
Faizal ketika mendengar panggilan ucapan untuknya sontak kaget 'Abang'. Baru kali ini Zahra memanggilnya Abang, sebenarnya Faizal juga lebih senang panggilan itu dariapada 'Kakak' seperti adik kakak dong heheh.
Zahra menepis senyuman ke suaminya itu, dan dia berkata.
"Zahra boleh panggil Kak Faizal, Abang aja yah." Ucapnya Zahra dengan memegang tangan suami tercintanya itu.
"Ya Rabb kamu inii ada-ada sajaa, hhaha ya sudah boleh panggil Abang kokk." Balas Faizal tertawa melihat tingkah aneh istrinya.
"Terus tadi Zahra kenapa? kok bisa ada di tempat tidur, bukannya lagi siapkan baju Abang kan?" Tanya Zahra kebingungan dan dia juga masih memakai pakaian syar'i dengan hijab besarnya melengket di kepala.
"Ya tadi abang liat kamu tadi pingsan jadi makanya abang panik dan bawa naik ke tempat tidur. Kamu kenapa ga bilang ke abang kalau kamu sakit?. Abang jadi merasa bersalah." kata Faizal sambil mengusap-usap kepala Zahra.
"ga papa kok, Zahra cuman kecapean tadi lagi bersih-bersih rumah sebelum abang pulang. Abang jangan seperti itu... Abang gaa salah kok." Jawab Zahra memegang tangan Faizal.
"Ya sudah kamu mau makan apa biar ga pusing lagi?" tanya Faizal.
Zahra hanya mengeleng-geleng kepalanya tandanya Zahra tidak mau apa-apa.
"hmm jadi mau apa dong?" tanya Faizal lagi.
"Zahra mau kita jalan-jalan yukk bangg" aja Zahra memohon seperti anak kecil.
"Kata dokter tadi kamu harus istirahat ga boleh kecapean. Jadi kita jalannya setelah kamu udah baikan." jawab Faizal menolak dengan halus. Dengar ucapan Zahra tadi langsung kaget dan melotot.
"Dokter?" Ucapnya kaget.
"Iya Dokter, tadi Abang sempat menghubungi Dokter agar kamu di periksa" Jawab Faizal.
"Auratt Zahra ga di liat kan? Zahra tadi masih pakai hijab kan seperti ini? Ketutup?? benar gaaa bang?" Panik Zahra seolah-olah dia masih takut akan auratnya terlihat sama yang bukan mahrom.
"Kamu ini lucu sekaliii, yah tidakk, kan jilbab kamu masih di kenalan sampai sekarang" Jawab Faizal mencubit hidungnya yang setengah mancung itu karena merasa gemass terhadap istrinya sangat polos.
"Aduhhh Abangg, sakit tauu." Ucap Zahra memegang hidungnya. Faizal hanya terkekeh dan masih heran ternyata setegas apapun Zahra pasti ada sifat kekanakannya, manjaa, dan panikan, itu yang ada pada diri Zahra.
Akhirnya terdengar suara panggilan dari ponsel milik Zahra, yang ternyata Vina menelponnya. Padahal baru saja pulang dari rumah Zahra, emang kerinduan sosok sahabat tidak bisaa di pungkiri.
Zahra mengeser tombol berwarna hijau dan segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum zah" ~Vina
"Wa'alaikumussalam, iya ada apa menelpon ku?"? ~Zahra
"Aku hanya merindukanmu saja, entah bagaimana aku merasa sedikit kesal karena mu" ~Vina
"Kesal dengan ku? " ~Zahra
"hemmm..." ~Vina
"Kau kenapa kesal dengan ku?" ~Zahra
Zahra sedikit kebingungan tentang ucapan sahabatnya itu.
"Karena kau cepat sekali menikah!! dan sekarang waktumu pasti hanya sebentar untuk bisa bersama ku. Ah... kau selalu saja membuatku rindu!!" teriak Vina.
"Maafkan aku Vin, aku juga masih tidak menyangka akan hal ini." ~Zahra
"Kau sungguh membuatku merasa kehilangan pelangi yang setiap saat mengingatkanku tentang untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak di sukai Allah SWT." ~Ucap Vina. Terdengar suara Vina sepertinya menangis.
