
"Pergilah!" Ujar Hafidz membuyarkan lamunan Hanna. Seketika Hanna mendongak menatap Hafidz yang tengah berdiri tak jauh darinya.
Hanna menatap heran ke arah Hafidz yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Tanpa sengaja Hafidz mengawasi Hanna yang sedang melamun. Hafidz melihat layar laptop Hanna menyala, tapi pikiran Hanna tak berada di tempatnya. Jelas tatapan Hanna tidak sedang mengarah ke arah laptop.
Hafidz melihat kegelisahan yang jelas tersirat dari kedua mata Hanna. Berkas yang berserakan di atas tempat tidur. Jelas menunjukkan betapa Hanna tak fokus saat ini. Sejak awal Hanna terjun dalam dunia bisnis. Hanna tak pernah bersikap berantakan. Dia selalu menata semua pekerjaannya. Bahkan Hafidz tak pernah melihat Hanna mengerjakan pekerjaannya di rumah. Namun semua terlihat berbeda malam ini.
Hanna sangat tidak biasa, dia banyak diam. Apalagi setelah pertemuannya dengan Arkan, setelah makan malam. Hanna seolah hidup dalam dunianya sendiri. Hanna lupa akan waktu yang berputar di sekitaranya. Hafidz merasa cemas sekaligus takut melihat perubahan sikap Hanna. Semua semakin jelas, saat Hafidz masuk ke dalam kamar. Hafidz melihat Hanna termenung dengan pemikiran yang tak pernah Hafidz ketahui. Ketakutan Hafidz seolah benar, setelah Hafidz bertanya pada Arkan. Kejujuran Arkan membuka tabir yang tertutup rapat. Rahasia yang sengaja dipendam Hanna. Kegelisahan yang disembunyikan Hanna dari Hafidz suaminya.
"Kemana aku harus pergi? Kakak butuh sesuatu!" Sahut Hanna lirih, sembari dia mematikan laptopnya. Hanna menata berkas yang berserakan di sampingnya. Sebaliknya Hafidz terus memperhatikan gerak-gerik Hanna yang tak biasa. Tangan Hanna terlihat bergetar, saat memindahkan berkas yang dibawanya.
"Sudah cukup Hanna, aku sudah tidak sanggup melihatmu seperti itu?"
"Maaf kak Hafidz, aku hanya ingin memindahkan ini. Setelah ini, kakak bisa tidur dengan nyaman!"
"Pergilah Hanna, temui dia. Saat ini kehadiranmu yang sangat ditunggunya. Jadilah penyemangat dalam lemah semangatnya. Agar dia bangkit dari kehancurannya!"
"Kakak bicara apa? Siapa yang harus aku temui?" Ujar Hanna mengelak, Hafidz manatap lekat Hanna. Ada rasa ngilu yang terasa setiap kali Hafidz bicara. Sebuah permintaan yang tak pernah sanggup dikatakannya.
"Jujurlah Hanna, agar hatimu tenang. Percuma kamu tutupi, hanya akan menambah beban pikiran. Kebohonganmu semakin menyakitiku. Meski kamu melakukannya, karena ingin menjaga perasaanku!" Ujar Hafidz dingin, Hanna semakin tak mengerti.
Hanna tak memahami arah pembicaraan Hafidz. Sepintas Hanna berpikir, jika semua yang dikatakan Hafidz berhubungan dengan Ghibran. Namun dengan cepat Hanna melupakannya. Hafidz tak mengetahui yang terjadi pada Ghibran.
Hanna melihat Hafidz berjalan menuju jendela kamarnya. Hafidz menyandarkan tubuhnya pada jendela. Sembari menatap ke luar jendela. Merasakan dingin malam yang ada di luar. Sedingin suasana hatinya malam ini. Saat dia mendengar ada cinta yang jauh lebih besar untuk Hanna. Sekilas Hanna melihat raut wajah Hafidz yang sangat dingin. Hanna merasa ada yang sedang dipikirkan dan sangat mengganggu benak Hafidz.
"Kenapa aku merasa kakak mulai meragukanku?"
"Aku tak pernah meragukanmu. Bahkan aku sangat percaya padamu dan kamu tahu itu. Namun terkadang ada rasa tak percaya. Ketika hati mulai merasa dikhianati!"
"Apa yang ingin kak Hafidz katakan? Aku mohon bicaralah dengan tegas. Tidak perlu kakak memutar. Aku tak sepintar itu, sehingga bisa menebak isi hati kakak!" Sahut Hanna dingin.
"Kamu serius tak memahami apa yang kukatakan? Atau kamu sengaja berpura-pura bodoh. Agar aku mengatakan dengan jelas semuanya. Sebuah kejujuran yang nyata membuatku sakit!"
"Terserah kak Hafidz, aku takkan memaksa. Mungkin aku bukan wanita sempurna. Namun berbohong bukan sifatku sejak kecil. Sepahit atau sesakit apapun kebenaran. Aku akan mengatakannya dengan lantang. Aku tidak akan tersenyum, bila hanya untuk menutupi rasa sakit!" Ujar Hanna lantang dan tegas.
Hanna menjauh dari Hafidz. Dengan langkah perlahan, dia berjalan keluar dari kamarnya. Hanna ingin menenangkan diri, menjauh dari perdebatan yang mulai mengarah ke pertengkaran. Hanna tak ingin berselisih hanya karena salah paham. Lebih baik baginya menghindar, jika dekat hanya akan membuat semuanya semakin runyam.
