Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 14 - Tidak Terduga


Wilbert


Giska tidak salah dengar, memang nyata salah satu teman Christ menyebut nama itu. Sosok pengusaha yang bahkan hampir setiap hari terpampang di media. Salah satu idola Keny, papanya memang sejak dahulu sangat terobsesi dengan orang-orang kaya.


Cukup lama Giska berdiam diri, dia ke toilet bukan untuk buang air. Melainkan mengumpulkan oksigen karena dia merasa sesak seketika. Ya, meski sedikit aneh mencari oksigen di toilet, tapi ini lebih baik dibandingkan terus berdiam diri di hadapan Christ.


Five euro? Are you fucking kidding me!!


Jelas, semua itu terdengar jelas di ingatan Giska. Dia yang bahkan membayar Christ semurah itu, lalu dia yang menduga Christ sebagai penyalur jasa pela-curan. Tuduhan-tuduhan bodoh Giska mendadak menyerang wanita itu hingga dia mendadak lemas.


"Haduh, Giska ... mulutnya sembarangan, nyesel, 'kan?"


Salah sangka, salah kaprah dan selalu salah tampaknya adalah takdir hidup Giska, tepatnya pilihan. Giska menggigit bibir berkali-kali, tangannya bergetar dan mendadak khawatir lenyap dari muka bumi mengingat bagaimana kekuasaan keluarga itu.


"Dia terus mendekatiku karena apa? Pasti memancingku agar tidak bisa lepas? Sepertinya aku harus ajak papa balik ke jakarta ... aku tidak mau di sini, pengangguran tidak masalah asal jangan berurusan dengan keluarga itu."


Giska menarik rambutnya kuat-kuat, rambut yang sebelumnya digerai indah hanya menyisakan kusut tak berbentuk. Padahal, dia di dalam toilet sendirian, tapi karena panik jiwa Giska seakan lepas dari jiwanya. Tepatnya, kembali menjadi Giska yang dahulu.


"Fabian, engkaulah sahabat sejatiku ... anaknya papa Zayyan, jemput Giska dong."


Seorang wanita biasanya akan sedikit gila di saat jatuh cinta. Namun, untuk Giska dalam segala keadaan dia bisa gila hanya karena hal sepele, contohnya ya ini. Hanya karena perbuatannya yang menduga Christ pria panggilan dan memberikan uang muka senilai lima euro, ketakutan Giska akan berakhir di penjara sudah sebesar itu.


"Tapi tunggu dulu, kan bukan salahku ... dia sendiri yang minta dibayar, lalu kenapa aku merasa bersalah? Hello, Giska Anamary tidak salah!! I-iya, 'kan? Iyalah masa salah."


Benar-benar berada di titik putus asa, Giska bahkan bicara dengan toilet yang sama sekali tidak akan menjawabnya. Wanita itu menelan salivanya pahit, hendak bagaimana dia menghadapi Christ nanti.


"Kau benar-benar akan diam saja? Ays menyebalkan sekali!!" gerutunya kemudian memukul toilet yang tidak bersalah itu, di mata Giska saat ini tidak ada yang benar sepertinya.


Setelah cukup lama menenangkan diri, Giska kembali keluar dengan wajah datarnya. Berusaha untuk terlihat biasa saja, meski dadanya bergemuruh bahkan mungkin ingin lari secepatnya.


Bagi seorang Giska yang pernah dibuang begitu saja, dia tidak mudah menganggap kehadiran pria sebagai sebuah ketulusan. Karena di matanya, seseorang yang bahkan pernah ada di titik terendahnya bahkan menyakiti, apalagi orang baru yang menatapnya baik-baik saja begini.


Setelah sempat menduga Christ mendekati hanya untuk meminta uang itu, kini pikiran Giska berubah lebih jahat lagi. Dia hanya berpikir Christ mencari kesempatan untuk menikmati tubuhnya. Ya meski beberapa orang mengatakan tubuhnya tidak indah, tapi bukankah hassrat pria tidak tertebak.


"Kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan sampai selama itu, Giska?" tanya Christ yang kembali menarik jemari dingin Giska, dia hanya memastikan yang gugup bukan dirinya saja.


"Menurutmu? Itu toilet, mana mungkin aku bertani," jawab Giska menghindari tatapannya.


Christ tertawa sumbang sebelum kembali menarik pergelangan tangannya. Mimpi apa dia hingga dipertemukan dengan wanita semacam ini. Jika biasanya dia akan bersama wanita yang terlalu malu dan menjaga sikap agar tidak dilepaskan, yang ini justru sebaliknya.


Sejujurnya Giska malas untuk terus berada di sini, dia ingin pulang dan segera bersembunyi di balik selimut. Malunya pada diri sendiri teramat luar biasa, anehnya lagi tangan Giska seakan pasrah Christ bawa kemana-mana.


Mereka kembali menikmati pesta di antara para konglomerat itu. Mata Giska mengelilingi tempat itu, Fabian pernah berkata jika Keny termasuk kaya dan Giska adalah orang kaya. Namun, di sini Giska merasakan jika Fabian berbohong, dia mengenal beberapa tamu undangan di sini. Kebanyakan dari para kalangan selebritis dan juga pengusaha yang kerap dia saksikan di televisi.


Hingga, mata Giska bertemu dengan sosok yang berhasil membuat darahnya mendidih. Sekalipun sudah berjanji untuk tidak membenci, detik ini juga Giska berkhianat dan hatinya tetap panas juga.


"Demi apapun, aku sangat mencintaimu ... berjuanglah bersamaku, Giska. Jangan sia-siakan perjuangan Renaga, dia juga memberikan sepotong hatinya untukmu, untukku agar kau menjadi milikku."


Ucapan itu kembali teringat jelas, sama sekali tidak Giska duga wajah setenang itu akan menyakitinya tanpa sisa. Gavi, ya Giska kembali dipertemukan dengan masa lalunya. Dia tampak bahagia dalam pelukan seorang wanita cantik yang dia ketahui sebagai pemilik hati Gavi sesungguhnya, Alana.


Hingga, tatapan mereka bertemu beberapa detik. Secara tidak sadar, entah apa yang ada di otak Giska hingga dia menangkup wajah Christ dan mengecup bibir Christ tanpa izin. Seumur hidup sama sekali dia tidak memulai lebih dulu, sekalipun itu pada Gavi.


"Gis_"


Belum sempat Christ bicara, Giska kembali melu-mat bibir Christ lembut. Penuh perasaan, dia pernah melakukan ini bersama Gavi dahulu beberapa kali. Christ yang tenggelam dalam kebingungan sesaat terdiam, belum membalas serangan Giska sama sekali.


Namun, hal itu hanya terjadi selama beberapa saat. Christ yang tidak ingin kehilangan kesempatan meraih tengkuk leher Giska dan memperdalam ciumannya. Sejak kemarin dia inginkan, dan kini Giska justru memulai jelas saja Christ menggila.


"Kau wanitaku, jangan harap lepas setelah ini."


.


.


- To Be Continue -