Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Bawa Aku Pergi


"Kak!"


"Hmmm!" Sahut Hanna santai. Qaila berjalan perlahan menghampiri Hanna yang tengah berdiri termangu di balkon lantai dua rumahnya.


Hanna mendongak menatap langit yang terang. Sinar bulan nampak terang benderang. Purnama jelas menampakkan keindahan dan keagungannya. Terang yang tak mampu disamakan dengan lainnya. Nyata indah penuh dengan keajaiban. Langit yang seakan ingin menerangi hati Hanna. Menenangkan gelisah jiwa seorang ibu. Mengguratkan setitik keagungan rahmat Allah SWT yang tak pernah dusta. Seakan ingin mengatakan pada Hanna. Segelap-gelapnya malam, akan datang bulan yang meneranginya. Sepanas-panasnya matahari, adakalanya angin bertiup menyapa. Sedingin-dinginnya embun pagi, sang mentari hadir menghangatkan. Paduan yang tercipta dengan makna tak ternilai dan tak bernalar.


"Bisa kita bicara!"


"Bukankah sejak tadi kita bicara!" Sahut Hanna tanpa menoleh pada Qaila.


Qaila berdiri tepat di samping Hanna. Menatap langit yang sama bersama Hanna saudara perempuannya. Wanita yang kini jelas menjadi penghalang dirinya bersatu dengan Hafidz. Meski sejak pertama Hanna tak pernah menghalangi atau menuntut apapun. Hanna diam menerima semua yang terjadi. Hanna yang hidup tanpa memori, seakan ingin tetap diam. Membiarkan tinta emas sang pencipta. Menulis dalam kanvas hidupnya yang polos. Hanna takkan menuntut atau meminta. Hanna menyadari, terlalu banyak yang dia dapatkan. Sudah saatnya Hanna menyadari arti pengorbanan. Lebih tepatnya mengorbankan, apa yang pernah dia miliki?


"Kenapa kakak memilih mengalah? Kakak menyerah akan hubungan halal. Demi hubungan yang tak pasti dan tentu tak pantas!"


"Aku tak pernah mengalah atau menyerah. Sejatinya aku telah kehilangan hak itu sejak tiga tahun lalu. Kebahagian yang pernah aku rasakan dulu. Sudah lebih dari cukup dan tak pantas aku terus mengharapkannya. Adakalanya seseorang menyadari waktu tak lagi sama. Semua sudah berubah dan tak lagi sama. Mencoba ikhlas lebih baik, daripada teguh dalam ego yang tak bertepi!"


"Tapi kakak jauh lebih berhak dariku!"


"Tak ada yang lebih berhak akan langit, baik bintang atau bulan. Tataplah langit dengan mata hatimu. Niscaya kamu akan melihat makna yang tersirat begitu dalam!"


"Kenapa kakak mengalihkan pembicaraan? Aku tak ingin kak Hafidz membenciku hanya karena keputusanmu. Kita sudah sepakat bersaing secara adil. Agar kak Hafidz mendapatkan kebahagiannya, entah bersamaku atau bersamamu?"


"Langit ibarat kak Hafidz yang melindungi cintamu dan cintaku. Faktanya langit memiliki bintang dan bulan. Bintang yang bersinar redup, tapi berjumlah banyak. Tak mengusik bulan yang begitu besar dan terang. Keduanya menghiasi langit dengan cahayanya. Sama-sama menerangi langit, menghangatkan dingin dan gelap malam dengan cahaya. Cintamu dan cintaku ibarat bintang dan bulan itu. Tak ada yang lebih besar atau lebih kecil. Tak ada yang lebih terang atau redup. Keduanya ada di hati kak Hafidz dengan porsi dan cara yang berbeda. Jadi gapailah bahagiamu, jika memang ada bersama kak Hafidz!"


"Artinya kakak mengalah padaku!" Ujar Qaila santai, Hanna menggeleng tanpa sedikitpun menoleh pada Qaila.


"Tak perlu aku mengalah, jika cinta itu memang ada untukmu. Lagipula alasan cinta itu ada untukmu. Berbeda dengan cintanya padaku!"


