
Hanya demi menghindari Mikhayla, Zavia pergi lebih dulu. Sayangnya, dia justru terjebak keadaan yang membuatnya harus kembali bersama Renaga pagi ini. Baru juga keluar rumah, Bastian mengatakan Zavia sudah ditunggu di depan.
Terpaksa, hendak menolak juga tidak mungkin. Tidak ingin semua menjadi masalah, wanita itu menerima tawaran Renaga meski sebenarnya dia malu. Apa yang Renaga ucapkan tadi malam kembali terbayang, sangat jelas ketika senyum pria itu terbit di wajahnya.
"Sudah sarapan?" tanya Renaga sebelum melajukan kendaraannya.
Pria itu tampak gagah dengan kemeja biru muda dan jas hitam yang membalut tubuhnya. Penampilan Renga sedikit berbeda pagi ini, kemungkinan besar dia mulai diminta terjun ke perusahaan sebagaimana yang Justin harapkan.
"Su-sudah."
Aneh sekali, padahal mereka kenal dari balita. Tapi saat ini Zavia merasa canggung dan sedikit aneh sekali, mungkin karena hubungan mereka sedikit berubah dan bukan sahabat lagi, terlebih untuk ke depannya.
"Kakak mau kemana? Bajunya begitu."
"Daddy minta aku ke perusahaan hari ini, sepertinya dia ingin pensiun," jawab Renaga setengah bercanda, meski sebenarnya memang seperti itu harapan Justin.
"Kenapa masih jemput aku, kalau nanti telat bagaimana?"
"Jemput calon istri apa salahnya, lagipula Daddy hanya ingin memperkenalkan aku saja, tidak lebih."
Dia selantang itu bicara, mungkin karena sudah mendapat lampu hijau dari Keyvan. Panggilan calon istri untuknya membuat Zavia merinding seketika, sungguh dia tidak pernah menduga akan berada di posisi ini.
"Semalam kamu ketiduran, pasti belum dengar pertanyaanku ... iya, 'kan?" selidik Renaga memandangi wajah Zavia yang tengah menunggu pertanyaan Renaga selesai.
"Hm, yang mana?"
"Ada, soal mahar ... apa kamu dengar?"
Tidak ingin malu seumur hidup, Zavia menggeleng dan memilih belum tahu sama sekali. Renaga sudah menduganya, dia hanya tersenyum simpul kala Zavia memberikan jawaban semacam itu.
"Kalau begitu katakan sekarang, mahar apa yang kamu inginkan?"
"Sebelum Kakak membahas itu, masih ingat apa yang aku katakan di kamar, 'kan? Aku harap, Kakak tidak mempertaruhkan keyakinan hanya demi tujuan hatinya, niat Kakak salah dan ibadah kita akan rusak, paham?"
Dia mengangguk, sama sekali tidak terlihat bersalah. Zavia menghela napas panjang, soal itu harusnya bisa dibahas nanti. Dia hanya takut Renaga melepas keyakinan dalam dirinya hanya demi cinta yang tidak akan abadi ini.
"Hm, aku tahu ... jawab saja pertanyaannya, Via."
"Semampunya, itupun kalau benar-benar terjadi."
"Semampunya? Baiklah, aku punya tabungan pribadi yang aku dapatkan dari hasil kerjaku di sana, kecil tidak masalah, 'kan?"
"Terserah Kakak saja."
Terserah, Zavia membuat mata Renaga terbuka jika dia memang seorang wanita biasa. Sadar jika terus Renaga perhatikan, Zavia merogoh ponselnya seakan pura-pura sibuk, padahal sama sekali tidak ada pesan masuk di sana.
"Nanti pulangnya aku jemput."
"Aku kasih tahu, bukan nanya."
Zavia menghela napas panjang, dia mengangguk pasrah dan berharap nanti malam Renaga punya kesibukan lain. Pria itu memandangi Zavia di detik-detik terakhir perpisahan mereka.
"Kamu kurusan ... perhatikan makannya, Via, jangan cuma peduli kesehatan orang lain saja."
Zavia mengerutkan dahi kala Renaga mengukur pergelangan tangan kirinya. Memang kurus, dia tidak menyalahkan Renaga yang mengatakan hal itu. Hanya saja, berat badan Zavia memang susah naik setelah dia masuk SMA hingga saat ini.
"Masuklah, jaga hati jangan lupa ... jangan terlalu dekat dengan laki-laki, kamu tidak tahu saja otak mereka bagaimana."
Lupa berkaca, Renaga menasihati Zavia tentang tabiat lelaki. Padahal, di antara lelaki yang mendekati Zavia, tidak ada yang selancang dirinya.
Usai Zavia berlalu, Renaga masih tetap di sana. Dia memantau calon istrinya itu masuk ke dalam tanpa gangguan kanan kiri. Namun, belum jauh Zavia berlalu, sosok dokter yang mengusiknya dari kemarin tiba-tiba menghampiri Zavia.
Jelas dia panas seketika, Renaga turun dari mobil dan mengeraskan rahang kala melihat Zavia menjawab pertanyaan Gavi dengan mengumbar senyum manisnya. Tanpa pikir panjang, Renaga menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan matanya.
"Sayang!!" pekik Renaga hingga membuat dua orang itu menoleh seketika.
Zavia dan Gavi saling menatap, tidak mungkin panggilan itu Renaga tujukan pada wanita lain, jelas untuk Zavia. Gavi mengangguk pelan kala Zavia memilih menghampiri Renaga dengan berlari kecil di sana.
Jangan ditanya malunya bagaimana, jelas saja dia merasa tengah dikuliti saat ini. Biasanya Fabian kerap melakukan hal semacam ini sewaktu SMA, tapi sama sekali Zavia tidak malu dan memasukkannya ke dalam hati.
"Ih apasih, teriak-teriak begitu?"
"Dasiku kurang rapi, tadi Mommy pasangnya buru-buru ... tolong rapikan sebentar, nanti Daddy malu."
Zavia ingin berteriak saat ini jujur saja, tetapi dia yang tidak ingin memperpanjang masalah hingga dia memilih mengalah. Hanya memperbaiki dasi, apa susahnya.
"Kapan kamu siap dinikahi, Zavia?"
Pertanyaaan spontan semacam itu lagi-lagi membuat Zavia bingung sendiri. Sejak kemarin Renaga tidak henti-hentinya membuat Zavia bingung sendiri.
"Jangan tanya aku, tergantung Kakak saja siap atau tidaknya."
"Kamu berserah diri? Nanti malam bagaimana? Selepas magrib atau Isya?" tanya Renaga semudah itu, semudah dia mengajak jalan-jalan.
"Becanda, begitu saja sudah pucat ... sudah masuklah, jangan dekat-dekat manusia itu," ucapnya sengaja meninggi dan mungkin saja terdengar oleh Gavi. Entah tengah menunjukkan bahwa Zavia adalah miliknya, atau memang Renaga yang sedikit gila pagi ini.
.
.
- To Be Continue -