Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Piknik di Perkebunan Teh


Hampir setiap malam mas Agam bangun untuk membuatkan susu si kembar. Rutinitas baru yang dijalanai oleh mas Agam. Aku pernah terbangun saat tengah malam, karena mendengar suara tangis mereka. Namun mas Agam melarangku untuk membantunya, dia malah memintaku tidur kembali.


Aku merasa kasihan pada mas Agam. Semenjak kehadiran si kembar, dia jadi kurang istirahat. Setiap hari dia harus bekerja, malam harinya dia harus membantuku mengurus si kembar. Sungguh rutinitas yang pasti melelahkan untuk mas Agam. Namun aku tidak pernah mendengar keluhan dari bibir mas Agam. Dia terlihat bahagia merawat si kembar, meski akhirnya dia harus lelah dan kurang istirahat.


Kebetulan pagi ini mas Agam libur bekerja. Biasanya aku dan mas Agam akan pergi mengunjungi orang tuanya. Namun khusus hari ini, mas Agam akan mengajak kami semua pergi melihat perkebunan teh miliknya. Sebenarnya perkebunan itu mengalami pailit, sehingga pemiliknya menjual dengan harga sangat murah. Mas Agam membelinya bukan karena ingin mencoba bisnis teh. Namun perkebunan teh ini, tempat ratusan warga sekitar mencari nafkah.


Mas Agam memutuskan membelinya, supaya warga sekitar tetap bisa bekerja. Meski hasil dari perkebunan teh tidak sesuai harapan. Mas Agam akan tetap berusaha mengelolanya. Demi kelangsungan para warga sekitar perkebunan teh.


Sejak pagi bik Asih dan Zahro sibuk menyiapkan perlengkapan untuk dibawa menuju perkebunan. Mereka khusus memasak bermacan-macam masakan, agar bisa dinikmati di perkebunan nanti. Menurut mas Agam, akan ada beberapa orang yang bergabung dengan kami. Salah satunya Alan Dwi Kusuma, putra kedua keluarga Kusuma. Dia yang akan menjadi pemimpin perkebunan milik mas Agam.


Sekitar pukul 09.00 wib kami semua tiba di area perkebunan yang sangat luas. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan hijau daun teh. Harum wangi pucuk teh, tercium nyata seakan-akan kita bisa menikmati secangkir teh. Sinar panas matahari, tak terasa kalah oleh udara sejuk pegunungan. Sungguh pemandangan indah yang tak mampu kita ingkari.


Si kembar terlihat tenang dalam kereta bayi. Aku sengaja membawa kereta bayi, agar mereka berdua bisa nyaman saat tidur. Apalagi area perkebunan seperti ini, pasti banyak nyamuk yang siap menghisap darah segar mereka. Aku meminta bantuan bik Asih menjaga mereka, sedangkan aku yang akan menyiapkan perlengkapan dan persiapan piknik sederhana.


"Kak Tika, kata mas Agam ada yang akan datang ikut piknik bersama kita. Memangnya dia siapa? Apa kak Tika mengenalnya? Tampan tidak wajahnya? Sudah punya pacar belum?" cecar Zahro, aku menggelengkan kepala mendengar perkataan Zahro.


"Jangan cerewet, cepat persiapkan semuanya. Jika orang datang, kamu bisa bertanya langsung padanya! Jadi kamu tidak akan penasaran!"


"Kak Tika, aku serius bertanya seperti itu. Barangkali saja dia belum punya pasangan, dengan senang hati aku akan mendaftar menjadi pasangan hidupnya!"


"Jangan terlalu mudah jatuh cinta, jika tidak ingin terluka. Sebagai seorang wanita harus bisa menjaga diri. Sebab seorang istri itu kehormatan suaminya. Jadi jaga sikapmu, agar laki-laki menghormatimu!"


"Kak Tika, tidak pernah mendukungku. Aku sudah jomblo sekian tahun. Aku juga ingin merasakan kebahagian dicintai oleh laki-laki tampan dan kaya!"


"Zahro, setiap orang pasti memiliki pendamping hidup. Sebab kita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Jadi pasti akan datang jodoh terbaik untuk kita. Tampan dan kaya hanya titipan dan kebahagian semu. Percuma memiliki semuanya, jika akhirnya harus tersiksa dan menderita!"


"Kak Tika benar, percuma tampan tapi tukang selingkuh. Percuma kaya tapi selalu pelit pada istrinya. Namun aku melihat mas Agam tampan dan kaya, tapi tidak pernah selingkuh dan juga tidak pelit. Beruntungnya mbak Tika menjadi istri mas Agam!"


"Zahro, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita? Maka dari itu syukuri apa yang ada di depanmu? Jangan menoleh pada milik orang lain, yang pada akhirnya akan membuatmu iri dan dengki. Selalu ingat, semua sudah ditakar. Tidak akan tertukar satu dengan yang lainnya!"


Tak jauh dari kami berdua, mas Agam berjalan perlahan dengan seorang pemuda tampan. Sepertinya dia orang yang mas Agam maksud. Ada beberapa staf di belakang mas Agam dan laki-laki itu. Dilihat dari cara bicara mereka, mungkin membahas masalah perkebunaan. Mas Agam sengaja mendatangkan tim khusus dalam mengani kontrak ini.


Mas Agam tidak ingin perkebunan ini hancur, karena perkebunan ini satu-satunya tempat warga sekitar mengais rejeki. Mas Agam pernah mengatakan, jika hidup akan berarti bila kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Mungkin prinsip inilah yang membuat mas Agam bertekad mengembangkan kembali perkebunan teh ini.


"Sayang, kenalkan ini Alan! Dia yang akan mengelola perkebunan teh milik kita. Aku sengaja meminta bantuannya, agar perkebunan teh ini bisa terus berlanjut!" ujarnya, aku mengangguk pelan. Sejujurnya aku tidak terlalu ingin ikut campur urusan bisnis.


"Mas Agam, sudah dulu membahas pekerjaannya. Lebih baik sekarang kita makan bersama saja. Zahro sudah menyiapkan semuanya untuk kita!"


"Baiklah sayang, kita nikmati hidangan saja. Sekarang kemana Zahro? Kenapa aku tidak melihatnya?"


"Itu dia sedang mencari lumut teh. Mas Agam tidak akan menyangka. Jika sebenarnya Zahro kuliah jurusan pertanian. Aku sempat kaget saat dia bercerita, aku pikir dia berbohong!"


"Dia terlihat polos dan lugu. Namun dibalik semua itu, dia wanita cerdas tanpa berharap sebuah pujian!"


"Zahro, kemarilah jangan hanya di sana. Takutnya akan ada ular yang menggigitmu!" teriakku, Zahro yang mendengar kata ular sontak berlari menghampiri kami!


" Zahro, aku pikir kamu berani dengan ular. Kenapa malah takut melebihi setan? Memangnya kamu trauma melihat ular?.


"Kak Tika, selain aku takut ular. Aku juga geli melihat ular yang merayap!" ujarnya, lalu menoleh pada laki-laki yang bersama mas Agam.


"Pak Alan!" ujar Zahro kaget, ternyata laki-laki yang bersama mas agam tak lain adalah senior Zahro di kampusnya.


...☆☆☆☆☆...


TERI MAS KASIH.😊😊😊😊