
"Salwa, hari ini kita akan pergi ke perusahaan Anggara group. Kita akan melakukan rapat terbatas. Siapkan semua berkas proyek yang kamu tangani. Kita berangkat satu jam lagi!" titah Agam, Salwa mengangguk ragu. Semalam dia mendengar fakta siapa sebenarnya Tika? Hari ini Salwa akan bertemu dengan keluarga besar Tika.
"Kamu serius mengajakku rapat ke perusahaan Anggara. Apa kata mereka saat bertemu denganku? Aku penyebab rumah tangga putrinya berantakan. Tidak mungkin aku berani bertemu dengan mereka. Bisa habis aku dihina mereka!" ujar Salwa, Agam menggeleng lemah. Keluarga Anggara bukan keluarga yang mencampuradukkan masalah keluarga dengan bisnis. Sifat profesional mereka diakui oleh para pengusaha. Tidak pernah ada nepotisme dalam perusaan Anggara. Hanya orang-orang hebat yang bekerja disana. Mereka yang akan mendapatkan penghargaan sebagai pekerja yang patut diakui.
"Kamu akan mengenal keluarga Anggara. Keluarga yang membesarkan Kartika Putri istriku!" ujar Agam sembari berlalu meninggalkan Salwa. Sebaliknya Salwa merasa khawatir bila bertemu dengan keluarga Anggara. Dia tidak ingin dipermalukan oleh keluarga Anggara. Sejak semalam Salwa tidak mampu bertemu dengan Tika. Salwa terlalu malu, setelah menghina Tika.
Sejam berikutnya Agam dan Salwa beserta Irfan pergi menuju ke perusahaan Anggara group. Selama ini Agam bekerja mengurus perusahaan keluarganya. Namun sebagian besar proyek yang dia kerjakan berasal dari perusahaan Anggara. Bukan karena Agam menantu keluarga Anggara, tapi kinerja Agam yang sudah diakui dalam dunia bisnis. Meski sepak terjang Agam tak sehebat dan setangguh Dimas Putra Anggara.
Sesampainya di perusahaan Anggara, Agam dan stafnya langsung menuju ruang rapat perusahaan Anggara. Saat tiba Agam ruang rapat sudah dipenuhi beberapa rekan kerja perusahaan Anggara. Terlihat Dimas dan Nissa berada di kursi paling depan. Salwa menelan ludahnya kasar. Entah kenapa nyali Salwa menciut setelah melihat Dimas? Orang tua Tika, wanita yang rumah tangganya sengaja ingin diusik oleh Salwa.
Rapat berlangsung sekitar dua jam lebih. Setelah selesai Rapat sengaja Agam menemui Dimas dan Nissa. Salwa dan Irfan mengekor di belakangnya. Agam mencium tangan Dimas seraya memeluknya. Nissa tersenyum melihat Agam, sekelilas tatapannya melihat ke arah Salwa. Sebaliknya Salwa menunduk, dia takut melihat Dimas dan Nissa.
"Sayang, diakah wanita itu. Cantik dan pintar, pantas saja orang tua Agam ingin dia menjadi menantunya!" ujar Dimas, Nissa mengangguk pelan. Agam menunduk malu, saat masalah rumah tangganya diketahui oleh orang tua Tika. Mendengar perkataan Dimas, Salwa semakin takut mereka akan memarahinya.
"Apa kabar nona Salwa Ainun Azizah? Aku rasa anda sudah mendengar, siapa saya? Jangan gugup atau ketakutan, kami tidak akan menyalahkanmu. Masalah rumah tangga Tika dan Agam, sepenuhnya urusan mereka. Kami tidak berhak ikut campur!" ujar Nissa, Salwa semakin menunduk malu. Dia baru menyadari bahwa, keluarga Tika bukan keluarga sembarangan. Salwa melihat kesederhanan dalam kekayaan yang tak terbatas. Salwa semakin malu, dia menghina orang yang salah.
"Saya baik, terima kasih!" sahut Salwa singkat, Nissa tersenyum manis ke arah Salwa.
"Nona Salwa tidak perlu canggung. Aku tahu siapa dirimu serta hubunganmu dengan Agam dulu? Aku rasa anda tahu, sebelum menjadi ibu mertuanya. Aku sahabatnya kala sekolah. Aku masih mengingat kisah diantara kalian. Namun semua berubah saat ini. Agam tak lagi sendiri, ada batasan diantara kalian. Seandainya akan ada hubungan diantara kalian, sudah seharusnya Agam melepas tangan Tika!" tutur Nissa lirih, Agam mendongak kaget. Salwa tertegun mendengar perkataan Nissa yang seakan menerima kehadiran dirinya.
