
Berbeda halnya dengan Zavia yang mendadak dihalau sang papa, Renaga justru sebaliknya. Pria itu tidak memiliki keberanian untuk pulang dan memilih duduk di tepi jalan. Ucapan Zavia jika Evan mungkin saja melihat mereka di CCTV membuat pikiran Renaga terlampau jauh.
Jika benar Evan tahu, maka sudah tentu Justin demikian. Dia yang mengetahui bagaimana sayangnya Justin pada Zavia, jelas saja khawatir menjadi amukan Justin akibat lancang mencuri ciuman seperti tadi.
"Huft, menyesal, Kak?"
Jantung Renaga hampir saja berhenti berdetak akibat Fabian yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Sejak dahulu kelakukannya tidak pernah berubah, datang tak dijemput pulang tak diantar.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Renaga seraya berdecak kesal lantaran pria ini benar-benar menyebalkan di matanya.
"Baru saja, Kakak kenapa? Ingat Giska ya?" tebak Fabian asal, padahal jelas saja tidak mungkin seorang Aga memiliki rasa bersalah pada Giska.
"Ngaco," jawab Renaga singkat kemudian menghela napas panjang.
Fabian tertawa sumbang kemudian mengambil posisi duduk persis di sisi Renaga. Sengaja sedekat itu, hampir tidak berjarak hingga Renaga sendiri yang bergeser.
"Lucu ya, susah payah berjuang ... tapi dia malah suka sama yang diam."
"Hm? Maksudmu?" Renaga mengerutkan dahi dan merasa sedikit tersentil dengan ucapan Fabian.
"Tidak, temanku tadi cerita ... kisahnya begitu," jawab Fabian menegak cola dingin yang tinggal setengah itu.
"Temanmu siapa? Giska?"
"Hadeuh, di dunia ini yang punya kisah seperti itu bukan hanya Giska, Kak, tapi banyak ... aku contohnya." Fabian menatap Renaga dengan tatapan tak terbaca hingga pria itu mengerjapkan matanya.
"Becanda, santai aja matanya."
Fabian kembali terkekeh dan menganggap hal ini benar-benar lucu. Dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengubur rasa itu, seharusnya Fabian tidak kembali merana hanya melihat Giska.
"Kau tidak sedang bercanda, katakan apa maksudmu?" tanya Renaga menatap Fabian serius.
"Hari ini, Giska menangis cukup lama ... dia patah hati, tapi aku juga ikut patah dan seperti melihat ke masa lalu. Aku pernah di posisinya, memaksakan diri untuk lupa setelah berusaha bertahun-tahun, tapi ya kembali lagi cinta tidak bisa dipaksa."
"Menyedihkan, kenapa tidak dikejar ... bukankah katamu yang namanya cinta harus dikejar?" tanya Renaga mendadak penasaran dengan kisah Fabian, dia bahkan lupa dengan ketakutan yang mencekamnya sampai tidak berani pulang begini.
"Berlari sendirian itu melelahkan, Kak. Empat tahun kucoba, tapi percuma."
"Aw ... adikku yang tampan ini tidak berhasil meluluhkan gadis ternyata?" Renaga sejenak iba, tapi kisahnya sendiri tidak jauh berbeda, bahkan lebih menyedihkan lagi.
"Hm, sainganku terlalu berat sepertinya sampai dia tidak bisa melihatku sama sekali," ucap Fabian tersenyum getir.
"Kenapa merendah begitu?" Fabian adalah seseoang dengan kepercayaan diri paling tinggi yang pernah Renaga kenali.
"Faktanya begitu, sudahlah ... aku malas membahasnya."
"Hahaha baiklah, aku akan simpulkan sendiri nanti.
"Terserah Kakak saja, cuma satu pesanku, jangan pernah permainkan Zavia setelah berhasil mendapatkannya."
Sejak lama Fabian pahami jika Renaga hanya peduli pada Zavia. Dia juga tidak tinggal diam, sebagai sahabat Fabian tidak bungkam dan beberapa kali memberikan pengertian pada Giska bahwa Renaga mencintai Zavia, dan itu sejak lama.
Namun, kedua wanita itu sama-sama menutup mata dan telinga dengan tujuan masing-masing. Zavia memilih diam demi Giska, sementara Giska memilih bertahan dengan alasan kesempatan untuk mendapatkan Renaga masih ada. Terlebih lagi, perbedaan keyakinan antara Zavia dan Renaga, jelas saja Giska tidak mundur.
"Pasti, aku pastikan dia bahagia di sisiku."
"Pegang janjimu, jika sampai kau menyakitinya sedikit saja ... maka aku akan merebutnya secara paksa, tanpa cinta sekalipun."
Perasaan Renaga tak karu-karuan mendengar pengakuan Fabian. Secara tidak langsung dia jelaskan jika seseorang yang dia maksud dalam ceritanya adalah Zavia, mereka mencintai wanita yang sama dalam satu waktu.
"Kau mendukungku sepenuhnya, Fabian?" selidik Renaga mencari celah kebohongan di matanya, khawatir saja jika Fabian juga berbohong sebagaimana Zavia selama ini.
"Iya, sepenuhnya."
Sama sekali tidak berbohong, Fabian bear-benar tulus mendukung keputusan Renaga.
"Aku dukung penuh pilihanmu. Karena jika kalian tidak bersama, maka, akan semakin rumit di masa depan, Kak."
"Aku sudah melamarnya kemarin," ucap Renaga mengulas senyum, Fabian hanya mengangguk pelan dan dia merasa benang kusut ini perlahan menemukan intinya.
"Syukurlah, dia terima?"
"Belum, sepertinya dia ragu tentang keyakinanku ... padahal aku sudah hapal An-Naba."
"Halah, aku yang hapal Juz Amma saja tidak dia terima. Tapi Kakak tenang saja, perasaan Zavia memang untukmu. Jadi soal itu, menurutku tidak masalah ... tetanggaku beda agama rukun-rukun saja. Semua perbedaan itu bisa disatukan, kecuali beda perasaan dan beda alam."
Sesederhana itu prinsip Fabian, andai saja dia yang berada di posisi Renaga, mungkin sejak lama dia ajak Zavia kawin lari. Akan tetapi, jika soal perasaan, Fabian tidak ingin main-main dan menyiksa Zavia sepanjang hidupnya.
"Sinting, ajaran siapa begitu?"
"Bukan ajaran siapa-siapa, bahagia itu kita yang ciptakan ... dengan catatan harus sama-sama, pilihan hidupmu kau yang tentukan sendiri. Asal jangan saja kau rusak Zaviaku."
"Dia Zaviaku gila."
Perdebatan mereka berakhir membuat keduanya terjebak obrolan serius malam ini. Setelah Zavia yang meminta maaf padanya tadi siang, malam ini Fabian memberanikan diri lantaran khawatir Renaga benar-benar sakit hati terhadapnya.
"Fabian terima kasih, kau sudah menjaganya selama aku pergi."
"Tidak masalah, aku melakukannya untuk Via, bukan untukmu," jawab Fabian santai dan berhasil membuat Renaga menyesal berterima kasih padanya.
.
.
- To Be Continue -
Ohayu, maafin aku upnya begini akhir-akhir ini. Ewkwkwk Insya Allah aku akan kembali seperti biasanya, muach jan lupa lempar Vote ke Renaga/Zean ya ... Babay.