
"Bawalah mereka berdua bersamamu. Jangan minta mereka memilih. Selamanya kita orang tuanya, tidak akan pernah aku biarkan Hana dan Hanif memilih. Satu hal lagi, Hana dan Hanif mungkin dua nama. Namun sesungguhnya mereka satu hati dan jiwa. Mereka terlahir dari cinta yang pernah ada diantara kita. Jangan pernah berpikir memisahkan mereka, jika tidak kamu akan kehilangan keduanya!" tutur Tika, lalu jatuh terduduk di depan kedua buah hatinya.
Tika memeluk Hana dan Hanif erat, menenggelamkan dalam dekapan hangatnya. Pelukan yang selama ini melindungi dan menjaga mereka. Tika mencium Hana dan Hanif bergantian. Mengusap wajah Hana dan Hanif yang sedang menangis. Tika mencium air mata Hana dan Hanif.
"Maafkan mama sayang, maaf!" ujar Tika lirih, Hana dan Hanif mengalungkan kedua tangannya. Mereka memeluk Tika bersamaan. Lalu Tika berdiri, memanggil pengasuh Hana dan Hanif. Tika meminta dia membereskan barang-barang si kembar.Tika juga meminta dirinya ikut dengan Hana dan Hanif ke rumah Agam. Tika meminta Hana dan Hanif masuk ke kamar, untuk bersiap-siap.
"Tika sayang, kamu yakin meminta mereka pergi. Kita bisa menuntut hak asuh mereka. Selama dua tahun, mereka tinggal dengan kita tanpa kekurangan!" ujar Nissa, Tika menggeleng lemah. Agam duduk sembari menutup mukanya. Dia mengusap wajahnya kasar, Agam tak lagi mampu berdiri. Seluruh tulangnya remuk tak bersisa. Tak ada lagi Tika sebagai tulang rusuknya. Penopang hidupnya selama ini. Keangkuhan dan keegoisan orang tuanya membuat Agam tak berdaya.
"Bunda, hidup dengan satu kasih sayang pernah aku alami. Sungguh hidup yang tak mudah, sepi dan sunyi. Tanpa bisa memilih aku hidup dengan kasih sayang papa. Hidupku semakin lengkap, ketika papa menikah dengan bunda. Kasih sayangmu membuatku lupa akan dingin dan sepinya tanpa seorang mama. Aku berharap mas Agam menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku. Wanita yang menyayangi kedua buah hatiku dengan penuh cinta tulus!" ujar Tika lirih, dia berjalan mundur. Bersandar pada dinding rumahnya yang kokoh. Namun seakan goyang tak mampu menjadi sandarannya.
Tika menunduk menatap lantai rumahnya. Putih dan bersih, dalam hati dia berharap hati kedua orang tua Agam bisa seperti lantai rumahnya. Agar tak ada lagi dendam dan benci yang mereka perlihatkan. Dengan langkah pelan, Agam berdiri di depan Tika. Dia menatap istri yang semakin jauh darinya. Tanpa berpikir mendekat atau memohon padanya agar diperjuangkan.
Terdengar langkah kaki Dimas berjalan menuju ruang tamu. Sejak Agam datang dengan kedua orang tuanya. Dimas sudah mengetahuinya, Dimas mendengar semua perkataan yang tak sepantasnya diterima Tika putrinya. Namun tidak terlihat amarah dari raut wajah tampannya. Kebijaksanaan Dimas terlihat jelas. Dimas hanya orang tua yang bisa menasehati, tanpa bisa mencampuri urusan putrinya. Dia datang bukan ingin mencampuri, Dimas mendekat hanya ingin memeluk sang putri. Agar Tika kuat menerima cobaan hidupnya.
"Mas Dimas!" ujar Nissa, sembari mendekat dan merangkul Dimas. Menuntun Dimas duduk di sofa ruang tamu. Dimas menoleh ke arah Tika dan Agam bergantian. Lalu melihat kedua orang tua Agam yang tiba-tiba menunduk.
"Apa yang kamu katakan itu benar-benar harapanmu? Memberikan seorang ibu baru bagi Hana dan Hanif. Apa kamu sanggup hidup tanpa Hana dan Hanif? Katakan padaku Tika, tatap mataku! Aku ingin melihat seberapa dingin dan keras hatimu saat ini. Sampai kamu mengalah pada keangkuhan ibuku. Hana dan Hanif hidupmu. Lawan ibuku dan dunia demi mereka. Jangan hanya diam menerima!" ujar Agam emosi, tangan Agam bergetar ingin memeluk Tika.
Namun tulang belulangnya membeku, tangannya kaku seakan tak sanggup menggapai tubuh mungil Tika. Tangan Agam tertahan di udara. Jarak yang begitu dekat, ibarat jurang yang dalam tak terlihat. Sesak terasa di dada Agam. Penuh dengan amarah dan rasa kecewa. Ingin rasanya Agam berteriak, mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. Agam bak perahu yang terombang-ambing di laut lepas. Tak ada arah tujuan yang nyata.
