
Tidak hanya Keny yang mempermasalahkan berat badan Zavia. Jika sudah di rumah, Mikhail juga sama. Sorot tajam pria itu sama sekali tidak membuat Zavia takut, melainkan sebal demi Tuhan.
"Opa kenapa sih?" tanya Zavia seraya mendengkus kesal dengan menatap wajah datar Mikhail.
"Gendut."
Singkat, padat, jelas dan sangat tepat sasaran hingga membuat Zavia mengembalikan puding susu yang baru saja dia ambil dari kulkas itu. Suasana hatinya sudah buruk, pulang-pulang semakin buruk hingga hidung Zavia kini berasap rasanya.
"Opa cuma bilang, kenapa marah?"
"Umur Opa sekarang berapa sih? Nabi Muhammad cuma 63 tahun loh," ucap Zavia santai melewati Mikhail yang kemudian kembali mengekor di belakang cucunya.
"Terus apa hubungannya?"
"Sekadar mengingatkan, lebih baik Opa ibadah daripada usil sama Zavia ... gendut juga tidak masalah, kata Mama ini gen, Mama juga gendut kok sekarang."
Sama-sama tidak mau kalah, dua insan beda generasi ini tengah perang batin. Salin menyerang dengan kalimat-kalimat yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
"Maksud kamu Opa sebentar lagi akan mati, Zavia?" tanya Mikhail kemudian mencubit wajahnya hingga memerah dan memang cukup menyakitkan.
"Bukannya begitu, aku cuma bilang kenapa Opa marah?"
Ajaran siapa cucunya jadi begini. Padahal, Mikhail hanya sedikit menyinggung soal berat badannya, tapi Zavia justru menyerang umurnya. Sungguh keterlaluan, jika bukan cucu, mungkin sudah Mikhail jahit mulutnya.
"Renaga mana? Tadi sudah pulang, 'kan?"
"Tidur siang, Opa jangan ganggu ... dia capek hari ini."
Cemburu sekali, setelah dahulu Mikhayla lebih peduli pada Keyvan. Kini, cucunya juga begitu. Sebegitunya dia melindungi Renaga, semakin hari Mikhail semakin merasakan perbedaannya.
"Capek? Memang dia kerja apa? Paling juga cuma duduk-duduk saja," ucap Mikhail nyatanya memang lebih sewot dibandingkan Mikhayla.
"Jadi Bos, kak Aga kerjanya pakai otak bukan otot ... tetap saja capek, Opa."
"Oh iya? Kamu lupa Opa siapa?Puluhan tahun lalu juga Opa sama seperti dia, jadi bos dan kerjanya memang duduk-duduk saja."
"Itu mah, Opa ... suamiku berbeda dan kerjanya tidak cuma duduk sambil nonton Dinosaurus," semprot Zavia kemudian tanpa sama sekali rasa takut menjulurkan lidahnya.
Terlampau kesal Mikhail sebut gendut setiap harinya, Zavia menggunakan kesempatan ini untuk membalaskan dendam pada Mikhail. Semakin lama semakin menjadi dan Zavia tidak sesabar sang papa dalam menghadapinya.
"Ya itukan hiburan, kalau lagi kerja Opa fokus dong."
Terserahlah, Zavia memilih diam hingga Mikhail hanya mengacak rambut Zavia pelan. Dia hanya terlalu sayang, Zavia juga termasuk harta berharga Mikhail di antara yang lainnya.
"Bekas luka kemarin mana?"
"Ada, udah sembuh, 'kan, Opa?"
Beberapa detik lalu mereka bertengkar layaknya anak kecil berebut permen. Dalam sekejap saja, keduanya berubah sehangat ini. Sungguh, benar-benar tidak dapat dipahami.
"Sudah, tapi rambutnya tidak bisa tumbuh lagi ya di sini?"
"Kasian, jadi begini kepalanya ... kenapa bisa lukanya di sini? Kenapa tidak di sebelah sini atau di sini begitu?" tanya Mikhail seraya menunjuk sisi kanan dan kiri kepala Zavia.
"Kepentok pinggiran trotoar, mana aku tahu, Opa ... aku pingsan waktu itu."
Mikhail hanya tertawa pelan mendengar ucapan cucunya. Semakin kesini, semakin jelas kesabarannya seluas apa. Perdebatan keduanya baru berakhir kala Zia ikut masuk dan meminta suaminya untuk segera pulang.
Entah terlalu bahagia karena memiliki cucu menantu atau kenapa, sejak Zavia menikah hampir setiap hari Mikhail berada di kediaman Mikhayla. Bahkan, Zia sampai menawarkan akan menyiapkan koper jika memang Mikhail ingin pindah untuk sementara waktu.
.
.
"Biasa saja, mata mereka pasti salah."
Zavia menatap pantulan tubuhnya di cermin. Memang tidak gendut, hanya saja sebelum menikah tubuhnya memang kurus. Hal itulah yang membuat setiap mata menatapnya berbeda, tapi Zavia sedikit tidak suka.
"Dia sedang apa?"
Sempat mengira jika dia tengah bermimpi, tapi tampaknya yang dia lihat di depan sana memang sang istri. Renaga menguap sebelum kemudian membuatnya tersadar.
Cukup lama dia tidur siang kali ini, sendirian dan tanpa sadar jika Zavia sama sekali tidak tidur seperti yang dia katakan. Beberapa menit dia tatap, istrinya baru tersadar kala tidak sengaja menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak tidur, Zavia?"
"Tidak bisa," jawabnya sebelum kemudian mendekati Renaga yang kini masih begitu betah terbaring di atas tempat tidur.
"Sayang kenapa?"
"Mau makan puding, tapi Opa gangguin."
"Oh iya? Terus gimana?" tanya Renaga kini mendekapnya erat, bukan pengaduan pertama dan memang kerap kali Zavia datang kepadanya dengan cara ini.
"Ya gagal ... kata Opa aku gendut, padahal timbanganku naik 2 kilo, entah kenapa mereka anggap aku sebesar itu."
"Tidak masalah, bukankah kata om Ken berat badan bertambah itu artinya bahagia?"
Jika ditanya teori itu benar atau tidak, tampaknya memang iya. Zavia akui memang dia merasakan kebahagiaan selepas menikah.
"Tapi kalau terus-terusan Opa gangguin begitu, mentalku bisa terganggu."
"Jangan bersedih, kamu tahu, 'kan kita tidak akan selamanya di sini ... tunggu sebentar lagi, aku akan minta pak Dito sedikit lebih cepat."
"Kalaupun pindah juga cuma di sebelah, apa bedanya," ucap Zavia menghela napas panjang, impian dalam benaknya untuk menjalani rumah tangga yang mandiri hanya sebatas angan belaka.
.
.
- To Be Continue -