Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 44 - Luka dan Rasa Bersalah


Hanya statusnya yang berubah, tapi kedekatan mereka tetap sama seperti kemarin. Justin bahkan masih mengusap rambutnya pelan ketika mereka pamit pulang, tentu saja menitipkan Renaga untuk sementara di kediaman Evan.


Gracia juga tampak menerima Zavia sepenuhnya, terlebih lagi dia adalah saksi yang sempat menangkap basah mereka. Semua memang tampak baik-baik saja, akan tetapi Giska yang tidak menunjukkan dirinya masih membuat Zavia tidak enak hati.


"Maaf, Om Ken ... Zavia menyakitinya."


"Tidak apa-apa, semua karena kesalahan Om yang mendoktrin Giska sejak kecil ... jangan bersedih, tidak ada yang menyakiti di sini. Tadi Giska sudah telepon, dia baik-baik saja cuma butuh waktu sendiri, jangan sedih, Zavia."


"Dimana?"


"Dia tidak bilang, tapi kamu percaya memang begitu cara Giska menenangkan diri, 'kan?"


Selepas akad dia tidak lagi menangis, kini mendengar Keny seserius ini. Mata Zavia kembali mengembun hingga secepat mungkin Keny menariknya dalam pelukan.


Hanya karena candaan bertahun-tahun, Keny membuat posisi anak-anak mereka sesulit ini. Jika saja dia tidak menanamkan dalam diri Giska bahwa Renaga adalah jodohnya, maka tentu tidak akan ada Giska yang terluka dan Zavia yang tersiksa dalam rasa bersalahnya.


Dalam waktu beberapa saat, dada Keny dibuat basah lantaran air mata Zavia. Kepala Keny mendadak sakit sepertinya, jika Zavia saja begini lantas bagaimana putrinya? Dada siapa yang akan dia jadikan tempat meluruhkan kesedihan.


"Ya Tuhan, kepalaku sakit sekali."


"Sudah, takdir memang begini, Zavia ... sukar ditebak," ucap Justin yang sejak tadi memandangi keduanya.


Sama sekali tidak pernah Justin bayangkan, jika Keny dan Zavia akan sesedih ini. Zavia yang dia kira tidak jauh berbeda dari Keny ketika dewasa, nyatanya berbalik arah. Wanita itu bahkan lebih serius dari Keyvan, tapi labilnya luar biasa menurut pendapat putranya.


"Sudah masuklah, kamu harus istirahat ... jaga kesehatanmu, Giska tidak selemah itu."


"Benar, putriku tidak selemah itu."


Keny membenarkan ucapan Justin, bukti jika dia kuat adalah nada bicaranya tadi sore. Sama sekali tidak terdengar bergetar, bisa dipastikan dia tidak sedang menangis.


"Sudah sana masuklah, lihat mata Aga sudah merah begitu," tutur Justin menunjuk Renaga dengan dagunya, kasihan sekali putranya yang sejak tadi terpaksa mendengarkan nasihat Mikhail yang tidak berkesudahan.


.


.


Zavia pamit undur diri, Renaga tampak sudah menunggunya dari jarak beberapa meter di sana. Justin benar, matanya memang sudah memerah. Wajar saja, dia bahkan hanya tidur beberapa jam saja selama menjaganya di rumah sakit.


"Sudah?"


"Nangis lagi, Om Keny bilang apa?" Renaga balik bertanya seraya menatap lekat wajah Zavia yang lagi-lagi sembab seakan sedih tak berkesudahan.


"Hm hanya bincang-bincang sedikit," jawab Zavia pelan dan hanya mendapat anggukan pelan dari Renaga. Bukannya tidak peduli, tapi Renaga hanya sedikit menghindari lantaran tahu kemana arah pembicaraan mereka jika benar-benar dia tanya.


Renaga mengekor di belakang Zavia, sindiran keras dari Azkara hanya dia anggap angin lalu. Memang dasar tidak paham keadaan, sudah tahu dia baru saja mendapat amarah berbalut wejangan dari tetua di rumah ini akibat ketahuan mencuri kecupan di bibir cucu kesayangannya.


"Jangan lupa video unboxing, Kak Aga!! Barang bisa direturn andai ada kerusakan," teriak Azkara di bawah tangga dan membuat sendal Mikhail melayang tepat di kepalanya.


