
"Selamat pagi semua!" sapa Arkan ramah, seketika sorak-sorai para murid menggema.
Seminggu lebih Arkan cuti dari kampus. Arkan lebih sibuk di rumah sakit. Sebab ada banyak pasien yang membutuhkan bantuannya. Semenjak Hanna mengetahui kebenaran tentang Arkan. Ada rasa enggan Arkan berada dekat dengan Hanna. Amarah dan tatapan tajam Hanna membuat Arkan merasa risih. Penilaian Hanna pada Tika membuat Arkan marah sekaligus kecewa pada Hanna.
Sebaliknya hubungan Arkan dan Ghibran sedikit merenggang. Ghibran marah dan kecewa, ketika Arkan membohonginya dengan sengaja. Ghibran merasa dikhianati, dia merasa Arkan tak menganggapnya sahabat.
"Hari ini terakhir saya mengajar, setelah ini kalian akan mendapatkan dosen pengganti yang baru. Sebelum kalian bertanya, saya akan mengatakan alasan dibalik mundurnya saya sebagai dosen!" ujar Arkan ramah, para murid mengeluh kecewa. Mereka terlanjur merasa nyaman bersama Arkan. Dosen tampan yang disiplin, tapi mampu mengimbangi pola pikir muridnya.
"Aku yakin dia mundur, karena ada aku di kelasnya. Buktinya meski sudah lama dia melihatku. Tak pernah sekalipun aku merasakan tatapan hangatnya. Aku merasa seperti musuhnya bukan adiknya!" batin Hanna kesal.
Hanna menatap tajam Arkan, kecewa dan marah mengusai hati dan pikirannya. Hanna merasa tak dihargai, hanya ada tapi tak pernah dianggap.
"Seminggu lagi saya akan ujian. Banyak waktu yang saya butuhkan untuk belajar. Lebih baik saya mundur, daripada membuat kalian terbengkalai. Semoga setelah ini kalian menemukan dosen yang lebih baik dari saya!" ujar Arkan tegas, Hanna tersenyum sinis. Hanna sangat yakin, Arkan pergi hanya ingin menjauh darinya dan Agam.
Lalu tiba-tiba Hanna mengangkat tangannya, sontak suara riuh berhenti. Meski tidak ada yang mengetahui kenyataan hubungan Hanna dan Arkan. Namun kedekatan Hanna dan Ghibran sedikit membuat para temannya segan pada Hanna. Apalagi Agam menjadi donatur terbesar di kampus Hanna. Kenyataan Hanna bukan anak orang biasa. Mempengaruhi pendapat para temannya.
"Bisa saya bertanya!" ujar Hanna, Arkan mengangguk pelan. Savira menatap Hanna lekat, ada rasa tak percaya melihat sikap Hanna. Ketenangan Hanna berbanding terbalik dengan amarahnya, saat Hanna berbicara dengan Arkan kapan hari? Sebaliknya Arkan tetap tenang dan santai menunggu pertanyaan Hanna. Sikap yang menurun dari Tika.
"Saya merasa kecewa dengan sikap bapak. Anda mengajar kami, seakan kami hanya pelarian. Anda pergi saat sudah tak membutuhkan. Seharusnya bapak bertanggungjawab pada profesi bapak. Bukan pergi meninggalkan kami, tepat di saat kami akan menghadapi ujian. Dengan kepintaran bapak, saya yakin bapak sudah mengetahui semua resiko yang ada. Jika hanya alasan pendidikan, bapak tidak akan mengajar sekaligus menjadi dokter saat ini!" ujar Hanna lantang penuh kesinisan.
Savira menarik tangan Hanna, meminta Hanna berhenti bicara. Sedangkan teman-teman Hanna terdiam tidak mengerti arah pembicaraan Hanna. Memang mereka merasa kecewa dengan keputusan Arkan. Namun tidak pernah mereka berpikir, Arkan hanya menjadikan mereka pelarian. Atau lebih tepatnya alat untuk mendekati Hanna.
Arkan menunduk seraya tersenyum. Ada rasa ngilu saat dia menyadari. Hubungannya dengan Hanna, bak kucing dan tikus yang takkan pernah bisa rukun. Arkan merasa tak bisa menjadi kakak atau teman bagi Hanna. Perpisahan bertahun-tahun menghapus kenangan yang pernah ada. Kini hanya kebencian dan luka yang tertinggal di hati Hanna.
