
"Minumlah mama!" ujar Arkan sopan, Tika mengangguk pelan. Arkan menyodorkan segelas minuman pada Tika. Dengan isyarat mata, Tika meminta Arkan meletakkannya di atas meja.
Arkan melihat Tika kembali terluka. Meski tak ada air mata yang menetes. Arkan bisa mendengar suara tangis hati Tika. Diam yang Tika tunjukkan. Sudah lebih dari cukup menjawab kegelisahan hati Tika. Sejak dulu sampai sekarang, takkan ada yang bisa mengerti kerapuhan hati Tika. Ketenangan seolah takkan pernah bisa Tika rasakan.
Arkan mendekat pada Tika, lalu meletakkan kepalanya dipangkuan Tika. Sikap manja yang selalu Arkan lakukan. Ketika Tika menangis dalam diamnya. Semua Arkan lakukan tak lain agar Tika lupa akan luka yang dirasakannya.
"Kenapa mama bertahan menyimpan rasa sakit itu? Dia tidak pantas mendapatkan kesetiaan mama. Laki-laki yang tak mampu membuat keputusan. Tidak akan pernah bisa berjalan tegak dalam hidupnya. Menyalahkan dan mengeluh, dua hal yang akan dengan mudah dia lakukan. Sebab dalam pikirannya, dia yang terluka dan orang lain yang melukainya. Sikap egois dan angkuh yang takkan pernah terlihat. Sebab tersimpan rapat dalam pembelaan akan rasa sakitnya!" ujar Arkan tegas tanpa keraguan.
Tika mengusap kepala Arkan, membelai lembug rambut hitam legam Arkan. Dia melihat sang putra yang tumbuh dengan rasa kecewa pada Agam. Arkan dewasa semenjak dia melihat kepedihan yang dialami Tika. Sangat wajar bila Arkan selalu menyalahkan Agam. Dalam ingatannya, Arkan tak pernah melihat ketegasan Agam. Hanya diam dan pasrah yang selalu diperlihatkan Agam.
"Jawaban yang akan kamu ketahui suatu hari nanti. Saat ada seorang wanita menempati hatimu. Hubungan mama dan papa tidak akan pernah membaik. Namun tak bisa dipungkiri, papa satu-satunya laki-laki yang pernah mengetuk hati mama. Kesetian mama selama ini, bukan demi papamu. Tapi semua papa lakukan, hanya demi kalian berdua. Mama tidak ingin egois dengan mencari cinta yang lain. Cukup kalian terluka melihat perpisahan kami. Mama tidak akan membiarkan kalian terluka lagi. Dengan melihat mama bahagia, tapi bukan dengan papa!" ujar Tika lembut, Arkan mendongak menatap Tika.
Arkan tak mampu mengimbangi ketenangan Tika. Sikap dewasa yang selalu ada dalam tutur kata Tika. Mampu memberikan pengertian yang tak pernah Arkan dapatkan dari sikap lemah Agam. Cara berpikir Tika yang tak pernah bisa ditebak. Membuat Arkan sulit mengerti akan rasa sakit Tika.
"Aku tidak akan mengizinkan siapapun mengisi hatiku? Hanya mama yang ada di hati Arkan. Aku tidak ingin membuat mama tersisih. Meski aku akan selalu memilih mama, tapi aku tidak ingin berada di posisi memilih. Aku bahagia bersama mama dan akan selalu bahagia dengan melihat senyum mama!" ujar Arkan tegas, Tika menggeleng tidak setuju.
Tika menatap wajah tampan Arkan. Kemiripan yang begitu besar dengan Agam terlihat nyata. Wajah yang selalu membuat Tika ingat akan cintanya pada Agam. Laki-laki yang membuatnya berani menikah di usia muda. Namun jalan takdir berkata lain. Ujian yang seharusnya menguatkan cinta mereka. Dengan mudah membuat mereka terpisah.
"Tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu. Kodrat hati merasakan cinta, sebuah rasa yang tak pernah mampu kita nalar ataupun ditawar. Kelak akan ada seorang wanita yang mengisi hatimu. Dia yang akan menjadi kuat dan lemahmu. Mama tidak akan pernah tersisih ataupun bersaing dengannya. Sebab dia yang kelak merawat dan menjadi alasan bahagiamu!" ujar Tika.
"Aku tidak ingin menyakiti siapapun? Cukup aku melihat mama, wanita yang tersisih. Hanya karena sikap lemah papa dan keraguan keluarga papa akan ketulusanmu!" sahut Arkan tegas, Tika tersenyum mendengar perkataan Arkan. Kini sedikit demi sedikit Arkan akan memahami posisi Agam.
