Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Sebuah Persetujuan


"Apa doa orang yang taat selalu dikabulkan oleh Allah SWT?" Ujar Hanna mengagetkan Hafidz. Hanna datang tanpa permisi, membuat Hafidz kaget akan suara lembutnya.


Hafidz yang sibuk dengan ponsel pintarnya, seketika mendongak ke arah Hanna. Dia tak menyadari Hanna sudah berdiri di depannya. Hanna membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan. Hafidz terlalu fokus pada ponselnya, sampai dia tak menyadari kedatangan Hanna.


Mungkin juga Hanna yang datang tanpa suara, sehingga Hafidz tak menyadari akan kedatangannya. Satu hal yang pasti, kedatangan Hanna membuat Hafidz terkesima. Bayangan kecantikan Hanna memakai mukena. Masih jelas terpancar di benaknya. Kebahagian saat menjadi imam Hanna. Seolah takkan pernah bisa terlupakan. Sebuah harapan yang sangat besar dalam diri Hafidz. Menjadi imam Hanna selamanya. Bukan hanya malam ini saja.


"Tidak seperti itu, Allah SWT selalu bersama hamba-NYA. DIA senantiasa ada untuk hamba-NYA. Tidak membeda-bedakan, tapi memang benar hamba yang taat lebih dekat dengan-NYA!" Sahut Hafidz tegas, Hanna mengangguk pelan. Lalu duduk tepat di samping Hafidz.


Hanna menatap lurus ke depan. Tak ada kecemasan dalam hatinya kini. Menghindari pertemuan dengan Hafidz. Tak lagi bisa dilakukannya. Semakin Hanna berusaha, semakin pertemuan itu terjadi. Hanna tak lagi berharap menjauh dari Hafidz. Apapun yang terjadi, Hanna akan menghadapinya dengan berani. Hanna takkan lari seperti pengecut. Hanna akan membuktikan pada dunia. Jika dia layak dicintai.


"Pantas saja doakan tak dikabulkan. Mungkin doamu yang terkabul, sehingga malam ini aku duduk di sampingmu!" Ujar Hanna santai.


Hafidz menggeleng tak setuju, meski memang benar yang dikatakan Hanna. Jika mereka bertemu, semua karena kehendak Allah SWT. Namun Hanna tak menyadari, pertemuan mereka semata karena memang itu yang terbaik. Meski jelas Hafidz mendengar kekecewaan Hanna. Namun tak terbersit sedikitpun amarah dihati Hafidz. Cintanya pada Hanna mungkin egois. Sehingga membuatnya harus memaksa Hanna duduk di sampingnya.


Tanpa rasa canggung Hanna duduk di sebelah Hafidz. Hanya bantal sofa yang membatasi mereka. Dengan acuhnya Hanna duduk sembari bermain ponsel. Sedangkan Hafidz salah tingkah duduk sangat dekat dengan Hanna. Entah cinta atau napsu yang kini dirasakan Hafidz? Satu hal yang pasti, detak jantung Hafidz berdetak begitu hebat. Kala tubuhnya berada sangat dekat dengan Hanna.


"Kenapa kamu diam saja? Tadi mencegah keberangkatanku, katanya ingin bicara!" Ujar Hanna lantang, sembari tetap bermain dengan ponsel pintarnya. Hafidz hanya bisa terdiam canggung. Posisi mereka yang terlalu dekat, membuat hati Hafidz tak tenang. Bibirnya tertutup rapat, kalah oleh pesona Hanna yang mampu membuatnya tak fokus.


"Hmmmm!"


"Bicara atau aku pergi!" Ujar Hanna tegas, dia berdiri menjauh.


Sontak Hafidz menahan tangan Hanna. Tangan Hafidz yang tiba-tiba menahan tubuhnya. Membuat Hanna terhuyung dan jatuh ke pangkuan Hafidz. Sejenak Hafidz begitu dekat dengan Hanna. Namun semua kembali pada posisi semula. Saat suara Hanna terjatuh membuyarkan kekaguman Hafidz akan Hanna.


Buuukkk


"Maaf!" Ujar Hafidz lirih.


"Tidak perlu, aku yang tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Lagipula kamu yang harus menahan tubuh beratku. Jadi aku yang harus minta maaf!" Ujar Hanna santai, lalu kembali duduk di samping Hafidz.


Hanna duduk tepat di samping Hafidz. Entah kenapa Hanna mampu bersikap setenang itu? Berbeda dengan Hafidz yang tak mampu mengendalikan hasratnya. Jujur cintanya yang begitu besar pada Hanna. Membuat Hafidz tak bisa berpikir jernih. Bersama dengan Hanna menjadi harapan Hafidz.


