MENIKAHI KARENA KEHORMATANNYA

MENIKAHI KARENA KEHORMATANNYA
Ingin bertemu...


" Udah udah, kenapa kok kamu manggil ibu sama Ayah? emangnya ada apa? " Tanya Ibu Vina.


"Gini, tadi Vina dapat kabar dari Nio kalau besok dia dan kedua orang tuanya mau berkunjung ke sini katanya mau bahas lebih lanjut tentang pernikahan ini." Ucap Vina menjelaskan kepada kedua orang tuanya.


" Oh besok ya? " Tanya Ayah Vina.


"Iya yah. Ayah ga bisa yah? "


"Kalau urusan ini pasti sangat lebih penting dari semua pekerjaan Ayah. Ga mungkin Ayah ga bisa. Insya Allah pasti bisa. " Ucapnya.


" Kalau Ibu juga sama seperti Ayah. Jadi ini adalah urusan yang sangat, sangat penting bagi Ibu dan Ayah. " Imbuh Ibu Vina.


"Alhamdulillah " Ucap Vina bersyukur.


Tak terasa Adzan Dzuhur pun tiba.


Ayah Vina bergegas pergi ke masjid sedangkan Ibu dan Vina sholat Dzuhur berjama'ah di rumah.


......................


Di Rumah Hana~


Hana sedang asik membaca novel, tiba-tiba ia terfikir akan Zahra dan Vina. Sungguh cintanya itu membuat hubungan mereka retak. Hana termenung lagi apa yang sudah ia lakukan terhadap Zahra itu semakin banyak yang tidak menyukainya terlebih lagi Faizal.


Seketika Hana tersadar dan menangis karena merasa dirinya terlalu berharap untuk bisa bersama Faizal. Ia merasa kehilangan semuanya karena cinta. Entah itu sahabatnya.


"Kenapa aku? mengapa cinta membuatku seperti ini? aku kehilangan sahabat karena cinta ku. " Ucap Hana lirih sambil menangis di samping jendela.


Tiba-tiba bunda Hana mendengar Hana menangis seketika langsung masuk ke dalam kamar Hana.


"Hana ada apa? kenapa anak bunda menangis? " Tanya Bunda Hana yang bernama Aminah.


Sebenarnya Hana bukanlah ingin menjadi jahat. Bunda Aminah saja sifatnya penyabar dan penuh kasih sayang. Entah karena Hana yang baru pernah jatuh cinta jadi ia tidak bisa memikir dengan jernih hanya bisa berfikir dengan menggunakan perasaannya. Seperti itu lah wanita yang mempunyai 9 perasaan dan 1 logika berbeda dengan para laki-laki yang mempunyai 9 logika dan 1 perasaan. Jadi tidak heran Hana berbuat seperti itu karena perasaannya tersakiti. Tapi Hana juga berfikir semua yang ia lakukan memang sungguh berlebihan. Belum lagi Faizal tidak mengenalnya.


"Bunda? " Cepat cepa Hana menghapus air matanya karena ia tidak ingin terlihat bersedih di depan bundanya.


" Eng-engak papa kok bunda. Bunda sibuk gak hari ini? " Tanya Hana.


"Kok kamu bilang gak papa tapi seperti habis nangis gitu? jangan sembunyi sesuatu dari bunda yah sayang. Bunda sekarang kayaknya gak sibuk memangnya ada apa sayang? Tanya Aminah.


" Bunda Hana boleh curhat? " Tanya Hana


"Boleh dongg, mau curhat apa nih? " Aminah.


" Hana sekarang tidak lagi bersama Zahra dan Vina karena semuanya salah Hana bunda." Ucapnya menangis langsung memeluk tubuh bundanya yang sedari duduk samping Hana.


Itu lah yang sering muncul di fikiran Aminah beberapa hari ini Hana terlihat murung dan tidak pernah bersama Zahra dan Vina.


"Baiklah nak kamu coba cerita pelan-pelan kenapa dan ada permasalahan apa di antara kalian? " Ucap Bunda Aminah.


Akhirnya Hana menceritakan semua kejadian itu. Dan kejadian Hana menyakiti Zahra, Vina, Nio. Sambil Hana menunduk dan air mata terus saja membasahi pipinya. Seketika mendengar apa yang di ceritakan Hana kepada Aminah, sungguh Aminah terkejut sambil memegang dadanya tak lupa mengucapkan istigfar ber ulang kali.


"Bunda maafin Hana" Ucap Hana menangis. Hanya itu yang bisa h


"Hana, Bunda ingin kamu bertemu dengan Vina dan Zahra hari ini juga. Menyelesaikan pertengkaran kalian. " Tugas Aminah kecewa terhadap Hana.


"Baiklah bunda " Balas Hana dengan posisi kepala masih menunduk.


Akhirnya Bunda Aminah pun pergi tak lupa ia pamit kepada Hana. Setelah itu Hana beranjak turun dari kasur mengambil ponselnya di meja belajar. Ia lalu membuka layar ponselnya yang berpola, Hana kembali mengklik app WA. Mencari grup mereka bertiga.


Sebencinya Hana Kepada Vina dan Zahra ia sudah berjanji untuk tidak keluar dari grup tersebut. Bukan hanya Hana. Zahra dan Vina pun juga sudah berjanji untuk tidak keluar dari grup itu, yah memang karena grup tersebut semenjak pertama kali kenal ketika masuk awal kuliah itu menjadi pengikat dan penguat persahabatan mereka.


