Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 27 - Buktikan


"Dan? Dan apa?"


"Milikku tidak bisa berdiri lagi di hadapan wanita lain setelah aku bertemu denganmu," jawab Christ yang membuat mata Giska membeliak sempurna.


Begitu santai dia bicara, tanpa dosa sedikitpun dan jelas saja membuat Giska memerah. Malu sendiri mendengar jawaban Christ yang menurutnya sangat tidak sopan, hingga dia mendaratkan tamparan di wajah tampan Christ hingga sudut bibirnya bahkan berdarah.


"Giska, are you okay?" tanya Christ menggoyangkan pundaknya.


"Hm?"


Siallan, ternyata hanya khayalan semata. Christ sama sekali tidak dia tampar dan kini sedang begitu baik-baik saja. Giska mengalihkan pandangan seketika, Christ terkekeh tentu saja. Padahal, maksudnya sama sekali buka itu.


Setelah pertemuan pertamanya bersama Giska dan berakhir di kamar itu, Christ memang tidak pernah bertemu dengan wanita manapun. Hanya Giska yang ada di benaknya, dia tidak tahu sebenarnya berdiri atau tidak, tapi yang jelas hassrat untuk melakukan hubungan terlarang seperti dahulu seakan hilang begitu saja.


"Hm, baik-baik saja ... tapi kau normal, 'kan?" tanya Giska mengerutkan dahinya.


"Normal."


Ucapan Christ membuat Giska berpikir macam-macam. Terlebih lagi, kala dia mengingat fakta bahwa Christ tidak pernah melakukan hal macam-macam sekalipun tidur seranjang di apartemennya.


"Normal? Tapi kenapa kau tidak menyentuhku semalam? Jangan-jangan memang tidak bisa berdiri dari lahir ya?" selidik Giska sengaja menatap miliknya yang seketika membuat sesuatu dalam diri Christ membuncah seketika.


"Yang waktu itu juga, kau menggunakan jemarimu ... kau sangat terburu-buru mengajakku menikah, apa mungkin kau hanya ingin menutupi aibmu?"


Giska semakin menjadi, Christ yang merupakan pejantan tangguh jelas saja merasa terhina. Dia berdecih seraya membuang napas kasar, bisa-bisanya niat Christ yang menjaga kehormatan Giska justru membuatnya terlihat lemah.


"Woah, kau meremehkanku?"


"Hanya tanya, sebelum terlambat ... Mommy bilang aku harus menerima kau apa adanya, maka jelas aku harus tahu kekuranganmu, Christ."


"Kekurangan apa?" tanya Christ mulai sebal mendengar pertanyaan Giska kini.


"Kekuranganmu sebagai laki-laki, katakan saja ... aku akan menerimamu. Apa memang tidak normal? Hm? Atau kecil?"


Sama sekali tidak Christ duga jika Giska akan melontarkan pertanyaan sepicik itu. Lebih menyebalkan lagi, tatapannya bukan sedang menggoda melainkan tengah meremehkannya.


"Kau ingin lihat?" tanya Christ yang bersiap hendak membuka ritsletingnya dan sontak membuat Giska tidak sengaja memukul punggungnya.


"Jawabanku mungkin tidak akan bisa kau percayai, sekarang lihat sendiri."


Christ yang gila disatukan dengan Giska yang memang agak sedikit bodoh. Semakin Giska berteriak semakin Christ melancarkan aksinya dan kini ritsleting celanya sudah terbuka setengah, Giska berteriak dan meminta Christ menjauh dengan suara lemasnya.


"Kenapa? Kau ragu, 'kan?"


"Menjauhlah, kau membuatku takut, Christ," lirih Giska benar-benar geli sendiri, susah payah dia menutup mata dengan kedua telapak tangannya, Christ justru semakin menggodanya.


"Takut? Ayolah, hanya lihat aku tidak memintamu memegangnya."


"Ays orang gila ini, Papa!!" teriak Giska yang sama sekali tidak membuat Christ berhenti.


"Ck, cuma lihat apa susahnya, Giska ... intip sedikit tidak masalah."


"Tidak masalah kepalamu!!" Ingin Giska pukul, tapi khawatir yang rugi justru dia sendiri.


Tanpa mereka sadari, jika kelakuan mereka sudah tertangkap jelas orangtua masing-masing dari balkon lantai dua. Sama-sama malu, orangtua Christ meminta maaf berkali-kali dan Sonya juga demikian.


"Christ hentikan!!"


Suara itu dari atas membuat Christ mendongak den terkejut seketika. Secepat mungkin dia kembali menutup ritsleting yang belum terbuka sepenuhnya itu. Belum menikah, tapi sudah tertangkap basah calon mertua, demi apapun Christ malu saat ini.


"Pa ... ini tidak seperti yang kalian bayangkan, sumpah!!"


Anehnya, Keny seakan santai saja menghadapi mereka. Giska mengepalkan tangan dan seketika memukul angin kala orang tuanya berlalu begitu saja. Benar-benar gila, andai dia disiksa Christ mungkin Keny juga akan terima, pikir Giska kesal sendiri.


"Ini semua karena kau!!"


"Kau yang mulai, coba kalau tidak menuduhku macam-macam mana mungkin aku begini."


.


.


- To Be Continue -