
"Hanna sayang, sejak pagi papa lihat kamu gelisah. Memangnya ada apa?"
Hanna menghentikan langkahnya, dia menghampiri Agam yang tengah duduk santai di ruang tengah. Hanna duduk tepat di depan Agam. Dia menyadarkan kepalanya kasar di sofa. Agam menatap heran sikap Hanna yang tak biasa. Seakan ada sesuatu yang berat tengah menjadi bebannya.
"Sayang, katakan ada apa?"
"Aku bingung harus bagaimana? Pagi ini aku harus menemui keluarga kak Hafidz. Dia mengundangku datang ke rumahnya. Papa tahu sendiri, aku orangnya seperti apa? Aku takut membuat masalah!" Sahut Hanna gelisah, Agam tersenyum melihat putri kecilnya.
Agam menepuk pelan sofa di dekatnya. Seakan meminta Hanna pindah duduk di sebelahnya. Dengan anggukan kecil, Hanna pindah duduk di samping Agam. Hanna bersandar pada bahu Agam. Mencari ketenangan yang tak kunjung ada di hatinya.
"Kenapa kamu gelisah? Selama ini kamu selalu santai menghadapi Hafidz. Bukankah Hanna tidak ingin menikah dengan Hafidz. Sebab itu Hanna selalu bersikap kasar dan tidak bersahabat pada Hafidz. Kenapa sekarang Hanna merasa takut!"
"Dia rekan kerja papa. Secara otomatis orang tuanya mengenal papa. Jika hanya aku yang dicap buruk. Aku tidak akan gelisah, tapi ini menyangkut nama baik mama dan papa. Tentu saja aku gelisah. Aku tidak ingin membuat kalian malu. Setelah selama ini aku tidak pernah bisa dibanggakan!" Ujar Hanna lirih, Agam mengangguk mengerti.
Dengan lembut Agam mengusap rambut Hanna. Agam merasakan sedih dan bahagia dalam waktu bersamaan. Agam sedih saat memikirkan harus berpisah dengan Hanna. Sebaliknya ada rasa bahagia, saat dia melihat Hanna mulai percaya akan rasa cinta. Rasa yang sudah lama ditepis Hanna.
"Jadilah dirimu sendiri. Jangan memikirkan harga diri siapapun? Papa dan mama tidak akan merasa malu dengan sikapmu. Kamu kebanggan papa dan mama. Tidak pernah kami meragukan kebaikan hatimu. Papa percaya, Hanna bisa menempatkan diri!" Ujar Agam sembari membelai rambut Hanna.
Hanna diam membisu, tak ada suara yang bisa membalas perkataan Agam. Semu yang dikatakan Agam, seakan benar ditelinga Hanna. Kebijaksanaan seorang ayah yang sangat dinantikan Hanna. Sejenak Hanna berpikir, haruskah dia bersikap baik di depan keluarga Hafidz. Sehingga mereka setuju menerima dirinya. Atau bersikap sebaliknya, agar tak ada pernikahan antara dirinya dengan Hafidz.
"Baiklah, aku akan berbuat sesukaku. Lagipula untuk apa aku bersikap baik? Aku tidak ingin keluarga kak Hafidz menyukaiku. Agar tak ada pernikahan diantara kami!" Sahut Hanna lalu berdiri, Agam menatap heran Hanna. Pemikiran yang tidak mudah dipahami. Hanna selalu memiliki caranya sendiri dalam bersikap.
"Tika sayang, inikah perasaan papa Dimas dulu. Ketika aku datang meminangmu. Sedih saat memikirkan, ada laki-laki lain yang mencintaimu. Merasa bahagia memikirkan ada imam yang akan menuntun jalan putrinya. Kini kurasakan betapa tidak mudahnya semua itu. Namun dengan bodohnya aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Kuhancurkan hati putrinya, hati yang diamanatkan padaku dengan air mata. Kini kusadari, akul laki-laki tidak berguna. Kemudahan orang tuamu menerimaku. Aku balas dengan menghancurkan kebahagian putrinya. Namun diam keluargamu melihat sikap brengsekku, semakin membuatku malu. Sungguh bodohnya aku dan kini semuanya harus dibayar lunas putriku!" Batin Agam pilu.
"Sayang, minta restu mama!" Teriak Agam, Hanna menoleh seraya mengangguk pelan.
...☆☆☆☆☆...
"Hafidz, cukup om melihatmu mondar-mandir. Hentikan sekarang atau om akan mengurungmu dalam kamar. Sekalian saja kamu tidak bisa melihat Hanna cintamu itu!" Ujar Dirga lantang, Hafidz menggeleng lemah.
Seketika Hafidz duduk di samping Dirga. Hafidz tidak ingin perkataan Dirga terjadi. Pertama kalinya Hanna datang ke rumahnya dan dia tidak ada. Hafidz tidak akan bisa menerima semua itu. Dengan patuh dan tak banyak bicara. Hafidz duduk di samping Dirga yang sibuk membaca koran.