"Dilema itulah yanh selama ini ada di dalam hati papamu. Dia tidak ingin menyakiti siapapun? Meski nyatanya ada banyak hati yang terluka. Pahamilah keadaan papamu, agar kamu mengerti perasaannya!"
"Mama pergi, bukan marah atau lari dari masalah. Mama pergi agar papamu menjadi kuat dan berani. Lihatlah siapa papamu saat ini? Dia mengejar harta yang membedakan dirinya dengan mama. Berharap saat mama kembali, kami akan bersatu dengan status yang sama. Papamu membuktikan pada orang tuanya. Dia mampu menggapai status dan derajat yang sama dengan mama. Namun satu hal yang tak bisa dikembalikan. Cinta mama padanya, kini berubah menjadi rasa peduli tidak lebih!" ujar Tika, Arkan mengangguk memgerti.
"Sikap yang selalu terlambat. Papa selalu bimbang disaat harus memilih, tapi ketika dia memilih semua sudah tak ada artinya. Papa tidak akan pernah dewasa. Dia akan selalu kalah dan selalu takut melangkah. Mungkin aku akan berada di posisi yang sama dengan papa. Namun satu hal yang berbeda diantara kami. Aku tak akan menggapai dua hal, bila satu tak saja belum tentu aku gapai!" ujar Arkan santai.
"Sama halnya rasamu pada Vahira dan Aura. Keduanya tak dapat kamu gapai, maka kamu melepaskan keduanya!" ujar Tika lirih, sontak Arkan bangun dari tidurnya.
"Sejauh mana mama mengetahui masalah itu? Apa Vahira mengatakan sesuatu? Dia yang menceritakan semuanya pada mama!" ujar Arkan panik, Tika menggeleng lemah.
Terdengar suara helaan napas Arkan. Seolah beban berat yang terangkat. Tika terkekeh melihat kepanikan Arkan. Sejenak Tika melihat sikap kekanak-kanakan Arkan. Selama ini Arkan selalu bersikap dewasa. Arkan menyimpan semua masalah yang sedang dipikirkannya. Agar Tika tidak cemas memikirkan masalah Arkan.
"Vahira tidak mengatakan apa-apa pada mama? Tatapanmu pada Aura yang mengatakan semuanya pada mama!" ujar Tika, Arkan seketika menunduk malu.
"Syukurlah!" ujar Arkan lega sembari mengusap dadanya pelan.
"Tidak seharusnya kamu melakukan semua itu. Rasamu tidak salah, kenapa harus kamu tahan? Seandainya kamu mencintai Aura, yakinkan hatimu dialah tulang rusukmu. Kamu berhak bahagia dan memilih makmum terbaikmu. Namun jika memilih terasa berat bagimu. Maka keputusanmu benar, menghindar sebelum semua semakin terlambat!" tutur Tika perlahan.
"Sama halnya papamu yang harus memilih. Kamu juga harus berani memilih. Jangan takut mama akan kecewa. Siapapun yang kamu pilih? Mama akan mendukungnya, tidak akan mama mencegah kebahagianmu!" ujar Tika lagi, Arkan menggelengkan kepalanya lemah.
"Saat ini tak ada yang lebih penting daripada mama. Baik Vahira atau Aura, tidak ada satupun diantara keduanya yang ingin aku miliki. Mereka pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Masa depan mereka bukan bersama laki-laki sepertiku!" ujar Arkan.
"Maafkan mama yang membuatmu merasa rendah diri dihadapan Vahira dan Aura. Namun satu hal yang harus kamu percaya. Harta dan kedudukan akan kalah oleh sucinya cinta. Selama kamu yakin, bahwa rasa itu tulus tanpa memandang perbedaan!" ujar Tika.
"Aku takut menyakiti hati wanita. Cinta itu membahagiakan, bukan membuat hati wanita menangis. Aku masih belum merasa pantas menjadi imam. Dalam hatiku masih tersimpan amarah dan rasa kecewa. Hati yang tak bersih, tidak akan bisa mencintai dengan tulus!" ujar Arkan.
"Apapun yang kamu pilih, mama akan selalu mendungkungmu!" sahut Tika tegas sembari menepuk pelan tangan Arkan.
"Terima kasih!" ujar Arkan.
"Tunggu Arkan, sejak kapan kamu mengenal Aura? Seingat mama, kalian tidak pernah mengenal atau bertemu!" ujar Tika bingung.
"Seperti kata mama, cinta itu dari hati. Jadi tidak perlu aku mengenal wajahnya. Sebab hatiku yang mengenalinya!" ujar Arkan tegas, lalu berdiri meninggalkan Tika yang tersenyum.
"Kamu mirip mas Agam, hangat dan penuh cinta. Sikap yang tak pernah bisa aku lupakan dari mas Agam!" tutur Tika lirih tak terdengar. Tika menatap punggung Arkan yang semakin menjauh.