Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 56 - Kabar Baik


Zavia adalah definisi istri yang benar-benar menjaga aib suami. Hanya demi melindungi Renaga dari kemarahan Mikhail, Zavia tidak merasa keberatan meskipun setelah pernikahan tidak bisa kemana-mana lebih dulu. Mereka sama-sama menjalani peran Bagaimana mestinya.


Entah salah atau benar yang jelas Zavia percaya jika saat ini kebohongan adalah satu-satunya jalan tengah demi membuat semuanya baik-baik saja. Walau memang ada Keyvan yang melindungi mereka, Zavia tidak ingin membuat Mikhail murka lantaran Renaga mengingkari janjinya.


"Aku gugup," bisik Renaga mendekat ke arah istrinya.


"Tenang saja, bukankah dari kemarin-kemarin mereka juga sudah mengenalmu, Kak?"


Siapa yang menyangka jika seorang pria dengan setelan jas hitam yang senada dengan celananya ini mengalami demam panggung dalam acara penyambutan pemimpin perusahaan yang baru. Wajahnya memang tampak tenang saja, tapi sejak pagi tadi Renaga bahkan bolak-balik ke kamar kecil demi menenangkan jiwanya.


Justin tidak ingin terlalu lama, apalagi tujuan awalnya meminta Renaga pulang adalah untuk ini, bukan menikah. Siap atau tidak siap, Renaga harus menerima tanggung jawabnya. Sejak kecil Renaga selalu dididik untuk bertanggung jawab atas apa yang Justin percayakan di pundaknya.


Dalam hal ini Justin juga melibatkan kedua sahabatnya. Sekaligus pria itu mengenalkan Zavia sebagai menantunya, hal ini dia lakukan demi membuat semua karyawan terlebih yang perempuan agar lebih menjaga sikap.


Tidak hanya Justin, Renaga juga menginginkan hal yang sama. Tanpa sedikitpun dia tutup-tutupi, dalam sambutannya Renaga mengatakan dengan jelas jika mereka sudah menikah belum lama ini.


Kenny dan Sonya yang ikut hadir dalam acara ini tetap tersenyum di sela-sela tepukan tangan untuk Renaga. Sonya sama sekali tidak pernah salah dalam mengharapkan seseorang untuk menjadi pendamping putrinya. Namun, jika saingannya adalah seseorang yang Renaga cintai, maka Giska tidak akan pernah menjadi pemenangnya.


Seperti kesepakatan mereka bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak akan merubah hubungan yang ada. Walau Justin tahu memang jelas akan rumit, permasalahan hati tidak main-main tapi mereka sebagai orang tua tidak berhak ikut campur dan menjadikan anak-anak sebagai alasan untuk retak.


"Kau hebat, Om bangga padamu."


Setelah semua selesai, Keny mendekat dan menepuk pundak Renaga. Sama sekali tidak dia tutup-tutupi, Keny sangat bangga pada Renaga walau sejak kecil selalu menjadi musuh bebuyutannya.


"Thanks, Om," ucap Renaga baik-baik seraya mengulas senyum hangat pada pria itu.


"Nah akur begitu kan enak, coba dari dulu kalian begini," sahut Justin dari jarak beberapa meter, tapi dapat terdengar jelas di telinga Renaga.


Sejak kecil, bahkan sejak awal Renaga hadir sebagai putra Justin, Keny adalah seseorang yang begitu setia menguji kesabaran Renaga hingga dia remaja.


"Dari dulu memang akur, memang beginilah cara kami menunjukkan kasih sayang," tutur Keny yang membuat Renaga hanya tertawa sumbang.


"Oh ya? Giska bagaimana, Om? Apa sudah pulang?"


Untuk pertama kalinya, Renaga mempertanyakan soal wanita itu. Sadar atau tidak mereka memang sedikit renggang sekalipun Justin mencoba untuk menjaga hubungan agar baik-baik saja.


"Giska? Ah dia baik-baik saja, hari ini tidak bisa ikut karena dia harus kerja," jawab Keny santai demi meyakinkan Renaga bahwa semua memang baik-baik saja.


"Kerja? Anak manja itu bisa kerja, Om?" tanya Renaga seakan tidak percaya dengan kesungguhan seorang Giska yang memang sejak dahulu meragukan di matanya.


"Bisa dong!! Kau meragukan putriku atau bagaimana? Jangan salah ya, walau Giska begitu rumah tetangga sebelah dia yang rancang."


Keny tengah membanggakan putrinya yang sedikit meragukan di mata Renaga. Walau memang dia juga sama ragunya, keputusan Giska untuk bekerja secara serius sedikit membuatnya bingung. Hendak bangga atau menganggap ini sebagai musibah karena bisa dipastikan jam tidur putrinya benar-benar sedikit.