"Aku tidak keberatan, selama kamu bersedia!"


"Kamu yakin ingin memangku diriku. Sepertinya lebih berat aku daripada kamu!" Ujar Hanna, Hafidz mengangguk tanpa menatap Hanna.


Hafidz mengangguk bukan ingin mencari kesempatan. Hanya saja pribadi seperti Hanna selalu butuh bukti. Bagi Hafidz hanya dengan cara menyakinkan Hanna. Maka cintanya akan bisa terbalaskan. Hanna yang masih dan selalu ragu akan cintanya. Masih harus diyakinkan dengan penuh kesabaran. Hafidz tak sanggup bila kehilangan Hanna. Cukup sekali dia mendengar Hanna akan pergi jauh. Tak lagi Hafidz sanggup melihat Hanna menjauh.


Buuukk


Tanpa aba-aba Hanna duduk di pangkuan Hafidz. Tubuh Hanna terlihat sempurna duduk di atas tubuh Hafidz. Sedangkan Hafidz hanya bisa mengelus dada. Menahan hasrat yang semakin menggebu. Tak berapa lama, Hanna duduk kembali ditempatnya semula. Bersamaan dengan helaan napas penuh kelegaan dari Hafidz.


"Hanna, aku tidak keberatan kamu duduk dipangkuanku. Bahkan menggendongmu kemanapun? Insyaallah aku sanggup, tapi izinkan aku menghalalkanmu terlebih dahulu!" Ujar Hafidz, Hanna menoleh tajam ke arah Hafidz.


Ada rasa heran yang tak terjawab. Hanna merasa prinsip keduanya berbeda jauh. Meski sejujurnya Hanna menyadari kesungguhan Hafidz. Namun hatinya tak bisa dibohongi, ada jarak yang samar tapi terasa ditengah-tengah hubungan mereka. Perbedaan akan keimanan yang membuat Hanna pesimis mendekat ke arah Hafidz.


"Kenapa harus menikah? Kamu takut dosa!" Ujar Hanna dingin, Hafidz menggeleng lemah.


Hafidz menggeleng bukan tak mengakui jika sikapnya salah. Namun berada di dekat Hanna, membuatnya harus menahan hasrat yang tak ingin dikendalikan. Setiap hembusan napas Hanna, sudah cukup membawa pikirannya jauh ke alam liar. Ketakutan terbesar Hafidz dalam cintanya. Kehancuran cinta yang disebabkan oleh napsu semata.


"Setiap orang takut akan dosa, begitupun kamu. Aku lebih takut tak mampu menahan hasrat di hatiku. Aku tak ingin menyakitimu, cintaku tulus bukan sekadar napsu sesaat. Aku ingin bersamamu dengan kemurnian sejati!" Sahut Hafidz, Hanna terdiam. Seketika Hanna memberikan ponselnya pada Hafidz.


Hanna ingin melihat seberapa besar kepercayaan Hafidz padanya. Biasanya seseorang yang jatuh cinta. Akan bersifat overprotektif dan paranoid. Mereka akan mudah cemburu tanpa alasan. Dengan alasan yang sama, Hanna ingin menguji Hafidz. Akankah dia peduli dengan ponsel yang diberikannya. Hanna ingin tahu ketulusan yang seolah tak pernah nyata adanya.


"Jika memang kamu ingin mengenalku. Silahkan periksa ponselku, mungkin kamu ingin tahu sesuatu. Misalnya, siapa saja teman laki-laki yang kukenal?" Ujar Hanna, Hafidz menepis tangan Hanna. Dia tidak menerima ponsel milik Hanna.


Hafidz menepis tangan Hanna pelan. Dia menolak permintaan Hanna. Tak sedikitpun Hafidz tergiur menerima ponsel Hanna. Hatinya tulus mencintai Hanna. Tanpa ada rasa tak percaya. Cintanya jujur dan akan setia pada Hanna seorang.


"Aku tak pernah ragu akan cinta ini, karena aku percaya sepenuhnya padamu. Tidak perlu aku mencari tahu apapun tentangmu. Karena Hanna Santika Ramaniya dengan lemah dan lebihnya yang aku cintai!" Sahut Hafidz lantang dan tegas. Hanna mengangguk percaya. Dia melihat kesungguhan Hafidz, sebuah cinta yang tak pernah dihiraukan Hanna. Nyata ada untuknya saat ini.


