Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 61 - Jangan Becanda


Hujan masih begitu betah mendera ibu kota. Musim hujan kali ini benar-benar tidak bersahabat, Fabian tidak ingin mengambil resiko hingga memilih berteduh sejenak. Sebenarnya bisa saja jika dia hanya sendiri, tapi kali ini dia bersama Giska di belakangnya.


"Kenapa berhenti? Hujan begini awet, Bian."


Giska mengeluh dan sedikit keberatan dengan Fabian yang justru berhenti di sini. Dia hanya ingin segera pulang dan berbaring di kamarnya, sungguh Giska merindukan dekapan selimut tebal dengan diapit kedua guling kesayangannya.


"Berapa lama awetnya? Tiga tahun?"


Giska bicara serius, tapi Fabian menjawabnya lebih serius lagi. Terpaksa, keduanya menunggu untuk waktu lama. Udara dingin menusuk kulitnya, padahal sudah menggunakan jaket tebal dan juga jas hujan yang seharusnya bisa melindungi tubuh Giska.


"Bian, dingin."


"Mau kupeluk? Lepas baju dulu tapi."


"Sinting, cuma bilang!! Siapa juga minta peluk," kesal Giska susah payah menahan untuk tidak menyebutkan hewan kesayangan Fabian.


"Lah? Aku juga cuma nanya, kalau mau dipeluk ya lepas baju ... kalau kamu begitu yang ada makin dingin."


Keinginan Giska untuk bercanda benar-benar nol besar. Mungkin terlalu lelah dan mengantuk, benar kata Keny bahwa dia sangat menyiksa diri. Giska mendekat, duduk di sisi Fabian yang kini menatapnya curiga.


"Jangan macem-macem, kita digrebek warga gimana?" bisik Fabian sengaja mendorong Giska agar menjauh, padahal dia sendiri bisa bergeser karena tempat duduk itu masih cukup luas.


"Sebentar saja, kepalaku sakit."


Bukan kali pertama, sejak dahulu memang Giska sudah terbiasa meminjam bahu Fabian untuk bersandar di saat lelahnya. Kali ini tidak hanya lelah, hujan yang sedikit menyiksa tubuhnya membuat Giska sakit kepala.


"Baiklah, karena kamu sahabatku boleh deh."


Fabian memberikan waktu untuk wanita itu merasakan kenyamanan. Hening, keduanya kini diam dan hanya suara hujan yang menelisik pendengaran. Tidak ada candaan, tidak ada gelak tawa dan memang Giska mungkin sangat amat lelah.


"Giska."


"Hm," sahut Giska pelan sekali, bahkan hampir berbisik tapi Fabian tetap mampu mendengarnya.


"Kenapa tidak jujur saja?"


"Soal?" tanya Giska mendongak dan menatap wajah Fabian yang juga sedang menatapnya.


"Desain rumah itu, kamu dengar sendiri bagaimana kak Aga yang meremehkanmu ... katakan saja, Gis," ujar Fabian bingung sendiri kenapa sahabatnya ini memilih diam akhir-akhir ini.


"Untuk apa? Kalau dia tahu mungkin akan dia rombak semuanya, kamu tahu sendiri seberapa muaknya Renaga padaku."


"Tapi kamu dengar sendiri dia bahkan mengagumi seseorang di balik itu. Kita tahu gimana Renaga kalau sudah menyukai sesuatu, pikiranmu terlalu buruk, Giska."


"Sudahlah, lagi pula aku melakukannya atas perintah atasanku, bukan cuma-cuma untuk mereka," jawab Giska kembali menunduk dan tetap bersandar di bahu Fabian.


Kesal, marah dan keinginan untuk menggantung Giska muncul seketika. Sejak dahulu Giska selalu begini, menunjukkan semua kebodohan demi perhatian Renaga yang pada akhirnya membuat pandangan Renaga padanya tidak berubah hingga dewasa.


"Nyindir ya, Bi?" tanya Giska tertawa pelan, ucapan Fabian benar-benar tepat mengenai ulu hatinya.


"Bagus kalau sadar, hidup kamu tu selalu salah kaprah, Giska."


"Hm, salah semua ... bahkan aku lahir saja adalah sebuah kesalahan, benar begitu?"


Giska bergetar, fakta jika dirinya adalah anak yang tumbuh di rahim Sonya sebelum menikah sudah cukup menyakitkan baginya. Ditambah dengan penegasan Fabian yang mengatakan hidupnya selalu salah kaprah.


Mencintai Renaga juga adalah sebuah kesalahan, mengungkapkan amarah pada Zavia juga kesalahan. Yah, semua yang terjadi dalam hidup Giska tidak pernah ada benarnya, dia sangat sadar akan hal itu.


"Bukan begitu, aku hanya kesal saja ... lebih dari sebulan, berapa kali kamu mengulangnya demi client kampret itu, dan bisa-bisanya dia bilang Giska harus belajar dari dia."


Fabian mengomel dan mendadak ingin merobek bibir Renaga. Andai Zavia mengetahui yang terjadi sesungguhnya, sudah pasti akan melakukan hal yang sama bahkan menghukum Renaga dengan cara yang lebih sadis lagi.


"Huft, melelahkan sekali ... bisa-bisanya kalian berdua jatuh cinta pada pohon kapuk itu, berduri makanya nyakitin."


Kekesalanannya berlanjut, meski tidak mendapat jawaban dari Giska, Fabian tetap melontarkan umpatan lantaran memang sekesal itu pada sosok Renaga.


"Gis, kamu dengar aku?"


"Giska?"


Sama sekali dia tidak menyadari jika sejak tadi hanya bicara sendirian. Giska terdiam, dia yang semakin menunduk membuat Fabian merasa ada yang tidak beres.


"Tidur lagi, jangan becanda ... siapa yang mengizinkanmu tidur di sini," ucap Fabian seraya menggoyangkan bahunya.


Hingga, firasatnya semakin tidak baik kala Giska tidak juga memberikan responnya. Fabian meraih dagu Giska demi bisa menatap wajah wanita itu dengan jelas.


"Gi ... Gis? Astaga, Giska?!!"


Lidah Fabian terasa kaku, jemarinya bergetar dan napasnya mendadak tercekat kala melihat darah segar mengalir dari hidung hingga membasahi bibirnya.


"Giska jangan becanda," lirih Fabian menepikan rambutnya, bibir yang sejak tadi pucat, tampak semakin pucat bahkan membiru.


Dia kedinginan, kedua telapak tangannya begitu kaku. Fabian tidak mungkin membawa Giska dengan menggunakan motor ke rumah sakit. Pikiran Fabian yang kini kacau balau membuatnya menghentikan mobil yang kebetulan melintas di sana tanpa pikir panjang.


.


.


- To Be Continue -