Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Keluar Kota


"Agam, aku pernah berada dalam posisimu. Aku pernah kehilangan Nissa dan si kembar. Rasa sakit jauh dari buah hati kita. Aku pernah merasakannya, tapi satu hal yang berbeda dari kita berdua. Aku dan Nissa masih memiliki jodoh yang menyatukan. Sebaliknya kamu dan Tika, mungkin berpisah jauh lebih baik. Kami tidak akan meminta kebahagian Tika padamu. Cukup tegas bersikap, putuskan yang terbaik untuk hidup Tika dan si kembar. Kamu berhak atas hidup si kembar, tapi Tika sudah tidak mungkin kamu genggam!" ujar Dimas ramah, sembaro menepuk punggung Agam.


"Tidak bisakah aku dan Tika bersama!" ujar Agam lirih. Nissa dan Dimas diam tak menjawab pertanyaan Agam. Pertanyaan yang tak pernah ada jawabannya. Sebab pertanyaan yang seharusnya sudah terjawab sejak dua tahun yang lalu. Agam menunduk lesu, ketika harapan sudah tak lagi ada.


Terdengar suara roda koper yang ditarik oleh Tika. Suara heels Tika yang beradu dengan lantai. Terdengar nyaring dalam sepi ruang tamu rumah Nissa. Agam dan Zalwa mendongak bersama, melihat Tika yang sedang menarik koper berukuran sedang. Keanggunan Tika nyata terlihat oleh Agam, kesempurnaan yang terlepas hampir sempurna dari tangan Agam.


Tika berjalan perlahan keluar dari rumahnya. Tanpa menoleh sedikitpun kepada Agam. Tak ada yang mampu menebak isi hati Tika. Masihkah ada nama Agam dihati Tika? Atau semua telah hilang lenyap tak tersisa. Dimas dan Nissa tertegun menatap raut wajah Agam pias menatap ke arah Tika. Jelas terlihat raut wajah sedih yang tak lagi mampu terucap.


"Tika tunggu!" teriak Dimas, seketika Tika menghentikan langkah kecilnya. Dia memutar tubuhnya 90° menghadap ke arah ruang tamu. Tika melihat Agam dan Zalwa duduk berhadapan dengan Dimas. Tika mengangguk pelan, sebagai isyarat dia mendengarkan perkataan Dimas.


"Kamu pakai mobil papa saja. Jangan gunakan mobilmu atau milik bunda. Sekarang sudah malam, kamu akan melakukan perjalanan jauh. Lebih nyaman dan tentu aman menggunakan mobil sport papa. Tadi sore papa sempat memeriksa dan memanasi mesinnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir!" ujar Dimas lantang, Tika mengangguk pelan. Nissa tersenyum melihat ketegaran Tika. Tak ada air mata atau amarah yang mengusainya. Ketika dengan kedua matanya. Tika melihat Agam bersama menjemput buah hatinya. Entah ini keikhlasan atau kesabaran yang tanpa batas? Satu hal yang pasti, ketegaran Tika hanya untuk buah hatinya. Sebab hancurnya Tika akan menjadi kehancuran putranya.


"Bunda, Hana dan Hanif masih memakai sepatu. Mereka sebentar lagi keluar, aku sudah berpamitan pada mereka. Jadi aku langsung pergi!" tutur Tika, Nissa mengangguk pelan. Tika berjalan menghampiri Nissa dan Dimas. Sekilas dia melirik Agam yang sedang menunduk. Tak ada kebencian atau rasa sayang dihati untuk laki-laki bernama Agam. Hati Tika terlalu sakit, untuk membenci Agam. Sebaliknya menyayangi Agam, Tika terlalu takut terluka lagi. Diam mencari kenyamanan dan tersenyum demi buah hatinya. Jalan yang kini dipilih Tika.


Tika mencium punggung tangan Nissa dan Dimas. Setelah berpamintan dan menerima kunci mobil dari papanya. Tika berjalan keluar rumahnya. Tepat di depan pintu, terdengar suara langkah kaki Hana dan Hanif yang berlari mengejar Tika. Hana dan Hanif berlari sembari memanggil-manggil Tika. Sontak semua orang panik, tidak terkecuali Tika yang langsung menoleh. Spontan Tika menghentikan langkahnya. Agam dan Zalwa berlari mengejar Hana dan Hanif. Dimas dan Nissa mengikuti langkah kaki Hana dan Hanif.


"Mama!" teriak Hana dan Hanif, mereka berlari sembari membawa bantal dan guling. Tika bingung melihat Hana dan Hanif. Mereka sudah bersedia, bahkan meminta sendiri akan tinggal bersama papanya. Apalagi melihat mereka menggendong bantal dan guling mereka. Agam terdiam melihat kehangatan Hana dan Hanif pada Tika. Bahkan kedua putranya tidak melihat ke arahnya sama sekali. Seolah Agam tidak berada disana.


