
"Hafidz, kamu sudah pulang! Bersihkan dirimu, mama akan siapkan makan malam!" Ujar Tika ramah dan hangat.
"Terima kasih ma, Hafidz hanya sebentar. Setelah menyapa Davin, Hafidz langsung pulang. Malam ini Hafidz tidur di apartement, besok pagi Hafidz berangkat ke luar kota!" Tutur Hafidz lirih, seketika Tika menghela napas. Tika melihat galau hati Hafidz.
Hampir tiga tahun Hafidz tinggal bersamanya. Malam ini, pertama kalinya Tika merasa Hafidz yang berbeda. Jelas nampak dari raut wajah Hafidz, kegalauan bahkan rasa canggung saat bertemu dengan Hanna. Tika sempat melihat lirikan Hafidz pada Hanna. Alasan Tika bisa menduga kecanggungan Hafidz pada Hanna. Jawaban Hafidz yang terucap, sesaat setelah dia menatap Hanna. Jelas membuktikan, Hafidz merasa tidak canggung bertemu Hanna.
"Kenapa tidak menginap? Kamu bisa berangkat dari sini!" Ujar Tika, Hafidz menggeleng tanpa menoleh pada Tika. Sebaliknya Hafidz menatap Hanna yang tetap acuh akan keberadaannya.
Hafidz benar-benar kacau, sikap acuh Hanna membuatnya galau. Meski Hafidz menyadari, sikap acuh Hanna memang benar. Kala Hanna tak mengingat, siapa Hafidz sebenarnya? Apa hubungan diantara mereka? Namun semua terasa menyakitkan, ketika jelas Hanna sudah mengetahui hubungan diantara dirinya dengan Hanna. Alasan yang membuat Hafidz merasa canggung berada di bawah atap yang sama dengan Hanna. Hafidz seakan sudah mendapatkan penolakan yang sebenarnya.
"Mama benar Hafidz, menginaplah. Kamu pasti lelah, istirahatlah disini. Besok kamu bisa berangkat dengan tubuh yang fresh!" Sahut Arkan, Hafidz terdiam lalu melirik ke arah Hanna. Arkan mengikuti arah pandangan Hafidz. Sontak Arkan mengangguk mengerti, alasan Hafidz ragu untuk menginap.
"Sejak kapan kamu kalah dengan sikap dingin Hanna? Apa kamu mundur hari ini? Setelah tiga tahun lebih kamu menunggu!" Sahut Arkan santai, Hafidz menoleh.
"Dia tak peduli padaku. Hanna duduk tepat di depanku, tapi tidak sedikitpun dia peduli akan kedatanganku!"
"Sejak kapan kamu mengeluh dengan sikap dingin Hanna?"
"Aku bukan mengeluh kak!" Sahut Hafidz.
"Lalu!"
"Kak Arkan, Hanna sudah tahu status hubungan diantara kami. Namun lihatlah sekarang, jangankan mengakuiku sebagai suaminya. Sekadar menyapa padaku, Hanna seolah tidak sudi. Katakan padaku sekarang, haruskah aku bertahan. Meski aku tahu, Hanna tak peduli padaku!"
"Hanna sudah mengingatmu!" Ujar Tika menimpali, Hafidz seketika menggeleng.
"Lantas!" Sahut Arkan tak mengerti.
"Tanpa sengaja Hanna datang ke rumah kami. Entah siapa yang membawanya sampai di rumah? Namun saat di rumah, Hanna bertemu bunda. Awal mula Hanna tahu hubungan diantara kami!" Tutur Hafidz lirih, Tika dan Arkan mengangguk mengerti.
"Pantas kamu canggung bertemu Hanna!" Ujar Arkan seraya tersenyum. Arkan merasa lucu melihat sikap Hafidz yang lemah dan seakan menyerah dengan sikap dingin Hanna.
"Kak Arkan, aku serius!" Ujar Hafidz kesal.
"Aku tahu, sebab itu aku akan membantumu!" Ujar Arkan, sesaat setelah dia mengangguk. Hafidz tertegun mendengar jawaban Arkan. Dia sedikitpun Hafidz tak mengerti maksud perkataan Arkan.
