Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 51 - Kerinduan


"Oke, thre_"


Pantang ditantang, dalam tiga detik Renaga tanpa ragu mengambil keputusan dan mengunci Zavia dalam dekapan. Sama sekali tidak memaksa, istrinya yang meminta. Maka, tidak mungkin Mikhail akan marah. Lagipula jika mereka menjaga rahasia, jelas hal ini tidak akan menjadi masalah.


"Sudah three, kesempatan Kakak habis," ucap Zavia dengan senyum tipis yang berusaha dia sembunyikan sampai sama sekali tidak terlihat.


"Belum selesai, pengucapan three tadi belum sempurna, itu artinya kesempatanku masih ada," balas Renaga yang kini benar-benar mengikuti perintah Zavia yang lebih dulu membacakan kalam cinta sebagaimana pesan ustadz Hasan.


Cukup lama Renaga melakukanya, Zavia membuka mata sedikit demi memastikan Renaga tidak hanya sebatas komat-kamit. Meski dia tahu suaminya tidak mungkin buta tentang hal ini, jelas dia tidak boleh percaya begitu saja. Khawatir saja yang Renaga baca hanya sebatas Al-Fatihah.


"Jangan menangis, Zavia ... apalagi sampai menyesal, kamu tahu apa yang aku pertaruhkan demi melakukan hal ini?"


"Aman, kalau aku sampai menangis teruskan saja. Kalau takut sakit telinga tutup saja mulutku pakai tangan ... dan jika masih belum berhenti juga, Kakak boleh tutup wajahku pakai bantal."


Sepertinya memang mental Zavia lebih kuat di sini, mungkin karena dia terbiasa dan tidak kekurangan perihal edukasi sek-s hingga seyakin itu tidak akan terjadi apa-apa. Tanpa keraguan, Zavia menggenggam jemari Renaga yang kini panas dingin.


Belum apa-apa dia sudah sakit kepala membayangkan andai nanti benar dia membungkam Zavia dengan cara yang sangat tidak wajar itu. Sebelum menikahinya, Renaga bahkan mengancam Zavia dalam hati. Faktanya, mengancam Zavia adalah sebuah kesalahan besar bagi Renaga karena dia sama sekali tidak takut, melainkan menantang maut.


Sama-sama pertama kali, Renaga juga bukan pria nakal seperti Justin dengan pengalaman ranjang di sana-sini. Matanya juga selalu terjaga dan memang sama sekali tidak pernah dia gunakan untuk melihat hal yang tidak-tidak.


Sama halnya seperti Renaga, Zavia juga demikian. Dia mengetahui hal terkait hubungan badan melalui edukasi yang dia dapati, sekalipun sedikit menyimpang itu jelas ilmu dari Mikhayla. Melihat Renaga yang tampak ragu mendekatkan wajahnya, Zavia mengikis jarak lebih dulu.


"Aku yang pertama merasakannya, 'kan?" tanya Renaga mengusap pelan bibir ranum Zavia dengan ibu jarinya.


"Iya, juga terakhir."


Renaga tahu itu, sama sekali tidak ada keraguan Renaga adalah pria pertama dan terakhir yang menyentuh Zavia. Yah, walau sebenarnya malam ini bukan pertama kali, Renaga sempat merasakannya beberapa detik malam itu.


"Aku juga, hanya kamu, Zav."


Penantian cukup lama, tujuh tahun mereka meredam perasaan itu susah payah. Hanya untuk merasakan bibir keduanya bersentuhan saja Renaga seakan berperang malaikat maut.


Debaran jantung Renaga bahkan terdengar jelas di telinga Zavia. Beberapa saat dia pasrah, tapi tidak lama Zavia membalas ciumannya. Bermodalkan insting dan perasaan, Zavia membuat Renaga merasakan kesungguhan cintanya.


Perlahan tapi pasti, tubuh mungil Zavia kini sudah berada di bawah kekuasaan Renaga. Tanpa melepaskan pagutannya, Renaga melepas piyama dengan mudah. Jelas saja mudah, karena tanpa dia sadari jemari lentik Zavia membantunya meski tidak diminta.