"Ada apa? Kenapa kalian berlari di dalam rumah? Mama pernah mengatakan, jangan berlari di dalam rumah. Nanti kalian bisa jatuh!" ujar Tika lirih, Hana dan Hanif mengangguk mengerti. Keduanya memelas seolah mengakui kesalahan mereka. Tika langsung luluh setiap kali melihat wajah memelas mereka. Hana dan Hanif diam tak sembari menunduk. Setiap kali Tika memarahinya. Sekali lagi, Agam hanya bisa diam melihat. Tangannya seolah ingin memeluk, tapi jarak diantara mereka jelas terlihat.


"Mama, ini bantal tidur Hanif. Mama bisa membawanya, supaya mama tidak merindukan Hanif. Kalau mama merindukan Hanif, mama bisa memeluknya. Bayangkan Hanif yang sedang mama peluk!" ujar Hanif polos, Tika diam menerima bantal kecil milik Hanif. Lalu Tika menatap Hana yang senyum-senyum sendiri memegang gulingnya.


"Mama, ini guling kesayangan Hana. Sedikit bau karena pernah Hana ompolin. Mama bisa membawanya juga. Supaya mama ingat kak Hanif dan Hana ada selalu buat mama!" ujar Hana polos, dengan tangan yang mulai bergetar. Tika menerima bantal dan guling milik Hanif dan Hana. Tika mencium kedua benda mungil kesayangan buah hatinya. Setetes air mata turun membasahi sarung bantal dan guling. Tika menangis bukan sedih akan berpisah dengan kedua buah hatinya. Tika terenyuh melihat kasih sayang Hana dan Hanif.


Tika menarik tubuh mungil Hana dan Hanif. Dia memeluk erat keduanya. Mencium wajah mereka bergantian. Hana dan Hanif mengalungkan kedua tangan mungil mereka pada leher Tika. Mereka menyadarkan kepalanya pada pundak Tika.


"Mama sayang kalian, selamanya kalian akan selalu dekat dengan mama. Meski mata mama tidak melihat kalian. Walau telinga mama tak mendengar suara kalian. Percayalah hati mama bisa merasakan dan mendengar kalian. Selama kalian berjanji pada mama. Kalian akan menurut pada papa dan menjadi anak yang baik selama mama pergi!" tutur Tika, Hana dan Hanif mengangguk bersama. Tika melepaskan pelukan Hana dan Hanif. Lalu berdiri menatap Agam dan Zalwa bergantian. Dimas dan Nissa mengangguk bangga melihat sikap bijak Tika. Bukan kebencian yang Tika tunjukkan, melainkan kebesaran jiwa yang takkan pernah bisa dinalar akal sehat. Entah sebuah kebodohan atau kekalahan yang ditunjukkan Tika? Namun satu hal yang pasti, besar hati Tika tak lain bentuk dari kasih sayangnya pada buah hatinya.


"Perkataanmu pada Hana dan Hanif, seakan kamu tidak pernah berharap akan perpisahan dalam pernikahan kita. Namun sikap dingin dan tatapan tajammu. Seolah jawaban dari harapan palsuku. Dalam sekejap kamu menghancurkan harapan yang seakan nyata, tapi ternyata hanya kepalsuan semata. Haruskah aku benar-benar melepaskanmu! Atau aku egois dengan tetap mempertahankan pernikahan yang tak lagi utuh!" batin Agam pilu.


"Aku tidak akan menitipkan Hana dan Hanif padamu. Sebab mereka masih tanggungjawabmu, aku hanya akan mengingatkan. Hargai pendapat mereka dan jaga perasaan mereka. Usia mereka tak sedewasa cara pikir mereka. Jangan sampai kalian salah melangkah. Jika Tidak aku pastikan, ini terakhir kalian membawanya pergi. Aku mampu bertahan dengan hati dan jiwa yang hancur. Tapi aku takkan sanggup berpikir benar, jika air mata Hana dan Hanif menetes!" ujar Tika dingin, lalu pergi menuju mobilnya. Tika meletakkan bantal dan guling si kembar di samping kemudinya.


"Tika, tidak bisakah kita bicara dari hati ke hati. Setidaknya sebagai orang yang pernah mengenal!" ujar Agam sesaat setelah mengejar Tika.


"Bagaimana kita bicara dari hati ke hati? Bila hatiku telah hancur tak bersisa, lelah menanti keputusan yang tak kunjung ada. Jiwaku mati dan membeku, ketika penantianku hanya berujung sia-sia. Lantas hati dan jiwa mana yang kamu harapkan!" ujar Tika.