
Sebuah mobil sport warna merah memasuki gerbang sebuah kawasan proyek. Mobil mewah yang tak lain milik Dimas Putra Anggara. Pemimpin perusahaan raksasa Anggara Group. Tepat di depan pos satpam, mobil merah tersebut berhenti. Hampir seluruh mata pekerja proyek tertuju pada mobil merah. Raut wajah tegang terlihat jelas di wajah para mandor pekerja. Mereka jelas mengertahui pemilik mobil tersebut.
Tak berapa lama turun wanita anggun bercadar. Tika turun dari mobil merah milik papanya. Dia memegang beberapa berkas proyek yang akan dipantau hari ini. Tika datang sebagai perwakilan Dimas. Kondisi kesehatan Dimas yang menurun. Memaksa Tika menggantikan sementara dirinya. Raut wajah tegang para mandor mulai tenang. Mereka berpikir Tika akan lebih lunak dan mudah dihadapi.
Saat Tika turun dari mobil. Terlihat beberapa asisten Dimas menyambutnya. Beberapa mandor juga berdiri tak jauh dari mobil Tika. Mereka menunduk pelan menghormati Tika. Sebaliknya Tika membalas dengan anggukan kepala. Meski Tika tersenyum, mereka juga tidak akan melihat. Ada rasa heran di wajah para pekerja. Mereka merasa heran saat melihat ada wanita bercadar datang ke proyek.
Tika berjalan anggun diantara material yang berserakan disekitarnya. Gamis dan hijab panjang yang dipakainya. Seolah tidak bisa menghalangi langkahnya. Tika berjalan menyusuri seluruh bagian proyek. Tika memeriksa cara kerja para buruh. Tak ada yang luput dari perhatian Tika. Semua diperiksa Tika tanpa terkecuali. Bahkan panas matahari tak menghalangi Tika menyusuri area proyek.
Randy asisten pribadi Dimas berjalan di belakang Tika. Lalu dia memberikan beberapa berkas yang berkaitan dengan proyek. Tika memeriksa setiap detail proyek yang diberikan Randy. Mulai dari bahan yang digunakan. Proses pembangunan yang sedang berjalan. Bahkan kesejahteraan dan fasilitas bagi para buruh yang sedang bekerja.
Tika berjalan mengelilingi separuh area proyek. Lalu dia berhenti di kantor sementara yang dibangun oleh pengelola proyek. Kedua mata Tika membulat sempurna. Ketika dia melihat Agam dan Zalwa sedang berdiskusi di dalam kantor. Tika berhenti di depan pintu kantor, lalu menoleh pada Randy. Seolah dia bertanya pada Randy. Keterkaitan Agam dalam proyek pembangunan ini.
"Maaf bu Tika, pak Agam menjadi penanggungjawab yang ditunjuk perusahaan kita. Dia kontraktor yang mendapatkan proyek ini. Kinerja perusahaan pak Agam yang terbaik. Sehingga pembangunan ini berjalan dengan cepat dan sesuai harapan!" ujar Randy menerangkan, Tika mengangguk pelan. Dia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kantor. Agam dan Zalwa mendongak bersama. Mereka terkejut saat mengetahui Tika yang mewakili perusahaan Anggara. Beberapa asisten Dimas sudah siap dengan berkas rapat hari ini.
Tika berjalan menuju tempat duduk paling depan. Hari ini Tika akan memimpin rapat. Tika akan mengevaluasi cara kerja tim perusahaan Anggara dan perusahaan Agam. Mungkin Tika bukan pembisnis layaknya Agam dan Zalwa. Namun darah keluarga Anggara mengakir di nadi Tika. Darah pembisnis yang menurun pada Tika tanpa terbantahkan. Seluruh anggota rapat berdiri seraya mengangguk memberi salam pada Tika. Dengan anggukan kepala, Tika membalas dan mempersilahkan mereka semua duduk. Tidak terkecuali Agam dan Zalwa.
"Maaf menunggu lama, saya baru saja datang dari luar kota. Saya Kartika Putri Anggara, putri tuan Dimas Anggara. Saya berada disini hanya mewakili sementara tuan Dimas. Sekarang kita mulai rapat. Saya sudah mengatakan pada pak Randy, bagian mana saja yang harus menjelaskan pada saya?" ujar Tika tegas, seketika raut wajah para mandor menjadi tegang. Sikap anggun Tika menyimpan ketegasan dan ketelitian yang tak bisa diragukan.