"Bibirnya manis, pakai apa, Sayang?"


Napasnya masih terengah-engah usai mengimbangi Renaga yang pada praktiknya seakan berpengalaman cukup lama. Senyum tipis dengan tatapan penuh damba yang kini tertuju pada Zavia benar-benar berhasil membuat istrinya salah tingkah.


Pertanyaan Renaga belum sempat dia jawab, Zavia dibuat kembali dibuat bungkam kala Renaga menelusuri lehernya dengan beberapa kali kecupan. Aroma istrinya yang sungguh menggoyahkan iman membuat Renaga lupa jika harus berhati-hati, hingga tanpa sadar dia membuat Zavia melenguh sakit lantaran hisapan dan gigitannya terlalu sadis.


"Sakit?"


Khawatir jika Renaga mengurungkan niat, Zavia memilih meggeleng hingga pria itu kembali berkuasa semaunya. Dia cukup paham penderitaan laki-laki andai dia berhenti, dia tidak ingin Renaga ragu karena itu adalah awal penyiksaan untuk keduanya.


"Jangan ragu, aku istrimu, Kak."


Bak mendapat angin segar, Renaga semakin yakin jika memang istrinya benar-benar siap lahir dan batin. kembali dia merengkuh tubuh sang istri begitu erat sebelum kemudian melakukan hal yang lebih dalam.


Hujan di luar, lampu kamar yang temaram dan tubuh polos sang istri yang masih bisa Renaga lihat dengan jelas adalah perpaduan yang membuatnya benar-benar seakan gila. Renaga tidak yakin bisa selembut ini sampai akhir, karena belum apa-apa khayalannya sudah seliar itu.


"Dia istrimu, Ga ... memang hakmu, Dia sendiri yang mengatakan minta maaf lebih mudah daripada minta izin."


Tidak peduli meski miliknya sudah meronta minta dibebaskan, Renaga merasa tengah berkhianat pada Mikhail. Dia memejamkan mata sebelum kemudian merasakan hangatnya lorong sempit yang menjepit miliknya hingga Renaga melupakan dunia.


Ini gila, benar-benar gila dan sama sekali tidak pernah Renaga rasakan sebelumnya. Apa ini alasan teman-temannya tidak bisa lepas dari sek-s? Yah, mungkin saja. Padahal belum sepenuhnya, tapi Renaga benar-benar dibuat menggila hingga dia butuh beberapa waktu untuk bergerak walau sedikit saja.


Sebagai pasangan yang sama-sama mencintai sejak lama, Zavia dan Renaga melepas kerinduan. Sama sekali tidak ada tangisan seperti yang Renaga takutkan, yang ada hanya lenguhan dan rintihan manja lolos dari bibir Zavia.


Sama-sama menyerahkan diri untuk pertama kali, keduanya yang bersatu sejak kecil kembali dipertemukan sebagai teman tidur ketika dewasa. Tanpa berpikir untuk berhenti, Renaga mengunci tangan Zavia di atas kepala lantaran Zavia mulai melampiaskan rasa nikmat itu dengan menarik rambutnya sendiri.


Tidak ada sedikitpun rasa malu, semua musnah tergantikan dengan has-rat yang sama-sama ingin memiliki. Renaga membuatnya melayang ke awang-awang untuk ketiga kalinya, bukti jika keraguan Zavia benar-benar keliru.


Keringat membasahi keduanya, olahraga dadakan atas permintaan Zavia yang dibuat tidak berdaya pada akhirnya. Matanya bahkan kini terpejam pasrah menunggu Renaga usai dan kini ambruk di atas di tubuhnya.


.


.


"Masih ragu, Zavia?"


Tidak ada jawaban dari Zavia, dia hanya menggeleng pelan dengan mata yang kini terpejam. Renaga tengah mengejeknya atau bagaimana, sungguh dia ingin sekali memukul pria ini.


Jika sudah begini masih ragu juga, maka Zavia yang perlu diperiksa. Renaga menarik sudut bibir seraya merubah posisi tidurnya di samping sang istri. Istri? Hingga saat ini Renaga masih malu sendiri jika mengingat statusnya.


