
Pertemuan antara Tika dan Zalwa kemarin. Memberikan keberanian yang selama ini tak pernah dimiliki Zalwa. Tika membuka mata hatinya, menegaskan pada Zalwa. Cintanya pada Agam tak pantas diperjuangkan. Sebab sejatinya cinta bukan menyakiti, tapi cinta membahagiakan satu sama lain.
Semenjak Zalwa bicara dari hati ke hati dengan Tika. Zalwa mulai menyadari, semua memang harus berakhir. Zalwa harus melepaskan semua obsesisanya pada Agam. Zalwa harus berani menanggung resiko. Salah satunya tatapan benci sang putri. Jika dia mengetahui, Agam bukanlah ayah kandungnya.
Setelah bertemu Tika, Zalwa langsung kembali ke rumah Agam. Di hari Tika kembali ke negara Vahira. Di hari yang sama Agam pulang dari rumah sakit. Tak ada kata perpisahan yang diucapkan Tika untuk Agam. Ketegasan Tika menolak kembali bersama Agam. Menutup kemungkinan paling kecil penyatuan cinta Agam dan Tika. Kegigihan Tika menjauh, seakan sebuah isyarat. Bahwa Tika dan Agam tidak akan pernah bersatu. Sedangkan Zalwa harus mulai merelakan cintanya pada Agam.
"Mas Agam, aku ingin bicara!" ujar Zalwa hangat, Agam menoleh menatap Zalwa. Llau dengan pelan Agam mengangguk. Isyarat mata Agam seolah mempersilahkan Zalwa masuk.
Zalwa berjalan perlahan masuk ke dalam ruang kerja Agam. Terlihat Agam sedang berdiri di depan jendela kaca. Ruang kerja Agam menghadap ke taman samping. Sebuah taman yang sengaja Agam buat hanya untuk Tika. Taman yang hanya ditanami satu bunga saja. Bunga tulip putih yang menjadi bunga kesayangan Tika. Taman yang selalu mengingatkan Agam pada Tika.
"Ada apa Zalwa? Kemana kamu akan pergi?" ujar Agam lirih, saat melihat Zalwa sedamg membawa koper berukuran sedang.
Zalwa sudah memutuskan untuk hidup jauh dari Agam. Bertahun-tahun Zalwa hidup di samping Agam. Tangis dan tawanya tak pernah dihargai oleh Agam. Sudah cukup dia bertahan, disalahkan dan tak dianggap. Zalwa harus berani mencari kebahagiannya. Melepaskan diri dari rasa nyaman yang sesungguhnya menyiksa dirinya.
"Pergi jauh dari bayanganmu. Aku lelah mengikutimu bak bayangan. Ada seseorang yang membuatku tersadar. Meski aku tak berarti untukmu, tapi aku pantas bahagia. Aku harus bisa berani melawan. Kini aku percaya ada tempat dimana kebahagianku tersimpan? Kesanalah aku akan pergi!" ujar Zalwa, Agam diam sembari menopang dagunya. Ada rasa heran, tak pernah Agam bayangkan. Zalwa akan pergi dari sisinya. Bukan Agam sedih, tapi perpisahan setelah belasan tahun bersama. Tidak pernah Agam bayangkan selama ini.
"Kenapa kamu setelah belasan tahun tersadar? Betapa hebatnya orang itu. Mampu membuatmu mengambil keputusan sebesar dan seberani itu. Apa kamu tidak terlalu tergesa-gesa untuk pergi? Selama ini kamu hidup nyaman disini. Lantas kemana kamu akan pergi? Mampukah kamu hidup tanpa bantuanku!" ujar Agam dingin, Zalwa menunduk terdiam. Lalu sedetik kemudian Zalwa mendongak. Dia menatap Agam sembari mengutas senyum hangat ke arah Agam.
"Dia tidaklah hebat, tapi dia wanit yang manpu melihat air mataku. Seorang teman yang merasakan lelah hatiku menerima sikapmu. Kenyaman yang kamu katakan tak pernah aku pungkiri. Namun kenyamanan itu hanya sebatas raga, sedangkan batinku tersiksa setiap detiknya. Pendapatmu tentangku yang tak lebih dari benalu dalam hidupmu. Semakin menyadarkan dan menguatkan langkah kakiku. Bahwa aku tak pantas dihina terus menerus. Aku harus berjuang mempertahankan harga diriku yang tersisa. Agar aku bisa menatap wajah putriku. Aku percaya mampu hidup tanpa hartamu!" ujar Zalwa tegas, Agam mengangguk mengerti.
