
"Selamat pagi semua, hari ini kita akan datang langsung ke lapangan. Kalian akan belajar arti menolong. Dokter bukan hanya mengerti pengetahuan akan perawatan. Kalian juga harus bisa memahami arti merawat!" ujar Arkan dingin dan tegas.
"Baik pak Arkan!" sahut para murid. Savira dan Hanna mengangguk mengiyakan.
Arkan membagi satu kelas menjadi beberapa kelompok. Arkan memberikan tugas yang berbeda. Kebetulan Savira dan Hanna satu kelompok dan mereka mendapat tugas di sebuah panti jompo.
Arkan meminta hasil laporan bukan dari para muridnya. Melainkan dari pemilik atau ketua tempat para murid mendapatkan tugas. Jadi tidak akan ada yang berani memanipulasi hasik kegiatan hari ini. Termasuk Hanna da Savira, meskipun Hanna adik kandungnya. Arkan tidak akan memberikan keleluasaan.
"Arkan, aku ikut denganmu memantau para muridmu!" ujar Ghibran, Arkan menoleh sembari mengeryitkan dahinya. Arkan tahu maksud sebenarnya Ghibran. Arkan tidak keberatan, jika Ghibran mendekati Hanna.
"Hanna dan Savira mendapat tugas di panti jompo. Pergilah kesana jika memang kamu ingin menjaga Hanna!" ujar Arkan dingin, sembari naik ke atas sepeda motornya.
"Pak Arkan tunggu!" teriak Hanna, Arkan meletakkan kembali helm yang akan dikenakannya.
"Pak Arkan aku ikut denganmu. Aku tidak membawa mobil. Sedangkan Savira tidak bisa menerima tugas bapak!" ujar Hanna lantang.
"Pergilah dengan Ghibran, aku harus ke tempat lain. Satu hal lagi, katakan pada temanmu. Satu kali saja dia absen di kelasku. Tidak akan mudah baginya, untuk masuk lagi dan lulus dari semester ini. Harta kalian tidak akan bisa membeliku!" ujar Arkan lantang, Hanna menelan ludahnya kasar. Savira mendengar jelas perkataan Arkan. Sontak langsung berlari menuju Hanna.
"Saya hadir pak!" sahut Savira ketakutan.
"Itu lebih baik untukmu!" sahut Arkan dingin, tanpa menoleh dan langsung pergi meninggalkan Hanna dan Savira.
"Dosen aneh!" batin Hanna.
"Arkan tidak selalu menepati perkataannya. Disiplin menjadi prinsipnya, alasan yang membuatku membawanya kemari!" ujar Ghibran, Hanna langsung menoleh.
"Aku tidak peduli. Aku akan pergi dengan Savira. Jangan pernah mengikutiku!" ujar Hanna ketus, Savira menggeleng lemah.
Dia tidak mengerti alasan Hanna begitu membenci Ghibran. Bertahun-tahun Ghibran mencoba mendekati Hanna. Namun dengan tegas Hanna selalu menolaknya. Entah apa yang membuat Hanna tidak ingin mengenal Ghibran?
"Hanna, kenapa kamu membenci Ghibran? Dia laki-laki baik dan berpendidikan. Keluarga kalian juga sederajat!" ujar Savira sesaat setelah jauh dari Ghibran.
"Dia keponakan tante Zalwa, wanita yang menjadi duri dalam pernikahan papa. Ghibran laki-laki pilihan nenek, wanita yang membuat mama meninggalkanku sendirian. Kekayaannya yang membuatku jijik. Sebab harta yang menjadi alasan orang tuaku berpisah. Aku tidak akan menerima Ghibran. Sebaik apapun dia, tidak ada gunanya bila hanya hidup di balik kekuasaan orang tuanya. Cukup papa laki-laki lemah yang mengecewakanku. Aku ingin menghancurkan benteng keangkuhan keluarga papa. Agar harta yang mereka banggakan tak berguna!" ujar Hanna lirih, Savira merangkul tangan Hanna.
"Jadi kamu ingin mendekati pak Arkan!" ujar Savira, Hanna mengangguk pelan.
"Dia laki-laki yang akan membuat nenek marah!" sahut Hanna, lalu masuk ke dalam mobil Savira.
"Kejam!" sahut Savira. Hana hanya diam saja mendengar perkataan Savira.
PANTI JOMPO
Tepat pukul 10.00 WIB, Hanna dan Savira sampai di panti jompo yang dikatakan Arkan. Ghibran sudah lebih dulu datang. Dia diminta Arkan menggantinya mengawasi para murid. Terutama Hanna dan Savira, dua wanita amanah Arkan pada Ghibran.
"Apa yang akan kita lakukan di panti jompo? Bukankah kita membayar mahal untuk belajar? Kenapa malah datang ke panti jompo? Merawat mereka bukan tugas kita!" ujar Savira kesal, Hanna tidak peduli pada perkataan Savira.
