Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dia Adikku


"Vahira, silahkan masuk sayang!" ujar Nissa ramah, Vahira mengangguk pelan.


Vahira terperangah tak percaya. Dia sedang berdiri di atas sebuah rumah bak istana. Kediaman keluarga Anggar yang begitu besar. Rumah yang sengaja ditinggalkan Tika demi menjauh dari Agam. Vahira merasa tak percaya melihat kemegahan rumah Tika. Kehidupan yang selama ini mereka jalani tidaklah mudah. Namun tak pernah Tika berpikir menggunakan harta milik keluarga Vahira.


Kini Vahira menyadari, Tika bukan seseorang yang haus harta. Tika seorang wanita sederhana dengan keistimewaan yang tak terduga. Arkan mewarisi sikap Tika. Tetap sederhana dengan kelebihan yang dimilikinya. Kekaguman Vahira pada Arkan semakin besar. Namun semua seolah takkan mungkin. Sikap dingin Arkan dan pendapatnya tentangnya. Tidak akan bisa menyatukan mereka. Hanya sebagai adik Arkan menganggap Vahira. Tidak akan pernah lebih dari itu.


"Maaf, ini rumah mama!" ujar Vahira lirih, Nissa mengangguk pelan seraya merangkul Vahira masuk.


Tika meminta Vahira tinggal di rumah keluarga Anggara. Tika akan sangat sibuk menemani Dimas di rumah sakit. Sedangkan Arkan akan sibuk di kampus dan rumah sakit. Jadi kemungkinan besar Vahira akan sendirian di negara yang asing. Jadi untuk sementara, Tika meminta izin pada Nissa. Agar Vahira tinggal di rumahnya. Tanpa Tika meminta Izin, dengan senang hati Nissa mempersilahkan Vahira tinggal bersamanya.


"Rumah yang tak berarti dimata mamamu. Dia meninggalkan semua ini, demi hidup damai yang diharapkannya. Selama ini Tika tidak pernah mengakui harta keluarga Anggara. Hanya darah yang mengalir dalam tubuhnya. Sesuatu yang takkan pernah bisa dia bantah sampai kapanpun?" ujar Nissa, Vahira mengangguk mengerti.


vahira hidup bersama dengan Tika bukan satu dua tahun. Hampir separuh hidupnya dia habiskan bersama Tika. Sedikit banyak Vahira mengenal Tika. Dia hidup dalam kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan kurang. Namun tak sekalipun Vahira mendengar keluhan Tika. Sikap tenang dan selalu ikhlas yang Tika tunjukkan. Sikap dewasa yang dipelajari Vahira dari Tika. Alasan yang membuatnya lebih memilih hidup bersama Tika. Jauh dari keluarga dan kemewahan yang dimilikinya.


"Kesederhanaan mama membuatku kagum padanya. Harta yang selalu menjadi petaka dalam sebuah keluarga. Tak pernah ada harganya dihadapan mama. Dia tidak pernah silau akan harta yang sejatinya tak lebih dari kebahagian semu!" ujar Vahira, Nissa mengangguk mengerti.


Pemikiran Tika tidak salah, sebab Nissa juga merasakan kebahagian seutuhnya. Bukan karena adanya harta, melainkan berkumpulnya satu keluarga secara utuh.


"Vahira, sementara kamu tinggal di kamar tamu. Kamar Tika sudah dipakai Hanna. Nanti akan nenek siapkan kamar untukmu!" ujar Nissa, Vahira menggeleng. Seolah Vahira tidak setuju dengan tawaran Nissa. Seketika Nissa bingung, melihat penolakan Vahira. Dia pikir Vahira akan menerima tidur sementara di kamar tamu. Nyatanya dugaan Nissa salah.


"Nenek aku menggeleng bukan menolak. Sebenarnya aku tidak keberatan tidur dimanapun? Aku sudah terbiasa tidur di atas lantai beralaskan tikar. Jadi nenek tidak perlu mencemaskan aku akan tidur dimana?" sahut Vahira.


