
Dua mobil mewah berhenti tepat di sebuah rumah sederhana. Rumah dengan tatanan sangat rapi dan sejuk. Halaman samping yang tak begitu luas. Ditanami berbagai macam sayuran hijau dan bunga yang begitu indah. Kesederhanaan rumah tak nampak tertutupi oleh indah dan sejuknya sekeliling rumah.
Sang bulan bersinar sangat terang. Bintang bertebaran menghiasi malam sunyi ini. Lukisan malam yang megah dan indah. Menambah kesyahduhan akan malam yang begitu indah. Malam belum terlalu larut, tapi hampir semua rumah tertutup rapat. Jalanan terlihat lengang, suasana malam terasa sunyi dan gelap. Namun lampu terlihat terang di dalam sederhana. Menandakan sang pemilik rumah masih terjaga.
"Tuan Agam, sudah setengah jam anda berdiri. Apa perlu saya mengetuk pintu?" ujar Randy sopan, Agam menggeleng lemah. Dia menolak ide Randy.
Seqjak setengah jam yang lalu, Agam berdiri bersandar pada mobil mewahnya. Agam menatap lurus ke depan pintu rumah Tika. Sejak bertemu Arkan di pesta. Agam tak kuasa menahan rasa sakitnya. Agam tak mampu melihat Arkan bekerja sebagai pelayan. Entah rasa bersalah atau rasa tak dianggap? Sehingga Agam memutuskan pergi dari pesta. Baginya takkan pernah dia merasa nyaman. Saat kedua matanya melihat putranya bekerja keras. Bukan hanya keringat yang Arkan teteskan. Namun penghinaan yang jelas akan diterima Arkan.
Disinilah Agam berdiri, di depan rumah sederhana dan kecil berlantai satu. Rumah yang terlihat tenang dan nyaman dari luar. Dengan bantuan beberapa orang. Agam berhasil menemukan rumah Tika. Setelah sekian lama, Agam akhirnya menemukan rumah tempat sang putra dibesarkan. Agam datang ke rumah Tika. Berharap rasa sakitnya terobati. Kerinduan dan kehilngan yang Agam rasakan. Seakan terbayar lunas, kala dia berdiri menatap rumah Tika.
Semenjak semua orang mengetahui keberadaan Arkan. Tika tidak lagi menutup diri dari keluarganya. Jika Agam membutuhkan bantuan orang menemukan rumahnya. Sebaliknya Dimas dan Nissa mengetahui alamat rumah Tika. Bukan dari orang lain, melainkan dari bibir Tika sendiri. Dengan senang hati Tika memberikan alamatnya. Kapanpun kedua orang tuanya datang? Tika akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Agam berjalan perlahan mendekat ke pintu rumah Tika. Sayub terdengar suara Tika mengaji. Agam menyentuh dadanya pelan, dia merasa sesak sekaligus dingin. Agam merasa menyesal telah berpisah dari Tika. Makmum yang bisa mengiri langkahnya menuju jannah-NYA.
"Suara merdumu saat mengaji, membuatku sadar. Aku telah kehilangan harta paling berharga dalam hidupku. Kegagalanku sebagai seorang laki-laki yang tak mampu mempertahankamu. Kelemahan seorang ayah yang tak mampu menjaga buah hatinya. Lima belas tahun aku bekerja keras demi sejajar dengan keluargamu. Namun nyatanya semua yang kumiliki, tak mampu membawamu kembali. Malam ini aku melihat keringat putraku yang menetes. Menjalani sulitnya hidup tanpa ayah disampingnya. Harga diri yang terus terhina dan diragukan. Bak pisau tajam yang menusuk jantungku. Aku semakin tak berdaya dan lemah. Putra yang harus kulindungi, tapi nyatanya terus melawan kejamnya dunia tanpaku. Semua seakan terlambat kini, aku hanya seorang ayah yang kini mengharapkan uluran tangan bersambut putraku. Tak ada harapan yang paling besar. Ketika kusadari diriku memang tak pantas dihargai!" batin Agam seraya menatap pintu di depannya. Tangan kanannya menempel, ragu mengetuk atau kembali pulang tanpa Tika menyadari.
Lama Agam berdiam mematung, menyakinkan dirinya semua akan baik-baik saja. Berusaha menenangkan hatinya, akan pertemuan yang mungkin terjadi. Lalu Agam menoleh ke samping rumah Tika. Agam tertegun menatap taman yang begitu indah. Sebuah taman yang ditumbuhi bunga Lily putih. Indah dan menengkan hati Agam. Bunga lambang cinta diantara Agam dan Tika.
Agam berjalan perlahan menuju taman bunga Lily di samping rumah Tika. Agam berjongkok tepat di depan bunga Lily yang baru saja mekar. Agam menyentuh satu bunga, mencium perlahan bunga yang pernah menjadi bagian dari kisah cintanya. Sinar terang bulan, menyinari taman bunga Tika. Keindahan taman Tika berpadu di bawah terang langit serta sunyi malam yang gelap.
