Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 42 - Tidak Begitu Awalnya


"Ma!!"


Baru saja masuk Zavia semakin dibuat bingung lagi lantaran mendapat sambutan layaknya putri kerajaan. Sama seperti pakaian Bastian dan Rahman, mereka juga mengenakan batik yang sama.


"Sayang sudah pulang? Ayo ke kamar dulu."


Mikhayla menyambut tangan putrinya begitu lembut. Suara Zavia mendadak tercekat melihat keramaian di sini, tidak biasanya mereka mengadakan pengajian menjelang magrib begini.


Dia persis seseorang yang hilang arah, Zavia dilanda kebingungan dan panik dalam satu waktu. Wajahnya bahkan kembali pucat, dia melangkah melewati beberapa orang di sini dengan begitu hati-hati.


"Kepalanya belum sembuh total, mana bisa pakai siger begini ... jangan aneh-aneh kamu."


"Siger? Siger apaan?"


Belum apa-apa, Zavia sudah dibuat panik dengan perdebatan kedua tantenya yang berdebat di depan meja rias Zavia. "Kak Syila gimana sih, dia lebih cantik nanti ... pernikahan itu sekali seumur hidup, jadi jangan disia-siakan."


"Aduh Meera, seperti kata Papa kita cuma ambil sahnya saja ... lagipula Zavia tidak akan mau."


"Ini maksudnya apa sih? Aunty bahas apa?"


Kening Zavia berkerut seraya memandangi ketiga orang di kamar ini secara bergantian. Mikhayla sudah menyiapkan handuk, dan bahkan membantu zvaia melepas pakaiannya.


"Ma? Jelasin dulu ini ada apa? Kenapa rumha kita mendadak ramai dan kenapa juga di kamarku ada ginian?" tanya Zavia menunjuk gaun putih dengan memantulkan gemerlap cahaya digantung tepat di dekat meja belajarnya.


"Hm? Kenapa dia bingung, Kak? Bukannya sudah sepakat? Aga yang bilang sendiri, 'kan?"


Syila dan Ameera mendadak saling pandang, sedikit aneh jika Zavia pulang-pulang justru bertanya hal demikian. Namun, tragedi yang menimpa Zavia membuat mereka berpikir jika putri Mikhayla ini sedikit hilang ingatan hingga melupakan peristiwa penting yang akan dia jalani.


"Bilang apa? Kak aga tidak bilang apa-apa?"


"Astaga, selepas Isya kalian akad nikah, Via ... Renaga sendiri yang mengatakan kamu sudah iyakan, belum juga berumah tangga loh udah begini."


Telinga Zavia mendadak tertutup kapas sepertinya, dia bungkam seketika mendengar penjelasan Ameera. Apa tadi katanya? Akad nikah? Yang benar saja, selama di rumah sakit tidak sedikitpun Renaga mengatakan hal ini.


"Mungkin lupa, coba ingat-ingat lagi, Sayang," tutur Syila menenangkan Zavia yang kini bahkan kesulitan menghela napas.


"Aneh, sama sekali tidak ad_"


Tapi tunggu, Pikiran zvaia terbang kepada ingatan beberapa waktu lalu. Pembicaraan mereka di rumah sakit sebelum Zavia kecelakaan, pria itu memang mengatakan dua opsi kapan dia siap dinikahi.


"Ingat?"


"Ing-ingat, tapi seingatku tidak begitu maksudnya."


Sama sekali tidak pernah terpikirkan jika pertanyaan Renaga justru berakhir serius. Zavia tenggelam dalam kebingungan sembari menatap ke luar kamar. Renaga pasti ada di rumah ini, dia perlu bicara walau sebentar.


Sayangnya, belum sempat Zavia bergerak Mikhaila tiba-tiba menahan kepergiannya. "Waktumu tidak banyak, Zavia ... jangan membuat Opa semakin kecewa," tutur Mikhayla menekan kata demi katanya.


"Renaga!!"


Zavia meluapkan kekesalannya di kamar mandi, teriakan menggema itu mungkin terdengar sampai keluar. Sama sekali tidak Zavia duga jika Renaga akan bergerak secepat ini, tepatnya ini terlalu cepat. Memutuskan kehendak sendiri, tanpa persetujuan ataupun bertanya tentang pendapatnya lebih dulu.


Menikah? Yah, Zavia tahu lambat laun hal ini akan terjadi. Akan tetapi, tetap saja keputusan Renaga yang ternyata didukung penuh pihak keluarganya membuat pertanyaan muncul di benak Zavia.


Seperti yang dia ketahui bahwa Mikhail tidak semudah itu memberikan izin pada teman-teman Zavia sekalipun hanya teman belajar, kini pria itu menyetujui permintaan Renaga tanpa membuatnya terjebak dalam posisi sulit.


.


.


Pernikahan adalah hal paling serius dan tidak bisa ditawar, tapi tampaknya hal itu berbeda dengan Renaga yang selalu berhasil membuat Zavia seakan tengah bercanda.


Seperti yang Mikhail katakan, semuanya harus ikut. Ruangan yang sengaja dibuat demi kenyamanan Mikhail beribadah di hari tua itu sontak terisi penuh. Sengaja dibuat luas, pria itu sadar anak cucunya ramai jika sudah berkumpul.


Sama sekali tidak pernah Zavia bayangkan, hari ini akan menjadi makmum seorang Renaga yang tengah melantunkan ayat cinta dengan suara indahnya di depan sana.


Hati Zavia menghangat, tidak dapat dipungkiri pesona Renaga selalu berhasil membuat hatinya berkecamuk tak karuan. Dia kembali setelah lama pergi, membawa diri ke hadapan Zavia dengan versi terbaiknya.


"Calon suamimu, Zav."


"Diam, Tante ... masih doa."


Zavia kembali fokus menengadahkan kedua tangannya usai meminta Ameera menjauh darinya. Berbataskan tirai di antara mereka, Zavia benar-benar merasa dekat bersamanya.


"Bagaimana, Pak selesai Isya atau sekarang saja?"


Bukan main gugupnya Zavia kala mendengar ucapan seseorang yang tidak dia ketahui siapa. Zavia mendengar perdebatan kecil antara Evan dan Mikhail di sana. Jika dia pahami, dapat dipastikan siapa yang menginginkan pernikahan ini sebenarnya.


"Sekarang saja, sekalian, Ustadz."


"Tapi, Pa ... Renaga masih gugup, selepas Isya saja kasihan."


"Ya sudah terserah saja, Zavia sudah di sini?" Suara Mikhail terdengar menggema dan membuar Zavia terpejam sesaat.


"Sudah, Pa ... Zavia sudah siap." Mikhayla menjawab pertanyaan sang papa hingga membuat riuh terdengar dari para pria di depan sana.


"Ih Mama, siap apanya!!" desis Zavia tidak terima lantaran Mikhayla berhasil membuatnya malu setengah mati.


.


.


- To Be Continue -