"Adilkah semua ini untuk kak Hafidz!"


"Adil, jika aku tak mengingat apapun. Sangat tidak adil, ketika aku merasakan cinta itu tapi mengingkarinya!" Sahut Hanna santai tanpa sedikitpun beban.


"Bicara denganmu takkan membuatku tenang. Kelak jika kak Hafidz benar-benar milikku. Aku harap kakak ingat akan perkataan hari ini. Jangan pernah berpikir menjadi duri dalam hubunganku!"


"Aku takkan pernah merebut senyum putraku!"


"Davin!"


"Qaila, aku diam menerima semua yang terjadi. Bukan demi ingin melihat cintamu bersatu dengan kak Hafidz. Melainkan senyum putraku yang hanya ada saat bersamamu!" Tutur Hanna, lagi dan lagi Qaila termenung mendengar perkataan Hanna. Tak mengerti dengan keteguhan hati Hanna. Terasa menyakitkan bagi Hanna, tapi seakan tak mengusik ketenangan hati Hanna.


"Aku benar-benar tak mengenalmu!" Sahut Qaila sinis.


"Sejak kamu lahir dan tinggal satu atap denganku. Kapan kamu dan aku saling mengenal satu dengan yang lain? Kita selalu hidup di jalan yang sama, tapi sisi yang bersebrangan. Kamu selalu mengejar langkahku, sebaliknya aku selalu berlari dan menyebrang di sisi yang lain. Jadi tidak ada hal yang akan membuatmu mengerti aku!"


"Terserah kakak, aku harap kakak tak menyesali sikap dingin ini!" Ujar Qaila final, lalu berjalan turun menjauh.


Hanna tak menoleh, tatapannya fokus ke langit yang terang. Hanna mencari ketenangan yang kini sangat jauh dari hati dan jiwanya. Semenjak Hanna mengetahui hubungannya dengan Hafidz. Ketenangannya mulai terusik, gelisah satu kata yang menghantui hatinya. Meski Hanna selalu berusaha tenang dan bahagia.


"Ya Allah, langit begitu terang nan indah. Engkau menciptkan keindahan yang seakan ingin mengobati luka hatiku. Ya Rabb, seandainya hamba bisa meminta. Izinkan hamba mengingat sekeping kenangan yang telah Engkau ambil dari pikiran. Setidaknya izinkan sekali saja, hati ini menyadari cinta yang dulu ada. Namun seandainya cinta ini tak lagi pantas. Hamba mohon hapus semua getaran yang kini mengusik hati. Jauhkan kata cemburu yang kini mengisi jiwa yang hampa ini. Hamba tak berharap lebih, karena Engkau mengetahui yang terbaik bagi hamba. Meski itu bukan yang hamba harapkan!" Batin Hanna penuh makna.


"Berpura-pura tak mendengar, saat telinga terbuka. Berusaha tak melihat, ketika mata terjaga. Bersikap tenang, tapi pikiran dan jiwa gelisah. Bukan hal yang mudah kamu lakukan Hanna!"


"Kak Aura!" Sapa Hanna sesaat setelah mendengar suara.


"Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraanmu dengan Qaila. Kedewasaanmu hanyalah kamuflase yang ingin menutupi kegalauan hatimu. Sejatinya tak ada tenang dalam hidupmu. Setenang hatimu saat bicara dengan Qaila!"


"Apa maksud kakak?"


"Panggilan ini yang selalu aku rindukan darimu. Terasa hangat menyentuh hatiku yang sepi dan dingin. Kamu bukan adik kandungku, tapi kamu satu-satunya orang yang membuatku bertahan dalam rumah ini!"


"Sungguh kak, aku tak mengerti maksudmu?" Ujar Hanna tak mengerti, meski sebenarnya Hanna sedikit mengerti arah pembicaraan Aura.


"Kamu tidak baik-baik saja Hanna. Apalagi saat seluruh indramu fokus pada mereka. Apa yang saat ini terjadi di bawahmu? Bukan hal yang mudah kamu acuhkan. Cemburu, mungkin itu yang sedang kamu rasakan saat ini!" Ujar Aura sembari melihat ke bawah.


