Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Putraku


"Arkan, kamu tidak berhak bicara sekasar itu pada Hanna!" ujar Ghibran, sembari menahan tangan Arkan. Dengan kasar Arkan menepis tangan Ghibran. Arkan tidak peduli pada pendapat Ghibran, karena sejatinya Hanna yang bersikap kurang sopan padanya. Bukan Arkan yang bertindak kasar dan keterlaluan pada Hanna.


"Aku tidak butuh hak, karena dia adikku!" sahut Arkan dingin. Lalu pergi meninggalkan Ghibran dan Savira yang bengong.


Rasa tak percaya terlihat jelas dari raut wajah Ghibran dan Savira. Namun Savira tidak peduli pada perkataan Arkan. Kondisi Hanna yang tertekan, menyita pikiran Savira sepenuhnya. Dia tidak akan membiarkan Savira tertekan sendirian. Savira akan selalu ada sebagai sahabat terbaik Hanna.


"Tidak mungkin!" ujar Ghibran tak percaya. Suaranya hanya mampu di dengar oleh Ghibran sendiri. Terlihat Ghibran menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bahkan Ghibran sengaja mencubit lengannya. Dia sangat tidak percaya, jika Arkan pemuda biasa. Bahkan sangat miskin, tak lain kakak laki-laki Hanna. Pewaris keluarga terpandang dan terkaya setelah keluarga Anggara.


"Arkan tunggu, kamu harus menjelaskan sesuatu padaku!" teriak Ghibran dengan suara lantang. Dia berlari mengejar Arkan menuju ruang dosen.


Arkan terus berjalan tanpa menghiaraukan panggilan Ghibran. Arkan tidak ingin kembali menoleh. Melihat air mata Hanna yang sangat melukainya. Namun melunak pada sikap tak sopan Hanna. Hanya akan mrmbuat Hanna merasa benar dan semakin tak terkendali. Sebagai seorang kakak. Arkan harus bisa mendidik Hanna. Meski semua itu terasa berat, bahkan sangat mustahil. Melihat Hanna yang tumbuh dengan kemahan dan selalu dimanja.


"Arkan!" ujar Ghibran emosi, tepat di belakang Arkan. Napas Ghibran terdengar memburu, dia belari sekuat tenaga. Mengejar Arkan yang seolah menghindar darinya. Arkan menoleh dengan raut wajah tak peduli. Seakan Arkan tak menganggap keberadaan Ghibran.


"Ada apa?" sahut Arkan tenang, Ghibran menatap Arkan tajam. Seandainya dia lupa akan hubungan pertemanan mereka. Mungkin sejak tadi, Ghibran sudah memukul wajah Arkan. Dia sangat marah, ketika Arkan berkata kasar pada Hanna. Apalagi sikap Arkan membuat Hanna histeris.


"Aku tidak percaya kamu kakak kandung Hanna. Dia putri tunggal om Agam dengan istri pertamanya!" ujar Ghibran tak percaya, Arkan diam membisu. Ada rasa ngilu, ketika keberadaannya tak pernah diketahui oleh siapapun? Namun ada rasa bangga, ketika dia sadar keputusannya pergi bersama Tika. Telah membuatnya bersikap dewasa dan tidak tamak akan harta keluarganya.


"Aku memang putra Abdillah Abqari Agam, hanya darahnya yang nyata mengalir dalam tubuhku. Kamu percaya atau tidak, bagiku sama saja. Hanna dan aku lahir dari rahim yang sama, tahun yang sama, bulan yang sama, tanggal dan jam yang hampir sama. Hanna bukan hanya adikku, dia saudara kembarku!" ujar Arkan tegas dan lantang.


"Apa?" teriak Ghibran tak percaya, seketika dia menarik tangan Arkan.


Ghibran menatap kedua mata Arkan. Berharap perkataan Arkan tak lebih dari sebuah kebohongan. Rasa tak percaya Ghibran bukan tanpa alasan. Wajah Arkan dan Hanna sangat tidak mirip, meski dari segi usia memang keduanya sama. Arkan menutup mulut Ghibran dengan kedua tangannya. Suara lantang Ghibran menarik perhatian dosen lain. Arkan sangat malu melihat sikap Ghibran yang sembrono.


