
_______________________________________
"Ayo kita kembali." ajak Aland kembali ke gazebo. Reynal pun mengiyakan.
Terlihat juga Elena dan Alice juga telah selesai berbicara. Lalu mereka menoleh, ternyata Aland dan Reynal telah kembali.
"Temanku, selesaikanlah urusanmu dengannya." ucap Aland. Lalu ia menepuk pundak Reynal. "Kau pasti bisa."
Aland pun menarik tangan Elena. "Ayo kita kasih mereka untuk berdua."
Elena pun paham, ia mengangguk kepalanya. Aland dan Elena membiarkan Reynal dan Alice untuk berdua.
Dan sekarang hanya berdua.
Reynal duduk diam di hadapan Alice. Begitu juga dengan Alice yang juga duduk diam di hadapan Reynal.
.
Hening.
.
Hening.
.
Hening.
.
Tak jauh. Aland dan Elena bersembunyi melihat Reynal dan Elena.
"Dasar bodoh !!" ucap Elena melihat Reynal yang hanya diam.
"Astaga, kau jangan mengatakan temanku bodoh, dia hanya menyiapkan hatinya." kata Aland.
"Jelas dia bodoh, tinggal bilang saja, jelas-jelas mereka saling mencintai." balas Elena.
"Kau tak mengerti ketika seorang pria menyatakan cintanya kepada wanitnya. Itu membutuhkan hati yang siap, tidak mudah langsung diucapkan sesuai kata-katamu." jawab Aland.
Elena tersenyum remeh kepada Aland. "Aku jadi teringat, saat kau menyatakan cintamu padaku. Kau sama bodohnya. Terlalu lama."
"Sudah jangan diingat lagi, aku malu jadinya." jawan Aland.
Elena tertawa kecil.
"Sttt..!! Diamlah, nanti kita ketahuan !!" ucap Aland. Elena tersenyum sambil menahan tawanya.
Namun tanpa disadari mereka juga, ternyata ada sosok seorang laki-laki yang juga melihat Reynal dan Alice.
Hatinya semakin panas dan sesak.
Laki-laki itu mengepal tanganya kuat-kuat hingga mengeluarkan tetesan darah.
.....
Kembali ke Reynal dan Alice.
Mereka masih diam. Reynal berdehem.
"Hmm.. Alice." panggil Reynal.
"I-iya." jawab Alice.
"Soal kata-kataku yang tadi, lupakan saja." ucap Reynal menatap ke arah gadis yang duduk dihadapannya.
Alice terdiam.
Namun hatinya entah kenapa sesak saat Reynal menyuruhnya untuk melupakan kejadian tadi.
Alice masih diam, tak menjawab. Reynal kembali bersuara. "Aku tida pandai dan paham dengan wanita. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku. Aku tak. Memaksamu untuk menerimaku. Setidaknya beban hatiku menjadi ringan setelah mengatakan kalau aku jatuh cinta padamu."
Alice masih belum menjawab.
Reynal teringat sesuatu, ia berdiri dari duduknya. Ia akan pergi, tapi sebelum pergi, Reynal kembali bersuara.
"Tak perlu dibalas, aku tak memaksamu untuk menerima perasaanku. Lupakan saja dan kedepannya kita masih bisa berteman."
Alice masih saja diam.
Reynal pun segera berjalan, pergi dari tempat itu. Ia pergi bukan karena takut ditolak. Tapi Elana dan Aland yang sedang mengintip pasti mengira kalau Reynal melarikan diri karena ditolak.
Tapi yang sebenarnya Reynal benar-benar teringat, kalau dirinya tal bisa membuang-buang waktu. Dia harus mencari keberadaan Pamannya. Mungkin saja Pamannya ada di wilayah Kerajaan Arlie.
Setidaknya ia berjalan-jalan di kota Kerajaan Arlie untuk mencari pamannya. Saat Reynal baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang.
"Eh ?"
Reynal kaget, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau asal main pergi saja, aku belum memberi jawaban." ucap Alice, ia berlari mengejar Reynal dan memeluknya dari belakang.
Kini Alice berdiri dihadapan Reynal.
Lalu ia sedikit berjinjit.
Cup.
Sekilas, Alice mencium bibir Reynal.
Lalu tangannya menutup mulutnya.
"Aku baru sadar, aku juga mencintaimu." Wajah Alice memerah. Ia pun menunduk malu.
Reynal tersenyum. Lalu menarik Alice, dan memeluknya. Mereka saling berpelukan. Tiba-tiba ada suara yang membuat mereka berdua cepat-cepat melepas pelukan mereka.