Meski kini Zavia terpejam, semua yang Renaga lakukan dapat dia rasakan. Sempat khawatir akan dibiarkan polos begitu saja, Zavia menghela napas panjang kala Renaga menarik selimut hingga dadanya.


Cukup lama berselang, Zavia yang sejak tadi memang hanya terpejam kini membuka mata perlahan. Sesaat dia menoleh dan menyaksikan renaga begitu dekat dengannya. Sama seperti dahulu, menatap Renaga dia merasa seakan itu adalah tempatnya pulang.


Ini mungkin pertama kali dia memandangi Renaga tengah terlelap, karena sebelumnya Zavia tidur duluan dan bangun terakhiran. Keputusannya untuk egois tentang pilihan hidup memang menyakiti hati yang lain, tapi hanya dengan cara itu dia membuat Renaga tersenyum.


"Kenapa? Mau lagi?"


Suara Renaga membuat Zavia terkejut. Dia mengelus dada lantaran memang sama sekali tidak menduga Renaga sadar jika tengah dia pandangi. "Belum tidur?" tanya Renaga mengalihkan pembicaraan demi menutup rasa malu lantaran tertangkap basah tengah memandanginya selekat itu.


"Belum, aku sedang berpikir banyak hal," jawab Renaga yang kini membuka mata dan menatap langit-langit kamar.


"Apa?"


"Banyak," jawab Renaga menghela napas panjang.


"Giska?"


"Hm sedikit, tapi ada yang lebih penting lagi."


Tidak bisa dipungkiri, baik Zavia maupun Renaga memang sama-sama memikirkan wanita itu lantaran hingga detik ini belum pulang juga. Namun, yang tengah mengganggu pikiran Renaga kali ini adalah masalah yang lebih besar lagi.


"Apa memangnya, Kak?"


"Opa," jawab Renaga singkat dan kini menatap Zavia dengan wajah melas.


"Iya, Opa kenapa memangnya?"


"Ck ... kalau aku benar-benar disunat dua kali bagaimana?" Renaga frustrasi seakan menyesali perbuatannya, dia menggeleng cepat seraya melindungi miliknya dari luar selimut seketika.


"Hahahaha mana mungkin!! percaya banget sama ancaman begituan."


"Aku serius, Zavia. Opa sendiri yang mengatakan dia akan eksekusi sendiri dengan tangannya."


"Kak, dengarkan aku ... seorang Mikhail Abercio saat ini bahkan tidak bisa potong kuku sendiri karena takut jempolnya kepotong, mana mungkin dia potong itu ...." Ucapan Zavia terhenti sejenak sebelum dia kembali melanjutkan seterusnya.


"Kecuali kalau opa minta om Zean atau papa yang potong. Tapi bisa jadi sih, pakai pemotong rumput atau mungkin samurai peinggalan Opa dulu." Zavia melirik ke pusat kehidupan Renaga dan hal itu semakin membuat sang suami panas dingin.


"Zav, kamu begitu cuma membuatku semakin takut."


"Tapi kalau benar-benar disunat dua kali? Nanti bentuknya gimana?" tanya Zavia lagi, untuk kali ini dia serius dan tengah membayangkan bagaimana hasil akhirnya.


"ZAVIA!!"


Malam ini berakhir semakin panas, bukan kembali bergelut dan berakhir rintihan. Melainkan gelak tawa Zavia yang tidak hentinya membuat Renaga tertekan setelahnya.


"Kan misal, Kakak kenapa marah-marah begini?" tanya Zavia lagi-lagi merasa dirinya tidak salah seki, lagipula hanya berandai-andai lantas apa masalahnya.


"Pikiranmu kejauhan, lagipula dimana letak lucunya?" tanya Renaga mengusap wajahnya kasar lantaran Zavia menyebutkan jamur seraya terbahak tanpa henti.


"Lucu dong, kan jadi mungil."


"Aku bahkan menghapal ulang doa sebelum menikahinya hampir setiap saat, kenapa begini hasilnya."


.


.


- To Be Contin****ue -