"Saya minta maaf bila ada yang merasa dipermainkan. Hanna benar dengan pendapatnya, sebagai seorang guru saya harus bertanggungjawab sampai akhir. Namun ada satu masalah yang membuat saya memutuskan untuk pergi. Sejujurnya ujian saya dijadwalkan mulai hari ini. Namun demi menyelesaikan materi terakhir. Saya memilih untuk tidak lulus di materi saya hari ini. Sengaja saya mengatakan seminggu lagi ujian. Agar kalian tidak terlalu kecewa!" ujar Arkan menerangkan. Hanna menggeleng tidak percaya. Dia masih yakin akan pendapatnya.
"Hanna, tuduhanmu sangat tidak pantas. Kenapa kamu menganggap pak Arkan bisa sejahat itu? Sekarang kamu dengar sendiri, dia memilih tidak lulus demi kita!" sahut salah satu teman Hanna kesal. Savira menarik tangan Hanna. Berharap Hanna kembali duduk dan tidak melanjutkan perdebatannya.
Arkan menjelaskan materi terakhir pertemuannya. Semua murid mendengarkan dengan seksama. Meski rasa kecewa itu pasti ada, tapi semua mencoba menerima dengan ikhlas. Keputusan Arkan hak mutlaknya sebagau guru. Tak ada yang bisa menghalangi atau membantahnya.
Sekitar satu jam lebih, Arkan mengajar di kelasnya. Hari ini terasa sangat cepat berlalu. Bagi Arkan yang mulai nyaman menjadi guru. Setelah menutup materi terakhirnya. Arkan mempersilahkan seluruh muridnya keluar. Arkan berpamitan pada semua murid dengan hangat.
"Bisa kita bicara sebagai saudara, bukan antara guru dan murid!" sapa Hanna dingin, seketika Arkan mendongak menatap Hanna. Adik yang ingin dilindunginya, menganggapnya tak lebih dari musuh.
"Kita bicara di cafe depan kampus. Aku harus pergi ke bandara satu jam lagi!" sahut Arkan tak kalah dingin, Hanna mengangguk mengerti. Rasa kesal menyelimuti hatinya. Dia ingin melampiaskan amarah terpendamnya pada Arkan. Hanna tidak akan berhenti, sampai dia menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya.
"Baik, aku tunggu!" sahut Hanna, lalu keluar dari ruang kelasnya. Savira sengaja menunggu Hanna di luar kelas. Dia ingin bertanya alasan sikap kasarnya pada Arkan.
"Hanna, kenapa sikapmu kasar? Dia kakak kandungmu, tidak seharusnya kamu membuatnya malu!" ujar Savira, Hanna menoleh menatap Savira lekat. Hanna berjalan mendekat ke arah Savira, mendorong tubuh Savira menuju tembok.
"Dia memang kakak kandungku, tapi apa kamu pernah melihat dia bersikap hangat padaku? Salahkah aku yang ingin bertanya, kenapa dia dan mama meninggalkanku? Tak pantaskah aku marah dan kecewa. Ketika menyadari, dia pergi menjauh dariku dan kini kembali dengan tatapan dingin tak bersahabat!" ujar Hanna sinis, Savira menggeleng dengan tubuh terhimpit tembok.
"Maaf, aku salah paham!" ujar Savira lirih, Hanna menjauhkan tubuhnya dari Savira. Lalu dia melangkah menjauh dari Savira. Dengan langkah gontai Savira mengikuti Hanna. Tepat di tengah taman kampus. Hanna menghentikan langkahnya, mendongak menatap langit biru tanpa awan. Hanna tak lagi mempermasalahkan panas matahari yang bisa membakar kulitnya. Panas hati Hanna jauh lebih membara. Penuh amarah dan kebencian tanpa ada yang memahaminya.
"Lihatlah layang-layang itu, terbang kesana kemari mengikuti kemana angin berhembus? Terombang-ambing di langit biru yang luas tanpa batas. Seperti itulah aku selama ini, terbang tanpa tujuan. Mengikuti arah angin membawa. Jika papa bosan padaku, aku akan datang pada nenek Salma. Jika nenek Salma mulai cerewet mengatur hidupku. Aku akan datang ke rumah nenek Nissa. selama belasan tahun aku mengikuti kemauan mereka. Hari ini aku akan berjuang mencari kebenaran!" tutur Hanna.
"Apa yang kamu inginkan?" ujar Savira.
"Jika boleh aku ingin pergi, tapi aku sadar papa membutuhkanku. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang kak Hanif. Bukan tatapan dingin pak Arkan!" tutur Hanna lalu menunduk. Savira mendekat dan memeluk Hanna erat.
"Aku akan selalu bersamamu!" bisik Savira, Hanna mengangguk dalam pelukan Savira.
"Maafkan aku Hanna!" batin Arkan pilu. Hatinya teriris melihat sang adik yang terluka dan menjadi korban perpisahan kedua orang tuanya.