
"Kartika Putri Anggara, gadis penyuka senja dan akan selalu menyukai senja!" sapa Agam ramah, sembari berdiri tepat di samping Tika.
Tika menoleh menatap Agam, laki-laki yang tak lain dosen sekaligus mantan suaminya dulu. Sejenak Tika termenung menatap Agam, lalu dia tersadar Agam bukan lagi mukhirmnya. Sangat tidak pantas, bila Tika menatap haus ke arah Agam.
"Mas Agam!" sahut Tika, Agam mengangguk tanpa menoleh. Keduanya menatap senja yang menyeruak di ufuk barat. Langit jingga yang begitu indah, menenangkan hati Tika yang gundah.
Agam dan Tika larut dalam indah ciptaan-NYA. kedua mata indah mereka menatap penuh kekaguman akan harmoni alam yang seimbang. Laut yang luas, angin yang berhembus, langit berwarna jingga dan kicauan burung kembali ke sangkar. Bak melodi indah yang terdengar di telinga mereka.
"Sudah lama Tika, aku tak mendengarmu memanggil namaku. Sangat lama sampai aku lupa bahagia, ketika kamu memanggilku dulu. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, rasa yang ada dihatiku. Kini tak lagj pantas untukmu. Kamu pantas mendapatkan cinta yang lebih sempurna!" ujar Agam lirih, Tika menunduk lemah.
Tatapannya menatap butiran pasir putih yang menyentuh kakinya. Perkataan Agam memang benar, tapi tak pernah Tika berpikir atau berharap rasa selain Agam. Namun perpisahan yang terlalu lama. Usia yang tak lagi muda, seakan membuat jarak yang ada semakin runcing. Agam dan Tika merasa ragu untuk bersatu. Memilih menyimpan rasa yang nyata masih ada.
"Mas Agam, aku tak pernah lupa cara memanggil namamu. Panggilan sederhana yang kusematkan padamu. Namun panggilan itu yang membuat jarak usia kita terkikis. Bagi orang lain mungkin itu biasa. Sekadar panggilan kepada yang lebih tua, tapi bagiku semua itu berbeda!"
"Maksudmu apa? Kenapa kamu mengartikannya berbeda? Apa kamu tak merasa pantas menghargai aku? Sebenci itukah kamu padaku Tika!" ujar Agam cemas dan kecewa. Tika diam membisu mendengar perkataan Agam.
Tika mulai menyadari alasan hancur pernikahan mereka. Bukan karena orang ketiga atau desakan orang tua Agam. Lebih kepada cara pandang keduanya yang selalu tak sama. Agam tak pernah mengerti niat baik Tika. Selalu Agam merasa Tika tak pernah menghargainya. Meski sebenarnya sikap tegas dan dingin Tika. Tak lebih dari rasa sayang Tika padanya.
"Aku selalu menghargaimu, bahkan sangat menghargaimu. Panggilan sederhana itu membuatku mengerti arti mencintai. Mengikis jarak usia kita yang tak sedikit. Membuatku melupakan sejenak jurang pemisah yang bisa membuatku membencimu. Aku menggenggam cintamu sekuat aku berdiri. Bagaimana mungkin aku ragu untuk menghargaimu?"
"Kenapa cintamu begitu menyakitkan? Perpisahan 15 tahun sudah mampu membunuhku. Sekarang haruskah kita terpisah, saat bersatu itu mungkin!" ujar Agam.
Tika diam menatap senja nan jauh di depan matanya. Air mata Tika menetes di balik cadar. Tika terluka akan hancur pernikahannya, tapi tak satupun yang melihatnya. Mereka hanya merasa Tika baik-baik saja. Meski tegas Tika hanya topeng menutup lemahnya.
"Mas Agam benar, tapi sudahlah. Kita bersatu dalam pernikahan atau tidak. Nyatanya kita masih sama-sama menggenggam erat cinta dihati kita. Kamu berdiri di sampingku sekarang. Bukti nyata, diriku yang ada dihatimu!" ujar Tika, Agam mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu. Setiap kenangan indah kita, tersimpan rapi dihati dan benakku. Aku tidak mampu mempertahankanmu, hanya kenangan bersamamu yang masih aku simpan!" sahut Agam.
"Kita saling mencintai, tapi masa lalu seakan tak mengizinkan kita bersama. Entah kapan hatiku kuat menerima cintamu lagi? Atau kita memang ditakdirkan mencintai tanpa saling memiliki. Setidaknya Arkan dan Hanna menjadi penyatu, ketika jarak terus memisahkan!" batin Tika.
"Terima kasih, mas Agam masih mengingat kenangan saat kita bersama!" ujar Tika, Agam mengangguk pelan.
Sayub terdengar murrotal, menandakan petang menyapa. Menggantikan senja yang indah dan penuh makna. Tika dan Agam mendongak bersama. Seakan memahami kebersamaan mereka telah usai. Waktu seakan berputar begitu cepat. Agam harus kembali jauh dari Tika belahan jiwanya.
"Aku tidak salah dengar!" sahut Agam, Tika mengangguk pelan.
"Sudah lama kita tidak makan malam bersama. Meski tanpa Arkan dan Hanna, makan malam kita akan tetap sempurna. Anggap saja sebagai cara kita mengingat indah kebersamaan kita!"
"Aku tidak akan menolak!" sahut Agam lantang.
...☆☆☆☆☆...
"Mama, sejak tadi aku cemas memikirkanmu. Mama pergi kemana? Setidaknya angkat telpon Arkan. Agar aku yakin, mama baik-baik saja!" ujar Arkan cemas. Seketika Arkan memeluk Tika, meluapkan kecemasan yang mememuhu hati dan pikirannya. Tika tersenyum mendengar perkataan Arkan. Kegelisahan Arkan memikirka Tika, bukti nyata kepedulian Arkan padanya.
Sejak menyadari Tika tidak berada di rumah. Arkan gelisah memikirkan Tika. Arkan takut terjadi sesuatu pada Tika. Arkan menunggu Tika di teras rumahnya. Saat dia menyadari, Tika belum kembali hingga malam hari. Tidak ada yang bisa menenangkan kecemasan Arkan. Aura merasa kasihan melihat suaminya gelisah. Namun kasih sayang Arkan pada Tika yang begitu besar. Membuat Arkan kehilangan akal memikirkan Tika.
"Mama baik-baik saja!" ujar Tika, Arkan mengangguk dalam pelukan Tika.
"Arkan, maafkan papa lupa memberi kabar. Jika mama ada bersama papa!" sahut Agam lirih, sontak Arkan melepaskan pelukannya. Arkan menatap heran ke arah Agam. Rasa heran bercampur rasa tak percaya. Melihat orang tuanya yang terpisah datang bersama.
"Papa!"
"Kenapa kamu heran? Kamu tidak percaya, jika aku papamu. Sejak tadi sore, mama ada bersama papa. Tempat yang kamu kunjungi terpencil. Mungkin alasan itu yang membuat ponsel mama atau papa tidak bisa dihubungi!"
"Tidak apa-apa? Setidaknya mama pulang dengan selamat. Sekarang kita makan malam bersama!" ujar Arkan ramah, Tika dan Agam menggelengkan kepala.
"Kenapa?" ujar Arkan kecewa.
"Kami sudah makan sebelum pulang!" sahut Tika, Arkan mendongak tak percaya.
"Kalian pergi dan makan malam bersama!" ujar Arkan.
"Kenapa tidak? Sebentar lagi mereka akan menikah!" sahut santai, Hanna tanpa dosa.