
"Arkan, bisa kita bicara!" Sapa Hafidz, Arkan mengangguk mengiyakan. Dengan kedipan mata, Arkan mempersilahkan Hafidz duduk di depannya.
Kebetulan Arkan tidak sibuk, sengaja pula Hafidz menemui Arkan di rumah sakit. Tidak mungkin Hafidz bertemu di rumah Arkan. Sebab Hafidz masih segan bila bertemu dengan Tika. Sosok wanita yang tenang penuh kebijaksanaan. Ibu yang sangat disayangi Hanna, seseorang yang mungkin bisa merubah pemikiran Hanna. Mengubah prinsip hidup yang menjadi alasan Hanna menolak cintanya.
"Kenapa serius sekali? Ada masalah yang mendesak. Tidak perlu kamu datang ke rumah sakit. Cukup hubungi aku, kita bisa bertemu di luar!" Ujar Arkan, saat melihat sikap diam Hafidz.
Beberapa kali Arkan mendengar suara helaan napas Hafidz. Sebuah suara terdalam Hafidz yang ingin mengatakan. Jika hatinya sedang gelisah, penuh dengan kecemasan. Gestur tubuh Hafidz menunjukkan, betapa dia sedang bingung.
"Ada apa?" Ujar Arkan lagi, sontak Hafidz mendongak. Lamunan Hafidz seketika buyar, kala suara Arkan terdengar nyaring dalam diamnya.
Hafidz menatap sendu Arkan, harapan terakhir Hafidz agar bisa memahami Hanna. Orang yang dipercaya Hafidz mampu merubah keputusan Hanna. Jika Arkan juga tak mampu mengubah keputusan Hanna. Hafidz akan menyerah menggapai Hanna. Tak lagi ada secuil harapan, seandainya Arkan tak mampu menyakinkan Hanna.
"Hanna!" Sahut Hafidz lirih, Arkan menunduk menatap lantai. Beberapa detik kemudian, Arkan menatap nanar Hafidz.
Satu kata yang keluar dari Hafidz, menciutkan nyali Arkan. Tak perlu Hafidz mengatakan masalahnya. Arkam sudah mampu menebak, masalah yang coba dikatakan Hafidz. Namun fakta Arkan tak mampu membantu Hafidz. Sejenak membuat nyali Arkan menciut. Tak ada lagi kata yang pantas menenangkan hati Hafidz.
"Apa yang kamu harapkan dariku?"
"Kenapa aku merasa kamu tak mampu membantuku?" Ujar Hafidz lirih, perkataan singkat Arkan. Membuat Hafidz yakin, jika Arkan tak mampu membantunya.
"Bukan aku tak mampu membantumu, tapi terlambat bila sekarang harus berjuang!" Ujar Arkan lirih, sontak Hafidz menatap lekat Arkan. Ada rasa tidak percaya, saat Arkan mengatakan kata terlambat. Entah apa maksud kata terlambat itu? Satu hal yang pasti, Hafidz merasakan firasat yang tidak baik.
"Ada apa?"
"Satu jam lagi jadwal penerbangan Hanna. Dia akan meninggalkan negara ini selama dua tahun atau lebih. Hanna akan menempuh pendidikan bisnis disana. Dia memutuskan kuliah di luar negeri. Agar Hanna bisa fokus!" Ujar Arkan, Hafidz menggeleng lemah. Hafidz tak percaya dengan perkataan Arkan. Kenyataan yang sekali lagi menghancurkan harapannya.
"Lebih tepatnya menjauh dariku!"
"Aku tidak tahu alasan pastinya, tapi cinta itu ada di hati Hanna. Cinta yang mulai terasa dihatinya, tergenggam oleh tangannya mungilnya. Namun Hanna menggenggam cinta itu. Seperti menggenggam air, hanya tersisa tangan kosong saat dibukanya!"
"Apa maksudmu? Menggenggam air!" Ujar Hafidz tak mengerti, Arkan menatap Hafidz lekat. Sebuah keyakinan cinta yang terbalas dengan keraguan tanpa batas Hanna.
Arkan memberikan sebuah surat pada Hafidz. Surat yang bersampul biru langit, teduh saat dipandang mata. Dengan perlahan Hafidz mengambil surat tersebut. Tertera namanya di tengah-tengah surat. Nama yang tertulis dengan indah, seolah menunjukkan pribadi penulis yang lembut. Tulisan yang membuat hati Hafidz bergetar hebat.
"Surat yang sengaja ditinggalkan Hanna untukmu. Dia yakin kamu akan mencariku. Sebab itu dia memberikan surat itu!"
"Kenapa dia tidak memberikannya sendiri?" Sahut Hafidz lirih, tangannya bergetar memegang surat yang ditinggalkan Hanna.