"Om Dirga, kak Hafidz gelisah memikirkan dokter cantik idamannya. Semalam saja dia tidak tidur. Aku melihat kak Hafidz mengaji sampai subuh!" Ujar Shaila santai, Hafidz menunduk malu. Hafidz sangat gugup menanti Hanna. Kebahagian dan ketakutannya bercampur menjadi satu.
"Diam kamu, ingat jangan berbuat yang tidak-tidak. Hanna tidak mudah dihadapi. Jika dia marah dan pergi dari rumah ini karenamu. Kakak tidak akan tinggal diam!"
"Om Dirga dengar sendiri, belum menikah dengan gadis itu. Kakak sudah melupakannku, kak Hafidz tidak sayang padaku!" Ujar Shaila kesal, lalu masuk ke dalam rumahnya.
Dirga menggeleng tak percaya. Sikap Shaila yang manja pada Hafidz tidak pernah berubah. Meski Shaila telah menikah dan memiliki satu anak laki-laki. Sebaliknya Hafidz bersikap sama, selalu menuruti sikap manja Shaila. Tak pernah sekali saja, Hafidz menolak permintaan Shaila.
"Kalian berdua tetap sama, tidak pernah berubah. Aku harap Hanna bisa menerima sikap manja Shaila. Jika tidak, pernikahanmu akan dalam masalah!" Ujar Dirga lirih.
"Semoga saja, Hanna dan Shaila dua pribadi yang berbeda. Satu manja, satunya mandiri tak tersentuh!"
"Kamu begitu mencintainya!" Ujar Dirga, Hafidz menggeleng lemah. Dirga mengeryitkan dahinya tak percaya.
"Kuatkan niatmu, agar tak kalah oleh napsu semata. Menyayangi tak pernah menuntut balasan. Bersama atau tidak, kita akan bahagia. Melihatnya bahagia bersama orang yang dicintainya!" Ujar Dirga lirih, Hafidz menoleh heran. Seakan perkataan Dirga menyimpan makna yang begitu dalam.
"Sebesar itukah rasa sayang om Dirga pada wanita itu. Sampai om bersedia hidup membujang selama ini!" Ujar Hafidz lirih, Dirga menggeleng lemah.
"Bukan karena dia, tapi aku sendiri yang tak pernah ingin mengenal cinta!"
"Om Dirga luar biasa!" Ujar Hafidz, Dirga tersenyum simpul mendengar perkataan Hafidz yang menggodanya.
Tap Tap Tap
"Om Hafidz, dia sudah datang!" Teriak Alan dari dalam rumah. Suara langkah kecilnya menggema di seluruh rumah. Sontak Hafidz berdiri, menatap lurus ke arah gerbang rumahnya.
Terlihat sebuah mobil sport warna merah memasuki halaman rumahnya. Mobil yang sejak tadi ditunggu Hafidz dengan perasaan tak sabar. Dirga terkekeh melihat keponakannya yang sedang dimabuk cinta.
"Akhirnya kamu datang!" Ujar Hafidz lirih, sembari membuka pintu mobil untuk Hanna.
"Aku bukan pengecut yang akan lari!"
"Aku harap kamu tepati janjimu. Jika orang tuaku setuju menerimamu. Kamu harus bersedia menerima cintaku!"
"Aku mungkin sembrono, tapi aku tidak pernah ingkar janji. Kita lihat saja, akankah orang tuamu setuju menjadikanku menantunya!" Ujar Hanna lirih, Hafidz mengangguk setuju. Hanna berjalan tepat di samping Hafidz. Keduanya terlihat serasi, tampan dan cantik yang terbalut dalam kesederhanaan.
"Kak Hafidz!" Panggil Hanna lirih, seketika Hafidz menoleh heran. Pertama kalinya Hanna memanggilnya dengan hangat.
"Ada apa? Kamu lelah, setelah mengemudi sendiri!" Ujar Hafidz lirih penuh kecemasan. Hanna menggeleng lemah, Hafidz semakin cemas melihat sikap Hanna.
"Rumahmu besar dan megah, berapa orang yang menjadi ART di rumah ini?" Ujar Hanna tanpa dosa.
"Hanna, tidak lucu!" Sahut Hafidz kesal, sesaat setelah menghela napas panjang.
"Siapa yang melawak? Aku serius bertanya, rumahmu besar seperti istana. Tadi saja aku melihat dua orang di pos jaga. Aku yakin masih banyak ART yang lain!"
"Kenapa kamu bertanya tentang itu? Apa kamu mulai bersiap menjadi nyonya rumah ini?" Ujar Hafidz lirih menggoda Hanna. Sontak Hanna menggeleng, Hafidz menghela napas. Dia sudah bisa menebak jawaban Hanna.
"Aku takut tinggal sendirian di rumah sebesar ini. Sejak tadi aku berpikir, sikapku sangat keterlaluan padamu. Padahal kamu bukan orang sembarangan!"
"Kamu tidak akan tingal sendirian di rumah ini. Ada aku dan anak-anak kita kelak!" Ujar Hafidz lirih.
Buuugghhh
"Tidak lucu!"