Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 25 - Serti Daddy


"Kau gila? Apa maksudmu?"


Giska sempat berpikir jika kedatangan wanita berpenampilan super mewah itu hanya untuk menjenguk putranya. Ya, hal itu sangat wajar jadi Giska tidak perlu memusingkannya. Namun, yang jadi masalah saat ini adalah, kedatangan wanita yang Christ panggil Mommy itu justru untuk bertemu dengan Giska dan keluarganya.


"Aku tidak gila, sudah kukatakan bahwa aku serius dan sampai di titik ini aku benar-benar menginginkanmu menjadi istriku ... apa tidak paham?"


"What? Aku menerimamu menjadi kekasihku dan itu dalam masa percobaan!! Kenapa tiba-tib_"


"Aku tidak bertanya, sekarang keluar dan tunggu aku bersama Mommy di luar, kita akan ke rumahmu."


Dia yang bicara, tapi Giska yang lelahnya. Christ bukan hanya pemaksa, tapi bisa dikatakan semena-mena, seenak hati dan semaunya sendiri. Sungguh, saat ini Giska sampai kehilangan kata-kata yang bisa mendefinisikan pria itu.


"Ah kau tidak berani bersama Mommy? Kau mau menemaniku mandi rupanya ... ah baik sekali calon istriku," ucap Christ yang seketika membuat Giska mual, sandwich yang sudah masuk ke dalam perutnya berontak ingin dikeluarkan kembali.


Seringai tipis yang Christ perlihatkan hanya Giska balas dengan tatapan tak terbaca. Mungkin dia sedang berpikir, berapa kapasitas otak Christ hingga sikapnya setengil ini. Ya, Giska sebenarnya terbiasa dengan manusia-manusia yang sikapnya tidak jauh berbeda dari Christ, sang papa contohnya.


Namun, untuk yang kali ini Giska benar-benar menyerah dan merasa dia adalah pria paling gila yang pernah dia temui. Bagaimana bisa dia hidup bertahun-tahun bersama pria ini nantinya? Giska berkaca dari rumah tangga orang tuanya, hampir setiap hari Sonya sakit gigi dan juga sakit kepala karena memiliki suami seperti Keny.


"Ayo, kebetulan punggungku gatal dan susah kuraih pakai tangan sendiri."


Baru saja Christ hendak meraih pergelangan tangannya, Giska berlalu pergi usai menatapnya tanpa minat. Bukannya marah, Christ justru tertawa sumbang melihat kelakuan wanita yang dia sebut sebagai calon istri itu.


Sebenarnya niat untuk mencuri kesempatan sama sekali tidak ada, Christ sudah berhenti soal itu. Hanya saja, reaksi Giska yang begitu seakan candu bagi Christ hingga pria itu merasa ada yang kurang andai tidak menggodanya.


Meninggalkan Christ yang saat ini mungkin telah berada di kamar mandi, Giska kini tampak ragu ketika berhadapan dengan calon mertuanya. Tunggu, calon mertua? Iya, sebut saja begitu karena sejak tadi wanita itu meminta Giska memanggilnya Mommy layaknya Christ.


"Sudah lama berhubungan dengan putraku?"


"Be-belum, Mommy."


Ekspresinya kembali tak terbaca, Giska bingung sebenarnya wanita ini mau apa. Sejak tadi terus menatapnya begitu teliti seakan khawatir di tubuh Giska ada sesuatu, mungkin panu atau sejenisnya.


"Kau mencintainya?"


Suara wanita itu terdengar serius, berbeda dengan sebelumnya. Giska yang belum sama sekali memiliki perasaan pada pria itu jelas saja bungkam, hendak berbohong takut ketahuan karena sejak masih remaja Giska tidak pandai menyembunyikan perasaannya.


Tidak ada nada candaan, wanita bernama Evelyn memang terkesan apa adanya dan tidak banyak basa-basi. Giska bahkan tidak bertanya, tapi dia justru membuka pembicaraan yang setelah Giska telaah memang perlu dia dengar.


"Dan kau salah satunya, Mommy bersyukur sekali ketika dia pulang ke Berlin dan mengatakan ingin menikah ... padahal, tujuh tahun lalu dia mengataan tidak akan pernah mau menikah setelah kekasihnya tewas dalam kecelakaan pesawat ketika hendak menemuinya di Munich."


Mata Giska membola, wanita itu tampak bergeming setelah mendengar kalimat terakhir. Christ memiliki cinta yang terpaksa usai, tapi kenapa dari gelagatnya seakan manusia yang tidak punya kesedihan? Sungguh, Giska benar-benar tidak habis pikir.


"Mommy tahu mungkin kau akan terkejut dengan sikapnya ... tapi Mommy bisa pastikan, Christ benar-benar menginginkanmu menjadi pendamping hidupnya. Meski sebenarnya putraku tidak ada kurangnya, tapi Mommy tetap meminta kau bisa menerima Christ apa adanya."


Baru juga terharu, Giska kembali mual mendengar ucapan wanita itu. Melihat kesamaan dalam diri mereka, entah kenapa Giska mendadak ragu jika Christ anak tiri.


"Mom."


Suara Christ menghentikan pembicaran mereka. Pria itu sudah siap dengan pakaian yang lebih rapi dari kemarin, rambutnya juga sangat tertata seakan hendak menghadiri acara formal.


"Sudah siap? Kita pergi sekarang, Christ?"


"Tentu saja ... bukankah Mommy tidak bisa berlama-lama di sini?" tanya Christ yang kemudian diangguki wanita itu.


"Sayang, jaketmu."


Giska ingin menangis, dia benar-benar terkejut dengan pelakuan semacam ini. Bukan karena terharu, tapi karena terganggu dan kesalnya luar biasa kala Christ memperlakukannya seolah wanita paling manja.


"Aduh manisnya, dulu Daddy juga begitu pada Mommy, Christ."


"Kau dengar kata Mommy? Kita sangat-sangat manis," ucap Christ lembut sembari merapikan rambut Giska.


"Aku benar-benar ingin memukul matanya!!"


.


.


- To Be Continue -