Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 54 - Permintaan Maaf


"Dia mau apa ke sini?"


Setibanya di rumah, Giska dibuat terkejut dengan motor yang cukup familiar terparkir di depan rumahnya. Giska menoleh ke arah sang papa dan Keny hanya mengedikan bahu kemudian memintanya untuk turun segera.


Sudah beberapa hari mereka tidak bicara. Jujur saja Giska sedikit malas melihatnya, mau apa Fabian datang malam ini. Apa ingin memperjelas bahwa Renaga sudah menikah? Jika sampai benar-benar begitu, maka bisa dipastikan Giska akan mencakar wajahnya.


"Gis."


Suara Fabian terdengar sedikit bergetar ketika hendak menghentikan langkah Giska. Mungkin sadar dengan wajah datar Giska yang tampak sengaja menghindarinya, Fabian telah melukai hati mungilnya.


"Mau apa malam-malam ke sini? Papamu marah bagaimana?" tanya Giska sedikit mengejek karena memang Fabian memiliki orangtua yang tidak begitu membebaskannya.


"Maaf, aku bawa sate padang loh ... beli di tempat biasa," ucap Fabian yang mulai mengeluarkan jurus minta maaf paling ampuh kepada sahabat kecilnya ini.


"Terima kasih, lebih baik bawa pulang sana."


"Dih? Ini sate uda Fauzan loh, yang ganteng itu," rayu Fabian seakan lupa jika dia sudah mengabaikan Giska sejak awal Zavia dirawat di rumah sakit.


"Bodo amat!! Mau uda Fauzan, mau uda Nasrul atau uda Sulaiman juga aku tidak peduli, awas."


Jual mahal, untuk pertama kalinya dia menolak makanan paling lezat di dunia versinya itu. Rasa lelah yang tadi dia rasakan hilang begitu saja kala bertemu Fabian, bukan sebagai penenang melainkan tergantikan amarah yang sejak kemarin membakar jiwa Giska.


"Sama otak-otak khas bangka juga, Giska ... masih hangat, aku sengaja datang jam segini karena kata tante Sonya tidak ada di rumah tadi."


Fabian tidak berhenti berusaha, sejak menghilangnya Giska dia sudah merasa bersalah. Hanya saja pria itu masih sedikit sebal dengan kejadian yang menimpa Zavia kemarin, sungguh itu adalah sebuah kesalahannya sendiri yang ikut-ikutan mengabaikan Giska.


"Selesaikan masalah kalian, Papa masuk dulu."


Bak pasangan kekasih yang sudah lama tidak bertemu, Fabian tengah berusaha membujuk wanita ini. Wanita yang tampaknya marah besar, dari wajah Giska sangat jelas sebenarnya.


"Marah ya?"


"Menurut kamu?" Giska menautkan alis dan mencebikkan bibir usai mendengar pertanyaan konyol Fabian yang tidak semestikan dipertanyakan.


"Maaf, Giska ... aku tahu aku salah, seharusnya aku tetap berada di pihakmu, tapi entahlah kenapa kemarin aku begitu."


Fabian bahkan tidak bisa memahami dirinya sendiri. Melihat Giska malam ini, dalam keadaan sadar dia menarik Giska dalam pelukan. Jika Fabian mengatakan Renaga kejam, maka dia juga sama.


"Kamu kesepian, 'kan? Harusnya aku menghiburmu juga bukan cuma Zavia."


"Hm, kamu memang mengecewakan, aku bahkan pulang sendirian dan kamu tidak khawatir sama sekali ... Bian kenapa jadi begitu, mataku sampai mau jatuh loh."


Fabian nyata benar-benar menyesali sikapnya. Tapi tampaknya Giska sama sekali tidak bisa diajak serius dan justru terkesan bercanda. Sontak Fabian melepaskan pelukannya dan kembali duduk manis di sofa.


"Cuma begitu?"


"Lalu apa lagi? Aku sudah meminta maaf baik-baik, tapi kamu becanda ... terserahlah," ucap Fabian menatapnya sekilas, sekadar menunggu bagaimana reaksi Giska selanjutnya.


"Males, satenya mau atau tidak? Aku bawa pulang kalau tidak mau, Papaku suka."


"Janganlah, diambil lagi gimana ceritanya."


Mudah sekali merayunya, sama seperti dahulu meluluhkan Giska sebenarnya cukup mudah. Akan tetapi, memang butuh mengeluarkan sedikit uang. Cara ini dapat dikatakan cukup mudah jika dibandingkan meminta maaf pada wanita lainnya.


Cukup lama mereka terdiam, Fabian yang kembali sibuk dengan ponselnya, begitupun dengan Giska. Sama-sama sibuk sendiri, Giska kini tampak sibuk membaca pesan singkat dari Gavi yang memastikan dia sudah pulang atau belum. Sementara Fabian tengah fokus memilah motor baru yang akan dia minta pada sang papa.


Keduanya tampak betah dalam diam, hingga Fabian mengerjap pelan begitu menatap Giska yang tengah senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas.


"Kamu kerja, Gis?"


"Iya nanti."


Jawaban Giska sama sekali tidak sesuai dengan pertanyaannya. Hal itu sontak membuat Fabian mengerutkan dahi, sadar atau tidak Giska memang sedikit gila menurutnya malam ini.


"Giska!!"


"Hah? Apasih?"


"Kamu dengar aku tidak sebenarnya?" kesal Fabian ingin sekali menarik rambutnya yang sedikit acak-acakan itu.


"Dengar, kan tadi juga sudah dijawab."


"Halah, emang pertanyaanku tadi apa?"


"Mandi, 'kan?"


Benar-benar tidak ada konektivitas sama sekali. Fabian menghela napas kasar seraya berdecak sebal, entah apa yang membuat telinga Giska sedikit tidak berfungsi begini.


"Benar, 'kan, Fabian?"


"Kemari," pinta Fabian memintanya untuk segera mendekat, wajah Giska yang sedikit malu-malu jelas saja membuat Fabian geram. Siapa yang juga yang akan berpikir macam-macam padanya.


"Kamu mau apa? Jangan gila ya."


"Hadeuh, Giska ... kamu tahu, 'kan walau di dunia ini hanya ada kamu aku lebih baik kawin sama pohon pisang?"


Iya, Giska sangat tahu. Kalimat legendaris Fabian yang sejak dahulu selalu dia gunakan ketika didekati seorang wanita yang tidak dia ingini. Giska perlahan mendekat, semakin dekat hingga keduanya hanya berjarak beberapa centi saja.


.


.


- To Be Continue -