Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pasien


"Dokter Arkan, ibu ini pasien terakhir!" ujar salah satu asisten perawat. Arkan mengangguk tanpa mengangakat wajahnya. Kedua tangan Arkan masih sibuk menulis data pasien sebelumnya.


"Terima kasih, kamu boleh pergi!" sahut Arkan tegas, perawat mengangguk mengerti. Meski Arkan sendiri tidak melihatnya. Bukan Arkan tidak peduli, tapi Arkan tipe dokter yang sangat teliti. Sebab itu dia yang menyalin rekam medis pasiennya. Agar tidak terjadi kesalahan saat diagnosis.


"Silahkan duduk, sebentar saya lanjutkan!" ujar Arkan ramah, tanpa menoleh pada pasien yang ada di depannya.


Sekitar lima menit sang pasien menunggu. Akhirnya Arkan selesai menyalin catatan medis pasiennya. Arkan mengangkat wajahnya perlahan. Seketika kedua bola mata Arkan membulat sempurna. Rasa terkejut membuat bolpoint yang dipegangnya terjatuh. Hati Arkan dipenuhi berbagai macam perasaan. Marah dan kecewa memenuhi hatinya.


"Hanif!" sapa Zalwa, Arkan menggeleng lemah. Sejak kecil Arkan sudah tidak ingin menggunakan nama Hanif.


Dengan sopan Arkan menunjuk nama yang menempel di dadanya. Zalwa mengikuti arah tangan Arkan. Dalam hati dia membaca nama Arkan. Lalu Zalwa mengangguk mengerti. Jika Arkan tidak ingin dipanggil menggunakan nama Hanif.


"Saya dokter Arkan, ada yang bisa saya bantu!" ujar Arkan ramah dengan senyum yang terutas.


Tak ada amarah yang diperlihatkan Arkan. Sebagai seorang dokter ada tanggungjawab yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh Arkan. Kewajiban merawat siapapun pasien yang datang padanya? Meletakkan dulu kepentingan pribadinya, demi kepentingan orang lain. Tanggungjawab serta beban yang membuatnya tak bisa meluapkan amarahnya. Rasa sakit dan kecewa belasan tahun, tidak akan mampu terkuak untuk saat ini.


"Maaf dokter Arkan, bukan saya yang butuh perawatan anda!" ujar Zalwa lirih, Arkan mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


Zalwa menatap Arkan penuh harap. Seolah Zalwa meminta Arkan bersedia membantunya. Meski sebenarnya Zalwa belum mengatakan maksud kedatangannya. Sebaliknya Arkan semakin acuh, ketika Zalwa mengatakan bukan dia yang sakit.


"Lantas untuk apa anda datang kemari? Kalau memang tidak ada yang dikeluhkan. Lebih baik anda keluar dari ruangan saya. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan!" ujar Arkan sopan, sembari tangannya membereskan meja kerjanya.


"Mas Agam, dia yang butuh dirimu!" ujar Zalwa tegas, Arkan menggeleng lemah.


"Dia pasien dokter Bayu. Tidak ada hakku merawatnya. Silahkan anda keluar dan menemui dokter Bayu. Dia yang akan merawat tuan Agam!" ujar Arkan, Zalwa menatap Arkan lekat.


Zalwa tidak percaya akan perkataan Arkan. Sikap dingin tanpa ada rasa belas kasih. Nyata ditunjukkan Arkan pada Zalwa. Sedikitpun Zalwa tidak melihat sikap hangat Arkan. Tidak ada rasa peduli Arkan ketika mendengar kesakitan Agam. Laki-laki yang tak lain ayah kandung Arkan sendiri.


"Belum cukupkah lima belas tahun dia menderita. Sehingga mas Agam harus terus menderita jauh dari putranya. Percayalah Arkan tak sedetikpun mas Agam melupakanmu. Dia sangat merindukanmu!" ujar Zalwa, Arkan menggeleng seraya tersenyum sinis.


"Lima belas tahun juga, dia membuat mama jauh dari keluarganya. Dia menderita jauh dariku, lalu apa kabar mama yang jauh dari putri dan keluarganya? Sekarang anda datang padaku, meminta kasih sayang untuknya. Sedangkan lima belas tahun yang lalu. Anda dan nenek Salma alasanku mengubur kasih sayang untuknya!" ujar Arkan dingin, Zalwa menunduk membisu.


