Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 29 - Janji Setia


"Dasar licik, kau hanya menginginkan bakpao imutku ini, 'kan?" selidik Giska yang kemudian membuat Christ menarik sudut bibirnya tipis. Kecurigaan Giska masih saja lari ke arah sana, tapi tidak mengapa karena memang tidak salah sepenuhnya.


"Oho tentu saja, kau pikir apa lagi," jawab Christ dengan senyum hangat seraya mengelus rambutnya penuh kelembutan.


Sukses sekali, sikap mereka begitu halus bahkan sama sekali tidak tercium jika hingga saat ini baik Christ maupun Giska sebenarnya tidak semanis kelihatannya. Senyum manis Giska benar-benar berhasil menutupi kuku tajam yang dia gunakan untuk mencubit leher Christ kala dia mengalungkan tangannya.


"Sakit, Giska."


"Kita terlihat manis begini, bukankah Mommy suka kita begini? Tersenyumlah ke arah kamera, orang tuamu harus tahu kau bahagia."


Meski bagi Giska hal semacam ini seolah sandiwara dan ajang untuk membalas sakitnya pda Gavi, tapi bagi Christ tidak sama sekali. Pernikahan ini bukan main-main, dia tidak pernah bercanda pada Giska sejak awal.


Tanpa Giska jelaskan, Christ sangat paham isi hatinya. Namun, untuk saat ini Christ tidak peduli wanita itu mencintainya atau tidak, karena sejak awal dia katakan sama seklai tidak memaksa harus dicintai sekarang.


"Teruslah tersenyum seperti itu, Giska ... aku pastikan tidak akan ada lagi air mata yang menetes setelah kau bersamaku."


Christ membatin, menatap lekat Giska yang kini tampak menampilkan senyumnya tanpa henti. Apapun akan dia lakukan, sekalipun hanya dijadikan alat untuk balas dendam, Christ akan tetap mencintainya hingga akhir.


.


.


Senyum keduanya tidak lepas dari pandangan Keny. Sepanjang pesta pernikahan, dia berkali-kali mengusap air mata di pelupuk mata lantaran tidak mengira sang putri akan menemukan sosok Christ yang benar-benar menerimanya.


Sungguh, sama sekali dia tidak menduga setelah sekian lama akhirnya bisa membanggakan Giska di hadapan kedua sahabatnya. Tanpa peduli bagaimana Keyvan dan Justin yang kesal luar biasa akibat baru dikabari beberapa jam sebelum pesta dimulai.


Hanya karena dadakan, semua memang cukup mengejutkan bahkan pesta tersebut dirayakan di hotel keluarga Wilbert yang dikenal sebagai hotel terbaik di kotanya dengan persiapan yang cukup singkat. Bukan bermaksud sombong, tapi Keny terus membanggakan menantunya di hadapan Justin.


“Itu menantuku, bagaimana? Aga lewat, ‘kan?”


“Pret, kenapa kau jadi membanding-bandingkannya dengan putraku?” tanya Justin lama-lama kesal sendiri lantaran Keny terus saja mengatakan hal yang sama, padahal Renaga sama sekali tidak mengusiknya.


“Si Keny memang dasar aneh, harusnya kau bandingkan dengan dokter bodoh itu ... siapa namanya, Just?"


"Giovani?"


"Bukan, Giovani beda lagi."


"Ah si Gavi?"


"Nah iya benar si Gavi, itu baru benar, Ken," ujar Evan yang turut serta membela lantaran tidak suka Keny seakan tengah balas dendam pada Renaga hanya karena tidak menerima Giska.


"Oh iya? Lebih cantik dari istrimu?"


"Hm kalau secara fisik aku akui, blasteran, rambutnya panjang dan matanya cantik sekali ... sepertinya dia wanita yang sabar."


Jujur sekali jawabannya, tapi entah kenapa Justin justru seakan tidak tertarik begitu juga dengan Evan. Beberapa kali Evan mengalihkan pembicaraan, tapi Keny masih terus membahas wanita yang tadi Gavi perkenalkan padanya sebagai istri.


"Kalian kenapa diam saja? Aku sedang bicara, bisa sopan sed_"


Tunggu, mata Keny tampak menangkap wajah seseorang yang dia kenali berada di belakangnya. Wanita bergaun merah yang sudah berusaha berdandan secantik mungkin di pesta prnikahan putrinya, dialah Sonya Augita.


"Sa ... sayang?"


Keny tersenyum kikuk kala menoleh dan memastikan jika yang dia lihat bukan hantu, melainkan istrinya. Sonya sangat nyata dan tatapan menghunus bak pedang samurai tertuju pada Keny saat ini.


"Sejak kapan kamu di situ?"


"Kira-kira satu abad yang lalu mungkin," jawab Sonya tidak lagi pada makna yang sebenarnya, dia menghela napas kasar sebelum kemudian menginjak kaki Keny dengan sepatunya.


"Dasar mata keranjang, kau lupa umurmu atau bagaimana?"


"Astaga, aku tidak bermaksud apa-ap_"


"Sepertinya aku harus meminta uang lebih pada Christ setelah ini."


Kemarahannya tidak separah dugaan, mungkin karena sedikit terhibur karena status sosial Christ yang merupakan konglomerat. Sonya merapikan kembali gaunnya, wanita itu terlihat lebih jinak di mata Keny.


"Untuk apa? Apa uang dariku belum cukup?"


"Sepertinya aku harus mempercantik diriku ... ah bahagianya punya menantu kaya," ucapnya berlalu meninggalkan Keny dan kembali menyapa para tamu undangan lainnya.


"Dasar matre," umpat Keny menggeleng pelan melihat sang istri yang memang akan begitu jinak jika didekap harta dan kekuasaan dalam hidupnya.


.


.


- To Be Continue -