Air mata Hana kembali menetes di pipinya melihat chat grup tersebut terakhir kali ketika Zahra mengajaknya dan Vina ke taman untuk belajar bersama.


Lalu Hana memberanikan diri untuk menekan tombol huruf satu demi satu dengan air mata yang memang sudah banjir.


Grup " Bestie to Jannah "


Hana : "Assalamualaikum."


Hana sungguh masih merasa bersalah hingga ia masih menunggu Zahra dan Vina membalas Chat di grup.


Masih saja belum ada tanda-tanda balasan dari Zahra dan Vina hingga akhirnya ia memutuskan untuk Call Grup.


Dengan hati yang bimbang dan gugup ia terus memaksa dan memberanikan diri untuk call Grup.


Berdering.....


Akhirnya tak lama menunggu Zahra dan Vina langsung mengangkat panggilan grup itu.


Hening....


Hana : " Assalamualaikum " ( masih saja menangis)


Zahra : " Wa-Walaikumsalam Ha-hana? " ( Kaget Zahra mengapa ia melakukan call grup)


Vina : " Walaikumsalam." ( cuek)


.....


Hana : " Huem Zahra, Vina aku mau bertemu kalian di taman hari ini, kalian bisa? " ( Ucap Hana dengan suarah yang lirih karena menahan agar tangisannya tidak terlalu terdengar oleh kedua sahabatnya )


Zahra : " Ada apa Han? kok tiba-tiba ingin ber-" ( Ucapan Zahra terputus oleh Vina yang menyambungnya)


Vina : " Ck ada rencana apa lagi kamu han!? ( Ucapnya dengan tertekan)


Zahra :" Vina! " ( Ucap Zahra agar ia berhenti untuk seuzon kepada Hana )


Hana :" Gak papa kok Zah, aku cuman mau ngomong langsung hiks hiks. Aku tunggu di taman ya, Assalamualaikum. ( Karena tak tahan tangisan Hana pun akhirnya terdengar di call grup)


Vina : " Han--"


Zahra : " kamu--"


Terputus.


Call Grup akhirnya terputus karena yang melakukan panggilan tersebut ialah Hana berarti ketika Hana mengakhiri call grup itu otomatis Zahra dan Vina juga terputus dari call grup " bestie to jannah" .


Hana tau ucapan Vina itu menyakitkan tapi tidak sebanding apa yang ia lakukan terhadap mereka berdua. Dan akhirnya Hana bersiap-siap untuk pergi ke taman.


......................


Di rumah~


Zahra yang sudah selesai call grup, akhirnya memutuskan untuk menemui Faizal yang berada di ruangan kerjanya. Karena biarpun hari libur Faizal tetap saja mengurus perusahaan yang akhir-akhir ini sedang berkembang pesat.


"Assalamualaikum, tok tok tok." Salam Zahra sambil mengetokkan pintu.


"Walaikumsalam sebentar sayang." Balas Faizal dengan semangat karena ia sudah bisa mengenal suara istrinya itu ketika berbicara.


"Kenapa Abang kayak gituu sih, kan Zahra masih terlalu malu dengar kata-kata romantis." Ucap nya dalam hati.


Akhirnya pintu tersebut pun terbuka dan Faizal melihat istrinya sambil menepiskan senyum damagenya dan gaya yang menambah Faizal semakin Cool.


Terjebaknya Zahra ketika melihat suaminya seperti itu.


"kenapa Zahra baru sadar bahwa abang se tampan ini. Aduh aduhhh kok jadi mikir yang gak penting sihh. Kan niat Zahra ke sini buat minta izin sama abang. " Gumamnya dalam hati.


"Hei...kenapa melamun? " Tanya Faizal yang ternyata dari tadi ia memanggil Zahra tapi Zahra terus saja melamun.


"eh i-iyaa bang, Zahra mau minta izin keluar sebentar sama Vina." Kata Zahra.


"Mau kemana? "


" Jadi gini bang--" Ucapan Zahta seketika terpotong.


" Ayo jelaskannya di dalam saja." Potong Faizal sambil menarik tangan Zahra ke ruangan kerja Faizal.


Akhirnya sampai di sofa ruangan tersebut, Zahra dan Faizal duduk. Zahra pun mulai menjelaskan tentang call Grup dan juga Hana ingin bertemu di Taman.


"Abang izinkan Zahra yah kali ini aja insya Allah Zahra ga kenapa-kenapa kok." Ucap Zahra meyakinkan suaminya.


Karena Faizal juga sepertinya berfikir positif sama dengan halnya Zahra akhirnya ia memutuskan untuk mengizinkan Zahra pergi bersama dengan Vina.


"Baiklah Abang izinkan kamu pergi dengan Vina. Tapi ingat kamu harus juga berjaga-jaga." Ucap Faizal. Biar bagaimanapun Faizal masih tetap mencemaskan istrinya. Karena perbuatan Hana yang terlalu kejam beberapa minggu yang lalu itu membuat Faizal masih mengkhawatirkan istrinya tersebut. Tapi Faizal terus berusaha untuk berfikir Positif.


......................