"Kamu memang putri Tika!" ujar Nissa tegas dan lantang, lalu mengajak Vahira masuk. Mereka berjalan menuju kamar tamu yang terletak di dekat ruang makan.


"Vahira, istirahatlah dengan tenang. Nanti saat makan malam. Nenek akan memanggilmu!" ujar Nissa singkat, Vahira mengangguk seraya mengutas senyum.


"Terima kasih, nenek sangat baik dan perhatian padaku!" ujar Vahira.


...☆☆☆☆☆...


Hampir seminggu Tika kembali. Tak sekalipun Hanna ingin mendekat pada sang mama. Kerinduan dan rasa kecewanya seakan bersaing mengisi hatinya. Di sisi lain dia sangat merindukan Tika, tapi kerinduan berganti amarah. Ketika Hanna mengingat kepergian Tika bersama Hanif.


Tika tidak merasa keberatan dengan sikap Hanna yang membencinya. Perpisahan selama lima belas tahun diantara mereka seakan tepat menjadi alasan kebencian Hanna pada Tika. Tak ada yang bisa menyalahkan atau membenarkan sikap Tika. Sebagai seorang ibu dia telah salah meninggalkan putrinya sendiri. Namun sebagai seorang wanita biasa, dia harus memilih pergi tanpa Hanna. Demi kebahagian Agam yang nyatanya hanya akan ada bersamanya.


Hari ini Hanna datang ke kampus seperti. Kebetulan jam pelajaran pertama akan diisi oleh Arkan yang tak lain kakak kandungnya Hanif. Hanna ingin berlari memeluk Arkan, tapi sikap diam dan acuh Arkan. Seolah tak memberi hak Hanna untuk mendekat padanya. Arkan sangat menyayangi Hanna, tapi entah kenapa Arkan seakan tak peduli pada Hanna? Ada rasa canggung yang terbentuk tanpa Arkam atau Hanna sadari.


Arkan baru saja selesai memberikan materi di kelas Hanna. Setelah ini Arkan harus pergi ke rumah sakit. Hanna tak sanggup lagi diam melihat sikap acuh Arkan padanya. Sebab itu dengan amarah dan kerinduan yang terpendam. Hanna berjalan ke arah Arkan yang sedang membereskan buku-buku pelajarannya.


"Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan? Tidak ada hakku melarangmu. Tatapan penuh amarah di kedua mata indahmu itu. Sudah cukup menjawab isi hatimu tentang pertemuan kita. Aku tidak kecewa, bila seandainya kamu membenciku atau menyalahkanku. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah menyalahkan mama atas kepergiannya!" ujar Arkan dingin dan tegas, Hanna tersenyum sinis.


Amarahnya semakin menjadi. Dia tidak menyangkan jika Arkan akan berbicara seperti itu. Bukan meminta maaf, Arkan malah mencari kebenaran dari keputusan yang Tika ambil. Sebaliknya Arkan seolah tidak peduli dengan pendapat Hanna. Dia datang ke negara ini hanya ingin melindungi Hanna dari jauh. Bukan untuk mengenal atau diakui sebagai putra pewaris keluarga Agam.


"Jika aku tidak boleh menyalahkan mama. Lantas siapa yang harus aku salahkan? Papa?" ujar Hanna lantang dan emosi, Arkan menggeleng lemah melihat sikap Hanna.


Suara Hanna seketika menarik perhatian para murid yang berada di kelas. Tidak terkecuali Savira dan Ghibran dua orang yang sangat menyayangi Hanna. Arkan mengedarkan pandangannya, ketika mendengar suara lantang Hanna. Anehnya satu tatapan Arkan, mampu membuat seisi kelas keluar tanpa suara. Mereka sangat mengagumi sosok Arkan yang penuh wibawa. Sehingga tanpa banyak bertanya, mereka keluar dengan rasa percaya. Bahwa dosen tampan dan muda mereka pasti baik-baik saja.


