
Salah satu hal yang tidak boleh berlebihan adalah berharap pada manusia. Ya, beginilah Giska sekarang. Entah Giska yang bodoh atau Christ yang terlalu pintar hingga dia lagi-lagi terjebak dalam lubang yang sama.
Beberapa saat lalu Giska mengira jika Christ akan merelakan diri bertukar tempat dan demi Giska agar dia merasa hangat. Nyatanya, ucapan tidak masalah yang Christ utarakan bukan tidak masalah tidur di sana, melainkan tidak masalah berbagi tempat tidur di kamarnya.
"Masih dingin? Aku bisa memelukmu jika mau," ucap Christ menawarkan diri dan berhasil membuat Giska mendelik tajam.
Sengaja dia tidur di tepian tempat tidur demi menjaga jarak. Sial sekali memang, ranjang yang kini mereka tiduri tidak begitu luas. Nyaman, dan memang hangat seperti yang Christ katakan.
"Jangan macam-macam, aku hanya ingin tidur, Christ."
Giska membelakangi pria itu segera, dia sudah telanjur di sini. Kembali ke kamar sebelumnya mungkin hanya akan menyiksa. Terpaksa dia menerima takdirnya bersama Christ yang kembali berada di tempat tidur.
"Kau tidur?"
Christ yang sudah berjanji tidak akan macam-macam turut membelakangi Giska. Meski sudah berhasil membuat Giska mencapai puncaknya, Christ sama sekali tidak memiliki pikiran untuk merusaknya.
Awalnya memang Christ penasaran pada tubuh Giska, tapi saat ini sama sekali tidak. Bukan mahkota Giska yang dia inginkan terutama. Karena jika hanya itu yang dia mau, ketika Giska kedinginan bukan susu yang Christ berikan, tapi wine atau sejenisnya yang sekiranya memabukan.
"Giska."
Untuk kedua kali Christ memanggilnya, tidak ada jawaban sama sekali dan dia juga tidak bergerak kala Christ menoleh. Masih dengan posisi yang sama, Giska meringkuk membelakangi dirinya.
Cukup lama Christ pandangi, hanya ada punggung Giska yang tertutup selimut. Hingga, beberapa detik setelahnya Christ dibuat terkejut dengan Giska yang tiba-tiba berbalik dengan mata yang kini membola.
"Belum tidur?"
"Ti-tidak bisa," jawab Giska kaku dengan wajah yang kini memerah, dia tidak bisa berbohong dan memang tidak bisa tertidur.
"Kenapa? Khawatir aku macam-macam?" tanya Christ tersenyum miring, cukup mudah menerka pikiran Giska yang begitu polos dalam menatapnya.
"Sedikit."
"Hahahah, picik sekali pikiranmu ... aku tidak akan selicik itu, ayo mendekatlah," ucap Christ yang membuat Giska menggeleng cepat, entah apa tujuannya jelas saja dia menerka ke hal yang tidak-tidak.
"Tidak mau."
Kembali ditolak, Christ dengan santainya mendendang selimut yang menutupi tubuh Giska. Seolah sengaja agar tubuhnya sedikit lebih dingin, kesempatan untuk dia bisa memeluk wanita itu tentu saja.
"Apa maksudmu?"
"Supaya adil, selimut kau pakai sendiri ... sekalian tidak dua-duanya."
Ada saja jawaban yang membuat Giska mengelus dada. Pria itu mengulas senyum tanpa dosa dan kembali lancang memeluknya tanpa aba-aba. Jika Giska boleh katakan, hanya Christ pria yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun sejak awal bertemu dirinya.
"Christ kau sudah berjanji."
"Hanya peluk, tidak akan lebih dari ini," ucapnya tak peduli dengan risihnya Giska yang mencoba menyingkirkan tangannya.
"Tapi aku belum memberimu izin."
"Kau saja menciumku tanpa izin, kenapa aku harus izin," ucapnya masih menjadikan hal itu sebagai senjata untuk melumpuhkan Giska.
"Sejak tadi aku penasaran, apa alasan kau menciumku tiba-tiba seperti tadi, Giska?" tanya Christ yang kini mendadak serius, dia menatap lekat manik indah Giska yang pasrah malam ini.
"Bukan apa-apa, ingin saj_"
"Apa Gavi alasannya? Kalian saling mengenal sepertinya ... ayo ceritakan padaku."
Christ adalah makhluk perasa, dia mampu membaca situasi dan mengerti makna tatapan seseorang. Bagaimana Giska kala Gavi dan Alana menghampiri mereka dapat Christ simpulkan dengan mudah, begitu juga sebaliknya.
"Hm? Katakan, dia mantan kekasihmu atau siapa?"
Susah payah Giska mengubur masa lalunya. Sial, dia justru dipertemukan dengan seorang pria yang rasa penasarannya melebihi wanita. Giska hendak mengalihkan tatapannya, tapi secepat itu Christ meraih dagunya.
"Penting bagimu?"
"Hm, penting ... aku ingin tahu masa lalu calon istriku."
Bermaksud membuat Christ kesal, Giska justru mendapat jawaban yang berhasil membuatnya bungkam. Akan tetapi, tunggu sebentar? Apa katanya? Calon istri? Percaya diri sekali manusia ini. Giska memutar bola matanya malas dan menganggap ucapan Christ sebagai bualan.
Sebenarnya Giska malas untuk membahas masalah ini. Namun, Christ yang terus menuntutnya untuk jujur membuat Giska terpaksa mengungkap masa lalu yang sudah dia buang ke kotak sampah itu.
Dia yang awalnya malas, kini justru terbawa suasana dan menunjukkan betapa sakit masa lalunya bersama Gavi. Selama ini mungkin dia benar-benar bungkam, bahkan orang tuanya saja dia tidak banyak bicara soal Gavi. Akan tetapi, setelah memulai bicara pada Christ, wanita itu bahkan tidak sadar jika dia mengungkit sampai ke akar-akarnya, termasuk pertemuan pertama mereka kala Gavi mengiranya bunuh diri.
.
.
"Jadi keparat itu menduakanmu? Wah benar-benar sial nasib Alana, sudah kukatakan jangan pernah kembali dengan pria itu masih saja."
"Anggap saja begitu," jawab Giska yang seakan kehabisan tenaga usai mengadukan semuanya pada pria gila ini. Hanya mengingatnya saja Giska lelah, apalagi jika sedang menjalaninya.
"Kau juga kenapa mau? Satu hal yang perlu kau ketahui ... jangan pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya," ucap Christ seraya menyeka air mata Giska yang memang membasah pada akhirnya.
"Lalu kau sendiri bagaimana? Bukankah tidak ada bedanya dari Gavi? Bahkan lebih mungkin," kesal Giska yang tiba-tiba mengingat cincin di jadi manis Christ yang dia duga sebagai cincin pertunangan atau bahkan pernikahan.
"Sama apanya?"
"Cincinmu sudah menjelaskan semuanya, bisa jadi kau suami atau kekasih dari wanita lain seperti Gavi dahulu ... jadi tolong berhenti memanggilku calon istri," tegas Giska yang kini meraih bantal untuk menutupi wajahnya.
"Hahah lalu maunya dipanggil apa? Istri?"
"Diam!!" bentak Giska menepuk keningnya asal dan nyata tepat sasaran.
"Mommy-nya anak-anak?"
.
.
- To Be Continue -