Arkan berjalan perlahan mendekati Hanna. Hafidz dan Tika menatap penuh kebingungan. Dia tidak mengerti, alasan Arkan mendekati Hanna. Apalagi bantuan yang dikatakan Arkan, sesuatu yang benar-benar tidak dimengerti oleh Hafidz. Tepat di samping Hanna, Arkan menoleh ke arah Hafidz. Dia mengacungkan jempol ke arah Hafidz. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
"Hanna, bisa kakak bicara!" Sapa Arkan, Hanna diam tak bergeming. Arkan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tidak percaya, Hanna mengacuhkan dirinya.
Nampak Hanna tengah asyik dengan laptopnya. Tangan Hanna menati indah di atas keybord. Jelas Hanna tengah fokus mengerjakan sesuatu. Bahkan panggilan Arkan tak bisa mengalihkan keseriusan Hanna. Sejenak Arkan terpaku, dia bimbang harus memanggil Hanna lagi atau tidak.
"Hanna, adikku sayang!" Sapa Arkan hangat, tangan Arkan menyentuh pundak Hanna pelan.
"Asthgfirullah!" Teriak Hanna histeris, sontak Arkan mundur beberapa langkah. Hanna merasa kaget, saat dia merasa ada yang menyentuh pundaknya. Sebaliknya Arkan takut mendengar teriakan Hanna.
Hanna langsung berdiri menghadap Arkan. Tangannya mengusap dadanya perlahan. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak begitu hebat. Baik Hanna dan Arkan sama-sama terkejut. Hanya Hafidz yang bingung menatap Arkan dan Hanna. Sedangkan Tika tersenyum melihat kesalahpahaman yang terjadi.
"Kenapa berteriak?"
"Lantas, kenapa kakak tiba-tiba menyentuhku?"
"Kamu bilang aku tiba-tiba menyentuhmu! Sejak tadi aku memanggilmu, kamu diam mengacuhkanku!" Ujar Hafidz sedikit emosi, Hanna termenung menatap Arkan.
Lalu dengan santainya, Hanna melepas headset yang sejak tadi menutup kedua telinganya. Tanpa merasa bersalah, Hanna meletakkan headset di atas meja lengkap dengan ponselnya. Arkan mengeram menahan emosi, dia merasa dibodohi oleh Hanna. Hafidz nampak mengangguk-anggukan kepala, sembari mengutas senyum. Seolah dia merasa telah salah paham pada Hanna.
"Hanna tetap sama, dia selalu fokus saat bekerja. Raut wajah yang begitu cantik, tak pernah berubah. Meski waktu tak lagi sama. Satu hal yang berbeda, Hanna kini mencari tenang bukan padaku. Melainkan ponsel pintar yang ada digenggaman tangan lembutnya. Ponsel yang kini jauh lebih dekat dan selalu ada di sampingnya. Menggantikan sejengkal demi sejengkal arti dan kenanganku. Beruntungnya dia yang begitu dekat denganmu!" Batin Hafidz, di sela gelengan kepala yang penuh arti.
"Jadi, sejak tadi kamu memakai itu!" Ujar Arkan seraya menunjuk ke arah headset. Hanna mengangguk dengan polosnya.
"Pantas kamu mengacuhkannya!" Gumam Arkan lirih.
"Siapa?"
"Apanya?" Sahut Arkan.
"Siapa yang kakak maksud? Orang yang aku acuhkan!"
"Kamu mendengarnya, padahal aku hanya menggumam. Tadi aku panggil, kamu tidak dengar. Saat aku tak ingin kamu dengar. Malah kamu jelas mendengarnya!"
"Siapa?" Sahut Hanna, seolah tak peduli perkataan Arkan yang berbelit.
"Dia!" Ujar Arkan, sembari mengarahkan pandangannya ke arah Hafidz. Hanna menoleh ke arah yang ditunjuk Arkan. Seketika Hanna mengalihkan pandangannya, saat tatapannya bertemu dengan Hafidz.
Arkan melihat jelas sikap dingin Hanna. Sebaliknya Hafidz semakin hancur, melihat sikap Hanna yang tak peduli akan kehadirannya. Arkan menggelengkan kepala tak percaya, sikap Hanna benar-benar membuatnya bingung. Seolah Hanna yang di depannya bukan adik kandungnya. Hanna semakin melukai hati Hafidz. Kala dengan santainya Hanna duduk kembali menatap layar laptopnya.
"Kenapa kamu mengacuhkannya?"
"Siapa?"
"Hafidz!" Sahut Arkan tegas.