Baguslah, Renaga tidak perlu susah payah membuatnya bungkam. Walau bisa dipastikan sendal duri-duri Mikhail pasti begitu menyakitkan mendarat di kepala Azkara, Renaga akan tetap tertawa di atas penderitaannya.


"Anak kecil sepertimu lebih baik tidur sana!! Lihat nilaimu itu jelek sekali, Prof Ayman bahkan menelpon Papamu karena kebiasaan burukmu, Azkara!!"


Hati Zavia sejenak lebih baik dengan kekacauan antara kedua pria berbeda usia itu. Walau jujur saja dia mengerti sindiran Azka, sebisa mungkin Zavia pura-pura tidak mendengarnya.


.


.


Namun, bayangan hanya sebatas bayangan belaka karena saat ini Renaga sudah menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya sedikit sakit hingga tidak butuh waktu lama, Renaga sudah diam tanpa kata.


"Hm? Tidur? Cepat sekali."


Keduanya sudah berganti pakaian sejak tadi, memang benar sudah waktunya tidur. Otak nakal Zavia tentang malam pertama sebenarnya tetap ada, hal ini adalah imbas dari bisikan ghaib dari Azkara dan Fabian selama Renaga dinasihati Mikhail beberapa saat lalu.


Pelan-pelan, dia naik ke atas tempat tidur lantaran khawatir Renaga terganggu. Melihat Renaga yang kini tertidur dengan lengan menutupi matanya, bisa dipastikan pria itu dalam keadaan yang benar-benar lelah.


Tanpa diminta, naluri Zavia terpanggil untuk menarik selimut hingga dada sang suami. Suami? Iya, benar adanya Renaga adalah suaminya saat ini.


"Huft selamat."


Baru saja beberapa detik dia merebahkan tubuhnya di sisi Renaga, wanita itu kembali dibuat terkejut lantaran Renaga mendekapnya tanpa aba-aba. Zavia yakin pria itu masih terpejam, tapi kenapa gerakan tangannya berkata lain.


"Sayang lampunya," bisik Renaga pelan dengan mata sendu yang dia paksakan terbuka saat ini.


"Kenapa? Tidak suka terang?" tanya Zavia yang menduga jika Renaga sedikit tidak nyaman dengan lampu yang dihidupkan ketika tidur.


"Kamu nyamannya gimana? Menurut artiket remang-remang sih bagusnya," jawab Renaga terkekeh pelan dengan tatapan tak terbaca hingga membuat Zavia menelan salivanya pahit.


"Gelap," jawab Zavia asal dan mencoba menghindari tatapan Renaga yang sedikit membuatnya takut.


"Gelap? Apa enaknya kalau hitam semua, minimal kelihatan ekspresinya."


Pembicaraan Renaga semakin mencurigakan, Zavia mendongak dan menatap langit-langit kamar sebagai pelariannya. Pura-pura tidak mengerti meski tahu betul arah pembicaraan Renaga pasti menuju ke Barcelona.


"Becanda, kepalaku masih sakit ... boleh tolong matikan lampunya, Sayang? Aku tidak bisa tidur nanti."


"Sakit? Kenapa bisa sakit? Kurang tidur selama jaga aku ya?" tanya Zavia menatapnya lekat seraya berpikir jika pria ini memang lelah karenanya.


"Bukan, sakit saja ... ayo cepat tidur, kepalaku makin sakit nanti."


Zavia mengerutkan dahi. Entah kepala Renaga sakit karena apa, karena jika dilihat dari luar seharusnya kepala Zavia yang sakit, bukan kepala Aga.


"Kak serius, sakit yang gimana? Jangan ditahan, aku ambil obat ya?" tanya Zavia tanpa sadar menyentuh kening Renaga demi memastikan suhu tubuhnya.


"Tidak mau."


"Pijat mau?" tawar Zavia sekali lagi, beberapa kali dia melihat obat paling ampuh Evan jika sakit kepala adalah dipijat oleh sang mama.


"Apalagi itu!! Zavia tolonglah, cepat tidur ... kepalaku semakin sakit nanti."


"Aneh, harusnya aku yang sakit kepala kenapa jadi dia?"


.


.


- To Be Continue -


Yang nunggu Giska, bentar ya ... setelah ini❣️