Zalwa merasa terpojok dengan perkataan Arkan. Perkataan Arkan seakan menyalahkan keberadaannya di samping Agam. Zalwa tak lebih dari seorang wanita perusak bagi Arkan. Semua kesalahan seolah Zalwa yang harus bertanggungjawab. Meski sesungguhnya Zalwa tidak pantas disalahkan sepenuhnya. Sebab sikap bimbang dan lembek Agam. Sehingga Zalwa terjebak dalam hubungan tanpa status.


"Arkan, kamu mengetahui benar. Mamamu pergi atas kemauannya sendiri. Tidak pernah mas Agam memintanya pergi. Seandainya mas Agam mengetahui kepergian Tika. Aku yakin mas Agam akan melarang Tika pergi. Bukan salahnya bila Tika jauh dari keluarga dan juga Hanna. Tika memutuskan menjauh dari hubungan yang ada. Tika mencari ketenangan demi kebahagiannya sendiri!" sahut Zalwa tak kalah ketus.


Arkan tersenyum sinis, dia mendengar pembelaan Zalwa pada papanya. Arkan semakin yakin, Zalwa tak lebih dari bayangan yang menjadi penghalang diantara dirinya dengan Agam. Perkataan Zalwa yang seakan menyalahkan Tika. Memancing amarah yang ingin ditahan oleh Arkan. Zalwa mencoba melindungi Agam. Meski dia menyadari, perkataan Zalwa memang benar. Tika yang pergi, tapi bukan murni keputusannya. Namun permintaan tak berhati orang tua Agam.


"Lalu untuk apa sekarang anda datang dihadapanku? Aku pergi dengan kemauanku sendiri. Jadi tidak perlu anda menghiba, apalagi berharap aku akan kembali kepada tuan Agam. Dia memang ayah kandungku secara biologis. Namun secara hati, aku tidak pernah mengenalnya!" ujar Arkan, Zalwa diam membisu.


Perkataan Arkan bak belati tajam. Tak ada belas kasih dari perkataan itu. Hanya kebencian yang nyata ditunjukkan Arkan. Meski Zalwa mencium kaki Arkan. Tidak akan dengan mudah Arkan memaafkannya.


"Arkan aku menyadari, amarah dan rasa kecewamu seakan benar. Meski sesungguhnya kamu tidak berhak menyalahkanku. Kamu tidak pernah berada di posisiku. Seandainya aku mampu, ingin aku pergi menjauh dari hubungan ini. Tika dan aku sama-sama menjadi korban. Jadi tidak seharusnya aku saja yang disalahkan. Tika juga salah telah membuat cela. Sehingga ada jalan aku masuk ke dalam hubungan mereka!" tutur Zalwa, Arkan mulai meradang. Dia merasa marah, ketika Zalwa menyalahkan Tika akan kehancuran yang terjadi.


"Jaga bicara anda, salah benar mamaku. Bukan hak anda memutuskan. Sadarlah anda yang selama ini menjadi bayangan papa. Anda tidak pernah mengharapkan hubungan ini. Namun nyata terlihat, anda nyaman berada ditengah-tengah hubungan ini. Aku tidak pernah ingin kembali pada keluarga. Dimana mamaku tidak pernah dianggap dan selalu diragukan? Katakan pada tuan Agam, aku tidak akan datang padanya sampai anda menjauh darinya!" ujar Arkan dingin tak berhati.


"Maksudmu!" ujar Zalwa tak mengerti.


"Jika dulu nenek Salma meminta mama menjauh dan meninggalkanku bersama papa. Demi kebahagian dan ketenangan hati papa. Hari ini aku meminta papa, memilihku atau meninggalkan keluarganya!" ujar Arkan dingin, Zalwa terkejut mendengar permintaan Arkan. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dipilih oleh Agam.


Zalwa menunduk seraya menggelengkan kepala perlahan. Arkan melihat kegelisahan Zalwa setelah mendengar perkataannya. Sekilas Arkan tersenyum tipis. Dia sangat yakin, Agam tidak akan pernah bisa memilih. Lima belas tahun yang lalu atau tahun ini.


"Baiklah, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku sudah mengatakan pilihanku. Sebuah pilihan yang pernah diajukan pada mama. Namun tanpa rasa bersalah, anda malah meragukan dan terus menyalahkan mama!" ujar Arkan lalu berdiri.


"Satu hal lagi, selamanya dalam satu piring tidak akan pernah ada dua sendok!" ujar Arkan dingin.