"Bunda, aku mohon jangan mengatakan sesuatu yang sangat aku takutkan!" ujar Agam lirih, Dimas menepuk pundak Agam pelan. Lalu merangkul menantu pertamanya.
"Kita bicara di ruanganku. Papa merasa ada sesuatu yang ingin kamu katakan! Minta stafmu menunggu di kantin perusahaan!" ujar mas Dimas, Agam mengangguk pelan. Belum sempat agam berbicara, Devan datang dengan setengah berlari.
"Agam, apa kabar kamu? Tika dan si kembar tidak ikut! Aku sudah merindukan mereka!" ujar Devan, Agam menggeleng lemah. Salwa diam membisu melihat kehangatan dan persaudaraan yang sangat luar biasa. Hubungan antara bos dan bawahan layaknya hubungan saudara. Hubungan menantu dan mertua tak terlihat. Malah yang terlihat hubungan ayah dan anak kandung.
"Pantas Agam mengatakan, aku akan mengenal bagaimana keluarga Tika? Sekarang aku melihat, betapa hebatnya keluarga Tika. Tak ada amarah, yang ada hanya kehangatan. Keluarga kaya yang tak pernah menganggap, harta menjadi hal yang paling penting. Diamnya Tika menyimpan sebuah kebenaran yang mampu mènutup mulutku rapat. Dia wanita dengan banyak kelebihan, tapi tetap diam direndahkan hanya demi kehormatan Agam!" batin Salwa.
"Lagipula untuk apa mereka ikut? Agam datang untuk urusan kantor, bukan berlibur. Sudah sepantasnya Tika dan anak-anak diam di rumah!" sahut Dimas, Agam dan Salwa menunduk lesu. Kebijaksanaan seorang pengusaha, yang bisa memilah urusan keluarga dan bisnis. Devan mengangguk mengerti.
"Dimas kamu seolah tidak merindukan mereka. Aku tahu sebenarnya kamu juga ingin bertemu mereka. Bagaimanapun Tika putri pertamamu?" sahut Devan dingin, Dimas menggeleng lemah. Nissa tersenyum melihat Dimas, sebaliknya Salwa yang terheran-heran.
"Tidak perlu heran, semenjak tanganku melepas tangan Tika. Aku sudah tidak memiliki hak atas dirinya. Sepenuhnya Tika milik Agam, sampai Agam mengembalikannya padaku. Jika Agam masih merasa mampu membahagiakan dan melindunginya. Aku tidak akan pernah memintanya!" ujar Dimas bijak, Agam menunduk. Devan dan Nissa tersenyum simpul. Nissa melihat gelagat Agam, sebenarnya Nissa sudah bisa menebak kegelisahan Agam. Seperti perkataannya, Agam sahabatnya sebelum menjadi menantunya. Nissa bisa melihat kegalauan hati Agam.
"Agam, aku rasa sudah terjawab kegelisahan hatimu. Sampai saat ini semua keputusan ada ditangamu. Jika memang kamu merasa sudah tidak mampu lagi memimpin dan melindungi Tika. Serahkan Tika pada kami, sebab sampai saat ini Tika masih menjadi tanggungjawabmu. Kami tidak akan melangkahimu, meski Tika datang pada kami dengan air mata. Kami akan bersikap bijak tanpa berpikir memihak. Sejatinya orang tua akan bahagia bila melihat buah hatinya bahagia. Namun jika pernikahanmu membuat orang tuamu tidak bahagia. Lepaskan pernikahanmu dan rangkul orang tuamu. Berkorbanlah agar mereka merasa lega. Kelak suatu hari nanti orang tuamu akan mengerti. Saat kedua matanya melihat air mata yang jatuh dari kedua matamu. Mereka akan menyesal, saat tubuhmu hidup tapi seakan mati tanpa istri dan buah hatimu. Sudah saatnya kamu memilih, tapi bunda ingatkan. Tika bukan bunda yang selalu bersabar. Dia pribadi yang teguh, ketulusannya mampu melepasmu tapi takkan pernah menggenggammu kembali!" tutur Nissa lirih, Devan menepuk pundak Agam.
"Pernikahan memang penuh ujian. Sebab itu aku masih takut menikah!" ujar Devan santai.
"Kamu bukan takut menikah, tapi belum ada yang ingin menikah denganmu!" sahut Dimas dingin.
"Keluarga yang hangat!" ujar Salwa lirih hampir tak terdengar.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