Tika menatap Agam lekat. Kedua mata indah Tika jernih penuh ketenangan. Sekilas Tika menoleh ke arah Dimas dan Nissa. Dengan anggukan kepala dan kedipan mata, Dimas dan Nissa seolah mengisyaratkan setuju akan semua keputusan Tika. Sejenak Tika juga menoleh ke arah ayah Agam yang menunduk gelisah. Sebaliknya ibunda Agam terlihat angkuh, merasa dirinya benar dan menang akan pikirannya.
"Semenjak kamu bimbang, tak ada lagi harapan dalam langkah dan hidupku. Aku diam dan mengalah, bukan berarti aku kalah akan keangkuhan ibumu. Aku mampu melawan dunia dan ibumu. Dengan kekuasaan orang tuaku, dengan kekayaan mereka. Aku mampu membuat keluargamu hancur dan mengambil hak asuh atas Hana dan Hanif. Aku sanggup pergi ke pengadilan demi mereka. Namun aku bukan orang tua seperti ibumu. Aku jauh lebih baik dan sempurna!" ujar Tika, ibunda Agam meradang.
"Aku bukan seorang ibu yang tuli dan buta layaknya anda. Seorang ibu akan mendengar suara tangis putra yang terlahir dari rahimnya. Meski suara tangis itu tertahan tak terdengar oleh telinga. Seorang ibu akan melihat luka hati putra yang tumbuh dengan ASInya. Meski luka itu tak nampak dengan mata. Aku tidak akan membiarkan mereka memilih. Jika akhirnya mereka akan tersenyum, tapi hati mereka menangis. Aku tidak akan membiarkan mereka merasa bahagia. Namun tersimpan kesedihan saat harus memilih!" sahut Tika, ibunda Agam diam merasa tersindir. Sedangkan Agam menunduk lemas, tak ada lagi harapannya bersama Tika.
"Mas Agam benar, Hana dan Hanif hidupku tanpa mereka aku hancur. Namun kamu lupa, Hana dan Hanif hanya anak kecil yang takkan mampu memilih. Mereka berhak memelukku dan memelukmu. Bawalah mereka bersamamu, hentikan pertikaian yang hanya akan membuat Hana dan Hanif tertekan. Mereka bukan barang yang pantas diperebutkan. Denganmu atau denganku, kita tetap orang tuanya. Darah dan cinta kita yang mengalir dalam nadi mereka!" ujar Tika tegas.
"Tuan Ilham, itulah putriku Tika. Menantu yang kalian sisihkan hanya demi ego kalian. Apa yang dikatakan Tika bukan omong kosong? Satu kali saja aku bicara. Seluruh aset keluargamu akan berpindah ke tanganku. Perusahaan yang dipegang Agam dan bisnis yang anda jalankan. Semua ada dalam lingkup perusahaan Anggara. Namun aku tidak akan pernah melakukan hal hina seperti itu. Putriku jauh lebih berharga dari sekadar amarah dan kebencian sesaatku. Aku tidak ingin kehilangan Tika dengan menghancurkan kalian!" ujar Dimas bijak, Nissa mengangguk pelan.
Terdengar langkah kecil Hana dan Hanif. Keduanya membawa tas punggung kecil yang biasa mereka bawa ke sekolah. Pengasuh Hana dan Hanif menarik dua koper sedang berisi pakaian Hana dan Hanif.
"Mama!" teriak Hana dan Hanif.
"Kalian tinggal bersama papa, mama harus merawat kakek Dimas. Jadi akan jarang bermain dengan kalian. Jadi anak yang pintar, saling melidungi selama tidak ada mama disisi kalian. Dengarkan perkataan papa!" ujar Tika, Hana dan Hanif mengangguk pelan. Mereka memeluk Tika. Lalu berjalan menuju Dimas dan Nissa. Mereka mencium punggung tangan Dimas dan Nissa.
"Kakek cepat sembuh, supaya kami bisa bersama mama. Nanti Hana dan Hanif akan berdoa demi kesembuhan kakek. Kami janji tidak akan nakal selama tinggal bersama papa. Kami sayang kakek!" ujar Hanif tegas, Dimas menarik tubuh kecil Hana dan Hanif. Menciumnya bergantian, lalu memeluk keduanya erat. Nissa mengusap air mata yang tanpa sengaja jatuh menetes.
"Mas Agam, ambilah cincin ini. Aku sudah tidak bisa memakainya. Aku ingkari janji yang pernah kita buat. Kamu bukan lagi Agam yang aku kenal. Jadi tidak ada lagi alasanku bertahan denganmu!" ujar Tika lirih, lalu melepas cincin yang tersemat indah di jari manisnya. Tika memberikannya pada Agam.
"Tika, kamu meminta mereka ikut denganku. Karena mereka pasti memilihmu, bukan memilihku!" tutur Agam, Tika mengangguk pelan. Agam diam membisu, anggukan kepala Tika bak petir yang menghancurkan tulanngnya.
"Kenapa?" ujar Agam lirih.
"Karena mereka darah dagingmu, sampai kapanpun aku tidak ingin melihat mereka membencimu? Mereka buah hati yang lahir dari cinta kita. Namun hancur oleh kebimbangan dirimu!" sahut Tika tegas.