Tanpa menghiraukan Savira, Hanna berjalan menuju taman. Dia menghampiri seseorang yang sangat hangat. Hanna melihat betapa telatennya dia dalam menyuapi seorang nenek. Meski berkali-kali sang nenek memuntahkan makanannya. Namun wanita itu tetap menyuapi dengan penuh tanggung jawab. Tidak tersirat amarah di kedua mata indahnya.
"Permisi, bolehkah saya membantu anda!" pinta Hanna ramah, Fitri mengangguk pelan.
Hanna mengambil makanan dari Fitri. Dengan perlahan Hanna menyuapi nenek yang ada di depannya. Satu suapan pertama Hanna diterima dengan baik oleh nenek. Entah kenapa ada rasa bahagia terselip di hati Hanna? Satu demi satu suapan diberikan Hanna pada nenek. Fitri merasa aneh melihat sang nenek patuh pada Hanna. Malah Fitri merasa sang nenek merasa nyaman bersama Hanna.
Tepat di suapan terakhir, air mata Hanna menetes. Hanna menunduk menyembuyikan air matanya. Hanna tidak ingin Fitri dan sang nenek melihat rapuhnya. Sekilas Hanna mengingat saat-saat, Hanna merasakan suapan dari sang mama. Suapan yang mulai menghilang dari ingatannya. Rasa hangat yang dia terima setiap kali Tika menyuapinya. Namun hari ini dia merasakan rasa bahagia dan hangat menyelinap dalam hatinya yang dingin dan kosong.
Dengan tangan bergetar, Hanna memberikan suapan terakhirnya. Sang nenek membuka mulutnya lebar-lebar. Hanna terus menunduk, dia takut melihat raut wajah nenek. Lalu tangan sang nenek mengelus kepala Hanna. Seketika Hanna mendongak menatap sang nenek. Ketika dia merasakan sentuhan hangat menyentuh rambut hitam legamnya.
"Menangislah, air matamu tidak salah. Jangan paksa dia tertahan. Jika akhirnya hatimu yang tersakiti. Menangis bukan sebuah dosa yang harus kamu tutupi. Sebaliknya menangis akan meringankan hati yang terluka!" ujar sang nenek, Fitri mengangguk.
"Kenapa nenek menerima suapanku? Sedangkan nenek selalu menolak, ketika kak Fitri menyuapi nenek?" ujar Hanna lirih.
"Jika aku menolak suapan darimu. Selamanya kamu akan takut menyayangi orang lain. Raut wajahmu mengatakan, ada kerinduan yang tak pernah bisa kamu katakan. Tanganmu yang bergetar saat menyuapiku, seakan mengatakan semua ini pertama kalinya untukmu. Aku tidak keberatan memakan sesuatu yang tidak kusuka. Selama itu bisa membuatmu merasa bahagia!" ujar nenek.
"Maksud nenek!" ujar Hanna tidak mengerti.
"Nenek Siti mulai kehilangan napsu makannya. Dia susah makan beberapa hari terakhir. Namun dia berusaha menelan apa yang kamu suapkan? Sebab nenek ingin terus melihat semangat dan kasih sayangmu pada sesama!" ujar Fitri, Hanna mengangguk mengerti.
"Nak, siapapun yang sedang kamu rindukan? Nenek yakin dia juga sedang merindukanmu. Jangan menahan sesuatu yang memang tidak bisa ditahan. Belajarlah berdamai dengan keadaan. Hidup hanya sementara, tidak ada gunanya membenci sesuatu yang belum tentu benar!" ujar nenek Siti.
"Kenapa?" ujar Hanna bertanya dengan heran.
"Setiap air mata yang menetes dari kedua matamu. Layaknya luka yang ada dalam hatimu. Percayalah nak, kesedihan akan ada akhirnya. Tidak akan ada selamanya, entah bahagia atau kesedihan? Layaknya nenek yang kini menanti akhir dari napas!" ujar nenek Siti.
"Lima belas tahun aku telah menanti. Namun hatiku tetap kosong dan dingin. Senyum yang aku utas, hanya demi menjadi semangat papa yang mulai menghilang. Sosok yang aku rindukan tak pernah datang. Tangan yang aku harapkan tak pernah terulur. Dekapan hangat yang aku bayangkan tak pernah nyata. Lantas adakan kata akhir dari penantian yang mulai lelah. Tak lagi aku berpikir, semua akan berakhir. Kebahagian semu yang kujalani, jauh lebih baik dari kebahagian yang tak pernah ada!" batin Hanna.
"Nyatanya aku terus bersedih dan hampa!" sahut Hanna lirih.
"Kamu akan selalu hampa. Ketika kamu tidak pernah belajar menghargai cinta di sekitarmu. Berarti bagi orang lain, setidaknya akan membuatmu mengerti akan arti kasih sayang!" sahut Arkan.