Lebih tepatnya ke arah halaman depan rumah megah Agam. Beberapa orang tengah berkumpul, salah satunya Hafidz dan Davin. Hanya Hanna yang tengah berdiri menatap langit. Mengalihkan pandangannya akan kehangatan Hafidz dan Davin yang dilengkapi Qaila. Sesaat setelah bicara dengan Hanna, Qaila turun menghampiri Hafidz dan Davin.


Agam dan Tika juga berada di tempat yang sama. Arkan tak berada di sana, dia tengah sibuk dengan beberapa berkas. Aura hendak menghampiri Arkan, tapi terhenti saat melihat Hanna yang berdiri sendirian. Seketika Aura menghampiri Hanna. Menawarkan pundak yang mungkin dibutuhkan Hanna. Orang yang pernah menawarkan pelukan hangat padanya. Ketika hidupnya rapuh tanpa pegangan.


"Aku baik-baik saja!"


"Kamu hancur Hanna, kamu cemburu melihat kehangatan mereka. Tawa yang terdengar nyaring di telingamu. Tak lebih dari sayatan pisau tanpa henti. Sampai kapan kamu sanggup bertahan? Kamu berhak bahagia Hanna!"


"Aku bahagia!"


"Bohong!" Sahut Aura tegas.


"Aku bahagia selama ada kalian keluarga yang mendukungku!"


"Jika kamu bahagia, kenapa kamu malah merasa sepi saat bersama kami? Namun tenang saat sendiri!"


"Termasuk melihat kehangatan keluarga yang sedang kamu acuhkan!" Cecar Aura, Hanna menunduk sembari memejamkan kedua mata indahnya.


Hanna mencengkeram kuat pembatas balkon. Hanna mencoba menenangkan hati yang benar-benar kacau. Tak ada yang bisa melihat hancur Hanna. Namun malam ini Aura dengan mudah menyadarinya. Genggaman tangan Hanna benar-benar kuat. Aura melihat jelas betapa Hanna berusaha menutupi kehancurannya.


"Aku bahagia melihat mereka bahagia!" Sahut Hanna tanpa membuka matanya.


"Kenapa harus berbohong? Jika jujur bisa membuat hatimu tenang!" Ujar Aura tenang, tangannya menggenggam erat tangan Hanna yang dingin dan gemetar.


"Aku tak pernah ingin berbohong, tapi jalan ini yang harus aku lalui!"


"Hanna!" Sapa Aura lirih, kala melihat tubuh Hanna bergetar.


"Aku tak berhak atas mereka!"


"Kata siapa? Kamu masih istri sah Hafidz. Davin selamanya putramu!" Ujar Aura tegas, Hanna menggeleng lemah.


Perlahan kedua matanya terbuka, Hanna tak lagi mendongak menatap langit. Hanna melihat kehangatan keluarga kecil yang ditinggalkannya. Tawa dan canda yang terdengar begitu merdu. Seolah ingin mengatakan pada dunia. Mereka keluarga utuh yang takkan pernah terpisah.


"Hanna!" Sapa Aura sembari menepuk pundak Hanna pelan.


Hanna tak bergeming sedikitpun, tatapannya lekat ke arah Hafidz dan Davin. Kehadiran Qaila jelas menambah kebahagian mereka. Keluarga dan kebahagian yang tak lagi pantas Hanna miliki. Semua berjalan tanpa ada dirinya. Jauh lebih bahagia dan penuh cinta tanpa kenangan akan dirinya.


"Kebahagian yang ada tanpa diriku. Jelas bukan lagi milikku. Aku tak berhak merebut sesuatu yang bukan milikku. Biarkan aku terlupa, selama itu bisa membuat mereka bahagia!"


"Tapi kamu hancur!"


"Kakak benar, aku bancur dan sakit. Namun akan jauh lebih sakit, bila aku melihat air mata mereka. Aku sanggup bertahan, selama mereka bahagia. Bodoh, memang aku bodoh. Namun akan lebih bodoh, jika aku mengorbankan senyum Davin yang masih sangat kecil!"