Satu per satu bagian menerangkan pada Tika. Agam juga menjelaskan rencana pembangunan dan kelanjutan. Para mandor menerangkan tentang kesejahteraan para buruh. Tika diam mendengarkan dengan seksama. Tika tidak menatap mereka saat berbicara. Bahkan saat Agam menerangkan, Tika menunduk fokus pada laptop di depannya. Mereka yang melakukan kesalahan merasa lega dan berpikir Tika tidak memperhatikan.
"Jika kalian semua sudah selesai. Sekarang izinkan saya bicara!" ujar Tika lantang dan tegas. Suara lantang Tika sontak membuat nyali para mandor menciut. Zalwa terdiam tak bisa menggambarkan sosok Tika yang ada di depannya. Agam menatap Tika tanpa berkedip, hatinya teriris melihat Tika yang tak mampu dia gapai.
"Pertama saya akan mengulas laporan perusahaan tuan Agam. Melihat berkas yang saya terima dan laporan dari lapangan. Saya berharap anda memperbanyak jumlah pekerja. Sepengetahuan saya jumlah pekerja yang ada. Hanya 75% dari yang kita butuhkan. Sebagai kontraktor yang bertanggungjawab atas pembangunan proyek ini. Seharusnya perusahaan anda turun langsung memeriksa jumlah pekerja yang dibutuhkan. Agar para pekerja bisa bekerja maksimal. Serta kesejahteraan mereka terpenuhi!" ujar Tika tegas, sembari memberikan hasil pengamatannya di lapangan pada Agam. Seketika Agam membaca berkas yang diberikan Tika.
Zalwa tersenyum sinis mendengar perkataan Tika. Zalwa meragukan cara kerja Tika yang lebih menggunakan hati daripada logika. Sebaliknya Tika merasa Zalwa tidak percaya pada kemampuan dan cara kerjanya. Namun Tika tidak peduli, sebab dia bicara berdasarkan fakta.
"Memang dalam berbisnis kita tidak menggunakan hati, tapi logika yang seolah melupakan hak para buruh. Namun anda lupa, jika buruh kasar yang meneteskan keringat demi gaji yang kalian terima. Jika perusahaan anda merasa tidak mendapatkan untung lebih besar. Silahkan ajukan pembaharuan kontrak. Saya akan pelajari lagi. Saya pastikan nilai kontrak akan berubah. Namun dengan catatan kesejahteraan para buruh terpenuhi!" ujar Tika tegas, Zalwa menunduk malu. Ketika Tika bisa memberikan alasan yang tepat. Sebagai putri Dimas Anggara, perkataannya tidak akan diragukan lagi.
"Pak Randy, setelah perusahaan pak Agam memberikan kontrak yang baru. Konfirmasi ke bagian keuangan, minta mereka memeriksa nilai kontrak. Setelah itu laporkan pada saya. Biarkan saya sendiri yang memeriksa setiap poinnya!" ujar Tika, Randy mengangguk pelan. Bertahun-tahubn dia mengabdi pada Dimas. Baru hari ini dia mempercayai darah bisnis melekat dalam keluarga Anggara. Tika menjalankan bisnis dengan cara berbeda dari Dimas. Namun menghasilkan keuntungan yang hampir sama.
"Bagi kalian mandor proyek, sekali lagi aku melihat sikap kasar kalian pada buruh kasar. Jangan pernah berpikir, aku akan mempercayai kalian. Perbaiki tempat istirahat mereka. Agar bisa istirahat dengan benar. Kalian semua duduk dalam ruangan ber-AC. Sedangkan mereka duduk di bawah terik matahari beratapkan terpal tipis!" ujar Tika lantang dan tegas. Sekilas Agam melihat Tika, suara lantang yang tak pernah terdengar olehnya. Kini jelas terdengar, seakan menunjukkan sisi kuat Tika.
Tika melirik jam yang ada di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB. Sayub mulai terdengar murrotal dari speker mushola. Sontak Tika mengucapkan hamdalah. Sebagai rasa syukur kepada sang pencipta.