"Kamu mencintaiku atau terobsesi padaku? Aku tak sesempurna itu, ada banyak celah yang tak terlihat dalam hidupku!" Ujar Hanna tak percaya. Meski sesungguhnya Hanna sangat bahagia. Saat dia tahu ada laki-laki yang begitu tulus mencintainya. Kebahagian mendapatkan cinta tulus dan sempurna.


"Aku tahu, tapi kejujuranmu yang membuatku menyadari. Hatimu tulus tanpa kepalsuan!" Ujar Hafidz lagi, Hanna diam menatap Hafidz.


"Kalau begitu, aku yang ingin memeriksa ponselmu. Aku ingin melihat isi dari ponsel calon imamku!" Ujar Hanna santai, sembari menjulurkan tangannya ke depan Hafidz.


"Jelas kamu takkan setuju, jika aku melihat ponselmu. Aku hanya ingin melihat, seberapa besar kamu yakin dan percaya akan hubungan ini!" Batin Hanna sembari menjulurkan tangan ke depan Hafidz.


Hafidz diam menatap Hanna, perkataan Hanna menggetarkan hati Hafidz. Namun permintaan Hanna membuat Hafidz bimbang. Sikap spontan dan terus terang Hanna membuat Hafidz sedikit ragu. Lama Hafidz dan Hanna saling diam, sampai akhirnya Hanna menurunkan tangannya.


"Tunggu Hanna, aku diam bukan ragu memberikannya padamu. Apapun yang aku miliki. Hakmu untuk memeriksanya, aku takut kamu salah paham!" Ujar Hafidz, sembari menahan tangan Hanna.


"Kalau begitu tidak perlu!" Ujar Hanna santai, sembari melepaskan tangan Hafidz pelan. Namun diluar dugaannya, Hafidz meletakkan dua ponsel pintarnya ditangan Hanna.


Hanna tercengang melihat dua ponsel pintar ada di tangannya. Bahkan Hafidz memberikan dompetnya kepada Hanna. Dengan penuh keheranan Hanna menerima ponsel dan dompet milik Hafidz. Hanna hanya ingin mengetes keseriusan Hafidz. Malah sekarang Hanna yang bingung saat Hafidz menganggap serius perkataan Hanna.


"Satu ponsel kerjaku dan satu ponsel pribadiku. Sandi keduanya singkatan nama dalam suratmu untukku. Sedangkan itu dompet pribadiku. Seluruh penghasilanku ada di dalamnya. Seluruh ATM itu menjadi milikmu, aku hanya akan meminta darimu!" Ujar Hafidz tegas, Hanna mengedipkan mata berkali-kali. Dia tak percaya Hafidz benar-benar menganggap serius perkataannya.


"Aku tidak berminat lagi!" Ujar Hanna dingin. Ada rasa tak biasa yang terselip di hatinya. Hanna melihat kesungguhan hati Hafidz. Sesuatu yang tak pernah diyakini oleh Hanna.


Hanna mencoba menutupi kebingungannya. Hanna tak pernah berniat memeriksa ponsel Hafidz. Sejak dulu Hanna pribadi yang menghargai privasi orang lain. Hanna meletakkan ponsel Hafidz di sampingnya. Hafidz tak sedikipun menoleh, seolah dia benar-benar kecewa dengan jawaban Hanna.


"Kalau begitu buang saja!" Sahut Hafidz santai.


"Kenapa?" Ujar Hanna tak percaya. Hanna merasa Hafidz marah dengan sikapnya. Hanna melihat jelas rasa kecewa Hafidz yang tak biasa.


"Aku tidak akan menggunakan ponsel, jika kamu ragu padaku!" Sahut Hafidz tegas. Hanna menggeleng tak percaya. Dia melihat Hafidz yang tak ragu melakukan apapun demi dirinya.


"Kak Hafidz, sungguh tadi aku bercanda. Jangan seperti ini, aku tidak bisa memeriksa ponselmu. Sebab ponsel itu barang yang sangat pribadi. Aku tak pernah meragukanmu. Aku mohon jangan terlalu keras!" Ujar Hanna lirih, Hafidz menunduk menatap lantai rumah Hanna.


"Kamu tak pernah yakin dengan rasaku!" Ujar Hafidz lirih, Hanna termenung mendengar perkataan Hafidz.


Entah kenapa setiap kata yang terucap terasa menusuk hati terdalam Hanna? Ada rasa ngilu yang teramat, suara lirih Hafidz terdengar pilu di telinga Hanna. Kekecewaan Hafidz jelas terlihat dari kedua mata indahnya. Suara dingin Hafidz menunjukkan betapa sakit hati Hafidz.