"Aku hanya tidak ingin melihatnya. Jika dia ingin menyapaku, aku tak pernah melarangnya. Sejak tadi aku duduk mengerjakan tugas. Jika dia ingin menyapaku silahkan, tapi buktinya dia melewatiku begitu saja!" Sahut Hanna dingin.
"Dia takut menyapamu, tatapanmu menjadi isyarat penolakanmu!" Ujar Arkan tegas, Hanna tetap fokus pada layar laptop di depannya.
"Hanna!" Panggil Arkan, Hanna mendongak menatap Arkan.
"Kenapa kak?"
"Dia suamimu, kamu sudah mengetahui fakta itu. Davin putra yang lahir dari rahimmu. Lantas, kenapa kamu tetap diam mengacuhkan mereka? Dua orang yang menanti hangat dekapanmu!"
"Apa aku harus mengakui hubungan yang tak pernah aku ingat?"
"Jika itu alasanmu, kenapa kamu bisa mengakui hubungan keluarga denganku!" Ujar Arkan emosi, Tika dan Hafidz terkejut mendengar perkataan Arkan.
"Jika hubungan darah diantara kita. Jelas aku bisa mengakuinya, tanpa aku perlu mengingatnya. Akta kelahiran yang kumiliki, berkas-berkas yang ada. Membuktikan aku putri keluarga ini. Darah yang sama mengalir, tanpa aku bisa mengelaknya. Sedangkan dengannya, aku tak dapat mengakuinya begitu saja. Tak ada hubungan darah yang bisa membuatku menjadi mahramnya!"
"Tapi buku nikahmu dan dia bisa membuktikannya!"
"Mungkin itu bisa, tapi hatiku menolak semua itu?"
"Bukan hatimu yang menolak, tapi egomu yang tak ingin mengakui Hafidz sebagai suami. Imam yang pernah ada dalam hidupmu!" Ujar Arkan emosi, Hafidz menahan tubuh Arkan. Seakan tak ingin ada perdebatan demi dirinya. Tika menggelengkan kepala ke arah Hafidz dan Arkan. Berharap perdebatan ini dihentikan.
"Bukan ego kak, lebih tepatnya aku menolak hadirnya kembali. Jika memang dia pernah ada dalam hidupku. Jika memang dia pernah menjadi imam sholatku. Jika memang dia ayah dari putraku. Jika memang dia laki-laki pilihanku. Biarkan itu menjadi masa lalu, menjadi memori yang hilang dan tak kuharap kembali!"
"Apa maksudmu Hanna?" Sahut Tika tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya ma, biarkan aku mengubur semua kenangan indah itu. Melupakan manis dan pahit hidup yang pernah aku jalani bersamanya. Tak pernah aku ingin menggali memori yang hilang itu. Akan kubiarkan semuanya kekal dalam ingatan terdalamku. Terkubur bersama dua tahun komaku!"
"Tidak mungkin!" Ujar Hafidz tak percaya.
"Kamu mengigau Hanna. Mungkin kamu bisa melupakan Hafidz, tapi Davin. Dia putramu, tak mungkin hatimu mudah melupakannya!" Sahut Arkan.
"Kakak memang benar, hatiku tak bisa berbohong. Sejak awal aku bertemu Davin, aku merasa sangat mengenalnya. Suara lembutnya, hangat sentuhannya, gerak langkah kakinya. Seolah pernah mengisi hari-hariku. Namun apalah dayaku, aku tak lebih dari ponsel tanpa memori. Kertas putih tanpa tulisan. Polos dan hampa, bagai ruang gelap yang tak pernah merasakan hangat sinar matahari dan dingin angin malam. Getaran-getaran aneh semakin menyiksaku, membuatku tak berarah. Tak mungkin aku mengingkari, jika aku tahu Davin putraku!"
"Kenapa kamu melupakan Hafidz?"
"Karena Hafidz dan papa sama!" Sahut Hanna lirih.
"Maksudmu!" Sahut Agam.
"Papa melupakan anak kandung papa demi mama. Berpikir anak itu lahir tanpa cinta dan tak lebih dari kesalahan. Anak yang sengaja papa acuhkan demi aku dan kak Arkan. Putri yang terbuang, sejak mama kembali dalam hidup papa. Seolah dia tak lebih dari barang yang tak layak pakai dan pantas dibuang!"
