Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 07 - Kau Menghinaku?


"Setidaknya kau membayar pelukanku, Nona."


Sebuah kalimat yang membuat citra seorang Christ benar-benar tidak lebih dari pria bayaran di mata Giska. Bak seseorang yang tertipu belanjan online, Giska terpaksa membayar walau dia tidak menginginkan hal itu.


Sialnya, dompet Giska tampaknya tertinggal di dalam tas saat ini. Dia yang masih berusaha tenang susah payah merogoh sakunya demi bisa membayar pelukan Christ malam itu.


"Mampush!! Tinggal segini?"


Betapa terkejutnya Giska kala menyadari di sakunya juga krisis dan hanya menemukan selembar uang kertas yang jumlahnya tidak seberapa. Bahkan bayaran pria panggilan di Indonesia saja lebih dari itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan uang itu pada Christ.


"What? Are you fucking kidding me? Hei ... kau gila?"


Christ memijat pelipisnya begitu melihat uang yang Giska berikan. Mimpi apa dia semalam hingga keesokan harinya dipertemukan dengan wanita sejenis Giska hanya menghargainya lima euro untuk semua hal yang telah dia berikan.


"Jangan menolak, kau butuh uang, 'kan? Lagi pula kita tidak punya kesepakatan tentang harga, terima saja apa masalahnya?" Giska meraih tangan Christ agar pria itu tidak bisa menolak lagi.


"Oh my god, Mommy!! Five euro?"


"Kau menghinaku?"


"Astaga, aku sudah membayarmu ... kita sama-sama tidur, kau tidak keluar tenaga banyak untuk itu. Atau kalau tidak begini saja, bulan depan temui aku lagi dan aku akan bayar kekurangannya, sekaligus sewa hotel kemarin."


Christ menghela napas panjang, butuh beberapa waktu untuk berbicara lagi. Wanita yang dia duga akan pendiam, ternyata tidak sama sekali. Memang di awal pendiam, tapi sekalinya bicara berhasil membuat seorang pewaris keluarga Wilbert ini bungkam seketika.


"Baiklah, aku akan menagih janjimu ... sebelumnya boleh aku tanya sesuatu?"


Sebenarnya Christ ingin sekali marah. Jujur saja dia merasa terhina. Namun, dia merasa hal ini adalah salah-satu cara untuk tetap bisa berada di dekat Giska setelahnya. Tidak mengapa sekalipun dia dianggap hina, Christ lebih bahagia lagi karena wanita yang kini dia dekati tidak tahu identitasnya.


"Silahkan."


"Siapa namamu?"


"Giska," jawabnya lembut, mungkin sedikit lebih tenang karena Christ bisa dibuat diam dengan uang yang tidak seberapa itu.


"Lengkapnya?"


"Giska Anamary," jawab Giska lagi.


"Anamary? Cantik ... aku suka namamu."


Giska hanya tersenyum tipis, pujian semacam itu bukan kali pertama dia dengar. Padahal menurutnya biasa saja, sama sekali tidak ada keistimewaan di dalamnya.


"Ah iya, nomormu berapa."


Setelah berpikir semuanya sudah mereda, nyatanya Christ masih belum memberikan kesempatan untuk Giska pergi juga. Pria itu mengeluarkan ponsel yang cukup menggetarkna jiwa Giska.


"Gila ... besar juga penghasilannya sampai bisa beli HP itu. Kemungkinan besar dia simpanan janda kaya sih. Ya Tuhan aku jadi iri."


"Giska? Hei ... kau baik-baik saja?"


Christ membuyarkan lamunan Giska yang justru berpikir entah kemana. Terlalu jauh pasangka-nya hingga mengira jika Christ adalah simpanan janda kaya.


"Nomormu."


"Ah sebentar, untuk apa? Bukankah itu privasi?" Seorang Giska tidak sembarangan memberikan nomor ponselnya kepada sembarang orang, terlebih lagi jika sama sekali tidak dia kenal.


"Apa aku bisa percaya kau tidak lari? Hutangmu banyak padaku ... tarif satu malam bersamaku dan juga bayar hotel jadi 2700 euro."


Mata Giska membulat sempurna kala mendengar nominal yang keluar dari mulut Christ. Jika memang tarifnya satu malam sebesar itu, wajar saja mampu membeli ponsel terbaru semacam itu, pikir Giska semakin percaya jika Christ pria malam.


"Kau memerasku sekarang?"


"Tidak, ada kualitas ada harga ... kau lupa senyenyak apa tidur di pelukanku, Honey? Ah atau perlu kuperlihatkan bagaimana kau tidur malam itu? Hm?"


Giska mungkin bisa menghindari Christ dengan berbagai cara. Namun, satu hal yang Giska tidak tahu bahwa Christ tentu akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih gila lagi hanya demi mendapatkan apa yang dia mau.


"Sepertinya kau juga ingin tahu_"


"Bisa kau hapus? Aku akan membayarmu nanti."


"Nomormu dulu baru kuhapus."


"Fine!! Dengar baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi."


Setelah sebelumnya terlihat panik, kali ini dia kembali datar lagi. Christ benar-benar bingung dengan perubahan sikap Giska. Bahkan, ketika dia menyebutkan nomor ponselnya, Giska membuang pandangannya.


"Okay, nanti malam aku telepon ... jangan ditolak ya."


"Kita tidak sedekat itu, berhenti bersikap seolah kau spesial," tegas Giska yang semakin membuat Christ tertantang untuk meluluhkannya.


Terbiasa dengan wanita murahan yang rela memberikan segalanya tanpa usaha, kini Christ dihadapkan dengan wanita yang terang-terangan tidak suka padanya.


"Belum, bukan berarti tidak," gumam Christ tersenyum tipis dengan mata yang masih terus menatap lekat Giska di hadapannya.


Beberapa saat hanya ada kesunyian di antara mereka. Hingga, tanpa diduga perut Giska yang angkat bicara dan itu sukses membuat wajah Giska memerah.


"Lapar? Kau belum makan siang?"


"Sud_"


"Bohong, aku datang kau baru duduk di sana. Ayo makan bersamaku, bukankah pertemuan pertama harus mengesankan?"


"Aku harus pergi," tolak Giska sedikit berkhianat dari perutnya yang menjerit dan memang terkadang lupa diri.


"Iya nanti perginya, makan dulu." Sekali lagi, Christ menarik pergelangan tangannya untuk duduk. Kali ini sedikit lembut dan tidak sekasar sebelumnya. Sebuah pertemuan tidak terduga menurut Giska, tapi bagi Christ semua ini sudah terencana.


.


.


- To Be Continue -