Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 04 - Penasaran


Seminggu berlalu setelah kejadian itu, usaha Christ benar-benar nihil. Tidak main-main usahanya, Christ bahkan rela mengorbankan waktu kerja di siang hari demi mencari wanita yang hingga saat ini masih dia ingat aromanya.


"Ayolah, Christ tujuanmu datang ke sini untuk apa sebenarnya?"


Elden dan Max tidak habis pikir apa tujuan sahabatnya ini. Sudah satu minggu terakhir mereka selalu rutin ke club yang sama tanpa tujuan yang jelas. Minum dilarang, main wanita juga tidak dia izinkan. Saat ini yang Christ cari hanya wanita dengan blezer biru muda dan tinggi yang dia perkirakan sebatas dadanya.


"Aku masih penasaran ... kemana dia? Bukankah seharusnya datang ke sini lagi?"


Wanita itu lagi, Max memutar bola matanya malas. Satu minggu lalu jelas sekali Christ mengatakan tidak bergairah hanya karena tubuhnya tipis. Kini, dia justru bertahan tanpa kepastian menunggu wanita yang namanya saja tidak Christ ketahui.


"Max!! Aku tanya, kenapa kau diam saja?"


Jika hanya bertanya Max bisa memaklumi. Namun, pria ini tidak santai sama sekali dan berani-beraninya menendang tulang kering Max hingga pria asal Kanada itu meringis.


"Mana kutahu, salahmu sendiri tidak kenalan lebih dulu," gerutu Max menatap Christ sebal dan hendak meraih wine di depannya.


"Eits stop!! Aku tidak mengizinkanmu minum jika tujuanku belum tercapai!!"


"Apa hubungannya, Christ? Jangan berlebihan!!"


"Kalian benar-benar tidak bisa memahamiku ternyata, mana solidaritas kalian sebagai teman? Tunjukkan sedikit empati kalian apa salahnya?"


Wajahnya mendadak suram, Christ menarik rambutnya kasar bak meratapi kepergian sang kekasih. Padahal, nama wanita itu saja sama sekali tidak dia ketahui saat ini.


"Lihatlah dirimu, Christ, memang terbiasa menyiksa ... dasar gila, kau yang mencobanya kenapa jadi kami kena getahnya?"


"Coba apanya coba? Aku bahkan tidak berhasil mendapatkan bibirnya!!" pekik Christ menggebrak meja dan menunjukkan dia seakan mengidap gangguan jiwa.


"Hahaha kasihan, bukankah itu paling mudah bagimu?" tanya Elden penasaran, tampaknya dia memang benar-benar kacau hanya karena tidak berhasil mendapatkan wanita di club malam itu.


"Sulit, dia liar ... hanya berhasil cium leher, itupun karena tidak sengaja."


Christ menghela napas pelan, dia menatap nanar tanpa arah. Hanya sekilas, tapi membekas hingga dia sulit untuk lupa. "Ays!! Kemana aku harus mencarinya!!"


Christ mengulangi tingkahnya, tidak hanya kedua teman dekatnya yang terkejut, tapi beberapa orang yang lain juga sama terkejutnya hingga Elden menunduk sebagai permintaan maaf.


"Aku pergi, tidak ada hasilnya duduk dengan kalian berdua di sini," ketusnya kemudian menegak satu gelas wine hingga tandas.


Bebas sekali hidupnya, menentukan segala sesuatu seenak hati. Dia yang melarang menyentuh minuman itu sebelum tujuannya tercapai, dan kini dia sendiri yang mengkhianatinya.


"Dia jatuh cinta?" tanya Elden menatap Max yang kini juga menatap jauh ke luar sana.


"Halah, dia Christ. Manusia paling tidak tertebak yang pernah ada ... dalam hitungan detik cincin itu bisa dia lepas, Max."


"Terserah Christ saja lah, paling lama bertahan lima belas menit di luar, nanti masuk lagi," tutur Max kemudian tidak mau ambil pusing dengan pria yang terus mengusik waktunya.


.


.


Sementara di sisi lain, jauh dari tebakan Max, saat ini Christ masih berjuang sendiri. Dia tidak menyerah, pria itu mengikuti kata hati dan bermodalkan arah mata angin mencari wanitanya.


Cukup lama dia menelusuri jalanan ini, hingga matanya terhenti pada sosok yang sejak kemarin membuatnya sedikit gila. Sudah hampir larut, entah dari mana wanita itu sebenarnya.


"Dia?"


Ada dua paper bag di tangannya. Apa mungkin belanja? Tapi kenapa selarut ini, pikir pria itu kemudian. Dia mencarinya sejak lama, dari satu minggu kemarin. Namun, ketika berhasil menemukannya, Christ memilih untuk memantau dari jauh tanpa melakukan pergerakan apa-apa.


"Mari kita lihat, apa yang dia tunggu sebenarnya."


"Apa dia tidak dingin dengan baju setipis itu?"


Perhatian Christ berpindah pada pakaian Giska yang sangat tidak cocok dikenakan kala memasuki musim dingin begini. Aneh, sungguh dia merasa wanita itu sedikit aneh.


"Stranger, apa kulitnya memang setebal kulit badak?"


Dia tampak kedinginan, tidak lama berselang sebuah taxi berhenti di sana. Tanpa pikir panjang, Christ mengikutinya dari belakang. Dia yang sejak lama dibuat menggila akibat wanita itu justru dipertemukan dengan hal baik malam ini.


Kali pertama dalam hidup Christ, dia menguntit seorang wanita yang tidak tahu kemana arah tujuannya. Tanpa mengucapkan apapun, dia kini berhenti setelah beberapa menit mengikuti perjalaan taxi itu.


"Ah ini rumahnya?"


Sudut bibir Christ tertarik begitu tipis kala melihat wanita yang kini keluar dari taxi yang dia ikuti sejak tadi. Sama sekali bukan ilusi, memang benar wanita itu yang dia cari. Cantik, rambutnya yang acak-acakan tidak mengurangi kadar kecantikannya.


"I got you, Honey."


.


.


- To Be Continue -