Plaaaakkk
"Jaga bicaramu Hanna!" Ujar Tika, sesaat setelah menampar Hanna.
"Sayang, sejak kapan kamu tahu fakta itu?"
"Bukan hanya aku yang tahu, kak Arkan juga tahu tentang kebenaran itu!" Ujar Hanna lantang, Agam mundur beberapa langkah. Tubuhnya terhuyung, jika bukan karena Tika yang menopangnya. Mungkin Agam sudah jatuh membentur lantai marmer rumahnya.
"Tika, maafkan aku!" Bisik Agam, Tika mengangguk mengerti.
"Jika kamu bisa mengatakan semua ini. Berarti ingatanmu kembali!" Ujar Arkan bahagia, Hanna menggeleng lemah.
"Lantas, darimana kamu tahu semua itu!"
"Ada satu tempat dimana aku bisa mengingat semua yang terjadi!"
"Kamu mengetahui semuanya, tapi kamu menolak mengakui Hafidz!"
"Ini bukan masalah menolak kakak, tapi pilihan dan aku memilih melupakan hubungan diantara kami. Hubungan suami istri yang terpisah lebih dari 3 tahun, bisa dikatakan talak!"
"Tapi Hafidz tak pernah menjatuhkan talak padamu!"
"Tapi dia hampir menikah dengan Qaila adikku!"
"Hanna cukup, jika kamu ingin menolakku silahkan. Tak perlu kamu ungkit masa lalu yang sudah terkubur!"
"Terima kasih kak Hafidz, seperti perkataanmu masa lalu biarkan menjadi masa lalu!" Ujar Hanna santai.
"Hanna, sebelum kamu pergi. Mama ingin bertanya satu hal lagi!" Ujar Tika, Hanna menghentikan langkahnya. Dengan tenang Hanna menatap dua bola mata Tika.
"Apa Qaila alasanmu menjauh dari papa dan Hafidz?" Ujar Tika, tanpa ragu Hanna mengangguk.
"Kamu rela melepas Davin, apa semua itu demi menebus rasa bersalahmu?" Ujar Tika lagi, Hanna menggeleng lemah.
"Lantas, apa alasan yang membuatmu yakin melepas Davin?"
"Aku tak pernah melepas Davin, karena dia nyawa yang menyatu dalam jiwaku. Davin bukan barang tak berhati yang bisa aku berikan pada siapapun? Dia hidup dan napasku, ketika usia merenggut kekuatanku kelak. Namun lagi dan lagi, aku ibu yang tak memiliki daya. Karena bukan aku yang dipanggilnya bunda, melainkan Qaila. Bukan aku yang mendekap kala lelapnya, tapi Qaila. Bukan aku yang menggendongnya saat lelahnya, tapi Qaila. Aku ibu yang melahirkannya, tapi Qaila yang membesarkannya. Jika demi ego semata, hari ini akan kukatakan pada Davin. Aku ibunya bukan Qaila, tapi aku yakin bukan senyum yang aku lihat di wajah putraku. Melainkan air mata, ketika dia harus terpisah dari bunda yang membesarkannya!"
"Hanna, lantas kenapa kamu melupakanku?"
"Karena cinta dimata indahmu bukan lagi untukku!"
"kamu mengigau, Hafidz masih setia padamu!" Ujar Arkan.
"Tanyakan padanya, adakah Qaila mengisi hatinya? Jika dia jujur, maka aku akan percaya dia memang imam yang baik!"
"Hafidz, jawab pertanyaan Hanna. Katakan semua itu salah!" Ujar Arkan, Hafidz menunduk diam seribu bahasa.
"Terima kasih kakak sudah jujur, kakak memang laki-laki baik!"
"Tapi itu dulu, sekarang tak pernah ada rasa cinta itu!" Sahut Hafidz membela diri.
"Sekarang atau dulu akan sama, seandainya setahun yang lalu aku tak sadarkan diri!"
"Hanna, aku mohon dengarkan penjelasanku!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, kakak pantas bahagia. Aku ikhlas melepasmu!"
"Tapi aku tidak!" Teriak Hafidz.
"Katakan itu pada putramu Davin. Katakan padanya kamu akan menikahiku, bukan Qaila!"
"Kamu mendengarnya!"
"Kakak pantas bahagia!" Ujar Hanna mengakhiri perdebatan yang terjadi.