Perkataan Zalwa mampu menggetarkan hatinya. Ada rasa bersalah dalam hati Agam. Selama ini dia menahan Zalwa di sampingnya. Bukan untuk dicintai atau dihargai. Agam menganggap Zalwa layaknya benalu. Dengan keangkuhannya, Agam mempertahankan Zalwa. Demi membalas sikap kedua orang tuanya. Tak pernah Agam menghargai Zalwa. Agam mempermainkan perasaan Zalwa.
"Maaf!" sahut Agam lirih, Zalwa menggeleng tidak setuju.
Zalwa memang menyadari sikap Agam selama ini tak pantas. Namun menyalahkan Agam bukanlah sikap yang benar. Cinta Zalwa yang selama ini menutup kedua matanya. Buta melihat betapa dirinya tak dihargai. Kasih sayangnya pada Agam dan putrinya. Membutakan mata hatinya, sampai Zalwa tak lagi merasakan sakit. Setiap kali Agam menghina dan memperlakukan Zalwa tak pantas. Namun kini semua berubah, Zalwa sadar cinta tulus bukan paksaan. Baginya cukup belasan tahun dia berada di samping Agam.
Agam merasa bersalah, kini dia menyadari semua perkataan Tika. Air mata Zalwa tak mungkin dibayar dengan senyum kebersamaan Agam dan Tika. Belasan tahun Zalwa menemani Agam. Sangat tidak pantas, bila Agam terus mengacuhkan dan tak menghargainya.
"Agam, apa yang kukatakan bukan ingin memintamu kembali padaku? Tak ada niatku ingin berada disampingmu. Aku telah membukatkan tekad. Kita memang harus terpisah, tapi ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu. Sebuah kotak yang berisi impian dan masa depan kita dulu!" ujar Zalwa tegas, seketika Agam mendongak menatap Zalwa.
Zalwa mengeluarkan sebuah kotak putih berukuran sedang. Agam mengnatap heran, dia tidak mengerti maksud Zalwa memberikan kotak itu. Sebuah kotak yang begitu asing bagi Agam. Sebab Agam merasa tidak pernah memberikan kotak itu pada Zalwa.
"Ambillah Agam, ini bukan sesuatu yang membahayakanmu. Semua yang ada di dalamnya. Tak lain pemberianmu untukku. Aku sudah memutuskan menjauh darimu. Sebab itu aku tak lagi berhak menyimpannya!" ujar Zalwa, lalu berdiri melangkah pergi.
Zalwa beranjak dari hadapan Agam. Tanpa menunggu Agam merespon pemberiannya. Dengan langkah pelan sembari menarik kopernya. Zalwa berjalan keluar dari ruang kluar Agam.
Sebaliknya Agam membuka kotak dari Zalwa. Seketika Agam terperangah melihat isi dari kotak yang diberikan Zalwa. Tangan Agam tiba-tiba bergetar. Semua bayangan masa lalu bermain indah dalam benak Agam.
"Zalwa, semua ini!"
"Kenangan diantara kita yang harus aku kembalikan padamu. Semua rasaku ada dalam kotak itu. Kini aku kembalikan semuanya padamu. Tak ada lagi yang harus aku pertahankan. Cintaku hanyalah masa lalu bagimu. Cintaku kenangan yang telah terlupakan olehmu. Namun ingatlah, cintaku pernah ada mengisi hari-harimu!" ujar Zalwa lirih.
"Kenapa kamu menyimpan semua ini?"
"Cintaku mungkin terlupakan, tapi percayalah rasaku untukmu tak pernah berkurang. Keberanian dan kuatku selama ini. Tak lebih karena kenangan yang ada dalam kotak itu. Tawa yang pernah ada saat kita bersama. Menjadi saat paling bahagia dalam hidupku. Terima kasih telah memberiku kenangan terindah!" ujar Zalwa.
"Maafkan aku Zalwa!" ujar Agam, Zalwa mengangguk pelan.