"Wah. Akhirnya ada pasangan baru." ucap Aland yang tiba-tiba muncul bersama Elena.
"Kenapa kau mau pergi ? Kau takut karena kak Alice menolak perasaanmu ?" tanya Elena mengejek.
Seketika Reynal jadi ingat kembali. "Ahh, aku harus cepat mencari pamanku."
"Alasan." sahut Elena.
"Terserah percaya atau tidak." ucap Reynal cepat-cepat pergi meninggalkan mereka bertiga begitu saja, Alice pun murung. Benar-benar keterlaluan, dia bukan laki-laki yang romantis.
Reynal teringat, langkah kakinya terhenti. ia membalikkan tubuhnya, dan manatap Alice. "Kau mau ikut ?"
Alice yang tadinya murung, karena Reynal tiba-tiba pergi tanpa berbicara padanya. Seketika ia kembali tersenyum, saat Reynal mengajaknya.
Alice mengangguk-angguk kepalanya. Ia segera berjalan cepat ke arah Reynal yang dengan menunggunya.
Reynal menggenggam tangan Alice. Lalu ia menatap Elena dan Aland. "Kita pergi dulu."
Wsst !!
Reynal berteleport bersama Alice, dan meninggalkan Aland dan Elena.
"Dasar ia selalu pergi melupakan kita. Tak bisakah mereka berterimakasih kepada kita yang telah memberi mereka saran." ucap Elena kesal.
Aland hanya tersenyum. Ia tahu kalau Elana tidak benar-benar kesal. Namun dalam hatinya, Elena sangat senang karena Alice akan menemukan tempat kebahagian.
"Owh jadi kalian berdua yang membantu mereka saling dekat ya ?"
Terdengar suara di indra pendengaran Aland dan Elena. Mereka berdua pun membalikan tubuhnya Betapa terkejutnya Elena melihat kakak laki-lakinya telah berdiri di belakangnya.
"Jadi sekarang adikku berpihak kepada laki-laki asing itu ?" ucap Delbert.
Elena merasa takut. Aland yang paham, ia pun menggenggam tangan Elena. "Benar Putra Mahkota, tapi aku yang membantunya bukan Elena."
"Kau tak perlu membelanya, aku tahu semuanya, aku mendengarnya semuanya." jawab Delbert marah.
Aland tetap mencoba untuk tetap tenang. "Bagus kalau kau mengetahuinya."
"Aku akan merebut yang seharusnya menjadi milikku !!" kata Delbert, ia pergi meninggalkan adik dan calon adik iparnya.
Aland terbelalak, ia tak terima.
"Jika kau merebut Alice dari Reynal, aku akan yang menghalangimu Putra Mahkota Delbert. Karena mereka adalah temanku, dan mereka saling mencintai."
Delbert tak menggubrisnya. Ia pergi melompat tinggi meninggalkan Aland dan Elena. Aland menghela nafasnya. Elena semakin menyangka kalau kakak laki-lakinya menjadi kasar.
Aland pun mengajak Elena pergi, ia akan menghibur calon istrinya agar tidak kepikiran kepada kakak laki-lakinya. Mau bagaimanapun Delbert menjadi kasar, dan Aland tak suka itu.
.....
Sementara Disisi Lain.
Terlihat sepasang laki-laki dan perempuan yangs sedang berjalan-jalan di kota Kerajaan Arlie. Dan mereka bergantengan tangan.
Reynal mengajak Alice.
Reynal sudah mengatakan kalau ia akan mencari pamannya sambil berjalan-jalan di kota. Karena bisa saja pamannya tengah menyamar menjadi penduduk biasa.
Dan Alice tidak mempermasalahkan itu. Setidaknya berada di dekat Reynal, ia sudah senang. Di saat suasana ramai di kota, tiba-tiba langkah kaki Reynal terhenti. Dan Alice pun ikut terhenti.
"Kenapa ?" tanya Alice.
"Aku merasakannya." jawab Reynal. Alice mengerut dahinya, ia tak mengerti.
"Hawa keberadaan pamanku." ucap Reynal.
Lalu ia menatap Alice. "Kau pergilah."
Belum Alice menjawab, terdengar suara yang tak asing di indra pendengaran Reynal.
"Tidak kusangka kita bertemu lagi. Dan kau juga bisa merasakan hawa keberadaanku ya, keponakanku."
Reynal melihat seseorang yang tengah berdiri sambil santai di pinggir jalan. Orang itu berdiri diantara 2 pedagang yang sedang berjualan.
Orang itu mengenakan jubah hitamnya. Dan kepada tertutup kain jubahnya. Namun terlihat jelas senyuman itu. Tak salah lagi.