"Saya rasa semua sudah mengetahui letak kesalahan yang harus diperbaiki. Sebaiknya sekarang kita sholat dhuhur!" ujar Tika menutup rapat, semua menunduk patuh dan setuju. Agam satu-satunya orang yang menyesal telah kehilangan Tika. Sejak awal rapat, sampai rapat berakhir. Tak sedekitpun Tika menganggap keberadaan Agam. Seolah semua telah berakhir diantara mereka. Namun ada rasa kagum Agam pada Tika. Keimanan yang membuat Agam terpikat pada Tika masih terus dipegangnya.
"Pak Randy, setelah ini saya harus memeriksa proyek di luar kota. Silahkan anda ikut, jika memang tidak ada urusan. Kita akan pergi menggunakan dua mobil. Tolong bawa tim lapangan, ada yang harus mereka lihat!" ujar Tika Randy mengangguk pelan. Lalu meninggalkan Tika. Zalwa sejak tadi sudah keluar dari ruang rapat. Dia kesal pada Tika yang telah mempermalukannya. Hanya ada Agam dan Tika yang berada di dalam ruangan ini.
"Sisi lainmu telah aku lihat hari ini. Jiwa bisnis Keluarga Anggara melekat nyata dalam dirimu. Jarak yang ada diantara kita semakin jelas terlihat. Haruskah aku bahagia melihatmu sukses? Ataukah aku sedih menyadari. Dirimu tak lagi membutuhkanku!" batin Agam.
"Kartika Putri Anggara, aku tidak pernah menyangka. Jiwa bisnismu begitu hebat, kenapa selama ini kamu tidak pernah memegang perusahaan papa? Malah sekarang kamu datang, seolah ingin menunjukkan padaku dan dunia. Bahwa kamu bukan wanita biasa. Aku mulai menyadari, selamanya nama Anggara akan menjadi jati dirimu. Bisnis keluarga Anggara akan jauh lebih penting. Daripada pernikahan kita yang rapuh!" ujar Agam lirih, Tika tersenyum sinis dibalik cadarnya. Dia melihat sikap Agam yang membingungkan. Namun Tika tetap diam, seolah dia tidak peduli dengan perkataan Agam.
"Jelas dia melepaskan dirimu. Status dan kekayaan yang diberikan keluarganya jauh lebih dari yang kamu berikan. Status janda yang akan melekat pada Tika. Tidak akan berpengaruh, masih banyak laki-laki yang mengejarnya!" sahut Zalwa ketus. Agam diam seolah membenarkan perkataan Zalwa. Sebaliknya Tika tak peduli akan perkataan Zalwa. Tika membereskan semha berkas yang ada di meja. Dia harus mengejar waktu sholat dhuhur. Dengan anggun Tika berjalan keluar, tepat di depan Zalwa. Tika menghentikan langkahnya.
"Status yang kamu katakan, telah aku tinggalkan selama bertahun-tahun. Aku memilih menjadi makmum Abdillah Abqari Agam. Aku tak pernah menunjukkan bakat yang ada dalam diriku. Semua demi kehormatan suamiku, agar tak ada yang memandangnya sebelah mata. Keluargaku tak pernah memintaku mengambil alih perusahaan. Sebab mereka percaya, Mas Agam jauh lebih berhak akan putri yang mereka besarkan. Namun sepertinya kepercayaan itu sia-sia. Ketika ketegasan tak pernah ada pada mas Agam!" ujar Tika tegas, Zalwa terdiam mendengar perkataan Tika. Agam menatap lekat Tika, perkataan Tika bak belati tajam yang menusuk. hatinya. Tika menoleh ke arah Agam. Kedua mata indah menyiratkan perasaan yang tak dapat dikatakan.
"Kamu akan tetap berdiri disana. Bukankah waktu duhur tiba. Apa sekarang kamu juga bimbang untuk menjadi imam sholat? Aku mungkin bukan istrimu lagi. Tapi sebagai seorang makmum sholat aku masih bisa!" ujar Tika tegas.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Bukan hanya aku jauh dari keluargaku. Aku mulai menjuah dari-NYA. Hari ini ada Tika yang mengingatkan. Entah besok, siapa yang akan mengingatkanku?" batin Agam pilu.