliki seseorang, sekalipun orang itu kuat."


"Kak, cukup. Jangan bertindak lebih jauh lagi." ucap Elena memohon.


Delbert tak menjawab. Ia memerintahkan semua banditnya. "Jangan lukai dan bawa 2 perempuan itu kepadaku." sambil menunjuk adik perempuannya dan gadis pujaannya.


"Dan untuk laki-laki itu," ucap Delbert sambil menunjuk ke arah Reynal. "Habisi dia !!"


Semua bandit mengiyakan perintah Tuannya. Sebagian mereka berjalan maju mendekati Elena, Alice, dan Reynal. Ssbagiannya lagi tetap di tempat besama Delbert.


Elena mengambil pedangnya Reynal. Lalu ia berdiri depan Alice dan Reynal. Elena akan melindungi mereka berdua. Alice hanya bisa memeluk erat Reynal dari samping. Reynal hanya diam menatap dingin ke arah Delbert dan bawahannya.


Tiba-tiba dari belakang, muncullah banyak pedang yang terbang.



Pedang-pedang itu melucur ke arah semua para bandit. Semua pedang itu menusuk tepat pada targetnya. Sebagian bandit telah mati. Delbert dan bandit lainnya terkejut melihatnya. Elena, Alice, dan Reynal juga tak kalah terkejut.


Tiba-tiba seseorang berjubah merah muncul jatuh dari atas di tengah-tengah mereka semua. Ternyata seorang pria. Isi kepala mereka bertanya-tanya siapa pria itu. Namun tidak untuk Reynal, ia terkejut tak main saat melihat wajah pria itu.