"Diamlah Ghibran, hubunganku dengan Hanna tidak seistimewa itu. Sampai kamu harus berteriak dan mengabarkannya pada banyak orang. Lihatlah kita menjadi pusat perhatian orang!" ujar Arkan kesal seraya tetap membungkam mulut Ghibran. Dengan pelan Ghibran mengangguk mengerti. Seolah Ghibran menyadari letak kesalahannya. Seketika Arkan membuka mulut Ghibran.


Arkan ingin segera menemui Tika. Kebetulan juga Arkan mendapat tugas jaga. Semenjak jati dirinya terkuak. Arkan menolak masuk dalam tim dokter yang merawat Agam. Bukan dia membenci Agam, tapi rasa sakit yang tertoreh. Seakan membuat Arkan takut salah dalam merawat Agam.


"Sudah kukatakan, apapun pendapatmu? Aku tidak peduli, ada atau tidak hubungan diantara aku dan Hanna. Semua tidak terlalu penting, sejatinya darah yang mengalir dalam tubuh kami sama. Kenyataan yang takkan berubah, meski kami ingin menyangkalnya!" ujar Arkan santai, lalu berjalan keluar dari ruang dosen. Ghibran hanya bisa diam menerima penjelasan Arkan yang tak mudah dicerna.


"Seburuk itukah papa, sampai kamu tidak ingin mengenal papa!" ujar Agam lirih, Arkan memutar tubuhnya 180° ke arah Agam. Dia melihat Agam bersandar pada di dinding depan ruang dosen.


Arkan pribadi yang acuh pada sekitar. sebab itu dia tidak merasa melihat Agam yang berdiri di bersandar pada dinding. Agam mendengar semua yang dikatakan Arkan pada Ghibran. Bahkan sikap dingin Arkan pada Hanna dengan nyata dilihat oleh Agam. Ingin rasanya Agam marah pada Arkan, tapi kenyataannya bukan Arkan yang salah. Namun keadaan yang membuat semua terjadi.


Agam tak sanggup menahan diri lagi. Sebab itu dia memutuskan datang menemui Arkan. Jika menunggu Arkan datang menemuinya. Agam merasa takkan sanggup menunggu. Sikap dingin Arkan membuat Agam merasa. Penantiannya hanya akan sia-sia. Arkan tidak akan pernah menemuinya. Selama kesalahpahaman terjadi diantara mereka.


"Sejak kapan anda disini? Pantaskah anda menguping pembicaraanku!" sahut Arkan dingin, Agam menunduk mendengar dingin perkataan Arkan putranya yang menghilang selama lima belas tahun.


"Arkan, tidak bisakah sekali saja kamu memanggilku papa. Aku ini papamu, aku bukan orang lain. Belasan tahun aku menunggu kamu memanggilku papa. Dulu saat kamu kecil, tak pernah sekalipun kamu menatapku hangat. Sekarang saat kamu dewasa, kamu menolak memanggilku papa!" ujar Agam lirih, Arkan menatap Agam lekat.


Seorang laki-laki yang tak lagi muda. Terlihat gurat-gurat tipis di wajahnya. Guratan yang menandakan pengalaman hidup yang tak sedikit. Pernikahan dengan perbedaan usia yang cukup jauh. Membuat Agam terlihat lebih tua dari Tika. Arkan menunduk lesu, melihat Agam menghiba padanya. Padahal dalam hati, Arkan tidak ingin melihat Agam yang lemah.


"Lebih baik kita keluar dari kampus. Tidak pantas rasanya, bila masalah pribadi dibicarakan di kampus. Di depan ada sebuah cafe, lebih baik kita bicara disana!" ujar Arkan, lalu berjalan menuju cafe tanpa peduli pada jawaban Agam. Hanya punggung tegap Arkan yang terlihat oleh Agam, jauh dan semakin menjauh.


"Tika, dia sangat mirip denganmu sikap yang keras dan dingin. Namun dalam diamnya dia menyimpan cinta yang tulus untuk orang lain. Entah kapan kehangatan tangan Arkan akan kurasakan? Namun aku percaya, didikanmu akan membawanya menemuiku dengan penuh cinta!" ujar Agam lirih.


"Om Agam!" sapa Ghibran, lalu ikut menoleh ke arah tatapan Agama.


"Dia putraku!" ujar Agam pada Ghibran.