"Oh ya? Keren dong!" Renaga benar-benar memuji untuk kali ini.


Tidak berselang lama, Zavia menghampiri Renaga setelah sebelumnya sempat ke kamar kecil. Dia yang sebelumnya sudah sempat menyapa Keny kini mengulanginya lagi.


"Aduh Zavia, semakin cantik saja si kecilnya Evan," puji Keny sejenak membuat Zavia curiga bahwa sebentar lagi pria itu akan menghancurkan mentalnya.


"Makasih, Om Ken."


"Om lihat-lihat kamu gendutan, padahal baru sebulan menikah sudah begini, kalau satu tahun mungkin jadi sapi laut ... Bahagia dong." Benar saja, sudah Zavia duga setelah memuji pria ini akan melontarkan kalimat yang lebih tajam dari sebilah belati.


"Efek baju, Om ... tubuhnya sama saja, tetap kecil seperti kemarin." Sadar jika ucapan Keny adalah cara jitu menghancurkan suasana hati wanita, Renaga segera memotong pembicaraannya.


"Dia cantik begini."


"Hm, cantik memang ... orang-orang bilang kalau istrinya lebih segar dan berat badannya bertambah itu artinya bahagia."


"Masa iya? Kalau bahagia diukur dengan postur tubuh, maka aku pasti sudah membesar seperti Opa," jawab Renaga tanpa sadar jika ucapan itu bisa saja membuatnya pindah alam jika sampai ke telinga Mikhail.


"Jiahahah cucu kurang ajar, dia dengar bahaya ... bisa-bisa tidak dapat warisan kau, Ga."


Renaga terbahak dengan sikap Keny yang benar-benar tidak berubah. Sejak mengenal Keny, ucapannya memang tidak jauh-jauh dari harta dan warisan, pikir Renaga.


"Ibaratnya, kan Om bilang kalau orang gendutan artinya bahagia. Sementara aku saat ini sangat-sangat bahagia, benar bukan?"


"Benar juga."


Secara tidak langsung Renaga menjelaskan bahwa memang dia sebahagia itu memiliki Zavia di hadapan Keny. Pria yang sejak lama mengharapkan dirinya sebagai pendamping hidup Giska. Tanpa niat apa-apa sebenarnya, ucapan Renaga spontan saja tanpa bisa dia menahannya.


.


.


Begini rasanya menjadi istri seorang pemimpin perusahaan. Sama saja sebenarnya, Zavia sudah terbiasa melihat hal semacam ini. Satu bulan pernikahan, ini adalah hari yang cukup bersejarah untuk Zavia kenang suatu saat nanti. Hari dimana Keny menyebutnya sapi laut, sama sekali tidak lucu.


"Tadi bahas apa sama om Ken?" tanya Zavia memecah keheningan di tengah fokusnya Renaga yang hingga kini masih menatap jauh ke depan.


"Tidak ada yang spesial, hanya ucapan selamat saja," jawab Renaga seadanya seraya menatapnya sekilas.


"Oh ... hanya itu?" Zavia berharap ada hal lain yang ingin dia dengar. Sedikit saja, tapi dia memang enggan untuk bicara.


"Iya hanya itu."


Baiklah, dia tidak akan bertanya. Khawatir jika pertanyaannya hanya merusak suasana hati Renaga nantinya. Zavia kembali mengalihkan pandangannya ke luar sana. Aneh sekali, padahal mereka sudah berjanji tidak asing, tapi hingga saat ini nomor ponsel Giska tetap tidak bisa dia hubungi.


"Giska sudah pulang, kata om Keny dia juga sudah kerja ... jangan khawatir," ujar Renaga tanpa ditanya, tidak hanya sebatas ucapan yang lembut, tapi dia juga mengusap pelan punggung tangan Zavia.


"Benarkah?! Kakak tidak bohong?!"


Zavia berbalik, dia mendekat bahkan Renaga sedikit terkejut dengan reaksi sang istri. Suaranya yang juga naik satu oktaf berhasil membuat jantung Renaga berdetak dua kali lebih cepat.


"Iya benar, untuk apa aku bohong?"


"Syukurlah, dia menepati janji kalau memang begitu," ucap Zavia kembali lebih tenang setelah sebelumnya bak kerasukan makhluk ghaib.


"Janji apa memangnya?" Renaga mengerutkan dahi, dia merasa banyak hal yang tidak dia ketahui dari kedua wanita itu.


"Janji kalau dia akan baik-baik saja," jawab Zavia yang sejenak membuat Renaga kembali menghela napas panjang.


"Manis sekali hubungan kalian, aku seperti merebutmu dari Giska," ucap Renaga tengah membuat drama di antara keduanya.


.


.


- To Be Continue -