"Tapi!"


"Tidak ada tapi kak. Aku memang melahirkan Davin, tapi Qaila yang membesarkannya. Aku seorang ibu yang telah kehilangan putranya!"


"Hanna!"


"Kak Arkan!" Ujar Hanna, kala tangan Arkan menyentuh pundaknya.


Seketika Hanna menoleh, Hanna memeluk erat Arkan kakak kandungnya. Hanna menangis dalam pelukan Arkan. Tangan Arkan membelai lembut kepala Hanna. Aura membelai lembut punggung Hanna yang bergetar. Tangis Hanna tak bersuara, seolah tangisnya tak hanya di bibir tapi jauh dalam hatinya. Arkan mendekap erat Hanna, membiarkan air mata Hanna membasahi kemeja birunya.


"Menangislah, jika itu membuatmu tenang!" Ujar Arkan, Hanna diam membisu. Hanna menenggelamkan kepalanya jauh dalam dekapan Arkan. Berharap suara tangisnya tak terdengar oleh orang lain.


"Kak!"


"Hmmmm!" Sahut Arkan, Hanna mendongak.


"Bawa aku pergi, jauhkan aku dari kebahagian mereka. Tanpa ingatan aku merasakan sakit yang teramat. Apalagi saat aku mengingat semua kenangan bersamanya. Aku takut tak mampu bertahan. Sakit kak, sakit sekali!" Ujar Hanna di sela tangisnya.


Aura seketika bersandar pada lengan Arkan. Tangannya membelai lembut kepala Hanna. Rintihan Hanna menyayat hatinya. Tubuhnya seketika lemah, tak lagi mampu berdiri melihat air mata Hanna. Arkan diam membisu, bingung akan permintaan Hanna yang tak masuk akal.


"Kemana kita pergi?"


"Bawa aku pergi sejauh kakak melangkah. Dulu kakak pernah meninggalkanku sendiri. Setidaknya sekarang biarkan aku bersama kakak. Aku takut sendiri dalam sakit ini. Aku tidak butuh kemewahan, tapi aku butuh dirimu dan dekapanmu. Lindungi aku kak, aku sendirian!" Ujar Hanna lirih.


"Mama!"


"Masih ada papa dan Qaila, sedangkan aku hidup sendiri tanpa ingatan!" Keluh Hanna, Aura diam membisu. Tak lagi ada kata yang bisa menenangkan hatinya.


"Sayang, apa kamu siap pergi?" Ujar Arkan pada Aura.


"Kemanapun kak? Selama itu bersamamu!" Ujar Aura tegas.


Arkan menarik tubuh Hanna, menatap lekat rapuh adik perempuannya. Dengan penuh kasih sayang, Arkan menghapus air mata Hanna. Seolah ingin menenangkan hati Hanna yang hancur.


"Kita pergi, kita akan pergi. Kakak yang akan menjagamu. Takkan kakak biarkan kamu menangis. Selamanya kakak ada bersamamu, kamu tidak akan sendiri!" Ujar Arkan tegas, Hanna mengangguk lalu memeluk erat Arkan.


"Kak, kemana kita akan pergi!"


"Ke tempat Hanna merasa tenang!"


"Mama dan papa!" Ujar Aura.


"Aku yang akan menghadapi mereka. Kita akan membawa Hanna pergi, dia tanggungjawabku. Selamanya dia adik perempuanku!"


"Apapun keputusanmu, aku akan ikut bersamamu. Hanna tidak akan sendiri, kita ada untuknya!" Ujar Aura hangat, Arkan mengangguk lalu mengecup puncak kepala Aura. Hanna tak bergeming melihat kehangatan Arkan dan Aura. Hanna hanya butuh dekapan hangat Arkan.


"Terima kasih!" Ujar Arkan.


"Apa yang terjadi di atas? Kenapa hatiku serasa sakit? Apa yang sedang mereka lakukan? Apa yang terjadi pada Hanna?" Batin Hafidz gelisah, kala dia mendongak menatap Hanna yang tengah dipeluk oleh Arkan.