
"Bodohnya Giska."
Fabian terdiam menatap Giska yang saat ini terlihat lebih tenang, tepatnya sangat-sangat tenang. Tidak ada Giska yang cerewet dan banyak mau, tidak juga hadir Giska yang memaksakan kehendak seperti sebelumnya.
20 tahun bersama, Tuhan mendekatkan mereka sedari kecil hingga dewasa. Fabian sudah percaya diri seakan manusia paling memahami sahabatnya, jerit tangis dan tawa Giska adalah hal yang mungkin tertangkap jelas di mata Fabian dan Zavia terutama.
Namun, yang Fabian duga salah besar. Mereka hanya mengetahui secuil tentang Giska. Yang dia ketahui, hati Giska terluka karena cinta sendiri. Akan tetapi, yang justru lebih menyakitkan lagi adalah fakta bahwa hati Giska memang benar-benar sakit, membengkak, jaringannya telah rusak dan bahkan mengalami peradangan.
"Sirosis hati."
Mendengarnya saja Fabian sudah bergetar. Jiwanya mendadak sakit, dan dada Fabian mendadak sempit. Terlebih lagi, ketika dia mendengar penjelasan Gavi yang juga sama-sama merasa dibohongi.
"Kenapa Anda memberikan pekerjaan semacam itu jika Anda tahu penyakitnya sejak lama?"
Mata Fabian menatap tajam Gavi yang kini terdiam. Mengetahui jika dia mengingkari janji dan berbohong tentang keadaannya, Gavi benar-benar merasa pria paling bodoh di dunia.
Andai dia tahu bahwa Giska akan segila itu, mungkin dia tidak akan menghubungi Dito untuk bisa menerima Giska. Setiap hari kerja, Gavi selalu memastikan keberadaan Giska jika sudah menjelang malam, dan wanita itu selalu menjawab sudah bersiap untuk tidur demi mengikuti anjuran Gavi untuk istirahat yang cukup.
"Saya hanya mengikuti keinginannya untuk hidup sebagai manusia normal, tapi bodohnya saya terlalu percaya pada temanmu," sesal Gavi sama gilanya.
Dia yang memang tidak selalu berada di tempat hanya bisa bertemu Giska beberapa kali di akhir pekan. Entah bagaimana Giska menyiapkan diri hingga Gavi sampai tertipu dan mengira jika memang Giska mengikuti anjurannya.
Dalam diamnya, pikiran Gavi melayang dan membuka lembaran memori kurang lebih satu bulan sebelum ini. Saat dimana Giska memohon untuk tetap dipandang seperti biasa tepat dimana Gavi mengetahui keadaannya.
Rumah sakit, beberapa waktu lalu.
Begitu sabar Gavi menantinya membuka mata. Setelah tadi malam dia menemukan Giska di minimarket dan sempat mengajaknya menyusuri ibu kota di malam hari, paginya Giska tumbang dan segera dilarikan ke rumah sakit.
Awalnya Gavi kira dia mabuk susu, tapi yang terjadi justru berbeda. Kenyataan pahit yang dia dengar membuat lutut Gavi bahkan lemas. Sama sekali tidak dia ketahui jika wanita itu merasakan sakit lebih dari yang dia bayangkan.
Namun, setelah membuka mata Gavi kembali dibuat tidak percaya karena wanita itu masih sama seperti semalam. Dia bahkan tampak lebih tegar dari Gavi sendiri. Untuk pertama kalinya, Giska menggenggam jemari Gavi seolah tengah menenangkannya.
"Saya baik-baik saja, Dok ... sungguh."
"Kau tahu kenapa kau di sini, Giska?"
"Pasti karena dia, jangan terlalu dipedulikan hatiku memang sedikit manja, Dokter." Giska menjawab seraya menyentuh bagian kiri perutnya.
Gavi menghela napas panjang, tampaknya wanita ini memang keras kepala dan tidak bisa diatur juga. Seakan sama sekali tidak merasakan sakit, Giska bahkan dengan santainya menagih janji Gavi.
"Dok, gimana? Saya bisa kerja di perusahaan itu, 'kan?" tanya Giska yang lagi-lagi membuat Gavi mengurut dada.
"Lupakan itu, keadaanmu begini bagaimana bisa bekerja?"
"Dokter sendiri yang bilang kemarin, kalau saya harus melihat dunia luar ... saya harus bisa mencintai diri sendiri, saya hanya ingin apa yang sudah saya dapatkan tidak sia-sia, Dok."
"Giska, hatimu ... maksudku penya_"
"Iya saya tahu, tapi bukankah dengan pola hidup sehat dan jiwa yang tenang suatu penyakit akan bisa sembuh? Selama ini saya baik-baik saja karena saya menjalani hidup dengan cukup baik, mungkin dengan saya bekerja sesuai bidang semua ini akan mampu saya lewati, benar, 'kan?"
Keras kepala, keras pula hatinya. Gavi memang hanya orang asing dan dia jelas tidak punya hak untuk melarang wanita ini. Yang dia bisa lakukan hanya melakukan tugas sesuai kewajibannya, itu saja.
"Andai orang tuamu tahu keadaanmu bagaimana?"