"Maaf!" Sahut Hanna, Hafidz menggeleng lemah. Seolah kata maaf Hanna tak lagi berarti untuknya.


"Tidak perlu!"


"Baiklah, berikan ponselnya. Aku akan melihat isi ponselmu. Tapi jujur aku tidak pernah berniat melihat isinya!" ujar Hanna, lalu mengambil ponsel Hafidz.


"Hanna, tidak bisakah kamu melunak. Beri aku kesempatan menyentuh hati terdalammu. Jika kamu merasakan cinta itu. Kenapa kamu begitu tegas menolaknya? Apa yang harus kulakukan? Agar kamu percaya aku sanggup memperjuangkanmu!" Ujar Hafidz lirih, Hanna diam membisu.


Hanna tak jadi melihat isi ponsel Hafidz. Perkataan Hafidz membuatnya gelisah. Perkataan yang ditakutinya kini terucap dari bibir Hafidz. Terdengar nyaring di telinga Hanna, menggetarkan hati Hanna yang dingin dan kosong. Jawaban yang tak pernah bisa dia utarakan.


"Kak Hafidz!" Ujar Hanna lirih, Hafidz menoleh ke arah Hanna. Sepasang dua bola mata, saling menatap penuh cinta. Tatapan yang seolah belum pantas. Tatapan penuh hasrat yang belum menemukan cintanya.


Tangan Hanna menggenggam erat tangan Hafidz. Jemari Hanna dan Hafidz saling bertaut, saling melengkapi setiap celah yang ada. Membentuk kepalan kuat yang akan melawan dunia. Debaran jantung keduanya saling berpacu. Mengisyaratkan hasrat cinta yang begitu besar di hati keduanya.


"Aku rasa kak Hafidz bisa merasakan cinta yang ada dihatiku. Gemetar tubuhku jawaban nyata, kegelisahan hatiku yang takut kehilanganmu. Debaran jantungku yang begitu hebat, nyata ingin mengatakan betapa ingin aku bersamamu. Dingin tanganku yang tiba-tiba hangat, kala menggenggam tangamu. Bukti aku mengharapkan dekapan hangat tubuhmu. Menghangatkan sepi hati dan jiwaku. Tak ada yang bisa aku pungkiri lagi. Cinta itu nyata ada dalam hidupku kini. Namun ada perbedaan diantara kita yang takkan mungkin sama!"


"Apa itu? Jika itu iman yang kamu anggap sempurna. Akan kubuktikan padamu, aku hanya makhluk lemah penuh napsu. Tak ada yang sempurna dalam diriku!" Ujar Hafidz tegas, lalu memeluk Hanna erat.


"Kak Hafidz!"


"Kini aku tak sempurna, aku kalah oleh napsuku. Tak ada alasan sempurna yang membedakan kita. Izinkan aku menghalalkanmu, agar hatiku yakin kamu tercipta untukku!" Bisik Hafidz, Hanna mengangguk pelan. Hafidz seketika melepaskan pelukannya. Menatap penuh bahagia Hanna.


"Jangan terlalu bahagia, orang tua kak Hafidz belum setuju. Aku juga harus kuliah!"


"Tidak bisakah kamu kuliah disini saja. Aku tak sanggup bila jauh darimu. Jika soal mama, akan kupastikan dia setuju!" Ujar Hafidz memelas, Hanna mengangkat kedua bahunya acuh.


"Lihat saja nanti!" Ujar Hanna, lalu berdiri meninggalkan Hafidz.


"Hanna!"


"Kita harus makan malam, setelah itu pulang dan tidur. Sudah cukup hari ini kamu mengusikku!" Ujar Hanna langtang, Hafidz mengangguk mengerti. Dia mengekor mengikuti Hanna masuk ke dalam rumah. Agam dan Tika memperhatikan keduanya dari jauh. Keduanya menyerahkan sepenuhnya pada Hafidz dan Hanna. Sejak tadi keduanya hanya mengawasi tanpa berpikir ingin ikut campur.


"Sayang, kenapa kamu diam saja melihat Hafidz memeluk Hanna?"


"Karena Hafidz sudah meminta izin padaku. Dia akan menghapus perbedaan diantara mereka. Jika Hanna tidak ingin mengenalnya, maka dia yang akan mengikuti gaya Hanna!" Sahut Tika santai.


"Kamu mengizinkan!" Ujar Agam, Tika mengangguk tanpa ragu.


"Kenapa?"


"Karena dia imam yang akan menuntun Hanna kita dengan penuh kesabaran!"