Terdengar Agam menghela napas panjang. Perlahan Agam menepuk dadanya. Terasa sangat sakit, air mata Agam menetes tanpa bisa ditahan. Air mata penuh kepedihan, kehilangan akan sosok Tika. Cinta yang takkan pernah bisa kembali ke dalam hidupnya.
"Tuan Agam!" sapa Randy lirih, Agam mendongak. Lalu mengulurkan tangan ke arah Randy. Seakan meminta bantuan Randy untuk berdiri. Entah kenapa kaki Agam serasa lemah? Agam benar-benar terpuruk meratapi masa lalunya yang kelam.
"Randy, aku tidak bisa bertemu Tika dengan kondisiku seperti ini. Tika tidak pernah meragukan diriku. Kini nyata kusadari, betapa aku bersalah telah mengabaikan keluargaku?" ujar Agam lirih, Randy mengangguk pelan.
Dengan perlahan Randy memapah Agam. Randy membawa Agam menuju mobilnya. Agam tak ingin bertemu dengan Tika dalam kondisi lemah seperti ini. Namun tepat di depan pintu pagar bambu Tika. Ada suara pintu terbuka. Sontak Agam menoleh, kedua bola matanya membulat.
Tika berdiri tepat di tengah-tengah pintu rumahnya. Sejak tadi Tika menyadari kedatangan Agam. Namun Tika tetap diam menunggu Agam mengetuk pintu. Sebenarnya saat Agam datang. Tika masih mengaji di ruang tengah. Namun tanpa Agam sadari, di sekeliling rumah sederhana Tika. Sengaja dipasang kamera CCTV. Arkan merasa tidak tenang, seandainya dia pergi meninggalkan Tika sendiri.
"Kenapa datang bila tidak ingin menemuiku?" ujar Tika singkat dan jelas, sontak Agam menunduk kikuk.
"Duduklah disini, aku akan membuatkan kalian minum. Maaf aku tidak bisa mempersilahkan kalian masuk. Arkan sedang tidak ada di rumah!" ujar Tika ramah, Agam mengangguk mengiyakan. Agam merasa hangat mendengar perkataan Tika.
Randy tersenyum bahagia melihat perubahan sikap sang tuan. Randy melihat rasa bahagia yang teramat dari raut wajah Agam. Kebahagian yang tak nampak selama beberapa tahun terakhir. Dengan bantuan Randy, Agam duduk di kursi kayu. Tika mempersilahkan Agam duduk di terasnya. Sedangkan Tika berjalan menuju dapur rumahnya.
"Minumlah mas Agam!"
"Terima kasih!" sahut Agam ramah.
Agam meneguk teh manis buatan Tika. Rasa yang sama selama bertahun-tahun. Agam mengingat masa-masa bahagia bersama Tika. Lama keduanya larut dalam angan masing-masing. Tidak ada yang memulai berbicara, sekadar untuk menghilangkan rasa canggung. Tika diam menanti Agam berbicara. Sebaliknya Agam merasa canggung, disamping dia sedang menikmati teh buatan Tika.
"Assalammualaikum!" ujar Arkan, Tika dan Agam mendongak hampir bersamaan.
"Waalaikumsalam!" sahut Agam dan Tika serempak.
Malam sudah hampir tengah malam. Arkan sudah selesai bekerja sebagai pelayan di pesta Vahira. Arkan sengaja mematikan sepeda motornya. Ketika dia melihat ada beberapa mobil mewah parkir di depan pintunya. Meski awalnya dia enggan menemui sang tamu. Namun dengan santai Arkan pulang. Dia harus bisa menjadi pemberani dengan menghadapi masalah, bukan lari dari masalah.
"Mama!" sapa Arkan ramah, lalu mencium punggung tangan Tika. Agam tertegun melihat kesopanan dan keramahan Arkan. Sikap yang jelas diwarisi Arkan dari Tika.
Arkan berjalan mendekat ke arah Agam. Dengan perlahan Arkan menarik tangan Agam. Arkan mencium punggung tangan. Seketika tubuh Agam membeku. Kehangatan bibir Arkan putranya menyentuh punggung tangannya. Kehangatan yang menjulur ke seluruh tubuhnya.
"Papa, Arkan masuk ke dalam dulu!" sapa Arkan ramah, bukan jawaban atau anggukan kepala. Agam termangu mendengar Arkan memanggilnya papa.
"Arkan, kamu memanggilku papa?" ujar Agam tak percaya, Arkan menoleh seraya mengangguk. Tika merasakan sikap Agam yang heran bercampur bahagia.
"Jika anda berada di samping mama. Tentunya anda suami mama. Ayahku yang lama hilang dalam kelemahannya!" sahut Arkan dingin.
"Tidak perlu ragu, dia Arkan putramu. Jika mas Agam ingin mengenalnya. Belajarlah mengenal Arkan dengan cinta, bukan harta!" ujar Tika.