"Dokter tenang saja, sejak awal mereka sudah tahu kok ... saya rasa mereka akan lebih bahagia jika saya bisa hidup normal," ungkap Giska lagi dan membuat Gavi benar-benar bingung hendak bagaimana.
"Kau bisa menjamin hidupmu normal setelah mendapatkan pekerjaan itu?" tanya Gavi menatap lekat manik sendu yang benar-benar berharap akan Gavi turuti kemauannya.
"Bisa, saya sudah tidak pernah minum alkohol lagi dua tahun terakhir. Saya juga akan rutin olahraga, makan makanan yang sehat dan juga istirahat yang cukup."
"Dan kau menggantinya dengan susu?" tanya Gavi menggeleng pelan dan tengah meratapi betapa gilanya wanita ini.
"Iya, kira-kira begitu."
"Iya, saya janji akan lebih berhati-hati ... berikan saya pekerjaan itu, Dokter, saya mohon."
Masih begitu jelas, ingatan Gavi sangat tajam untuk mengenangnya. Wajah Giska yang kini pucat tidak berdaya membuat Gavi benar-benar ingin marah. Kehadirannya sebagai penolong untuk Giska hanya bualan, dia justru menghantarkan Giska ke jurang kematian tanpa dia sengaja.
"Keluarlah, Dok ... terima kasih penjelasannya, dan terima kasih juga sudah peduli Giska."
.
.
Selang beberapa setelah Gavi keluar, Fabian mendekatkan wajahnya kala melihat mata Giska perlahan terbuka. Sungguh, dia sangat yakin Giska sudah tersadar saat ini.
"Sudah bangun?" tanya Fabian dengan menyisakan jarak beberapa centi itu.
"Jangan dekat-dekat, Bian ... komedomu kelihatan," ucapnya pelan sedikit berbisik dan sontak membuat Fabian mengerutkan dahi.
"What? Komedo katamu?"
"Cih, kita dimana? Kenapa aku di sini lagi?" tanya Giska belum sadar sepenuhnya mungkin.
Dia mungkin akan merepotkan, Giska berusaha bangun dan Fabian sontak menahannya. "Mau kemana? Kamu sakit ... jangan banyak tingkah."
"Jangan berlebihan, aku mau pulang saja, besok ker_"
"Kerja? Aku sudah minta pak Dito memecatmu barusan, orang gila sepertimu memang seharusnya tidak diterima kerja. Ini yang kamu cari Giska? Kamu kira lucu begini?" tanya Fabian marah bahkan secara jelas meneteskan air mata.
Dia yang memang mudah tersentuh, jelas saja dibuat gila begitu mengetahui sahabatnya menyembunyikan hal sebesar ini dalam hidupnya. Dada Fabian naik turun, meski sudah berjanji tidak akan marah ketika Giska masih terpejam, demi Tuhan saat ini dia tidak bisa menahannya.
"Bian? Aku baru kerja satu bulan dan untuk mendapatkan posisi itu cukup sulit untukku yang tid_"
"Tidak apa? Tidak punya pengalaman? Kamu punya aku, punya Zavia dan bahkan Renaga yang katanya pemimpin perusahaan besar itu. Apa kurang relasi? Jangan membuatmu seakan sangat sulit, Kamu bukan anak orang biasa ... papamu kaya, kenapa kamu sangat menyebalkan, Giska."
"Bukan perkara itu, Bian, kamu tidak berada di posisiku jadi tidak akan tahu," lirih Giska ikut menangis lantaran mendengar amukan Fabian padanya.
Pria ini sama sekali tidak pernah marah, sekalipun dia menyebalkan luar biasa Fabian tidak pernah membentaknya. Kini, Giska bahkan tidak mampu memotong pembicaraannya melihat mata tajam Fabian.
"Kupikir kebodohanmu sudah berkurang, ternyata lebih bodoh lagi ... jika sudah begini mau bagaimana, Giska?" Fabian melemah, tersadar jika marah hanya membuat keadaan semakin buruk saja.
"Jangan berlebihan, Bian, aku begini karena kita kehujanan. Besok tidak lagi, percaya padaku."
"Terserah kamu saja, Gis ... nikmati sakitnya jika memang sudah biasa."
Sejenak keduanya terdiam, Giska butuh merenung begitupun dengannya. Akan tidak lucu jika Giska pingsan lagi setelah cekcok dengannya.
"Bian, bisa kamu berjanji satu hal?"
"Apa lagi?" ketus Fabian masih saja sebal melihat bagaimana keras kepalanya seorang Giska.
"Tentang ini, tolong jangan katakan pada siapapun ... terutama mereka berdua, cukup kamu yang tahu."
"Benar, 'kan memang gila, lalu keluargamu bagaimana?" tanya Fabian dengan suara yang kini naik satu okta, benar-benar tidak dapat dia percayai bahwa Giska ternyata semenyebalkan ini.
"Papa sudah tahu, mama juga begitupun adikku. Jangan khawatir, tolong ikuti permintaanku kali ini, Bian. Aku tidak pernah meminta apapun darimu, selain minta antar jemput," ungkap Giska benar-benar meminta bahkan menggenggam jemari Fabian begitu eratnya.
"Kita sejauh itu ternyata, Giska."
.
.
- To Be Continue -