"Seandainya Hanna bisa, mungkin dia akan memberikannya sendiri. Namun hatinya masih sangat rapuh mengakui semuanya. Hanna berharap surat itu menjawab keraguan hatimu. Keputusan Hanna akan tawaran cinta tulusmu. Harapan suci yang diinginkan Hanna untuk kebahagianmu!" Tutur Arkan tegas, Hafidz menunduk menatap surat ditangannya.
Arkan berdiri tepat disamping Hafidz. Arkan melihat rasa takut diwajah Hafidz. Ketakutan akan hancurnya harapan cintanya bersama Hanna. Arkan hendak meninggalkan Hafidz sendirian di ruangannya. Agar Hafidz tenang dalam membaca surat dari Hanna.
"Tapi!"
"Percayalah, semua yang terbaik!" Ujar Arkan menyakinkan Hafidz. Dengan perlahan Hafidz mengangguk pelan. Tepat saat Hafidz membuka surat, Arkan melangkah keluar dari ruangannya.
Hafidz membuka surat Hanna dengan hati-hati. Seolah surat itu hati Hanna yang ditinggalkan untuknya. Hafidz tak ingin ada robekan kecil di sampul surat. Dengan tangan bergetar, Hafidz membuka surat Hanna. Debaran jantung Hafidz terdengar nyaring dalam ruangan Arkan.
^^^Dear: Hafidz, imam impianku^^^
Kak Hafidz, kutinggalkan surat bersampul biru langit. Sebagai salam perpisahan yang tak mampu terucap dari bibirku. Aku terlalu takut mengakui lemahku. Aku terlalu pengecut mengakui rasaku. Aku terlalu bodoh menganggap diriku berharga. Sehingga terus-menerus menepis rasa tulusmu. Penolakan yang telah menyakiti hati sucimu. Cinta yang kamu tawarkan, tak lagi pantas untuk kegenggam. Banyak hal yang tak sama diantara kita.
Kak Hafidz, sampul biru langit yang kutinggalkan. Mungkin hadiah terakhirku untukmu, tapi warna biru langit akan selalu mengingatkanku akan dirimu. Langit yang kuharap menaungiku, di setiap langkah hidupku kelak. Langit yang akan terus kutatap di setiap hembusan napasku. Seolah wajah teduhmu yang tengah kupandang. Langit yang akan ada dimanapun aku berada? Seakan dirimu yang ada disampingku. Wajah yang menyusup jauh ke dalam hati terdalamku. Mengisi kosong hati sepiku yang gelap tanpa cinta.
Kak Hafidz, jika yang kurasakan cinta. Maka benar aku mencintaimu, tapi aku bukan makmum yang pantas untukmu. Bukan aku wanita yang tercipta dari tulang rusukmu. Aku wanita tanpa iman, aku penuh kelemahan, aku tak lagi sempurna. Imam sesempurna dirimu, pantas merasakan bahagia. Kelak ada makmum yang tercipta untukmu dan itu bukan aku.
Kak Hafidz, kuharap suratku mampu menjawab cinta tulusmu. Kuharap kamu mengerti, tidak akan pernah ada kata bersama untuk kita. Cinta itu nyata tumbuh dihati kita. Namun banyak hal yang tak lagi bisa kupersembahkan untukmu. Kamu tak pantas merasakan kepahitan ini. Biarlah aku yang merasakan kepahitan ini. Aku berharap kelak saat kita bertemu. Hanya ada bahagia dalam hidupmu.
Maafkan cinta lemahku yang tak sanggup menggapaimu. Hanna Santika Ramaniya tak lebih dari wanita pengecut. Aku lari dari cintamu, aku menjauh dari sakit patah hati. Cukup sekali aku melihat tanganmu menggandeng wanita lain. Tak lagi aku sanggup, sakitnya tak mampu kutahan. Aku akan kembali, ketika imamku bahagia.
Satu permintaanku, meski cinta kita tak bersatu. Jangan pernah membenciku, kenangan aku dalam diammu. Karena saat kamu mengenangku, saat itu aku merasakan dekapan hangatmu. Selamat tinggal kak Hafidz, maafkan sikap pengecutku.
^^^Hanna S. M.^^^
"Kenapa harus menyerah, jika cinta itu ada?" Ujar Hafidz lirih.
Braaakkkk
"Kamu akan kemana?" Ujar Arkan, saat mendengar bantingan pintu ruangannya.
"Aku harus mengejar Hanna, dia tidak boleh pergi. Dia tidak bisa meninggalkanku, setelah dia mengatakan cinta padaku!"
"Terlambat, Hanna mungkin sudah masuk ke dalam pesawat!"
"Tidak ada kepastian sebelum aku mencobanya. Aku akan menjemput Hanna, dia tidak berhak membuatku seperti ini!" Ujar Hafidz, lalu berlari menjauh dari Arkan.
"Pergilah, itu yang kuharapkan. Runtuhkan benteng yang dibangun Hanna. Yakinkan dia, cintamu kuat tak terkalahkan. Sekuat keraguannya akan cinta yang penuh kebahagiaan!" Batin Arkan lirih.