"Sudah aku katakan! Salahkan siapa saja sesukamu? Aku tidak peduli, selama itu bukan mama. Bahkan jika kamu ingin menyalahkan papa. Aku tidak melarangnya, sebab dia yang harus bertanggungjawab atas air mata mama!" sahut Arkan tak kalah ketus.


"Jika papa bertanggungjawab atas air mata mama. Siapa yang pantas disalahkan atas kehancuran papa? Lima belas tahun aku melihat papa hidup tanpa nyawa. Dia tersenyum hanya untuk menutupi air matanya. Kebahagian kami semu tak nyata. Semua karena kepergian mama!" ujar Hanna lebih lantang, kedua tangannya menopang di atas meja Arkan.


"Kakek Ilham dan nenek Salma. Mereka yang pantas kamu salahkan. Mereka yang menghancurkan kebahagian putranya. Bukan mama yang sejatinya hancur dengan perpisahan ini!" sahut Arkan seolah membenarkan diri.


"Bohong, mama tidak pernah hancur. Dia bahagia bersama dirimu dan putri angkatnya. Hatinya beku tak lagi hangat. Tak ada kasih sayang dalam tatapannya. Aku benci mama, aku benci mama!" teriak Hanna histeris, sembari melempar semua buku yang ada di depannya.


Ghibran dan Savira langsung masuk ke dalam ruang kelas. Savira memeluk Hanna yang tiba-tiba histeris. Berbeda dengan Arkan yang selalu tenang. Ghibran menoleh ke arah Arkan, seolah ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi?


"Tak ada yang mengenal mama lebih dariku. Air matanya, kehancurannya, kesepiannya dan kerinduannya. Hanya aku yang melihatnya dan menyadarinya. Bukan kamu putri yang kini menyalahkan. Tanpa bertanya kebenaran akan keputusannya!" ujar Arkan, Hanna mendorong tubuh Savira. Dia meronta melepaskan diri.


"Aku bukan putrinya lagi, dia meninggalkanku tanpa rasa iba sedikitpun!" tantang Hanna lebih kasar, Savira mencoba menenangkan Hanna. Ghibran tak bisa berbuat banyak. Hanna bukan mukhrimnya, sedangkan Arkan teman baiknya. Dia juga belum mengetahui masalah dan hubungan diantara Arkan dan Hanna.


"Dia tidak hanya ingin meninggalkanmu saat itu, tapi juga meninggalkanku. Namun aku yang memaksa ikut dengannya. Setidaknya kini aku besyukur telah melewati hidup susah. Bahkan kekurangan bersama mama. Sebab melihat sikapmu sekarang, aku yakin hanya dengan harta kamu dibesarkan. Sehingga kamu merasa pantas berkata kasar padaku. Serta meragukan kasih sayang mama yang takkan pernah bisa kamu balas!" ujar Arkan dingin, lalu berlalu meninggalkan Hanna.


"Satu hal lagi, kamu mengeluh akan kepergian mama dan menyalahkannya. Padahal jelas aku melihat, limpahan kasih sayang dan keluarga utuh yang kamu miliki sudah cukup membuatmu bahagia. Sebenarnya bukan salah mama pergi sampai akhirnya kamu kesepian atau hancur. Namun dirimu yang tak pernah menghargai kasih sayang mereka? Kamu yang tak pernah merasa cukup dengan kemewahan yang kamu dapatkan. Kelak kamu akan menghargai semua itu. Seandainya semua telag pergi!" ujar Arkan dingin dan sinis, sembari membalikkan badan. Hanna menangis dalam pelukan Savira. Dia terluka melihat sikap dingin Arkan.


"Arkan, kamu tidak berhak bicara sekasar itu pada Hanna!" ujar Ghibran, sembari menahan tangan Arkan.


"Aku tidak butuh hak, karena dia adikku!" sahut Arkan dingin. Lalu pergi meninggalkan Ghibran dan Savira yang bengong.


"Tidak mungkin!" ujar Ghibran tak percaya.