Kreeekkk
"Ghibran!" Ujar Hafidz lantang bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
Hanna menghentikan langkahnya tepat di tengah pintu. Dia memutar tubuhnya 180° menghadap Hafidz. Hanna menatap nanar punggung Hafidz. Dia merasakan dingin yang membekukan tulangnya. Hanna terdiam membisu, kala nama Ghibran keluar dari mulut Hafidz. Gelengan kepala Hanna yang tak percaya Hafidz mengetahui kebenarannya. Menunjukkan betapa Hanna tak ingin menyakiti Hafidz. Penolakan Hanna akan permintaan Arkan. Nyata demi menjaga perasaan Hafidz. Agar tak ada kesalahpahaman yang tidak perlu.
"Kak Hafidz!"
"Aku sudah tahu apa yang terjadi padanya? Kak Arkan mengatakan semuanya, bahkan penolakanmu yang sebenarnya menjadi harapan terakhir mereka. Aku tidak keberatan kamu menemui Ghibran. Jika dengan kedatanganmu, akan membangkitkan semangatnya!"
"Penolakan bibirmu, tak sejalan dengan gelisah hatimu. Mungkin kamu bisa membuatku percaya dengan kesungguhanmu. Namun kedua matamu tak mampu berbohong. Jelas dalam hati dan benakmu, ada rasa tak tega pada Ghibran!"
"Mungkin aku kasihan padanya, tapi aku dan dia tak pernah memiliki hubungan. Jelas pendapat yang dikatakan kak Arkan, hanyalah sebuah opsi tanpa perlu kita yakini!" Sahut Hanna tegas, Hafidz tersenyum simpul. Seolah perkataan Hanna tak lebih dari pembenaran akan kegelisahannya.
"Hanna, kamu jelas menyadari. Seberapa besar perasaan Ghibran? Sejauh mana kalian saling mengenal? Seberapa lama rasa itu ada di hati Ghibran? Jauh sebelum aku datang, Ghibran orang yang mencintaimu. Dia yang teguh mencintaimu. Setia dan tulus menanti kepastian. Meski penolakan dan sikap acuhmu yang diterimanya!"
"Aku tak pernah ingin mengenalnya!" Ujar Hanna lirih.
"Kamu tak ingin mengenalnya, tapi Allah SWT yang mempertemukan kalian. Jujurlah Hanna, kamu tak sanggup melihat Ghibran hancur. Sama halnya diriku kini yang tak lagi mampu menatap cemasmu!"
"Aku tetap takkan menemuinya!"
"Cukup penolakanmu selama ini Hanna. Ghibran tak pantas menerimanya. Dia laki-laki yang baik dan tulus. Jangan terus tutup matamu akan besar cintanya. Temui dia, jika itu menjadi awal semangatnya. Bukan kamu yang menentukan itu hanya teori atau kepastian. Hanya Allah SWT yang berhak memutuskan. Apa yang terbaik bagi hamba-NYA!"
"Kak, jangan paksa aku. Jika kakak yakin akan pendapat kak Arkan. Maka percayalah, jika semua akan baik-baik saja. Aku yakin kak Arkan mampu menolongnya!" Sahut Hanna, Hafidz menggeleng lemah. Dia tak sependapat dengan Hanna.
"Satu nama yang terus dipanggilnya. Air mata yang menetes di sela ucapnya. Detak jantung yang menunggu kehadiranmu. Semua itu nyata Hanna, hanya untukmu dan selamanya demi dirimu!"
"Tapi aku istrimu. Tak mungkin aku menemuinya. Meski demi sebuah kemanusiaan. Aku tak ingin memberikan harapan palsu pada Ghibran. Sedangkan disisi lain, aku menyakiti hatimu!"
"Aku siap akan rasa sakit itu?"
"Tapi aku tak mampu melihatnya. Sakit hati itu tak semudah yang dikatakan. Sebab aku pernah merasakannya!"
"Percayalah Hanna, aku siap mengalah. Selama hatimu hanya untukku. Biarlah ragamu datang menemuinya, tapi tetapkan hatimu hanya untukku!"
"Kak Hafidz, kamu yang terlalu percaya padaku. Atau hatimu yang memang benar-benar baik!" Ujar Hanna lirih, seraya berjalan menghampiri Hafidz. Hanna merangkul tubuh Hafidz, menyandarkan kepalanya di dada bidang Hafidz. Terdengar suara detak jantung Hafidz. Penuh kehangatan dan cinta untuk Hanna.
"Aku percaya padamu, alasan hatiku melunak!"
"Terima kasih, kak Hafidz telah mempercayaiku. Aku akan pergi, jika kakak ikut bersamaku!" Ujar Hanna, Hafidz menggeleng lemah.
"Kamu pergilah sendiri, kehadiranku hanya akan menambah luka Ghibran!"
"Kak Hafidz!" Ujar Hanna lirih penuh dengan rasa heran.
CUP
"Aku baik-baik saja!"
"Terima kasih kak Hafidz!"
"Aku baik-baik saja sayang, aku pasti baik. Meski sesungguhnya ingin rasanya aku menjerit. Aku terluka saat ada yang mencintaimu melebihi diriku. Pertemuanmu dengannya, takkan terlalu menyakitiku. Namun seandainya dia benar-benar sadar setelah bertemu denganmu. Akankah aku sanggup menahan rasa cemburu ini. Jika nyata dia tiada demi dirimu dan dia hidup karena dirimu. Entah itu sebuah cinta atau tali jodoh? Satu hal yang pasti, aku sangat mencintaimu. Tak pernah aku ingin kehilanganmu. Kamu segalanya dalam hidupku!" Batin Hafidz sembari mendekap erat Hanna.