"Huff...maafkan aku Vin, mengapa kau menangiss??!! hei...sudah lah Vin. Kalau gitu kau ke sini ajak aku pergi jalan-jalan. apa kau mau" ~Zahra
"Benarkah?? okai aku ingin jalan-jalan bersamamu. Tapi hanya kita berdua sajaa jangan mengajak suamimu!!! " ~Vina
"Hahah iya sudah aku tutup telponnya." ~Zahra
"Okai aku otw, Assalamualaikum." ~Vina
Zahra sudah mematikan panggilannya terlebih dulu. Faizal masih berada di dekat Zahra. Dan ia tidak terlalu mendengarkan apa yang mereka bahas tadi di telpon. Menurutnya Faizal tidak terlalu penting.
"Abang" Panggil Zahra. Faizal lalu melihatnya dia sangat tau, apa yang istrinya inginkan.
"Zahra mau jalan-jalan?" Tanya Faizal.
"Iya, Zahra sungguh bosan berada di ruangan ini. Dan Zahra izin sama Abang mau jalan berdua saja bersama Vina. Boleh yah bang?" Memohon Zahra dengan tingkah layaknya anak kecil.
Faizal masih sangat cemas akan keadaannya Zahra dan sempat menolak, tetapi Zahra tidak gentar terus memohon agar di izinkan oleh suaminya.
"Ya sudah pergilah." Kata Faizal sedikit kesal dengan istrinya.
"Abang tidak marah kan?" Tanya Zahra. Faizal tidak menjawabnya lalu ia segera keluar dari kamar. Zahra kaget melihat Faizal seperti kesal dengannya. Dan dia jadi merasa bersalah. Zahra cepat menelpon Vina agar mereka menunda jalan-jalannya itu.
Tut.... tut...
"Assalamu'alaikum ada apa Zahra, ini aku udah siap-siap tinggal jalan ke rumah mu aja." ~Vina
"Vina...maafkan aku, aku tadi izin dengan Faizal bahwa aku ingin berjalan-jalan denganmu. Tetapi dia tetap melarangku karena masih cemas dengan keadaanku yang sempat pingsan tadi. Akhirnya dia langsung pergi meninggalkan aku dari kamar. Aku merasa bersalah. Lain kali saja boleh kita jalan-jalannya?" ~Zahra lirih.
"Apaa??Kau tadi pingsan? kalau begitu pantas saja Ka Faizal tidak mengizinkan kamu. Ya sudah tidak papa. Kau harus istirahat yaaa. Iya kita lainkali saja perginya." ~Vina
"Alhamdulillah terimakasih Vina kau sudah mengerti dengan keadaanku sekarang. Ya sudah aku tutup telponnya yah Assalamu'alaikum Vin" ~Zahra
""Wa'alaikumsalam" ~Vina. Zahra lebih dulu mematikannya.
Zahra langsung keluar menemui Faizal yang tengah menonton Tv di ruang tamu. Ia masih sedikit kesal. Tak lama kemudian Zahra datang dengan kepala menunduk karena takut melihat suaminya kesal.
"Abang maafkan Zahra...Zahra tidak jadi pergi. Zahra sudah memberitahu Vina tidak jadi jalan." Ucap Zahra menundudukan badanya di samping Faizal dengan menunduk. Faizal tetap saja tidak menjawab.
Tak lama kemudian Zahra menangis lalu mengatakan
" Abang tolong maafkan Zahra." Ucap Zahra terlihat ia tengah menghapuskan air matanya.
Faizal langsung melihat Zahra memohon sambil menangis. Tak segan-segan Faizal lalu memeluknya, karena memang Faizal tidak ingin melihat wanita yang ia sayang menangis karena perbuatannya.
"Jangan menangis. Abang minta maaf jita tadi tidak menghiraukan Zahra" ucap Faizal. Mengeratkan pelukannya. Zahra akhirnya legah dan membalas pelukan suaminya.
"Seharusnya aku tidak mendiamkannya seperti ini." Gumam Faizal dalam hati.