
Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang kamu jalani.
Beberapa tahun lalu, seseorang berhati malaikat datang pada Giska. Mengulurkan tangan halusnya untuk merangkul tubuh Giska yang lemah, menyeka air mata dan menjadi penenang dikala gundah. Sayangnya, sosok itu hanya menjadi sebuah luka pada akhirnya. Luka yang membuat Giska terjebak masa lalu, hingga sesulit itu untuk percaya.
Ketakutan akan dikecewakan kali kedua menghantui Giska setiap waktu. Bahkan tepat di hari pernikahannya, Giska masih merasakan hal yang sama.
Sekalipun, Christ telah mengutarakan janji setia di hadapan Tuhan, Giska masih menatap Christ dengan sejuta keraguan. Ya, saat ini dia resmi menjadi istri konglomerat yang kemungkinan besar akan mengubah jalan hidup Giska nantinya.
Pernikahan Giska adalah sesuatu yang bukan hanya dinanti orang tuanya, tapi juga teman-temannya. Meski tidak memungkinkan mereka untuk hadir, tapi begitu banyak harapan baik yang Zavia panjatkan tentangnya.
Begitupun dengan Renaga yang pada akhirnya bisa bicara pada Giska dengan senyum teduhnya. Ya, satu hal yang membuat Giska bingung semalam. Sikap Renaga yang mendadak hangat setelah dia mengatakan jika besok pagi akan menikah.
“Aku akan menciummu setelah ini,” bisik Christ menatap lekat Giska yang hanya berjarak beberapa centi di hadapannya.
Meski tahu di mata indah Giska belum ada dirinya sebagai cinta, tapi pria itu yakin bahwa pilihannya tidak pernah salah. Christ mengerti bagaimana luka Giska di masa lalu, sementara dia sendiri telah memilih Giska sebagai obat atas luka yang ditorehkan takdir dalam jiwanya.
First kiss katanya, tapi bagi mereka jelas bukan. Dihadiri beberapa tamu undangan, Christ melakukan ciuman manis pertama kali dengan statusnya sebagai suami. Meski tanpa kehadiran keluarga utamanya, tapi teman-teman Christ sudah lebih dari cukup.
Berbicara tentang teman, Giska baru ingat jika Gavi juga turut hadir dalam pernikahannya. Sungguh, dia benar-benar baru mengingat jika Alana adalah salah-satu teman Christ yang turut diundang dalam pernikahan dadakan ini.
“Aku harus terlihat bahagia.”
Sekalipun tanpa kehadiran keluarga dari pihaknya, tapi Christ sama sekali tidak main-main dalam memperistri seorang Giska Anamary. Sebuah pesta yang dihadiri para kolega dan rekan bisnis kelas atas ini berhasil membuat Giska merasa berharga di mata pria. Tanpa Giska minta, Christ seolah sengaja memerlihatkan pada dunia jika dirinya sama sekali tidak layak dibuang.
“Aku mencintaimu, Giska," tutur lembut Christ terdengar kala dia mengakhiri ciuman manis di hari pernikahan itu.
Hanya senyuman, tanpa menjawab dengan untaian kata, Giska mengusap wajah tampan Christ dengan jemarinya. Untuk pertama kali dia keberatan dengan tangan Christ yang selalu melingkar di tangannya. Mungkin karena di depan umum, karena biasanya Giska tidak bisa bertahan lama karena memang geli sendiri.
Siapapun yang melihat tentu akan tersihir dan mengira jika dua insan itu memang saling mencintai, pasangan paling manis dan juga romantis. Tanpa mereka ketahui jika satu jam sebelum resmi menjadi pasangan, Giska sempat marah besar akibat Christ sengaja mengecup bibirnya di depan MUA dengan alasan latihan agar tidak gugup nantinya.
"Kau sudah jadi istriku, jadi tidak bisa menolak lagi, 'kan?"
"Dasar licik, kau hanya menginginkan bakpao imutku ini, 'kan?" selidik Giska yang kemudian membuat Christ menarik sudut bibirnya tipis. Kecurigaan Giska masih saja lari ke arah sana, tapi tidak mengapa karena memang tidak salah sepenuhnya.
.
.
- To Be Continue -